NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16: Hidup Baru, Tantangan Baru

Pernikahan itu sederhana. Bukan di hotel mewah atau gedung bergengsi. Tapi di halaman butik "Gadis Kinarya" yang ditata sedemikian rupa. Kursi-kursi bambu, dekorasi kain perca warna-warni buatan Aira sendiri, dan ribuan lampu hias yang berkelap-kelip di malam hari.

Tamunya tidak banyak. Maya, ibu kos Aira, Bi Inah, beberapa karyawan butik, dan dua orang sahabat Raka dari kantor. Arka jadi pengiring cincin, berjalan dengan gaya kocak sambil sesekali melambai pada tamu.

Mereka tak mengundang keluarga besar. Keluarga Raka sudah lama tak punya—kedua orang tuanya meninggal saat ia kuliah. Keluarga Aira di kampung tak bisa datang karena jauh dan biaya. Tapi mereka mengirim doa lewat telepon.

Malam itu, saat akad nikah berlangsung, Aira menangis. Bukan karena sedih, tapi karena haru. Dua bulan lalu ia hanya desainer biasa dengan kost sempit di Tanah Abang. Kini ia berdiri di hadapan pria yang mencintainya, dengan seorang anak kecil yang memanggilnya "Mama".

"Terima kasih, Tuhan," bisiknya dalam hati.

Usai akad, Raka mengecup kening Aira. Arka protes.

"Bapak, Arka juga mau cium!"

Semua tertawa. Raka menggendong Arka, mencium pipinya. Aira ikut mencium pipi Arka.

Malam itu, kebahagiaan terasa sempurna.

---

Tapi hidup tak pernah berjalan mulus. Setelah kebahagiaan, selalu ada tantangan.

Dua minggu pasca pernikahan, Aira mulai merasakan beratnya menjadi istri seorang CEO dan ibu bagi anak yang bukan darah dagingnya.

Bukan karena Raka atau Arka jahat. Justru sebaliknya. Mereka baik, sangat baik. Tapi Aira merasa tertekan dengan lingkungan barunya.

Teman-teman Raka, para pebisnis dan sosialita, sering melontarkan komentar yang tidak mengenakkan.

"Itu istri barunya Raka? Katanya desainer biasa?"

"Cantik sih, tapi dari kampung ya?"

"Anaknya Raka, Arka, panggil dia Mama. Kasihan ya, ibu tiri."

Aira mendengar semua itu. Ia tersenyum, berpura-pura tak dengar. Tapi hatinya perih.

Di rumah, ia berusaha menjadi istri sempurna. Memasak untuk Raka dan Arka (meski Bi Inah lebih jago), menemani Arka belajar, mengatur jadwal Raka. Tapi kadang ia merasa tak cukup.

Suatu malam, saat Raka lembur, Aira duduk di balkon. Sendiri. Menatap lampu-lampu kota.

"Aira, kenapa sedih?"

Ia menoleh. Arka berdiri di pintu balkon, memeluk guling.

"Aira enggak sedih, Ark. Aira capek aja."

Arka mendekat. Duduk di pangkuan Aira.

"Mama, Arka sayang Mama."

Aira tertegun. Itu pertama kalinya Arka memanggilnya "Mama" secara sadar, bukan dalam canda.

"Ark, panggil apa tadi?"

"Mama. Arka mau panggil Mama. Boleh?"

Aira memeluk Arka erat. Air matanya jatuh.

"Boleh, Nak. Boleh banget."

Malam itu, Arka tertidur di pangkuan Aira. Raka pulang larut, menemukan mereka berdua di balkon. Ia tersenyum. Mengambil selimut, menyelimuti mereka.

Di situ, ia berjanji pada diri sendiri: akan lindungi Aira dari apa pun, termasuk dari komentar jahat orang-orang.

---

Keesokan harinya, Raka memanggil seluruh karyawan di perusahaannya. Ia memberi pengumuman singkat.

"Ini istri saya, Aira. Dia bukan hanya istri saya, tapi juga ibu dari anak saya. Saya harap semua menghormatinya seperti menghormati saya. Dan bagi siapa pun yang tidak bisa menghormati, lebih baik keluar."

Aira yang berdiri di sampingnya, tersipu. Tapi hatinya hangat.

Sejak hari itu, komentar-komentar jahat mulai berkurang. Tapi tantangan belum selesai.

---

Tantangan terbesar datang dari tempat tak terduga: sekolah Arka.

Suatu sore, Aira mendapat telepon dari wali kelas Arka.

"Ibu Aira? Bisa datang ke sekolah? Ada masalah dengan Arka."

Aira segera ke sekolah. Di ruang BK, Arka duduk dengan wajah tertunduk. Di hadapannya, seorang ibu-ibu berdiri dengan wajah merah.

"Ini ibunya?" tanya ibu itu sinis.

Aira mengangguk. "Iya, saya ibunya Arka. Ada apa?"

"Ibu tahu anak ibu tadi bilang apa? Dia bilang saya bukan ibunya yang bener! Katanya ibu cuma ibu tiri! Ini sudah menghina saya di depan anak saya!"

Aira menghela nafas. Ia tahu siapa ibu itu—ibunya teman sekelas Arka yang terkenal suka bergosip.

"Maaf, Bu. Mungkin ada kesalahpahaman. Arka masih kecil, kadang bicara tanpa berpikir."

"Kesalahpahaman? Ini jelas! Anak ibu bilang saya bukan ibu kandung! Itu benar! Tapi dia sebut saya 'ibu tiri' dengan nada menghina! Saya tidak terima!"

Aira menatap Arka. Arka menangis.

"Ibu, saya minta maaf. Saya akan bicara dengan Arka. Tapi tolong, jangan membentak anak saya."

Ibu itu mendengus. "Anak ibu? Dasar ibu tiri sok-sokan."

Udara di ruangan itu tiba-tiba dingin.

Aira menatap ibu itu tajam. "Bu, saya memang ibu tiri Arka. Tapi saya lebih sayang dia dari yang Ibu kira. Saya tidak pernah membentaknya seperti Ibu membentaknya tadi. Jadi tolong, jangan nilai saya hanya dari status."

Ibu itu terperanjat. Tak menyangka Aira akan bicara seperti itu.

Wali kelas yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Bu, saya rasa ini kesalahpahaman. Arka anak baik. Saya yakin dia tak bermaksud menghina. Mungkin lebih baik kita selesaikan baik-baik."

Ibu itu masih kesal, tapi akhirnya pergi setelah ditenangkan.

Aira duduk di samping Arka. Memeluknya.

"Ark, kenapa tadi bilang gitu?"

Arka terisak. "Arka... Arka cuma bilang, 'Ibuku lebih cantik dari ibumu.' