Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Beberapa Bulan kemudian...
Pagi itu, apartemen Tribeca yang biasanya tenang berubah menjadi mencekam. Suara Sera yang tersiksa di kamar mandi membuat Andreas terjaga seketika. Ia menemukan Sera terduduk lemas di lantai marmer, wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin membasahi keningnya.
Andreas, dengan gurat kekhawatiran yang sangat nyata di wajahnya, segera berlutut dan menarik Sera ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepala lemas Sera di dadanya, jemarinya mengusap punggung kekasihnya itu dengan gerakan yang sangat lembut namun protektif.
"Sayang, kau sudah muntah lima kali dalam satu jam terakhir. Ini bukan sekadar pusing biasa," bisik Andreas, suaranya parau karena rasa takut yang mulai menjalar. Ia mengecup kening Sera yang terasa panas sekaligus lembap.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan menelepon dokter pribadi keluargaku agar semuanya dilakukan secara tertutup."
Sera menggeleng lemah, matanya yang biasanya berbinar kini tampak sayu. Ia mengeratkan pegangannya pada lengan Andreas. "Tidak, Andreas... jangan rumah sakit. Di luar sana masih terlalu berisiko. Mungkin aku hanya kelelahan karena jadwal promo film Baru yang gila itu. Aku hanya ingin tidur. Bangun tidur pasti akan membaik, aku janji."
Andreas menatap Sera dengan intensitas yang tak tergoyahkan. Ia tahu sifat keras kepala kekasihnya, tapi kali ini instingnya mengatakan sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu dalam frekuensi mual Sera yang terasa tidak asing bagi pria yang tumbuh di lingkungan penuh rahasia.
"Sera, dengarkan aku," Andreas menangkup wajah Sera dengan kedua tangannya, memaksa mata sayu itu untuk menatapnya. "Jika setelah tidur dua jam kau tidak membaik, aku tidak akan minta izin lagi. Aku akan menggendong mu ke mobil dan membawamu ke dokter, mengerti?"
Sera hanya mengangguk pasrah, terlalu lemas untuk mendebat. Andreas kemudian mengangkat tubuh Sera dengan sangat hati-hati, membawanya kembali ke ranjang dan menyelimutinya seolah-olah Sera adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.
Andreas tidak beranjak. Ia duduk di pinggir ranjang, menggenggam tangan Sera sambil terus memperhatikan napas kekasihnya itu.
Di dalam pikirannya, sebuah kemungkinan besar mulai muncul, kemungkinan yang bisa mengubah hidup mereka selamanya, jauh melebihi skenario film mana pun yang pernah mereka perankan.
Hari itu, jadwal pemotretan jam tangan mewah dan pertemuan dengan sutradara besar di Los Angeles menjadi tidak berarti bagi Andreas St. Clair. Pria itu mematikan ponselnya, melemparkannya ke sudut sofa, dan memilih untuk mengenakan kaos oblong serta celana kain biasa. Ia bertransformasi sepenuhnya dari seorang aktor papan atas menjadi perawat pribadi yang paling waspada di New York.
Andreas menghabiskan paginya di dapur, tempat yang dulu asing baginya. Dengan panduan dari mesin pencari, ia mencoba membuat bubur halus dan teh jahe hangat. Setiap beberapa menit, ia akan kembali ke kamar, mengintip dari celah pintu untuk memastikan Sera masih tertidur.
Saat Sera terbangun dengan wajah yang masih pucat, Andreas sudah berada di sampingnya. Ia membantu Sera duduk, menyusun bantal di belakang punggungnya dengan sangat teliti.
"Makan sedikit, sayang. Hanya dua suap, setelah itu kau boleh tidur lagi," bujuk Andreas dengan nada suara yang begitu lembut, jauh dari citra dinginnya di layar lebar. Ia meniup sesendok bubur perlahan sebelum menyuapkannya ke mulut Sera.
Sera menatap Andreas dengan mata berkaca-kaca. "Kau membatalkan jadwal mu? Erick pasti akan mengamuk."
"Biarkan dia mengamuk. Dia dibayar untuk mengurus masalah, sementara aku di sini untuk mengurus hidupku," jawab Andreas sambil mengusap sisa bubur di sudut bibir Sera dengan jempolnya. Ia lalu memeluk Sera, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya, menghirup aroma maskulin Andreas yang entah kenapa menjadi satu-satunya hal yang meredakan mualnya.
Kedamaian itu pecah saat pintu depan apartemen terbuka dengan dentuman yang sudah sangat dikenal. Mommy Elysa masuk dengan langkah cepat, kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, dan aroma parfum Chanel yang semerbak. Ia tidak datang untuk sekadar berkunjung, insting seorang ibu telah membawanya ke sana.
"Sera! Mommy dengar kau membatalkan latihan drama barumu karena sakit..." Kalimatnya terhenti saat ia sampai di ambang pintu kamar dan melihat pemandangan intim itu.
