"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERTEMUAN YANG CANGGUNG
Cahaya lampu minyak memantul di wajah Datuk Maringgih. Tenang. Tegap. Tidak berubah—hanya lebih pendiam.
Halimah ingin menatap matanya seperti dulu. Namun Maringgih justru menunduk, menjaga jarak dengan sadar.
Bukan karena jijik. Tapi karena ia tahu—satu langkah salah bisa menghancurkan nama Halimah.
Sore itu, langit mulai jingga ketika Halimah dan Mak Ijah tiba di mushola kecil dekat sungai.
Mushola itu sederhana. Dinding papan, atap rumbia, mimbar kayu tua di dalam. Tapi halamannya bersih, dipenuhi pohon-pohon bambu yang melambai pelan ditiup angin.
Halimah mengatur napas. Jantungnya berdebar kencang.
Ini dia. Aku akan bertemu.
Mak Ijah menggenggam tangannya. "Tenang, Neng. Nyai di sini."
Halimah mengangguk. Mereka masuk ke halaman mushola. Beberapa perempuan sudah duduk di serambi, menunggu waktu magrib tiba.
Halimah duduk di antara mereka. Mak Ijah di sampingnya.
Matanya mencari. Mencari sosok yang selama ini hanya ada di ingatan.
Dan di sudut halaman, ia melihatnya.
Datuk Maringgih duduk di bangku kayu dekat sumur. Peci putih di kepala, baju koko sederhana, sarung dililit rapi. Wajahnya tenang, matanya memandang ke arah sungai yang mengalir pelan.
Halimah menatapnya. Tiga puluh empat tahun. Tidak banyak berubah dari kenangan masa kecilnya. Hanya lebih dewasa. Lebih pendiam. Lebih... berat.
Dia di sana. Hanya beberapa langkah dariku.
Tangan Halimah gemetar.
Tiba-tiba, Datuk Maringgih menoleh.
Mata mereka bertemu.
Sekejap. Hanya sekejap.
Namun di kejap itu, Halimah melihat sesuatu yang membuat hatinya bergetar—bukan karena takut, tapi karena rindu. Rindu pada masa kecil yang damai. Rindu pada sosok pelindung yang dulu selalu ada.
Tapi Maringgih segera menunduk.
Ia berpaling. Matanya beralih ke arah lain. Seolah tidak melihat.
Halimah merasa dunia berhenti.
Kenapa? Kenapa ia menunduk? Kenapa ia tidak mau menatapku?
Azan magrib berkumandang. Suaranya mengalun pelan, menggetarkan jiwa.
Halimah sholat dengan khusyuk, tapi pikirannya melayang. Di barisan depan, ia bisa melihat punggung Maringgih—tegap, tenang, seperti biasa.
Setelah sholat, jamaah mulai berangsur pulang. Halimah masih duduk di serambi, menunggu.
Mak Ijah berbisik, "Neng, sebentar lagi sepi. Nanti Nyai panggil dia."
Halimah mengangguk. Tangannya basah oleh keringat.
Satu per satu jamaah pergi. Tinggal beberapa orang—dan Datuk Maringgih yang masih duduk di bangku dekat sumur, sendirian.
"Neng, tunggu di sini. Nyai ke sana."
Mak Ijah berjalan mendekati Maringgih. Ia berbicara pelan, lalu menunjuk ke arah Halimah.
Maringgih menoleh. Untuk kedua kalinya, mata mereka bertemu.
Tapi lagi-lagi, ia menunduk.
Ia berdiri. Berjalan mendekat. Langkahnya mantap, tapi wajahnya... wajahnya tidak menunjukkan apa-apa.
Sesampainya di dekat Halimah, ia berhenti. Jarak cukup jauh—masih dalam batas aman. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
"Assalamu'alaikum," suaranya pelan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Halimah.
Sunyi.
Halimah ingin bicara. Ingin bertanya. Ingin mengatakan banyak hal.
Tapi Maringgih justru menunduk. Matanya melihat ke tanah, tidak ke wajahnya.
"Ada perlu apa, Neng Halimah?" tanyanya.
Panggilan itu. Neng Halimah. Seperti dulu. Seperti waktu ia masih kecil.
Halimah menarik napas. Dadanya sesak. Rasa sakit yang tertahan sejak pertemuan ini dimulai akhirnya meluap.
"Datuk, saya ingin bertanya langsung." Suaranya bergetar. "Bukan melihat sendiri. Tapi bertanya. Apakah Datuk jijik dengan anak antek kompeni? Apakah karena ayah saya, Datuk tidak mau melihat wajah saya?"
Maringgih tersentak. Untuk pertama kalinya, ia mengangkat wajah. Matanya membelalak.
"Bukan begitu!"
Kalimat itu keluar cepat. Tanpa pikir. Dari hati.
Halimah tertegun. Matanya basah.
"Bukan begitu, Neng Halimah." Suara Maringgih lebih pelan sekarang, tapi tegas. "Bukan itu. Sama sekali bukan itu."
"Lalu kenapa?" tanya Halimah, air matanya jatuh. "Kenapa Datuk tidak mau menatap saya? Kenapa Datuk menjauh?"
