PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Pertemuan Kekasih
Alvaren terdiam sejenak setelah menjelaskan panjang lebar mengenai situasinya yang mencekam, jemarinya mengetuk map di atas meja dengan ritme yang berat. Namun, di sisi lain sofa, pikiran Jihan mulai mengembara jauh dari dokumen warisan itu.
Zeiran juga akan ke perbatasan… tanpa mengucapkan apa pun padaku. Kenapa dia tidak memeberitahuku ? apa dia menjauhiku? .Batin Jihan dengan cemas
Jihan menggenggam ujung roknya hingga kuku jarinya memutih. Jinan, yang sejak tadi memperhatikan dengan mata elangnya, tidak akan membiarkan suasana tetap sunyi. Sebagai seorang superstar yang terbiasa dengan drama yang mencium peluang untuk menggoda kembarannya.
Alisnya terangkat sedikit. sudut bibirnya membentuk seringai provokatif. Jinan berbisik tapi sengaja dibuat terdengar seluruh ruangan.
"Kau pasti memikirkan Zeiran, bukan?"
Jihan tersentak seolah tersengat listrik. Wajahnya memanas seketika. "APA? Apa hubungannya dengan Zeiran?" serunya dengan nada yang terlalu tinggi tanda pertahanan yang gagal.
Jinan menyeringai lebih lebar tanda bahaya. “Jangan berpura-pura, Jihan. Kau tidak cemas pada Alvaren saja, kan? Kau sedang memikirkan pangeran mu, si Zeiran itu, kan? Tatapanmu itu... aku rindu tapi malu mengakuinya. Itu sangat jelas, Jihan. Kau bukan pemain poker yang bagus."
Bugh!
Jihan memukul lengan Jinan dengan bantal sofa. "Diam, Jin! Tidak semua perasaan bisa kau olok-olok seperti gosip artis di set syuting!"
Jinan mengangkat tangan secara dramatis, berpura-pura menyerah “Maaf, tapi aku ini melihat semuanya. matamu selalu berbinar setiap kali pria bangsawan itu lewat. Oh, dan jangan lupa cara kau bilang dia cuma bantu tugas kuliah, padahal kalian berdua hampir seperti adegan film romantis di kampus."
Jinan menahan tawa kecil, sementara Alvaren menunduk, berusaha keras menyembunyikan senyum
“Zeiran bukan urusanmu! Dan aku tidak… tidak seperti itu! Kami hanya —“
"Hanya apa?" potong Jinan cepat, nadanya menusuk namun licik. "Hanya bertemu diam-diam? Hanya saling menatap lama seolah sedang mengucap sumpah rahasia keluarga Alvarezh? Hanya saling menyebut nama dengan suara yang terlalu lembut? Jihan, please..."
"JINAN!" teriak Jihan meledak. "Aku bisa membunuhmu secara legal dan menyembunyikan tubuhmu di taman belakang!"
Jinan menepuk pipinya sendiri, berlagak ketakutan. "Oh tidak, calon diplomat Aestrasia mengancam pembunuhan. Ini berita bagus untuk karierku, Selebriti Global Hampir Dibunuh Kembarannya Sendiri Karena Cinta Terlarang di Militer.”
“ Hentikan, Jinan! Ini bukan waktunya bercanda!" Jihan membalas dengan nada tinggi, mencoba menutupi rasa malunya.
"Aku tidak bercanda. Aku hanya kasihan melihatmu," Jinan memutar bola matanya. "Bayangkan, Jihan. Di perbatasan Elyndor, Zeiran adalah orang pertama yang akan maju melindungi Kak Alvaren. Dia menjadi garda terdepan. Kemungkinan dia kembali dalam keadaan utuh itu... yah, kau tahu sendiri risikonya."
"Cukup!" Jihan berdiri dengan tangan mengepal. "Kau tidak tahu apa-apa tentang dia, atau tentang bagaimana perasaanku!"
"Oh, aku tahu sangat banyak! Aku tahu kau selalu menyimpan kenangan foto di bawah bantalmu seperti gadis remaja yang haus cinta. Sangat tidak elit untuk seorang putri Alvarezh," goda Jinan, meski sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan ketegangan yang menyesakkan dada.
Alvaren menghela napas, suaranya yang berat menghentikan perdebatan mereka. "Sudah. Berhenti bertengkar."
Alvaren menatap Jihan cukup lama. Sebagai kakak, ia tahu segalanya termasuk hubungan diam-diam antara adik perempuannya dengan perwira terbaiknya, Zeiran.
"Jihan," panggil Alvaren pelan.
