NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CABANG BARU DAN WAJAH LAMA

Tiga bulan setelah kesepakatan dengan dua klan...

Garuda Trading tumbuh seperti jamur di musim hujan. Apa yang dulu hanya sebuah kios kecil di pinggir pasar Rembang, kini telah menjelma menjadi jaringan dagang yang melintasi batas-batas wilayah.

Wei Chen duduk di kantor pusatnya yang baru — sebuah bangunan dua lantai di pinggir Desa Qinghe. Dari jendela lantai dua, dia bisa melihat hamparan sawah yang membentang hijau, dengan garis-garis pematang seperti lukisan alam. Di kejauhan, cerobong asap dari bengkel produksi mengepul tipis, tanda bahwa pekerjaan tidak pernah berhenti.

Toke Wijaya masuk tanpa mengetuk — kebiasaan lama yang tidak bisa dihilangkan. Pria tua itu meletakkan setumpuk dokumen di meja Wei Chen sambil menghela napas panjang.

"Nak Wei, ini laporan dari cabang utara dan selatan." Dia duduk di kursi seberang, mengusap keningnya yang berkerut. "Aku sudah tua. Pusing lihat angka-angka ini."

Wei Chen mengambil dokumen itu, membacanya cepat. Matanya yang terlatih — mata CEO 40 tahun — langsung menangkap angka-angka penting.

Cabang utara, dipimpin Budi, mencatat pendapatan 3.200 koin perak bulan ini. Besi dari Klan Naga Hitam mengalir lancar, diolah menjadi berbagai produk, lalu dikirim ke selatan. Budi menulis catatan: "Permintaan meningkat. Butuh tambahan 5 karyawan."

Cabang selatan, dipimpin Joko, mencatat pendapatan 2.800 koin perak. Rempah-rempah dari Klan Bunga Naga laku keras di pasaran. Joko menulis: "Musim panen raya. Stok melimpah. Minta instruksi."

Pusat produksi di Desa Qinghe — jantung Garuda Trading — mencatat pendapatan 5.000 koin perak. Total 11.000 koin perak sebulan. Setelah dipotong biaya operasional dan gaji karyawan, laba bersih sekitar 4.000 koin perak.

Setahun berarti 48.000 koin perak — 4.800 koin emas.

Dua tahun lagi, target 10.000 koin emas tercapai, pikir Wei Chen. Tapi Mei Ling tidak punya dua tahun.

"Toke, tolong siapkan surat untuk Budi dan Joko." Wei Chen mulai mendikte. "Budi: tambah 5 karyawan. Prioritaskan warga desa sekitar. Joko: jual setengah stok sekarang, simpan setengah untuk antisipasi kenaikan harga musim kemarau."

Toke Wijaya mencatat dengan cepat. Setelah selesai, dia menatap Wei Chen dengan rasa hormat.

"Nak Wei, kau ini... kadang aku lupa kau masih muda." Dia menggeleng. "Cara bicaramu, cara ambil keputusan — seperti orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung di bisnis."

Wei Chen tidak menjawab. Dalam hati, dia tersenyum pahit.

Puluhan tahun? Aku 40 tahun di bumi, Toke. Lebih dari cukup untuk belajar.

---

Sore harinya, Wei Chen pergi ke bengkel produksi.

Bangunannya sederhana — dinding bambu, atap rumbia — tapi di dalamnya, mesin-mesin buatannya berputar tanpa lelah. Roda gigi kayu berdenting, sabuk kulit bergerak ritmis, dan di tengah semua itu, kristal qi berpendar biru lembut.

Pak Karta, pandai besi tua yang sekarang jadi kepala produksi, sedang mengawasi para pekerja. Melihat Wei Chen, dia tersenyum lebar.

"Nak Wei! Lihat ini." Dia menunjuk ke tumpukan lampu qi yang baru selesai. "500 buah. Selesai lebih cepat dari target."

Wei Chen memeriksa satu lampu. Kualitasnya bagus. Batu kristalnya terpasang rapi, kawat peraknya tidak ada yang putus.

"Bagus, Pak. Bulan depan kita naikkan target jadi 700."

