Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyusup
Langkah kaki penyusup itu nyaris tak terdengar, namun di mata Marvel Dewangsa, setiap getaran udara adalah sinyal. Di tengah kegelapan ruang kerja yang hanya diterangi cahaya bulan, Marvel tetap duduk tenang di kursinya, membelakangi pintu.
"Tiga menit empat puluh detik," gumam Marvel tanpa menoleh. "Kau lebih lambat dari perkiraanku."
Penyusup itu tertegun, moncong pistolnya yang dilengkapi peredam suara sudah mengarah tepat ke kepala Marvel. "Jangan bergerak, Dewangsa. Aku di sini untuk mengakhiri pemerintahanmu."
Marvel memutar kursinya perlahan. Wajahnya datar, matanya menatap dingin ke arah lubang senjata tanpa ada kilat ketakutan sedikit pun. Ia bahkan sempat merapikan manset kemejanya.
"Kau dikirim oleh klan sebelah? Atau sekadar tikus kecil yang mencari nama?" tanya marvel. Suaranya rendah, namun memiliki daya tekan yang membuat nyali lawan menciut.
"Itu tidak penting!" bentak si penyusup, tangannya mulai gemetar.
"Penting bagiku," sela marvel dingin. "Karena cara kematianmu akan bergantung pada siapa yang membayarmu."
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang benderang. Belasan laras senjata otomatis muncul dari balik tirai dan pintu rahasia, semuanya membidik si penyusup. Marvel berdiri, berjalan mendekat hingga ujung pistol si penyusup menyentuh dadanya.
"Kau pikir kau masuk ke sini karena kau hebat?" Marvel berbisik tepat di telinga pria itu. "Kau masuk karena aku membiarkanmu. Aku butuh pesan untuk dikirim kembali ke tuanmu."
Tanpa peringatan, marvel merebut pistol itu dengan gerakan secepat kilat dan mematahkan pergelangan tangan si penyusup dalam satu sentakan. Teriakan kesakitan pecah, mengisi ruangan yang tadinya sunyi.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Marvel pada anak buahnya sambil menyeka tangannya dengan sapu tangan putih. "Dan pastikan tuannya menerima jarinya besok pagi sebagai surat balasan."
Marvel kembali ke mejanya, seolah interupsi maut itu hanyalah gangguan kecil dalam agenda hariannya. Baginya, penyusup bukan ancaman, melainkan sekadar alat komunikasi yang efektif untuk menunjukkan siapa penguasa kota sebenarnya.
Lantai 23 gedung pusat Yogyakarta bergetar pelan oleh deru hujan. Di balik meja mahoni hitam, Marvel Dewangsa menyesap wiskinya. Matanya sedingin baja, tanpa emosi, persis seperti reputasinya sebagai "Algojo Tanpa Suara" dari klan Dewangsa.
Di depannya, seorang pria bersimpuh, gemetar hebat. "Tolong, Marvel ... saya punya keluarga," rintihnya.
Marvel meletakkan gelasnya pelan. Bunyi tuk kecil itu terdengar seperti lonceng kematian di ruangan yang sunyi itu. Ia berdiri, merapikan setelan jasnya yang tak berkerut sedikit pun.
"Keluarga adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah pilihan," suara Marvel berat dan datar. "Kau memilih kelemahan, lalu menjadi mata-mata. Itu kombinasi yang fatal."
Marvel tidak perlu mengangkat senjata untuk menunjukkan otoritasnya. Ia hanya memberikan isyarat kecil kepada pengawal yang berjaga di ambang pintu. "Bawa dia pergi. Pastikan dia mengembalikan apa yang bukan miliknya, lalu pastikan dia tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini lagi."
Pria itu diseret keluar, menyisakan kesunyian yang mencekam di ruangan luas tersebut. Marvel kembali menatap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang kabur oleh hujan. Baginya, bisnis ini bukan soal kekerasan semata, melainkan soal kendali mutlak.
Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat kepada asistennya mengenai jadwal pertemuan malam ini. Tidak ada ruang untuk kesalahan, dan tidak ada waktu untuk belas kasihan yang tidak perlu. Marvel Dewangsa selalu bergerak selangkah di depan musuh-musuhnya, menjaga kekuasaannya tetap kokoh di tengah bayang-bayang kota.