Andreas yang bertelanjang kaki sedang memeluk Sera yang lemas di atas ranjang. Bukannya merasa sungkan, Mommy Elysa justru mendekat, menyipitkan matanya, dan memperhatikan raut wajah Sera serta aroma bubur jahe di ruangan itu.
"Mual parah? Pusing? Wajah pucat tapi ada gurat berbeda di matamu?" tanya Mommy Elysa dengan nada ceplas-ceplos yang khas.
"Hanya masuk angin, Mom..." gumam Sera lemah.
Mommy Elysa mendengus remeh. Ia meletakkan tasnya dan duduk di tepi ranjang, langsung memegang perut Sera yang masih tertutup selimut. "Masuk angin tidak akan membuatmu terlihat sesayu ini, Sera. Mommy sudah berpengalaman."
Tiba-tiba, Mommy Elysa menoleh pada Andreas dengan binar mata yang campur aduk antara terkejut dan senang. "Andreas St. Clair, sepertinya kau bekerja terlalu keras di luar jam syuting. Cucu Mommy sepertinya sudah jadi!"
Sera dan Andreas tersentak. Dunia seolah berhenti berputar.
"Mom! Apa yang Mommy katakan?" seru Sera, wajahnya mendadak memerah karena malu sekaligus takut.
"Jangan membantah! Mommy tahu tanda-tandanya," ucap Elysa sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya. "Aku akan segera menghubungi Daddy-mu untuk memberitahukan berita bahagia ini. Dia harus tahu kalau dia akan segera menimang cucu dari seorang St. Clair."
"Nyonya Elysa, tunggu..." Andreas mencoba menyela, namun Mommy Elysa sudah berada di mode Penyusun Rencana Utama.
"Dan kau, Andreas!" Elysa menunjuk Andreas dengan ponselnya. "Segera beri tahu ayahmu, si kaku St. Clair itu, untuk menyiapkan pernikahan rahasia. Aku tidak mau tahu! Jangan sampai ada publik yang tahu soal kehamilan ini sebelum waktunya. Kita harus menjaga reputasi kedua keluarga besar kita. Pernikahan di pulau pribadi atau di kediaman lama di Inggris, kalian pilih saja!"
Di tengah kegaduhan yang dibuat Mommy Elysa, Andreas akhirnya berhasil Membawa Sera ke dokter pribadi keluarga secara rahasia.
Pemeriksaan dilakukan dengan sangat tertutup. Sera berbaring dengan jantung yang berdegup kencang, sementara Andreas menggenggam tangannya erat, keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Dokter senior itu menggerakkan alat pemindai di atas perut Sera. Layar monitor menunjukkan gambaran hitam-putih yang awalnya terlihat kabur bagi mereka.
"Lihat ini," dokter itu menunjuk pada sebuah bentuk kecil yang sudah sangat jelas di layar. "Ini kepala, ini detak jantungnya... sangat kuat."
"Berapa usianya, Dok?" tanya Andreas, suaranya bergetar hebat.
Dokter itu tersenyum kecil. "Bukan satu atau dua bulan. Berdasarkan ukurannya, bayi kalian sudah berumur 17 minggu."
Sera terkesiap, tangannya menutup mulutnya sendiri. Air mata haru jatuh tak terbendung.
"Empat bulan? Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?"
Andreas terdiam, matanya tidak lepas dari layar monitor. Tujuh belas minggu nyawa kecil ini sudah ada di sana, tumbuh dalam rahasia.
Mommy Elysa, yang berdiri di sudut ruangan, langsung menghapus air mata di sudut matanya agar mascaranya tidak luntur. "Tujuh belas minggu! Dan kalian masih sibuk bermain kucing-kucingan dengan paparazzi? Dasar anak-anak muda!"
Andreas berlutut di samping ranjang, ia mencium perut Sera yang masih rata dengan penuh rasa hormat dan cinta, lalu mendongak menatap Sera. "Tujuh belas minggu dia menjagamu saat aku tidak tahu, Sera. Sekarang, biar aku yang menjaga kalian berdua."
Andreas menoleh pada Mommy Elysa dengan tatapan yang sangat tegas, tatapan seorang pria yang siap melindungi keluarganya.
"Nyonya Elysa, hubungi Daddy Sera. Aku sendiri yang akan bicara pada ayahku malam ini. Kita lakukan pernikahan rahasia itu secepat mungkin. Anakku tidak akan lahir di tengah skandal, dia akan lahir sebagai seorang St. Clair yang sah."
Malam itu, di apartemen Tribeca yang saksi bisu segala drama mereka, naskah hidup Andreas dan Sera berubah selamanya. Bukan lagi tentang film, bukan lagi tentang Veris, tapi tentang sebuah rahasia kecil berumur 17 minggu yang kini menjadi pusat dunia mereka.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