NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FIRASAT DI GERBANG PERESMIAN

Lampu-lampu sorot di atas panggung gerai elit "Angkringan Berkah" Thamrin berpijar begitu terang, membuat udara di sekitarnya terasa gerah meski mesin pendingin ruangan sudah bekerja maksimal. Aroma sate maranggi yang dibakar di atas arang batok kelapa menyeruak, gurih dan berasap, memenuhi ruangan yang interiornya memadukan kayu jati ukir dengan dinding kaca minimalis.

Rangga berdiri di balik tirai merah, merapikan letak jam tangan vintage ayahnya yang baru saja kembali ke pergelangan tangannya. Jemarinya meraba permukaan logam dingin itu. Ada sedikit keringat dingin di telapak tangannya. Bukan karena takut menghadapi ratusan tamu undangan dan wartawan, melainkan karena rasa tak percaya bahwa kuli panggul yang dulu diusir dari kota ini sekarang menjadi pusat perhatian.

"Mas, kemejanya sedikit miring," bisik Syakira.

Syakira mendekat, tangannya yang halus bergerak telaten membenarkan kerah kemeja Rangga. Bau parfum melati yang lembut dari tubuh Syakira seketika meredam kegelisahan di dada Rangga. Syakira tersenyum, matanya berbinar menatap suaminya. "Mas gagah sekali hari ini. Jangan tegang, Mas adalah pemenangnya."

"Mas cuma... masih terasa aneh, Dek. Rasanya baru kemarin Mas gendong Rinjani di terminal, bingung mau makan apa," gumam Rangga pelan.

Syakira menggenggam tangan Rangga, memberikan remasan lembut yang menguatkan. "Itu masa lalu. Sekarang, waktunya Mas tunjukkan pada Jakarta siapa Rangga yang sebenarnya."

Tirai terbuka. Suara riuh tepuk tangan pecah seketika, beradu dengan suara jepretan kamera yang memekakkan telinga. Rangga melangkah keluar dengan dagu terangkat. Sorot matanya tajam namun tenang, khas seorang pria yang sudah kenyang ditempa kerasnya kehidupan. Ia berdiri di depan mikrofon, menatap jajaran tamu VIP yang terdiri dari pengusaha, pejabat, hingga selebritas ibu kota.

"Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah hadir," suara Rangga bergema berat dan mantap. "Angkringan ini bukan sekadar tempat makan. Ini adalah bukti bahwa harapan tidak akan pernah mati, selama kita punya nyali untuk berjuang."

Saat Rangga sedang memberikan pidatonya, matanya menyapu kerumunan. Di barisan belakang, di antara kerumunan wartawan yang sibuk mencatat, ia menangkap sebuah gerakan yang ganjil. Seorang pria dengan topi baseball yang ditarik rendah menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari yang lain. Tidak ada rasa kagum, tidak ada apresiasi. Yang ada hanyalah kebencian yang murni, sedingin es.

Rangga tertegun sejenak. Jantungnya berdenyut kencang. Rahang pria itu, cara dia berdiri... ingatan Rangga seketika terlempar ke sebuah lorong gelap di apartemen Laras bertahun-tahun lalu. Pria itu sangat mirip dengan sosok yang dulu sering keluar-masuk kamar Laras saat Rangga masih menjadi suaminya. Sosok yang dulu ikut menertawakannya saat koper bajunya dilempar ke jalanan.

Nggak mungkin. Dia seharusnya sudah nggak ada di sini, batin Rangga. Ia berusaha tetap fokus pada pidatonya, meski keringat mulai merembes di punggungnya.

Acara pemotongan pita berlangsung sukses. Kilatan blitz kamera seolah menciptakan aurora buatan di dalam gerai. Syakira dan Rinjani berdiri di samping Rangga, menciptakan potret keluarga sempurna yang langsung menjadi santapan media. Rinjani tampak sangat bangga, ia memegangi ujung jas ayahnya dengan wajah ceria.

"Ayah hebat!" bisik Rinjani di sela-sela sesi foto. Rangga mengelus kepala putrinya, mencoba mengusir bayangan pria bertopi tadi dari pikirannya.

Setelah sesi formal selesai, tamu-tamu mulai menikmati hidangan. Rangga ditarik ke sana kemari oleh para kolega yang ingin menjalin kerja sama. Syakira yang mulai merasa lelah karena kehamilannya, memilih duduk di sudut ruangan yang agak tenang, ditemani oleh Galih yang berjaga dengan sigap.

"Mas Galih, tolong ambilkan air mineral ya," pinta Syakira lembut.

"Siap, Bu Syakira. Tunggu sebentar," jawab Galih yang kemudian melangkah menuju bar minuman.

Rangga akhirnya berhasil melepaskan diri dari obrolan panjang seorang pengusaha properti. Ia melangkah menuju meja Syakira, namun langkahnya terhenti saat ia melewati sebuah kursi kosong di barisan VIP yang tadi sempat diduduki oleh tamu-tamu penting. Di atas kain kursi beludru berwarna merah tua itu, tergeletak sebuah benda kecil yang tampak sangat mencolok.

Rangga membungkuk, mengambil benda itu. Sebuah kotak korek api kayu. Bukan kotak biasa, di atasnya tertera logo emas sebuah kelab malam eksklusif di Jakarta Pusat—tempat yang dulu sering didatangi Laras dan teman-temannya.

Rangga memutar kotak itu di tangannya. Di bagian belakangnya, ada tulisan tangan yang digoreskan dengan pena hitam yang tintanya masih terasa segar.

"Selamat atas istana barunya, Rangga. Tapi ingat, fondasi yang dibangun di atas tanah orang lain tidak akan pernah kokoh. Aku tahu rahasia istrimu."

Rangga meremas kotak korek api itu sampai hancur di dalam kepalan tangannya. Matanya kembali menyapu ke seluruh penjuru ruangan dengan liar. Pria bertopi itu sudah hilang. Tidak ada jejak. Hanya bau sisa asap rokok menyengat yang tertinggal di area sekitar kursi itu, bau yang sangat Rangga benci.

"Mas? Kenapa diam di situ?" suara Syakira memanggil dari kejauhan.

Rangga segera memasukkan remahan kotak korek api itu ke dalam sakunya. Ia mengatur napasnya, mencoba menampilkan wajah setenang mungkin. Ia tidak boleh merusak hari bahagia ini. Ia tidak boleh membiarkan ketakutan merayap masuk ke dalam hati Syakira.

"Nggak apa-apa, Dek. Mas cuma... merasa sedikit pusing karena lampu-lampu ini," dusta Rangga sambil berjalan menghampiri istrinya.

Ia duduk di samping Syakira, merangkul bahu istrinya erat. Tapi pikirannya tidak lagi di sana. Kata-kata di kotak korek api itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Rahasia istrimu. Rangga melirik Syakira dari samping. Syakira tampak begitu tulus, begitu suci. Apa yang pria itu ketahui tentang Syakira yang tidak diketahui Rangga? Ataukah ini hanya gertakan pengecut yang ingin menghancurkan kebahagiaannya?

Malam semakin larut. Tamu-tamu mulai berpamitan. Jakarta di luar sana mulai diguyur hujan gerimis, membasahi kaca-kaca besar gerai Angkringan Berkah. Rangga berdiri di depan pintu masuk, mengawasi Galih yang sedang mengoordinasikan staf untuk membereskan sisa acara.

"Galih, sini sebentar," panggil Rangga.

Galih mendekat, wajahnya tampak lelah namun puas. "Ya, Pak? Acara hari ini sukses besar. Media sosial kita langsung meledak."

Rangga menarik Galih ke sudut yang lebih sepi. "Tadi kamu lihat orang pakai topi baseball hitam di barisan belakang? Badannya agak tegap, kulitnya agak gelap."

Galih mengernyitkan dahi, mencoba mengingat. "Tadi ramai sekali, Pak. Tapi... sebentar. Tadi pas Pak Rangga pidato, ada satu orang yang keluar lewat pintu samping dengan terburu-buru. Saya sempat mau tegur, tapi saya pikir dia cuma staf katering yang mau merokok."

Rangga mengepalkan tangannya. "Cek CCTV. Sekarang juga. Saya mau tahu dia pergi naik apa dan siapa namanya kalau dia terdaftar di buku tamu."

"Ada masalah, Pak?" tanya Galih mulai cemas.

"Lakukan saja, Lih. Jangan beri tahu Syakira."

Rangga kembali masuk ke dalam, mendapati Rinjani sudah tertidur di pangkuan Syakira di sofa lobi gerai. Ia menatap dua orang yang paling ia cintai itu. Ia baru saja merasa sudah menghapus jejak masa lalunya di makam tadi malam, tapi seolah-olah Jakarta tidak membiarkannya pergi begitu saja. Kota ini seolah memiliki tangan-tangan gaib yang ingin menariknya kembali ke dalam kubangan lumpur.

Ia merogoh sakunya, merasakan remahan kotak korek api itu menusuk kulit jarinya. Ada getaran aneh di dadanya—sebuah firasat buruk yang jarang sekali meleset. Rangga tahu, pertempuran yang sebenarnya bukan lagi soal kemiskinan atau perut yang lapar. Pertempuran kali ini jauh lebih berbahaya, karena yang dipertaruhkan adalah kepercayaan.

Tiba-tiba, ponsel Rangga di saku jasnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor pribadi Galih masuk.

"Pak, saya sudah cek CCTV. Orang itu tidak terdaftar di buku tamu. Dia masuk lewat pintu belakang staf. Dan yang lebih aneh, Pak... dia meninggalkan sesuatu di mobil Bapak di parkiran bawah. Bapak harus lihat sendiri."

