Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: RAHASIA SEO JUNG-WON
Tiga hari berlalu sejak insiden di lorong bawah tanah.
Yun-seo dan Yehwa menjalani hari-hari seperti biasa—latihan pagi, teori siang, jurus sore, dan pertemuan rahasia di perpustakaan malam hari. Tapi ada yang berbeda. Kini mereka punya target baru: mencari tahu rahasia Seo Jung-won.
Pedang Naga Iblis tersembunyi di kamar Yehwa, terbungkus kain hitam. Setiap malam, Yehwa bermeditasi dengan pedang itu, menyerap energinya sedikit demi sedikit. Kekuatannya kini sekitar 15%—cukup untuk bertahan jika diserang, tapi belum cukup untuk melawan Lilian.
Tapi kekuatan bukan satu-satunya yang bertambah. Rasa penasarannya pada Seo Jung-won juga menggebu-gebu.
"Dia berdarah iblis," bisik Yehwa malam itu di perpustakaan. "Aku yakin. Saat dia menyentuh lenganku, aku merasakan getaran yang sama seperti saat bertemu iblis lain."
Yun-seo mengernyit. "Tapi dia manusia. Atau setengah?"
"Mungkin setengah. Itu menjelaskan kenapa dia begitu kuat di usia muda." Yehwa menatap Yun-seo serius. "Dan kenapa dia menyelamatkan kita."
"Karena dia tahu kau iblis?"
"Mungkin. Atau mungkin dia punya tujuan sendiri."
Mereka diam, mencerna kemungkinan. Lalu Yun-seo bertanya, "Apa yang harus kita lakukan?"
Yehwa menghela napas. "Kita harus bicara padanya. Sendiri."
"Itu berbahaya."
"Aku tahu. Tapi dia sudah tahu rahasiaku. Sekarang giliranku tahu rahasianya." Yehwa menggenggam tangan Yun-seo. "Bersamaku?"
Yun-seo tersenyum. "Selalu."
---
Kesempatan datang dua hari kemudian.
Seo Jung-won mengadakan sesi latihan khusus untuk murid baru yang berprestasi. Hanya sepuluh orang yang diundang—Yun-seo dan Yehwa termasuk di dalamnya. Cheol-soo juga dipanggil, entah bagaimana caranya.
Latihan berlangsung di lapangan belakang yang biasanya tertutup untuk umum. Seo Jung-won berdiri di tengah, pedang kayu di tangan, wajah dingin seperti biasa.
"Kalian dipilih karena potensi kalian. Tapi potensi tanpa latihan keras tidak berarti." Matanya memindai mereka satu per satu. "Hari ini, kalian akan belajar dariku. Dan kalian akan menderita."
Latihan dimulai. Seo Jung-won mengajarkan jurus tingkat lanjut—gerakan-gerakan yang bahkan belum diajarkan guru. Ia sabar menjelaskan, memperbaiki posisi, kadang memukul murid yang salah dengan tongkat.
Tapi matanya sering tertuju pada Yehwa. Bukan mesum—lebih seperti pengamatan.
Setelah latihan selesai, saat murid lain beristirahat, Seo Jung-won mendekati mereka.
"Ikut aku," katanya singkat.
Mereka dibawa ke ruang kecil di belakang lapangan—semacam gudang peralatan. Setelah pintu tertutup, Seo Jung-won menatap mereka tajam.
"Aku tahu kalian ingin bicara."
Yehwa tidak bertele-tele. "Kau berdarah iblis."
Seo Jung-won diam. Lalu, untuk pertama kalinya, senyum muncul di wajahnya—senyum getir, pahit.
"Aku tahu kau akan menyadarinya. Dari awal, ada sesuatu padamu yang terasa... familiar."
"Ibumu? Ayahmu?"
Seo Jung-won menarik napas panjang. Lalu duduk di kotak kayu, menatap lantai.
"Ayahku manusia. Ibuku... iblis." Ia menghela napas. "Tapi tidak ada yang tahu. Ibuku menyamar sebagai manusia selama puluhan tahun. Baru saat aku lahir, wujud aslinya terlihat. Ayahku hampir membunuhnya."