Jihan menunduk, takut akan teguran. "Iya, Kak."
"Apakah kau ingin bertemu Zeiran sebelum aku berangkat?"
Jihan langsung menegang, matanya membesar. “A-Aku… aku tidak tahu apakah itu tepat. Mungkin dia sedang sibuk. Dan aku… aku tidak ingin menganggu persiapan kalian."
Jinan mendecak. "Lihat? Itu adalah jawaban paling tidak jujur yang pernah kudengar sejak manusia menemukan kebohongan."
Jihan menatap Jinan tajam. "Aku serius! Aku tidak—"
Jinan mengangkat tangan. “Jihan. Kau hanya takut jika kau bertemu Zeiran, kau tidak akan mampu melepaskannya. Karena dia adalah orang yang tidak bisa kau bohongi bahkan dengan ekspresi eleganmu itu." memotong dengan lemah lembut tapi menusuk.
Alvaren bersandar sedikit ke sofa, tatapannya jauh lebih lembut dibanding biasanya saat memimpin pasukan. “Zeiran adalah sahabatku. Dia pria yang bisa kutitipkan nyawaku… dan nyawamu. Aku tahu perasaan kalian berdua, meski kalian berusaha menyembunyikannya."
Jihan menunduk, wajahnya memerah.
Alvaren melanjutkan “Jika ini mungkin menjadi… terakhir kalinya kalian bertemu dalam waktu lama, aku tidak ingin kau menyesal."
Jihan menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca tapi ia berusaha tegar. Jihan suara kecil "Kak… apa itu tidak merepotkan?"
Alvaren menggeleng pelan. “ Sama sekali tidak. Mengetahui adikku memiliki seseorang yang benar-benar ia cintai justru memberiku sedikit ketenangan di tengah kekacauan ini. Aku lebih memilih kau merepotkanku sekarang daripada melihatmu menangisi penyesalan yang tidak bisa diulang nanti."
Jinan menepuk bahu Jihan seperti saudara yang sok bijak. "Pergi. Bilang sesuatu yang dramatis. Atau minimal pastikan dia tahu kalau kau bukan robot akademik tanpa perasaan."
Jihan menatap Jinan tajam tapi wajahnya lembut. “Terima kasih… meski cara menyampaikanmu menjengkelkan."
Jinan mengangguk puas. "Aku hidup untuk menjengkelkanmu. Itu tugasku."
Jihan menoleh ke arah Alvaren dengan napas tertahan. "Jadi aku... boleh pergi?"
Alvaren menatap adiknya dengan penuh kasih. “Pergilah. Aku ingin adikku memiliki kesempatan untuk tidak menyesal. Dunia terlalu keras untuk orang yang memendam semuanya sendirian."
Jihan menutup mulutnya, menahan tangis.
Saat Jihan berdiri hendak mengambil mantel, Jinan tiba-tiba bersiul pelan.
"Ssst… Jihan."
Jihan berhenti, menatap waspada. "Apa lagi?"
"Kalau Zeiran memelukmu... jangan langsung pingsan seperti waktu aktor favoritmu menyapamu di red carpet, oke?"
Jihan membanting bantal ke arah Jinan. "KAU MAU AKU BUNUH?! INI SERIUS!"
Jinan menangkap bantalnya seperti atlet. "Aku hanya mempersiapkanmu secara mental."
Alvaren menggeleng sambil menahan tawa, lalu bangkit dan menepuk bahu Jihan. "Pergi sekarang. Aku akan menunggu di sini. Dan Jihan... ingat, jaga batasan kalian. Beberapa pengawal akan mengawasimu dari jarak jauh."
Jihan tersenyum kecil, perasaan lega mulai mengalir di nadinya. "Iya, Kak. Terima kasih."
Jihan menarik napas panjang, menyambar kunci mobilnya, dan melangkah keluar. Di belakangnya, suara siulan nakal Jinan masih terdengar, mengiringi langkahnya menuju paviliun tempat hatinya tertambat.
—-
Paviliun
Jihan tiba di paviliun dengan napas tersengal. Matanya menyisir setiap sudut area yang biasanya menjadi tempat para perwira beristirahat, namun tempat itu kosong. Hanya ada deretan kursi kayu dan lampu taman yang sepi.
"Zeiran?" panggil Jihan pelan. Suaranya hilang ditelan angin malam.
Ia mulai berjalan cepat menuju barak samping. Tidak ada. Ia pergi ke area latihan. Juga tidak ada. Rasa panik mulai merayap di dadanya.
Apakah dia sudah berangkat? Apakah aku terlambat? pikirnya dengan mata yang mulai memanas.
