Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kontrak Kosong & Aturan Main
"Dia online?"
"Online, Pak! Statusnya baru saja berubah hijau!"
Kairo langsung menyambar tablet dari tangan Reza. Sejak sore, ia menunggu balasan dari EL layaknya remaja yang menunggu kabar dari gebetan. Pesan tawarannya—untuk membeli otak EL dengan harga berapa pun—masih terpampang jelas.
Tiga titik bergerak di layar. EL mengetik.
EL: Saya bukan barang dagangan yang bisa dibeli. Simpan uang Anda untuk amal.
"Sombong sekali!" seru Reza. "Dia menolak tawaran kontrak kosong Diwantara Group?"
Kairo justru tertawa kagum. "Dia bukan sombong, tapi jual mahal. Penolakan ini membuktikan dia punya prinsip."
Sementara itu, di kamar sebelah yang hanya terpisah satu tembok, Elena berbaring santai dengan masker wajah. Laptop di pangkuannya menampilkan jendela chat yang sama.
"Dasar buaya korporat. Dikasih hati minta jantung," gumam Elena. Ia harus membuat Kairo putus asa dulu—teknik negosiasi dasar.
Kairo membalas, menyatakan ia mencari partner, bukan pegawai. Ia butuh otak sejahat strategi EL.
Elena berpikir sejenak. Ia butuh dana operasional bersih yang tak terlacak untuk membangun bisnisnya sendiri. "Oke, Suamiku. Kalau kau memaksa ingin diperas, aku akan memerasmu sampai kering."
EL: Saya hanya mau bekerja sebagai Konsultan Bayangan. Tidak ada tatap muka, telepon, atau video call. Tarif saya: 50 Juta Rupiah per jam. Bayar di muka per 10 jam.
"Gila! Lima puluh juta per jam?!" teriak Reza. "Ini pemerasan!"
Kairo terdiam sejenak, menghitung potensi biaya miliaran. Namun, teringat kerugian dua triliun yang dialami Gunawan, angka itu terasa kecil. "Murah," gumam Kairo. "Otaknya bernilai triliunan."
Kairo menyetujui, namun dengan syarat tambahan: EL dilarang melayani kompetitor. Elena tersenyum lebar di balik maskernya. "Posesif sekali," komentarnya.
EL: Sepakat. Kirimkan Retainer Fee untuk 20 jam pertama sekarang juga.
"Satu miliar di muka," Reza menggeleng tak percaya. "Kalau dia kabur gimana?"
"Dia tidak akan kabur," Kairo membuka aplikasi crypto banking. "Orang secerdas ini mau main panjang."
Jantung Kairo berdegup kencang. Dengan EL di pihaknya, ia merasa tak terkalahkan. "Selamat bergabung, Hantu," bisiknya seraya menekan tombol kirim.
Processing... SENT.
Tepat satu detik setelah status terkirim...
TING!
Sebuah notifikasi nyaring terdengar dari balik tembok kamar Elena. Itu bukan bunyi biasa, melainkan suara custom denting koin emas—bunyi notifikasi aplikasi keuangan yang sama persis dengan milik Kairo.
Kairo membeku. "Pak? Itu suara HP Ibu Sora?" tanya Reza kaget.
Otak Kairo berputar cepat. Kenapa HP istrinya yang gaptek berbunyi tepat setelah ia mentransfer uang ke EL? Dan kenapa bunyinya spesifik aplikasi trading?
"Kebetulan... mungkin notifikasi Shopee?" sanggah Kairo ragu.
"Shopee bunyinya 'Shopee!', Pak. Bukan koin," koreksi Reza.
Wajah Kairo kaku. Ia mengendap-endap menuju pintu kamar Elena dan menempelkan telinganya. Hening, lalu terdengar gumaman riang: "Asyik... masuk kandang..."
Kecurigaan Kairo menyala. Ia mengetuk pintu. "Sora?"
Terdengar suara grasak-grusuk panik. "Ya? Aku sudah tidur, Kairo. Jangan ganggu," sahut Elena dengan nada mengantuk yang dibuat-buat.
"Buka pintunya. Tadi aku dengar notifikasi keras dari HP-mu. Pesan dari siapa?"
"Itu... notifikasi game," jawab Elena. "Main Candy Crush. Dapat bonus koin."
Alasan itu masuk akal, tapi insting Kairo berteriak ada yang salah. "Buka, atau aku ambil kunci cadangan."
Pintu terbuka. Elena berdiri dengan wajah hijau bermasker, menyodorkan HP yang menampilkan Candy Crush. "Puas? Level 50. Baru dapat jackpot."
"Udah sana. Nanti masker wajahku retak."
Kairo menatap layar HP itu. Memang game. Tapi matanya yang jeli menangkap sesuatu di bilah notifikasi: ikon kunci gembok VPN, dan di sebelahnya, ikon kecil aplikasi chat terenkripsi—sama persis dengan yang ia pakai untuk menghubungi EL.
Kairo menatap mata Elena tajam. "Sejak kapan kau pakai VPN dan aplikasi Signal untuk main Candy Crush, Sora?" tanyanya pelan, menusuk jantung kebohongan istrinya.
Elena terdiam. Jantungnya berhenti sedetik. "Sial," batinnya. "Mata elang ini terlalu teliti."
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor