Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Ethan mengangkat tangan Dira dengan hati-hati, jemari tangannya sedikit menggigil tak terkendali. Ia menatapnya dengan mata yang dalam, sesuatu yang Dira belum sempat bedakan dengan jelas apakah itu tulus, atau hanya sekadar formalitas biar orang-orang tidak curiga pernikahan ini dilakukan hanya semata karena anak.
"Kau terlalu tegang." bisik Ethan pelan, hanya Dira yang bisa dengar.
Dira berusaha bersikap biasa. Arel berdiri tepat di antara mereka berdua, tangan kecilnya masih menggenggam ibu dan ayahnya secara bergantian. Bocah itu melihat ke arah pemimpin acara yang sudah berdiri siap di sisi pelaminan, wajahnya penuh rasa penasaran dan kegembiraan.
Pemimpin acara memulai sambutan dengan nada hangat. Ia menyampaikan makna pernikahan sebagai ikatan kasih sayang dan komitmen. Ketika dia menyebutkan nama Ethan dan Dira, angin sepoi-sepoi menyapu lembut pelaminan, membuat veil Dira bergerak lembut dan lampu-lampu gantung di dahan pohon sedikit bergetar.
"Apakah kamu, Ethan Ravello, menerima Dira sebagai istri sah kamu, akan selalu menjaganya, mencintainya, dan mendukungnya dalam suka dan duka, dalam kemakmuran dan kesusahan?"
Ethan menoleh ke arah Dira, matanya tidak lagi menyembunyikan emosi yang terpendam. Tatapan itu tampak hangat untuk sesaat.
"Aku menerima," jawabnya dengan suara yang jelas dan tegas, membuat beberapa tamu mengangguk dengan senyum hangat.
Pemimpin acara kemudian menghadap Dira.
"Apakah kamu, Dira Ananta, menerima Ethan sebagai suami sah kamu, akan selalu menjaganya, mencintainya, dan mendukungnya dalam suka dan duka, dalam kemakmuran dan kesusahan?"
Dira melihat ke mata Ethan, lalu melihat Arel yang sedang menatapnya dengan wajah berseri. Di belakang barisan tamu, dia melihat Raka yang berdiri di sisi pelaminan, meskipun jalannya masih kaku, tatapannya penuh dengan dukungan. Dia berpikir tentang masa lalu yang penuh dengan rasa sakit dan kesalahan, tentang hari-hari yang mereka lalui sendiri dengan Arel, dan tentang cintanya yang diam-diam masih besar sekali untuk Ethan.
"Aku menerima," ucapnya dengan nada yang tenang namun pasti.
Saat mereka akan bertukar cincin, Arel dengan bangga mengangkat bantal kecil yang membawa cincin pernikahan. Ethan mengambil cincin emas mahal itu dan memasangkannya di jari manis Dira, sementara Dira memasangkan cincin yang sama desainnya di jari Ethan. Ketika ujung jari mereka bersentuhan, ada getaran hangat yang mengalir di antara keduanya, sesuatu yang belum pernah mereka rasakan setelah enam tahun putus.
Setelah ucapan selamat dari pemimpin acara, Ethan perlahan mengangkat tangan Dira dan mencium pelipisnya dengan lembut. Tidak terlalu lama, tidak terlalu melebih-lebihkan.
Tepuk tangan meriah langsung terdengar. Suara Hazel dan Talia yang paling kencang. Acara pun di lanjutkan dengan resepsi.
Halaman depan rumah Ethan yang luas menjadi tempat berkumpulnya tamu-tamu yang menikmati hidangan lezat dan minuman segar. Musik akustik yang dimainkan oleh trio musik membuat suasana semakin hangat dan meriah.
Dira duduk di meja utama bersama Ethan dan Arel. Kara datang menghampiri mereka bersama Matt, membawa gelas jus buah segar.
"Kak Dira, boleh aku ambil Arel sebentar? Keluarga pengen foto dia," ajak Kara dengan senyum ramah.
Arel langsung melompat dari kursinya dengan senang hati, menggenggam tangan Kara. Anak itu cepat akrab dengan orang. Dira melihat anaknya berlari ke arah keluarga Ethan yang sudah siap dengan kamera, wajahnya penuh keceriaan. Ia tersenyum lembut, rasa lega dan bahagia mulai meresap dalam hatinya.
Tak lama setelah itu seorang perempuan langsung mendatangi Ethan dan Dira. Dira langsung mengenalinya. Perempuan yang dia pikir adalah kekasih atau istri Ethan waktu ia bertemu pria itu lagi di kereta.
Liana.
Dira masih ingat nama itu. Anehnya, wanita itu tersenyum lebar padanya.
"Astagaa! Aku memang bodoh. Pantas saja waktu itu aku merasa Ethan berbeda padamu. Ternyata kau adalah mantan pacarnya yang membuat dia uring-uringan dan gagal move on itu!"
"Liana," Ethan menatap Liana tajam, memberi peringatan dengan tatapannya. Apalagi suara wanita itu kencang sekali.
Beberapa tamu di sekitar mereka sempat menoleh karena suara Liana yang terlalu bersemangat.
Liana justru tertawa kecil, sama sekali tidak terlihat canggung.
"Apa? Aku cuma jujur. Lagian sekarang kan sudah resmi jadi istrinya."
Dira menegakkan punggungnya. Senyum sopan terpasang di wajahnya, meski dadanya terasa sedikit menegang.
"Aku nggak menyangka kalian sudah punya anak sebesar itu." lanjut Liana, kali ini suaranya sedikit diturunkan sambil menunjuk Arel di ujung sana.
"Waktu di kereta itu, aku sempet mau kenalan sama kamu dan kenalin ke Ethan, eh... Ternyata udah jadi ibu dari anak laki-laki dingin ini."
"Liana." kali ini nada Ethan lebih tegas.
"Cukup."
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Liana akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Oke, oke. Tuan pemarah." Ia menoleh pada Dira lagi, tatapannya lebih lembut.
"Seriously, aku senang banget kamu mau jadi istri sepupu arrogant-ku ini."
Dira mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Oh. Ternyata mereka sepupuan. Waktu itu dia yang salah sangka. Lalu kondom yang Ethan beli di supermarket waktu itu, dia pakai dengan siapa?
"Apa yang kau pikirkan?" bisikan Ethan di telinganya membuat Dira kaget sekali. Ia langsung menggeleng kuat-kuat. Wajahnya merah sekali. Dahi Ethan berkerut bingung. Ia hendak bicara lagi tapi Damian sudah datang bersama Talia, Hazel dan Zaka.
"Astaga kak Diraaa. Lama banget gak ketemuu. Kangen tahu." Hazel langsung memeluk Dira.
Dira tertawa kecil, membalas pelukan Hazel dengan hangat.
"Aku juga, kangen."
Damian, Talia dan Zaka ikut memberi ucapan selamat. Dira tersenyum tipis ke Damian, masih ingat hari di mana pria itu mengatakan bahwa ia tahu Arel adalah anak Ethan.
Damian menepuk bahu Ethan.
"Selamat. Bersikap baiklah pada istrimu."
Ethan hanya tersenyum.
"Selfie yuk!" Talia mengeluarkan ponselnya dan langsung berdiri di depan mereka.
"Yang pengantin di tengah!"
Hazel menarik kursi Dira sedikit mendekat ke Ethan. Zaka ikut merapat sambil mengangkat dua jari di belakang kepala Damian, membuat pria itu mendelik kesal. Zaka malah terkekeh.
Ethan tanpa sadar merangkul pinggang Dira. Gerakannya natural, seolah itu hal yang sudah biasa ia lakukan bertahun-tahun. Dira sempat menegang sepersekian detik, lalu membiarkan dirinya rileks. Kehangatan telapak tangan Ethan terasa jelas di balik kain gaunnya.
Sayangnya sekali lagi Dira di sadarkan kalau itu hanyalah sebatas formalitas. Ethan bersikap begitu karena ada banyak orang. Mode dinginnya pasti akan kembali begitu mereka berdua saja.
aku yakin kali ini Dira hamil lagi . dan semoga Ethan mau berlapang dada menerima Dira tanpa mengungkit masa lalu .
dan Arel bisa berdamai dengan ibunya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