Yehwa terkejut. "Dia selamat?"
"Dia kabur. Meninggalkan aku pada ayah." Suara Seo Jung-won datar, tapi ada luka di dalamnya. "Ayah bilang dia mati. Tapi aku tahu dia hidup. Aku bisa merasakannya."
Yun-seo bertanya pelan, "Kau pernah mencarinya?"
"Tidak. Aku takut." Seo Jung-won menatap mereka. "Takut kalau aku menemukannya, aku harus memilih. Manusia atau iblis. Dan aku tidak siap memilih."
Yehwa mendekat, duduk di sampingnya. "Kau tidak harus memilih."
Seo Jung-won menoleh.
"Aku ratu iblis," kata Yehwa pelan. "Tapi aku juga manusia sekarang. Dua sisi dalam satu tubuh. Itu bukan kutukan. Itu kekuatan."
Mata Seo Jung-won melebar. "Ratu iblis?"
Yehwa mengangguk. "Aku Hwang Yehwa, penguasa Dinasti Iblis Surgawi. Tapi aku dikhianati, kehilangan kekuatan, dan sekarang bersembunyi di sini bersama suamiku." Ia menunjuk Yun-seo. "Manusia dari dunia lain."
Seo Jung-won menatap Yun-seo dengan takjub. "Jadi kau bukan manusia biasa?"
"Aku manusia biasa banget," jawab Yun-seo jujur. "Cuma kebetulan kepanggil cincin aja."
Seo Jung-won diam lama. Lalu tertawa—tawa pertama yang pernah mereka dengar darinya.
"Dunia ini gila," katanya. "Ratu iblis jadi murid akademi, manusia dari dunia lain jadi suaminya, dan aku setengah iblis jadi asisten guru."
Yehwa tersenyum. "Memang gila."
Mereka bertiga diam sejenak. Lalu Seo Jung-won berkata, "Apa yang kalian cari? Pedang itu pasti bukan tujuan akhir."
Yehwa menjelaskan semuanya—tentang Lilian, Penguasa Kegelapan, pusaka iblis, dan misi mereka mengumpulkan kembali kekuatan. Seo Jung-won mendengarkan tanpa memotong.
Saat Yehwa selesai, ia mengangguk pelan.
"Aku akan bantu kalian."
Yun-seo terkejut. "Kau mau bantu?"
"Aku punya alasan sendiri." Seo Jung-won menatap mereka. "Penguasa Kegelapan itu... mungkin ada hubungannya dengan ibuku. Aku harus tahu."
Yehwa mengangguk mengerti. "Kalau begitu, kita punya tujuan bersama."
Mereka berjabat tangan—ratu iblis, manusia modern, dan setengah iblis. Aliansi aneh, tapi mungkin inilah yang dibutuhkan.
---
Malam harinya, di perpustakaan, Yun-seo dan Yehwa berdiskusi.
"Dia bisa dipercaya?" tanya Yun-seo ragu.
Yehwa mengangguk. "Dia punya motif yang sama. Dan dia tidak akan mengkhianati kita—setidaknya, selama kita berguna."
"Itu agak sinis."
"Itu realistis." Yehwa tersenyum. "Tapi aku rasa dia baik. Hanya tersesat."
Yun-seo meraih tangannya. "Seperti seseorang yang kukenal."
Yehwa memukul lengannya pelan. "Kau bilang aku tersesat?"
"Waktu pertama ketemu, iya. Iblis sekarat, jatuh di depanku." Yun-seo tertawa. "Sekarang? Mungkin tidak."
Yehwa mendengus, tapi tersenyum. Lalu tiba-tiba, ia mendekat.
"Terima kasih," bisiknya. "Karena percaya padaku. Karena tetap di sini."
Yun-seo merasakan jantungnya berdebar. "Aku tidak akan ke mana-mana."
Mereka berciuman—pertama kalinya. Lembut, hangat, di antara rak buku tua dan cahaya lampu minyak yang redup.
Dunia di luar mungkin kacau. Tapi untuk saat ini, hanya mereka berdua yang berarti.
---