Pak Karta tertawa. "Kau ini, Nak. Kerja terus, kerja terus. Istirahat dikit, Nak."

"Aku istirahat kalau semua sudah selesai."

Pak Karta menggeleng. "Kau keras kepala."

"Sudah biasa dibilang begitu."

---

Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda rumahnya — rumah baru yang dibelinya bulan lalu. Bukan gubuk bambu lagi, tapi rumah panggung kayu yang cukup besar, dengan halaman dan pohon mangga di depan.

Mei Ling duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya. Gelang pemurni di pergelangan tangannya berkilau redup dalam cahaya bulan — pertanda bahwa batu gioknya masih penuh energi.

"Chen, rumah ini terlalu besar untuk kita berdua," katanya pelan.

"Besok kita cari pembantu."

"Pembantu? Aku bisa kerja sendiri."

Wei Chen menoleh. Wajah Mei Ling diterangi cahaya bulan. Cantik. Lembut. Tapi ada bayangan gelap di bawah matanya — bekas kelelahan, bekas sakit.

"Kau harus istirahat. Bukan kerja."

"Aku bosan kalau diam terus."

"Nanti aku belikan buku. Banyak buku."

Mei Ling tersenyum. "Kau dan bukumu."

Mereka diam. Suara jangkrik mengisi malam.

"Chen, besok aku mau ke sawah."

"Sawah?"

"Iya. Rindu lihat padi."

Wei Chen mengangguk. "Aku antar."

---

Esok harinya, mereka ke sawah bersama.

Pagi itu cerah. Matahari hangat, angin sepoi-sepoi. Burung-burung beterbangan di atas hamparan padi yang mulai menguning.

Mereka berjalan di pematang. Tangan Mei Ling digandeng Wei Chen.

"Ini..." Mei Ling berhenti. Matanya berkaca-kaca. "Ini yang paling kurindukan."

Wei Chen diam.

"Dulu, ibu dan ayah sering ajak aku ke sawah. Waktu kecil, aku duduk di pematang, lihat mereka kerja." Suaranya bergetar. "Ibu bilang, suatu hari sawah ini akan jadi milikku. Tapi..." Dia tertawa pahit. "Mungkin tidak sempat."

Wei Chen memeluknya.

"Kau akan sempat. Berapa pun waktu yang kau punya, aku akan pastikan kau nikmati."

Mei Ling menangis di dadanya.

---

Sore harinya, Wei Chen kembali ke kantor.

Lim Xiu sudah menunggu. Wajahnya berseri — tanda punya kabar baik.

"Wei, kabar bagus."

Wei Chen duduk. "Apa?"

Lim Xiu meletakkan sebuah amplop di meja. "Kontrak baru. Dari ibu kota."

Wei Chen mengambil amplop itu. Membuka. Membaca.

Naga Emas Trading.

Tangannya berhenti. Matanya membeku di atas nama itu.

Hartono Lim.

Diam. Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik.

Lim Xiu mengerutkan kening. "Wei? Kau kenapa?"

Wei Chen menutup surat itu. Wajahnya kembali datar.

"Tidak apa-apa. Lanjutkan."

"Nama perusahaannya Naga Emas. Mereka besar — salah satu pedagang terbesar di ibu kota." Lim Xiu menjelaskan dengan antusias. "Pemiliknya, Hartono Lim, terkenal pintar dan ambisius. Dua tahun lalu dia datang entah dari mana, sekarang perusahaannya sudah sebesar itu."

Dua tahun lalu. Wei Chen menghitung. Sama seperti dia. Hartono juga reinkarnasi dua tahun lalu.

"Mereka pesan apa?"

"500 lampu qi dan 200 tungku hemat. Nilai total 3.000 koin emas." Lim Xiu tersenyum. "Ini kontrak terbesar kita sejauh ini."

Wei Chen mengangguk. "Terima."

Lim Xiu mengangkat alis. "Kau tidak mau tawar? Atau kurangi?"

"Tidak. Terima saja."