Maringgih menghela napas panjang. Ia memandang Halimah—untuk pertama kalinya, ia benar-benar memandang.
"Neng Halimah, dengar." Suaranya lembut, seperti dulu saat menuntun Halimah kecil pulang. "Saya tidak pernah jijik pada siapa pun. Apalagi pada Neng. Neng adalah anak yang dulu saya kenal, yang saya tolong, yang saya sayangi seperti keponakan sendiri."
Halimah terisak.
"Tapi sekarang Neng sudah dewasa." Maringgih melanjutkan. "Neng bukan lagi anak kecil. Saya lelaki, Neng perempuan. Bukan mahram. Kalau saya terlalu dekat, kalau saya terlalu sering menatap, orang bisa bicara. Fitnah bisa merebak. Dan Neng... Neng yang akan hancur."
Ia menunduk lagi. Bukan karena tidak mau menatap, tapi karena menahan sesuatu.
"Saya tidak mau nama Neng tercoreh karena saya. Saya tidak mau Neng dapat gunjingan karena bertemu saya. Itu saja. Bukan jijik. Bukan benci. Tapi justru karena... karena saya peduli."
Halimah terdiam.
Semua amarah, semua sakit hati, semua kebingungan—tiba-tiba mencair.
Ia peduli. Ia menjaga. Bukan menolak.
"Maafkan saya, Datuk," bisiknya. "Saya mengira... saya mengira yang salah."
Maringgih tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti dulu.
"Tidak apa, Neng. Neng masih muda. Wajar kalau salah paham."
Sunyi lagi. Tapi kali lain lain. Tidak canggung. Tidak sakit. Hanya... sunyi yang damai.
"Neng Halimah," Maringgih memecah keheningan. "Ada yang bisa saya bantu? Neng datang ke sini pasti bukan tanpa sebab."
Halimah diam. Ia ingin bertanya banyak hal. Tentang ayahnya. Tentang kebencian. Tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi ia juga takut. Takut mendengar jawaban yang tidak ia inginkan.
"Ayah saya..." ia memulai, lalu berhenti.
Maringgih menunggu. Tidak mendesak.
"Ayah saya bilang Datuk jahat. Tapi saya... saya tidak percaya." Halimah menatapnya. "Saya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?"
Maringgih menghela napas. Ia memandang ke arah sungai yang mulai gelap.
"Neng Halimah, cerita ini panjang. Dan tidak semua bisa saya ceritakan di sini, di tempat umum seperti ini." Ia kembali menatap Halimah. "Tapi satu hal yang bisa saya katakan: saya tidak pernah benci ayah Neng. Saya hanya... kecewa."
"Kecewa?"
"Iya. Karena ia berubah. Karena ia lupa dari mana ia datang." Maringgih tersenyum getir. "Tapi itu urusan saya dan dia. Neng tidak perlu terlibat."
Halimah ingin bertanya lebih banyak. Tapi ia tahu, ini bukan tempatnya.
"Datuk, saya... saya boleh bertemu lagi?" tanyanya ragu.
Maringgih diam. Berpikir.
"Neng Halimah, lebih baik tidak. Bukan karena saya tidak mau. Tapi untuk kebaikan Neng sendiri. Orang bisa curiga kalau Neng sering bertemu saya."
Halimah menunduk. Kecewa. Tapi ia mengerti.
"Tapi kalau Neng butuh sesuatu," Maringgih melanjutkan, "bisa lewat Mak Ijah. Saya akan bantu apa pun yang bisa."
Halimah mengangguk pelan. "Terima kasih, Datuk."
Matahari hampir tenggelam. Langit jingga mulai memudar.
"Pulanglah, Neng. Sebentar lagi gelap." Maringgih berdiri. "Mak Ijah, tolong antar Neng Halimah dengan selamat."
Mak Ijah mengangguk. "Tentu, Datuk."
Maringgih berbalik. Ia melangkah pergi, meninggalkan Halimah yang masih duduk di bangku kayu.
Sebelum benar-benar jauh, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata:
"Neng Halimah, doakan saya. Dan doakan ayah Neng. Semoga kita semua diberi petunjuk."
Ia pergi. Menghilang di balik pohon bambu.
Halimah menatap punggung itu sampai tak terlihat.
Ia baik. Ia tetap baik seperti dulu.
Tapi kenapa pertemuan ini terasa begitu berat?
Mak Ijah menggenggam tangannya. "Neng, pulang. Sudah gelap."
Halimah mengangguk. Mereka berjalan meninggalkan mushola.
Sepanjang jalan, Halimah diam. Pikirannya penuh.
Ayah salah tentang Datuk Maringgih. Datuk Maringgih bukan bajingan. Ia justru menjaga.
Tapi kenapa ayah membencinya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Ia tahu, pertanyaan itu tidak akan terjawab malam ini.
Tapi satu hal yang ia tahu pasti: kebenaran ada di pihak Datuk Maringgih. Dan ia, Halimah, harus mencari tahu lebih banyak.
[Bersambung...]