"Zeiran! Di mana kau?!" teriak Jihan, suaranya kini mulai bergetar karena ketakutan. Ia berlari kecil ke arah hanggar penyimpanan logistik, tempat terakhir yang mungkin dikunjungi Zeiran.
Di tengah kesibukan para prajurit yang sedang menaikkan peti-peti besi ke dalam truk, Jihan berdiri mematung, mencari satu sosok di antara puluhan pria berseragam militer.
Sementara itu, di dekat pintu truk, seorang pria dengan seragam tempur lengkap tanpa baret, sedang sibuk memeriksa daftar logistik. Zeiran. Ia terlihat sangat fokus, keningnya berkerut tajam saat berdiskusi dengan seorang sersan.
Zeiran bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Jika pasokan ini terlambat dua jam saja, garis depan akan kekurangan amunisi. Aku tidak boleh membiarkan celah sekecil apa pun..."
Namun, gerakan tangannya terhenti saat ia merasakan sepasang mata menatapnya. Zeiran menoleh, dan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana, di antara hiruk-pikuk persiapan perang, Jihan berdiri dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca.
"Jihan?" gumam Zeiran terkejut. "Apa yang dia lakukan di sini di jam seperti ini?"
Zeiran segera menyerahkan papan jalan di tangannya kepada prajurit lain tanpa menoleh. Ia melangkah lebar, membelah kerumunan, dan menghampiri Jihan yang tampak sangat rapuh.
"Jihan? Ada apa? Kenapa kau ke sini sendirian? Kenapa kau menangis?” tanya Zeiran dengan nada khawatir yang tertahan.
Jihan tidak menjawab. Ia hanya menatap Zeiran, mencoba merekam setiap inchi wajah pria itu sebelum semuanya hilang. Air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Aku... aku pikir kau sudah pergi," bisik Jihan, suaranya hampir tak terdengar.
"Hei, tenanglah. Aku di sini," bisik Zeiran, suaranya rendah dan menenangkan.
"Kau... kau akan pergi," suara Jihan pecah. "Kak Alvaren bilang... Elyndor...kalian akan kembali bukan ."
Zeiran melihat sekeliling, merasa area ini terlalu bising untuk sebuah perpisahan.
"Ikut aku. Ada kafe di ujung jalan paviliun. Kita bicara di sana." ajak Zeiran menggenggam tangan Jihan untuk mengikutinya.
—-
Kafe dekat paviliun
Zeiran menarikkan kursi untuk Jihan dan memesan dessert dan minuman kesukaan Jihan. Zeiran duduk di hadapan Jihan, menatap mata gadis itu dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan.
"Dengarkan aku," kata Zeiran pelan namun tegas. "Tugas di perbatasan memang berbahaya, tapi itu adalah tugas kami. Aku sudah melakukannya ratusan kali sebelum ini."
"Tapi kali ini berbeda, Zeiran! Kak Alvaren memberikan warisannya padaku malam ini! Dia bicara seolah-olah dia sedang menulis surat wasiat!" Jihan memegang tangan Zeiran yang kasar karena latihan militer.
"Jangan pergi... atau setidaknya, berjanjilah padaku kau tidak akan menjadi pahlawan yang mati konyol demi melindungi orang lain."
Zeiran tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hanya ia berikan pada Jihan. "Aku adalah prajurit, Jihan. Tugasku adalah melindungi rakyat, negara, keluargamu, terutama kakakmu. Tapi kau harus tahu satu hal..."
Ia menggenggam balik tangan Jihan, memberikan kehangatan yang dibutuhkan gadis itu. “Alasan utama aku ingin bertahan hidup di Elyndor bukan karena perintah Jenderal, tapi karena aku tahu ada seseorang yang menungguku pulang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, menghalangiku untuk kembali melihatmu."
"Zeiran..." Jihan menatapnya dengan mata yang masih basah. "Berjanjilah. Pakai kalung keberuntungan yang kuberikan dulu. Jangan pernah dilepas."
"Aku selalu memakainya di balik seragam ini, Jihan. Dekat dengan jantungku,"
Zeiran berdiri, menarik Jihan ke dalam pelukan penuh perlindungan. "Malam ini mungkin terasa seperti akhir dunia, tapi percayalah pada kakakmu, dan percayalah padaku. Kami akan membawa kemenangan dari Elyndor, dan kita akan kembali."
Jihan memejamkan mata, menghirup aroma maskulin dan keringat dari seragam Zeiran, mencoba merekam momen ini seolah ini adalah oksigen terakhirnya sebelum badai benar-benar menghantam Aestrasia.