Lim Xiu curiga. Biasanya Wei Chen selalu hitung untung rugi, selalu tawar menawar. Tapi kali ini dia langsung setuju.

"Wei, kau yakin? Ini banyak."

"Aku yakin." Wei Chen menatapnya. "Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

"Semua komunikasi lewat surat atau utusan. Tidak ada pertemuan langsung."

Lim Xiu mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Aku sibuk. Tidak bisa ke ibu kota."

"Mereka bisa ke sini."

"Tidak. Terlalu jauh. Terlalu merepotkan."

Lim Xiu diam. Matanya menyipit. Tapi akhirnya mengangguk.

"Baik. Aku atur."

Setelah Lim Xiu keluar, Wei Chen duduk diam. Memejamkan mata.

Hartono.

Nama itu seperti api di dadanya. Membakar. Menghanguskan.

Dia ingat malam itu. Rapat dewan direksi. Hartono tersenyum, menuangkan teh. "Untuk kesuksesan kita, Chen."

Lalu gelap.

Dia ingat suara Hartono yang terakhir. "Perusahaan ini terlalu besar untuk satu orang. Aku akan menjaganya."

Dia ingat rasa sakit racun yang menjalar. Rasa panik. Rasa... dikhianati.

Tangannya mengepal.

"Tenang." Dia bergumam pada diri sendiri. "Tenang. Belum waktunya."

Dia butuh informasi. Butuh kekuatan. Butuh uang. Butuh segalanya.

Sekarang, dia hanya punya toko dan teknologi. Belum cukup.

Tapi suatu hari, pikirnya. Suatu hari, Hartono. Kita bertemu.

---

Malam harinya, Wei Chen tidak bisa tidur.

Duduk di beranda, menatap bintang. Pikirannya kacau.

Mei Ling keluar. Membawa selimut. Menyelimutinya.

"Kau tidak tidur?"

"Tidak bisa."

Mei Ling duduk di sampingnya. "Ada apa?"

Wei Chen diam. Lalu, "Hartono."

Mei Ling menegang.

"Dia pesan barang dari kita. 3.000 koin emas."

Mei Ling menarik napas. "Kau terima?"

"Ya."

"Tapi—"

"Aku harus tahu apa yang dia rencanakan. Di bumi, dia bunuh aku tanpa aku sadar. Di sini, aku tidak mau lengah."

Mei Ling meraih tangannya. "Chen... ini berbahaya."

"Aku tahu."

"Kalau dia tahu siapa kau—"

"Aku akan hati-hati."

Mei Ling memeluknya. Erat.

"Aku takut," bisiknya. "Aku takut kehilangan kau."

Wei Chen membalas pelukannya.

"Kau tidak akan kehilangan aku. Aku janji."

Mereka berpelukan di bawah bintang. Malam semakin larut. Tapi tidak ada yang mau tidur.

---

Di ibu kota, malam yang sama...

Hartono Lim duduk di kantornya yang mewah. Lampu-lampu qi dari Garuda Trading menerangi ruangan — dia sudah punya beberapa, untuk sampel.

Matanya menatap lampu itu dengan rasa ingin tahu.

"Tidak pakai api. Tidak pakai minyak. Hanya qi." Dia bergumam. "Canggih. Sangat canggih."

Dia memanggil asistennya. "Surya."

Seorang pria muda masuk. "Tuan?"

"Aku minta kau selidiki pemilik Garuda Trading. Wei Chen." Hartono menyerahkan secarik kertas. "Nama itu. Cari tahu asalnya, latar belakangnya, di mana dia belajar teknologi ini."

Surya mengangguk. "Baik, Tuan."

"Dan satu lagi." Hartono tersenyum tipis. "Cari tahu apakah dia punya hubungan dengan... dunia lain."

Surya mengerutkan kening. "Dunia lain, Tuan?"

"Kau tidak perlu mengerti. Lakukan saja."

Surya pergi.

Hartono kembali menatap lampu qi. Matanya berbinar.

Siapa pun kau, Wei Chen, kau menarik. Sangat menarik.

Mungkin kau juga... dari sana.

Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu.

Senyum predator.

---

Chapter 17 END.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!