Rangga merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menatap Syakira yang sedang terpejam, lalu tanpa suara ia melangkah menuju lift menuju basement parkir. Di bawah sana, di antara deretan mobil mewah, SUV hitam milik Rangga tampak berdiri angkuh. Namun, di kaca depan mobil itu, tepat di bawah penghapus kaca, terselip sebuah amplop cokelat besar yang sudah basah karena lembapnya udara parkiran.

Rangga mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya bukan surat ancaman, melainkan sebuah foto lama yang sudah agak menguning. Foto seorang wanita muda yang sangat mirip dengan Syakira, sedang berdiri di depan sebuah gerbang rumah megah yang sangat asing bagi Rangga, bergandengan tangan dengan seorang pria paruh baya yang memakai seragam militer lengkap.

Di balik foto itu tertulis: "Dia bukan yatim piatu yang malang seperti yang kamu kira, Rangga. Tanyakan padanya, kenapa dia lari dari istananya sendiri."

Rangga tertegun. Suara langkah kaki yang mendekat dari balik pilar beton parkiran membuatnya seketika menoleh tajam.

"Siapa di sana?!" teriak Rangga.

1
Vq S
nyesel muji tadi katanya udah bijak padahal masih dablek
Tinta Emas: kadang sisi jelek seorang pria selalu ada...
total 1 replies
Vq S
Dia mulai bijak
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
awesome moment
smg arka tdk merasa dipinggirkan
Tinta Emas: ya seperti yang saya harapkan juga begitu.
total 1 replies
awesome moment
g bkl.an dpt klo.msh mode mendewakan uang
awesome moment
untg msh punya kesempatan. gunakan
Tinta Emas: betul itu bang
total 1 replies
Masha 235
ck..ck...nyesel sambel
Tinta Emas: oh begitu..!
total 3 replies
awesome moment
mmg hnya ibu a.k.a istri ug multi tasking.
Tinta Emas: paket komplit
total 1 replies
Sri Khayatun
aku suka ceritanya ...sangat sopan..tetap semangat thor🙏😍😍
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
awesome moment
rangga, stop dgn pengulangan kesalahan. udh bolak balik dpt kesempatan lho. jgn smp abis kesempatannya
Tinta Emas: kadang pria selalu terbawa emosi
total 1 replies
awesome moment
pengaco sll siap sedia
Tinta Emas: itulah problema kehidupan
total 1 replies
awesome moment
andai d persahabatan seloyal tu. mgk...pelukan teletubbies msh bisa dirasakan.
Tinta Emas: benar abangku
total 1 replies
awesome moment
haikal?,
Tinta Emas: benar, muncul dia
total 1 replies
awesome moment
😭😭😭
Nancy Nurwezia
cobalah bermain cantik juga rangga.. jangan emosi yang dikedepankan melulu.. cari cara buktikan bahwa anwar dan pak haji itu licik..
Tinta Emas: betul nona
total 1 replies
awesome moment
saatnya menghilang. biarkan waktu yg bicara..bawa rinjani. mulai smuanya dri awal. minta bantun penulis cerita. biar chapter ikan terbangnya jgn panjang2. 😄😄😄terlihat bgts bhw emosi bisa merubah smuanya.
Tinta Emas: Harusnya yang benar itu dari BAB 29.SISA ABU DAN RETAKNYA PUALAM BAB 30.DI AMBANG MAUT DAN PENEBUSAN BERDARAH. 31.KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN 32.TIPU MUSLIHAT, 33.LUKA TAK BERNANAH, 34.GEROBAK MASA LALU, 35.SURAT DARI SYAKIRA 36.USAHA MENEMBUS PINTU
total 2 replies
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Tinta Emas: salam
total 1 replies
awesome moment
org yg bisa bertahan di titik terendah, dia sll punya cara utk ttp hidup. bahkan di alam paling liar 1x pun.
Tinta Emas: Dia tau harus bagaimana
total 1 replies
awesome moment
10 tahun? menyembunyikan? hirang kayah mmg kdg buta tuli
Tinta Emas: bisa begitu ya
total 1 replies
Anonymous
langsung emosi.. padahal datar aja dulu kasih tempat buat duduk kasih minum lalu dengerin baru setelah dengar dengan ekspresi seakan berfikir kemudian tersenyum merekah "lalu apa hubungannya dengan saya?"
Tinta Emas: ya juga bang hehe
total 1 replies
Anonymous
harusnya Rangga gak usah terlalu blak blakang sama orang asing .. cukup disimpan rapat rapat cerita keluarga nya orang lain gak usah tau
Anonymous: maksudnya kan itu Syakira orang lain gitu Thor, kalau tiba tiba cerita kayak gitu pangdangan nya kayak memang tersakiti tapi pengen membuat orang simpati gitu
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!