Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH SANG PENGUASA ELEMEN
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan yang menembus celah-celah retakan lantai Paviliun Barat. Debu-debu yang melayang di udara tampak seperti kristal kecil yang menari di atas genangan darah Tetua Bromo yang sudah mengering. Arkan berdiri tegak di tepi balkon kayu yang sudah lapuk, membiarkan angin pagi yang dingin memainkan ujung kostum jingganya yang kini memiliki pola guratan hitam permanen—bekas aliran energi Black Hole
Di sampingnya, Cici berdiri dengan napas yang masih belum stabil. Matanya tidak lepas dari sosok pemuda di depannya. Arkan yang sekarang terasa seperti gunung yang menjulang tinggi; tenang, namun setiap saat bisa meletus dan menghancurkan segalanya.
"Arkan... aura ini..." bisik Cici, suaranya bergetar antara kekhawatiran dan pemujaan yang mendalam. "Kau tidak lagi terasa seperti manusia. Rasanya seolah-olah aku sedang berdiri di samping sebuah jurang yang tak berdasar."
Arkan hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kepercayaan diri absolut. Ia mengepalkan tangan kanannya, dan seketika itu juga, percikan Petir Hitam berpadu dengan pusaran Angin halus menari-nari di sela jarinya. Bunyi derit ruang yang tertekan terdengar jelas, menciptakan aura intimidasi yang membuat serangga di sekitar paviliun mendadak mati seketika.
"Biarkan mereka datang, Cici. Aku tidak lagi berniat untuk bersembunyi di balik bayang-bayang busuk ini," jawab Arkan tenang. "Ranah Pemurnian Sumsum-ku telah mencapai kesempurnaan melampaui batas logika manusia. Dengan lima elemen yang mengalir di nadiku, siapa di sekte ini yang berani menghakimiku tanpa membayar harganya dengan nyawa?"
TENG... TENG... TENG...
Suara lonceng besar dari pusat sekte berdentang tiga kali. Suaranya menggema hebat, memantul di antara tebing-tebing tinggi, menandakan adanya Pertemuan Darurat Dewan Penatua.
"Itu lonceng Aula Utama," wajah Cici memucat seputih kapas. "Mereka sudah menyadari hilangnya Tetua Bromo. Arkan, kita harus pergi sekarang sebelum Aula Penegak Hukum mengunci wilayah ini!"
Arkan berbalik, matanya berkilat tajam dengan pendaran ungu pekat yang seolah-olah bisa menembus jiwa siapa pun yang menatapnya. "Pergi? Tidak, Cici. Kita tidak akan lari seperti tikus. Mari kita lihat, seberapa besar nyali mereka saat berhadapan dengan 'sampah' yang mereka buang, kini kembali sebagai penguasa takdirnya sendiri."
Lonceng belum berhenti bergema saat sekelompok murid sekte berlari mendekati Paviliun Barat. Formasi mereka rapi, formasi pengepungan tingkat rendah. Di depan mereka, Mahesa tampak memimpin dengan wajah yang merah padam karena dendam yang membara. Namun, sosok di samping Mahesa-lah yang menarik perhatian Arkan: seorang pemuda dengan jubah biru tua bersulam awan perak—Murid Senior Panji, seorang ahli ranah Pembentukan Pondasi Tahap Menengah.
"Arkan! Keluar kau, sampah terkutuk!" teriak Mahesa melengking, mencoba menutupi rasa gemetarnya yang masih tersisa dari malam kemarin.
Cici menggenggam lengan Arkan dengan erat. "Itu Kakak Senior Panji. Dia dikenal sebagai 'Si Tangan Besi' dari Aula Penegak Hukum. Dia tidak akan mendengarkan penjelasanmu!"
Arkan tidak bergeming. Ia melangkah turun dari tangga paviliun dengan sangat tenang. Setiap langkah kakinya menciptakan jejak retakan halus di tanah batu yang keras. Tekanan gravitasi yang keluar dari tubuhnya membuat udara di sekitar Paviliun Barat terasa begitu berat, seolah-olah oksigen pun enggan untuk masuk ke paru-paru para penyerang.
"Tetua Bromo?" Arkan mengangkat sebelah alisnya saat Mahesa mulai meneriakkan tuduhan pencurian dan pembunuhan. "Dia sudah pergi ke tempat yang seharusnya, Mahesa. Tempat di mana keserakahan tidak lagi berguna. Sama seperti kau... seekor anjing yang hanya tahu cara menggonggong saat merasa punya pelindung baru."
"Kurang ajar! Kau pikir dengan sedikit keberuntungan kau bisa menghina otoritas sekte?!" Murid Senior Panji melangkah maju. Aura biru laut meledak dari tubuhnya, menciptakan gelombang tekanan yang menghancurkan tanaman hias di sekitar paviliun. "Aku tidak peduli apa yang kau lakukan pada Bromo, tapi menyerang murid sekte dan mencuri pusaka adalah hukuman mati. Berlutut, atau aku akan menghancurkan setiap sendi di tubuhmu!"
Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar seperti gemuruh guntur yang tertahan di balik awan badai. "Menghancurkan sendiku? Silakan coba, Senior... jika kau merasa nyawamu cukup murah untuk dibuang di tempat pembuangan sampah ini."
Tanpa peringatan, Panji menerjang dengan teknik Cakar Badai. Tangannya berubah menjadi kabur, mengincar titik-titik vital di leher dan jantung Arkan. Namun, bagi Arkan yang kini memiliki bimbingan Dewi Qi Lin, gerakan itu tampak sangat lambat, seperti siput yang mencoba mengejar cahaya.
Arkan tidak menghindar. Ia hanya mengangkat satu jari telunjuknya ke arah Panji yang sedang melesat.
"Gaya Berat: Penindasan Seribu Kati!"
BOOM!
Sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa meledak dari ujung jari Arkan. Lantai paviliun di bawah kaki Panji seketika amblas sedalam sepuluh senti. Murid Senior itu bahkan tidak sempat mengeluarkan teknik pertahanannya; ia langsung tersungkur dengan posisi yang sangat memalukan—wajahnya menghantam tanah dengan keras sementara punggungnya seolah-olah ditindih oleh gunung raksasa.
"Ugh... apa... kekuatan apa ini?!" Panji mengerang kesakitan. Ia bisa merasakan paru-parunya mulai menyempit dan tulang bahunya mengeluarkan bunyi retakan yang mengerikan.
Mahesa dan murid-murid lainnya membeku di tempat. Mereka melihat Arkan berdiri tegak dengan kostum jingganya yang kini memancarkan aura lima warna yang samar namun mematikan. Mahesa yang tadinya berdiri angkuh, kini jatuh terduduk. Celananya basah kuyup—ia benar-benar kencing di tempat karena ketakutan melihat satu-satunya harapannya, Senior Panji, diperlakukan seperti kecoak hanya dengan satu jari.
Arkan melangkah mendekati Panji yang masih merangkak di tanah, mencoba melawan tekanan gravitasi yang tak masuk akal itu. "Jalan yang benar?" Arkan berhenti tepat di depan kepala Panji yang tertunduk paksa ke tanah. "Apakah jalan yang benar itu adalah menindas yang lemah dengan jubah birumu? Ataukah merampas milik orang lain dengan kedok hukum sekte? Jika itu jalanmu, maka mulai hari ini aku akan menciptakan jalanku sendiri. Jalan di mana Kekuatan adalah satu-satunya hukum yang sah."
Arkan merendahkan tubuhnya, membiarkan aura Dewi Qi Lin keluar setipis rambut. "Pergilah. Katakan pada Dewan Penatua di Aula Utama... Arkan tidak akan datang untuk diadili. Arkan akan datang untuk menagih hutang darah."
Seketika, tekanan berat itu menghilang. Panji tersedak, menghirup oksigen dengan panik seolah baru saja lolos dari maut. Ia tidak berani menatap mata Arkan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit dan lari terbirit-birit tanpa menoleh ke belakang, diikuti oleh Mahesa yang merangkak menjauh sebelum akhirnya ikut lari sekencang mungkin.
Cici mendekat, menatap punggung Arkan yang tampak begitu lebar dan kokoh. "Arkan, kau baru saja mendeklarasikan perang pada seluruh sekte. Mereka tidak akan mengirim murid senior lagi. Mereka akan mengirim para Penatua Inti."
Arkan berbalik, menatap Cici dengan tatapan hangat yang sangat kontras dengan kedinginannya tadi. Ia menggenggam tangan Cici, menyalurkan energi Air yang menyejukkan hati. "Biarkan mereka datang, Cici. Aku butuh mereka sebagai batu asahan. Hari ini Panji, besok mungkin Ketua Sekte sendiri yang harus berlutut di bawah kakiku."
Arkan menatap ke arah Puncak Utama yang angkuh di kejauhan. Ia tahu, langkahnya hari ini telah mengguncang tatanan kuno Sekte Awan Putih. Namun, dengan Black Hole yang terus berputar lapar di intinya, Arkan merasa sangat haus akan tantangan besar.
"Kita tidak akan lari," gumam Arkan pelan. "Kita akan naik ke puncak, dan siapa pun yang mencoba menjatuhkan kita, akan menjadi tumpukan mayat yang membantuku menggapai langit."
Matahari kini sudah naik sepenuhnya, menyinari Arkan yang berdiri seperti penguasa baru di atas reruntuhan Paviliun Barat yang terabaikan. Di kejauhan, badai besar sedang berkumpul, namun sang naga jingga sudah siap menyambutnya.
Tolong support ya gess dan like nya