NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Two Daughters, One Destiny

Istana Araluen — Aula Tamu Timur

Langit pagi cerah, namun udara di Aula Timur terasa berat.

Para bangsawan berdiri berbaris rapi saat rombongan Kerajaan Kairo memasuki aula. Di barisan depan, berdiri seorang gadis berambut gelap dengan sikap anggun dan sorot mata tenang namun tajam.

Sophia Karin Kairo.

Ia melangkah dengan postur sempurna, setiap gerakannya terlatih—bukan sekadar putri, tapi calon permaisuri yang disiapkan sejak kecil.

Di sisi lain aula, Anthenia Blackwood berdiri bersama Duke Kaelen.

Gaunnya sederhana dibanding tamu Kairo, namun sikapnya tenang, punggungnya lurus, dan tatapannya tidak pernah merendah.

Dua dunia saling memandang.

Tatapan pertama

Sophia adalah orang pertama yang melangkah mendekat.

“Putri Anthenia Blackwood,” ucapnya dengan suara lembut dan terkontrol.

“Kerajaan Kairo berterima kasih atas sambutan Araluen.”

Anthenia menunduk sopan, secukupnya.

“Selamat datang di Araluen, Putri Sophia.”

Mata Sophia menyipit samar.

“Kudengar… Anda cukup dekat dengan Yang Mulia Putra Mahkota.”

Nada suaranya ramah.

Maknanya? Ujian.

Anthenia tersenyum tipis.

“Aku dekat dengan banyak hal,” jawabnya tenang.

“Namun tidak dengan hal-hal yang bukan hakku.”

Hening sepersekian detik.

Lalu Sophia tertawa kecil.

“Menarik,” gumamnya.

“Jarang ada yang menjawab sejujur itu.”

William datang

Langkah sepatu bergema.

William Whiston memasuki aula dengan mantel panglima perang masih tersemat di bahunya. Sorot matanya dingin, namun berhenti sejenak saat melihat Anthenia.

Hanya sejenak.

“Salam untuk Putri Sophia dari Kairo,” ucap William formal.

Sophia membungkuk anggun.

“Suatu kehormatan bertemu Anda kedua kalinya secara langsung, Yang Mulia.”

Tatapan mereka beradu—tajam, penuh perhitungan.

Namun tanpa sadar, mata William kembali melirik ke arah Anthenia.

Dan Sophia… menangkapnya.

Percakapan tertutup — taman istana

Beberapa saat kemudian, atas usulan permaisuri, Anthenia dan Sophia duduk berdua di paviliun taman.

Tanpa pengawal.

Tanpa saksi.

“Kau tidak tampak terkejut dengan kedatanganku,” ujar Sophia sambil menuang teh.

“Aku belajar untuk tidak kaget oleh hal yang bisa diprediksi,” jawab Anthenia.

Sophia tersenyum tipis.

“Kau tahu aku datang untuk apa.”

“Ya.”

“Dan kau tidak berniat menghalangiku?”

Anthenia menatap cangkir tehnya.

“Aku tidak pernah menghalangi sesuatu yang dipilih dengan sukarela.”

Sophia terdiam.

“Namun,” lanjut Anthenia pelan,

“aku juga tidak akan melangkah pergi hanya karena diminta.”

Sunyi menyelimuti paviliun.

Akhirnya Sophia berbicara lagi.

“Kau menyukainya.”

Bukan pertanyaan.

Anthenia mengangkat kepala.

“Dan kau memahami konsekuensinya,” balasnya.

Keduanya saling memandang—bukan sebagai musuh,

melainkan sebagai perempuan yang sama-sama tahu apa arti kehilangan diri demi mahkota.

Hari itu, tidak ada pertengkaran.

Tidak ada ancaman terbuka.

Namun di balik senyum dan etika bangsawan,

dua putri telah mengukur satu sama lain.

Dan William…

berdiri tepat di tengahnya.

Paviliun taman — setelah keheningan

Sophia meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan halus.

“Araluen berbeda dari yang kubayangkan,” ucapnya ringan.

“Terutama orang-orangnya.”

Anthenia tahu itu bukan pujian kosong.

“Setiap kerajaan selalu terlihat indah dari luar,” jawabnya.

“Yang sulit adalah hidup di dalamnya.”

Sophia tersenyum, kali ini lebih tulus.

“Kau berbicara seolah sudah lama berada di pusaran ini.”

Anthenia menatap kolam kecil di hadapan mereka.

“Mungkin karena aku tahu rasanya… kehilangan pilihan.”

Sophia terdiam sejenak.

“Aku juga,” katanya akhirnya.

“Namun aku memilih untuk menerimanya.”

Anthenia menoleh.

“Dan aku memilih untuk tidak menyangkal perasaanku—tanpa menjadikannya tuntutan.”

Itu membuat Sophia menatapnya lebih lama.

“Kau berbahaya,” katanya pelan.

“Bukan karena ambisimu. Tapi karena ketenanganmu.”

Anthenia tersenyum samar.

Koridor istana — waktu bersamaan

William berjalan berdampingan dengan Archduke Cedric Aurelius.

“Kerajaan Kairo mengirimkan putri terbaiknya,” ujar Archduke.

