"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan tiga nyawa
..."Tanah pusaka telah dipijak, rahasia lama mulai terlacak."...
................
Agung merasa konyol jika harus memberikan nomor rekening. Tindakan itu akan membuatnya terlihat seperti pria oportunis yang memanfaatkan uang, padahal tujuannya jauh lebih dalam: ia ingin menguliti rahasia di balik mata wanita ini. Dengan cepat, Agung memutar otak. Ia berpura-pura menekan tombol di ponselnya, lalu menghela napas dramatis.
"Handphone-ku habis baterai," bohongnya dengan wajah tanpa dosa. Padahal, daya baterainya masih penuh. Ia sengaja mematikan layar dan berpura-pura bodoh demi sebuah celah. Ia menurunkan tas punggungnya, merogoh sebuah buku catatan sketsa yang masih kosong, lalu menyodorkannya pada Syifa beserta sebuah bolpoin.
"Tuliskan saja nomor ponselmu. Aku akan menagihmu nanti setelah urusan pekerjaanku selesai," ucap Agung, mencoba terdengar ketus meski hatinya berdegup kencang karena sensasi yang tak biasa.
Syifa mendengus, merasa terjebak dalam birokrasi kecil yang menyebalkan. Ia mengambil bolpoin itu, mencoretkan deretan angka dan namanya dengan tergesa-gesa di atas kertas putih tersebut. "Kau sebut saja angkanya nanti. Berapa pun, aku akan ganti nilai kertasmu itu," ujar Syifa sombong, menunjukkan bahwa uang bukanlah masalah baginya. Ia segera menggerek kopernya, berbalik, dan melangkah pergi tanpa niat menoleh lagi.
Agung tak ingin kesempatan ini berlalu begitu saja. Ada sesuatu dalam diri wanita ini yang menarik jiwanya—sebuah daya pikat yang bukan sekadar fisik, melainkan sesuatu yang sangat dalam, seakan-akan seluruh garis arsitektur yang pernah ia gambar selama ini hanya menuntunnya untuk bertemu dengan wanita ini.
Apakah matanya minus atau silinder? Bagaimana bisa dia mengabaikanku?
Agung mengejar langkah Syifa. Dengan satu gerakan cepat, ia mencekal lembut pergelangan tangan Syifa. Langkah Syifa terhenti seketika. Ia berbalik dengan wajah gusar, namun sebelum makian keluar dari bibirnya, Agung sudah memangkas jarak. Pria itu berdiri hanya sejengkal di depan Syifa, menjulang tinggi dengan tubuh atletisnya, memaksa Syifa untuk menatap wajahnya sedalam mungkin di bawah temaram lampu bandara.
Deg!
Dunia seolah berhenti berputar bagi Syifa. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat pria di depannya. Wajah itu terpahat sempurna, namun bukan itu yang membuatnya sesak napas. Tatapan mata Agung... tajam, kelam, namun penuh dengan perlindungan. Tatapan itu menghantam memori terdalamnya, mengingatkannya pada sorot mata Broto—pria yang pernah menjadi seluruh dunianya. Syifa merasa seolah ia sedang ditarik kembali ke dalam pelukan masa lalu yang hangat sekaligus mematikan.
"Sayang..." gumam Syifa tanpa sadar, suaranya parau, terhipnotis oleh kemiripan rasa yang ditimbulkan pria asing ini.
Agung terpaku. Panggilan itu seperti sebuah mantra yang meruntuhkan tembok pertahanannya. Di saat yang sama, Agung merasakan sebuah tarikan batin yang luar biasa kuat. Seolah-olah seluruh sel dalam tubuhnya berteriak bahwa inilah wanita yang ia cari selama ini, inang dari segala rindu yang tak bernama. Ia merasa seolah mereka sudah terikat sejak ribuan tahun yang lalu melalui benang tak kasat mata.
"Eng!" Agung tersentak, bingung harus bereaksi apa terhadap panggilan mesra yang tiba-tiba itu.
"Nona Syifa?" Sebuah suara asing tiba-tiba menginterupsi, memecah gelembung mistis yang menyelimuti mereka. Syifa tersentak, kesadarannya terseret kembali ke realitas. Sosok di depannya bukan Broto. Broto sudah mati, dan pria ini adalah orang asing yang baru saja ia rugikan.
"Maaf, salah panggilan," ucap Syifa cepat sambil mendorong bahu Agung pelan untuk menjaga jarak. Wajahnya memerah karena malu, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada getaran ketakutan yang luar biasa. Mengapa Sang Kukang di punggungnya mendadak bergetar seolah merespons kehadiran pria ini?
Agung terkekeh dalam hati meski hatinya masih berdebar hebat.
Mungkin aku benar-benar mirip seseorang di masa lalunya. Mantan, pikirnya. Namun ia tahu, ini lebih dari sekadar kemiripan. Ada takdir yang sedang bekerja.