Setelah pelukan singkat yang menyesakkan itu, Zeiran melepaskan Jihan perlahan. Ia tahu, jika ia membiarkan kesedihan menyelimuti ruangan ini, Jihan tidak akan bisa melepaskannya pergi.
Zeiran beranjak sejenak menuju konter kecil di kafe paviliun tersebut. Tak lama, ia kembali dengan segelas Milk Strawberry dingin dan sepotong Cheesecake Strawberry makanan yang selalu bisa mengubah suasana hati Jihan dalam sekejap.
Jihan hanya menatap nampan itu dengan tatapan kosong. Kilauan stroberi yang merah segar di hadapannya sama sekali tidak menarik. Pikirannya masih tertambat pada seragam militer Zeiran dan bahaya yang menanti di Elyndor.
Zeiran memperhatikan itu. Ia menghela napas pendek, lalu menarik kursi lebih dekat hingga lutut mereka bersentuhan. Ia mengambil garpu kecil, memotong bagian paling lembut dari cheesecake itu, lalu mengangkatnya ke udara.
"Ayo, my princess... buka mulutmu," ujar Zeiran dengan nada yang sedikit dibuat-buat, mencoba meniru gaya pelayan bangsawan yang kaku namun lucu. "Pesawat kargo militer ini tidak akan terbang jika sang putri belum mengisi bahan bakar stroberinya."
Jihan mendongak, menatap mata Zeiran yang kini tampak berkilat jahil. "Zeiran, aku tidak lapar."
"Oh, benarkah? Padahal kue ini sudah memohon padaku untuk diselamatkan olehmu," Zeiran mendekatkan garpu itu ke bibir Jihan, sedikit menggoyang-goyangkannya. "Aaaa... satu suapan saja, atau aku akan melaporkan pada Jenderal Alvaren bahwa adiknya sedang melakukan aksi mogok makan."
Melihat tingkah konyol pria yang biasanya dingin dan kaku di medan perang itu, pertahanan Jihan runtuh. Sebuah senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Ia akhirnya membuka mulut dan melahap potongan cheesecake tersebut.
Zeiran tersenyum puas. Ia memotong bagian lainnya sambil terus menatap Jihan dengan binar kasih sayang. "Lihat itu... wajahmu jauh lebih cantik saat tersenyum, my princess. Jadi jangan cemberut lagi, ya? Nanti cantiknya hilang, tertinggal di paviliun ini."
Ia menyuapkan potongan kedua dengan gerakan yang sangat lembut. "Bagaimana? Enak?"
Jihan mengunyah pelan, merasakan manisnya stroberi yang berpadu dengan gurihnya keju, namun yang lebih ia rasakan adalah perhatian tulus dari pria di depannya. Ia mengangguk perlahan sambil menelan kue itu.
"Sangat enak," gumam Jihan, matanya kini menatap Zeiran dengan dalam. "Tapi sepertinya, kue ini terasa jauh lebih manis karena kau yang menyuapinya."
Pipi Jihan sedikit memerah setelah mengatakan itu. Ia meraih gelas milk strawberry nya, menyesapnya sedikit untuk menutupi rasa malunya. "Jika kau di sana nanti... apakah kau akan menemukan stroberi semanis ini?"
Zeiran meletakkan garpu, ia meraih tangan Jihan dan mengusap ibu jarinya di atas punggung tangan gadis itu.
"Di perbatasan hanya ada debu dan asap, Jihan. Tidak ada stroberi, tidak ada musik, dan tidak ada pemandangan cantik," Zeiran merendahkan suaranya, membuat suasana kembali terasa sangat intim. "Itulah sebabnya aku harus kembali. Karena semua rasa manis di duniaku... semuanya ada di sini, bersamamu. Kau adalah satu-satunya alasan aku akan berjuang sekuat tenaga untuk tetap bernapas."
Jihan meletakkan gelasnya, ia membalas genggaman tangan Zeiran dengan erat. "Kalau begitu, kembalilah sebagai pemenang. Jangan biarkan aku memakan sisa kue ini sendirian di hari kelulusanku nanti."
Zeiran mengangguk mantap. "Aku berjanji. Aku akan menghadiri di pesta kelulusanmu nanti, Jihan Alvarezh. Dan saat itu, tidak akan ada Jenderal atau peluru yang bisa memisahkan kita."
Setelah momen manis dengan hidangan stroberi itu, mereka menghabiskan sisa waktu yang ada untuk saling bertukar cerita dan janji-janji kecil sebagai bekal kekuatan sebelum fajar memisahkan mereka menuju takdir masing-masing.