“Cerdas, terlatih, dan tahu kewajibannya.”

William tidak menyangkal.

“Aku tahu.”

“Lalu apa yang menahanmu?” tanya Archduke tajam.

Langkah William berhenti.

“Karena aku menolak menjadikan hidup seseorang sebagai alat,” jawabnya dingin.

“Dan aku menolak menjadikan diriku sendiri kosong.”

Archduke mengamati cucunya lama.

“Perasaanmu terhadap Putri Blackwood bukan rahasia lagi,” katanya tenang.

“Namun perasaan bukan fondasi kekaisaran.”

William mengangkat kepala.

“Namun kekaisaran runtuh tanpa manusia di dalamnya.”

Keheningan tercipta.

Archduke tidak membantah—dan itu jauh lebih berat daripada teguran.

Aula kecil — menjelang sore

Anthenia kembali ke aula bersama Sophia. Para bangsawan wanita menatap dengan rasa ingin tahu—mencari tanda kemenangan atau kekalahan.

Namun yang mereka lihat hanya dua putri dengan wajah tenang.

Permaisuri Lunara memperhatikan dari jauh.

Menarik, pikirnya.

Tidak ada permusuhan… namun ketegangan ini jauh lebih berbahaya.

William masuk tak lama kemudian.

Tanpa sadar, pandangannya mencari Anthenia.

Dan ketika mata mereka bertemu—

tidak ada senyum.

Tidak ada kata.

Namun ada sesuatu yang terucap tanpa suara:

Apa pun yang terjadi, aku tidak menyesal mengenalmu.

Tidak ada pemenang hari itu.

Tidak ada yang tersingkir.

Namun garis telah ditarik.

Sophia memilih kewajiban.

Anthenia memilih kejujuran.

Dan William…

harus segera memilih arah, sebelum waktu memaksanya.

Sore menjelang malam — Balkon sayap timur

Anthenia berdiri sendirian di balkon, angin sore memainkan ujung rambutnya. Dari kejauhan, menara istana Araluen tampak kokoh—simbol kekuasaan yang tidak pernah mempedulikan perasaan siapa pun.

Ia menutup mata.

Aku sudah melangkah sejauh ini…

Namun mengapa dadanya terasa sesak?

“Apa aku salah dengan tetap tinggal?” gumamnya.

“Atau justru salah karena tidak pergi sejak awal?”

Suara langkah pelan terdengar.

Anthenia tidak menoleh—ia tahu siapa itu.

William

William berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Aku tidak berniat mengganggumu,” ucapnya datar.

“Kau tidak mengganggu,” jawab Anthenia tanpa menoleh.

“Kau hanya… datang di waktu yang sulit.”

Hening.

Angin kembali berhembus.

“Aku bertemu Putri Sophia,” lanjut Anthenia akhirnya.

“Dia perempuan yang kuat.”

William mengangguk pelan.

“Dia tahu apa yang diinginkan kerajaannya.”

“Dan kau?” tanya Anthenia lirih.

Pertanyaan itu tidak ditujukan pada mahkota.

Bukan pada politik.

Pada William.

Ia terdiam cukup lama.

“Aku ingin membuat keputusan tanpa menghancurkan siapa pun,” jawabnya jujur.

“Namun semakin aku diam, semakin banyak orang yang terluka.”

Anthenia akhirnya menoleh.

Tatapan mereka bertemu—tanpa jarak, tanpa pelindung.

“Kalau begitu,” katanya pelan,

“jangan biarkan aku menjadi alasan yang kau sesali.”

William menegang.

“Kau bukan penyesalan,” ucapnya cepat.

“Kau—”

Ia berhenti.

Kata itu tidak pernah keluar.

Kesadaran yang tak terucap

Anthenia tersenyum kecil, getir namun tulus.

“Lihat?” katanya pelan.

“Kita bahkan tidak berani menyebutnya.”

William mengepalkan tangan.

“Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam badai ini.”

“Aku sudah berada di tengahnya sejak lama,” balas Anthenia.

“Dan aku berdiri di sini karena pilihanku sendiri.”

Ia melangkah mundur setapak.

“Jika suatu hari kau harus memilih…

jangan pikirkan aku.”

William menatapnya tajam.

“Bagaimana mungkin aku tidak?”

Untuk sesaat, dunia terasa menyempit.

Namun Anthenia hanya menunduk hormat—jarak kembali tercipta.

“Selamat malam, Yang Mulia Putra Mahkota.”

Ia pergi sebelum William bisa menahannya.

William sendirian

Balkon kembali sunyi.

William menutup mata.

Jika aku terus diam… aku akan kehilangan segalanya.

Jika aku berbicara… kekaisaran bisa terguncang.

Ia membuka mata, sorotnya berubah tegas.

“Tidak,” gumamnya.

“Aku tidak akan membiarkan pilihan ini direnggut dariku.”

Malam itu:

Anthenia memilih untuk tidak berharap—namun tetap jujur pada hatinya.

Sophia memilih kewajiban tanpa ilusi.

Dan William…

akhirnya menyadari bahwa diam bukan lagi pilihan.

Bab berikutnya bukan lagi tentang tatapan.

Melainkan keputusan yang diumumkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!