Syifa tak memedulikan lagi rasa campur aduk di dadanya. Ia membuang jauh-jauh bayang-bayang Broto dan menatap pria yang kini berdiri di antara mereka, memegang papan nama dengan tulisan yang menjadi tujuannya.
"Penyang, tour guide Anda," ucap pria itu dengan senyum ramah yang menyimpan misteri hutan Kalimantan.
Syifa menatap pria bernama Penyang itu tanpa kedip. Kulitnya cokelat legam mengkilap dengan garis otot lengan yang kokoh. Sepasang matanya sipit dan tajam, menyimpan ketenangan purba yang ganjil. Di mata Syifa, Penyang adalah reinkarnasi Jacob Black dari film Twilight versi Asia yang jauh lebih eksotis. Inilah sang pemandu, keturunan Dayak asli yang akan membawanya menembus jantung rimba.
"Kamu Dayak asli?" tanya Syifa, suaranya parau oleh rasa ingin tahu.
Penyang mengangguk mantap. "Iyuh, Nona. Saya Dayak asli, lahir dan besar di aliran sungai ini," jawabnya dengan logat lokal yang kental.
"Ternyata wajahnya tampan juga, ya," puji Syifa tanpa sadar.
Seketika, Syifa merasakan gejolak aneh. Sang Kukang yang biasanya liar mendadak membeku, menciut di balik tulang belikatnya karena terintimidasi aura murni Penyang. Pria ini tak terpengaruh daya pikatnya, ia justru mengendus aroma ganjil—bau apek menyengat mirip bau kentut yang samar.
Bagi Penyang, hal ini dianggap lumrah. Di tanah ini, realitas batin dan lahir memang selalu berdampingan. Orang Dayak mengenal "aji pegangan" sebagai bagian dari warisan kehidupan yang lazim. Tidak ada yang salah dengan itu, asal sang pemilik mampu menyandang beban mistisnya dan berani bersanding dengan sosok tak kasat mata di sampingnya. Baginya, batas manusia dan penunggunya memang seringkali setipis kabut fajar.
Agung yang berdiri tak jauh dari mereka terbakar cemburu. Ego arsitek suksesnya terusik oleh kehadiran pemandu lokal ini.
"Syifa!" panggil Agung dengan nada posesif yang bergetar. Ia kembali mencekal pergelangan tangan Syifa, kali ini dengan tarikan menuntut yang memaksa wanita itu berhenti. Mata Agung berkilat, menatap Syifa dengan intensitas yang seolah ingin menembus sukmanya.
"Kertas ini tak bisa diganti uang begitu saja! Ada waktu, proses, dan separuh nyawaku yang tertuang di sini. Harganya sangat mahal!" seru Agung. Suaranya bukan lagi sekadar amarah, melainkan sebuah keputusasaan yang tertutup ego; ia hanya ingin Syifa mengerti bahwa sketsa itu adalah satu-satunya jembatan agar wanita itu tidak pergi dari pandangannya. Ia ngotot bukan karena materi, tapi karena tarikan batin yang membuatnya merasa tak sanggup melepas Syifa malam ini juga.
Syifa mendengus, matanya menyala penuh emosi. Dengan satu sentakan kasar, ia melepaskan tangannya hingga Agung terhuyung. "Aku bertanggung jawab! Sebut saja berapa harganya! Aku tidak punya waktu untuk dracin!"
Penyang menengahi dengan santai namun menohok. "Amun cuma masalah gambar, bukannya bisa di-print lagi, Mas? Filenya kan masih ada. Dia bahali, tidak susah itu mah," sindirnya telak.
Wajah Agung merah padam, muslihatnya terbongkar telak di depan wanita yang mulai ia gilai dengan cara yang tidak masuk akal. Syifa menatapnya merendahkan, sebuah sorot mata dingin yang sanggup membunuh harga diri pria mana pun hingga ke akarnya.
"Benar juga. Kirim saja harga perlembarnya lewat WhatsApp. Kalau perlu, aku belikan printer dan komputernya sekalian," cetus Syifa sombong sembari melangkah pergi menuju mobil PenyanG. Ia meninggalkan Agung yang terpaku, berdiri di antara rasa malu yang membakar dan gairah yang menyiksa di tengah sunyinya bandara.
Pada saat itu, Syifa sama sekali tidak menyadari bahwa langkahnya telah menarik benang takdir yang mengerikan. Ia tidak tahu bahwa dirinya baru saja menyeret tiga nyawa ke dalam satu pusaran maut yang sama: Agung dengan obsesinya, Penyang dengan naluri penjaganya, dan dirinya sendiri yang terkutuk. Pertarungan tiga nyawa itu telah dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamus
Iyuh : Iya
Dia bahali : Tidak sulit
karena apa coba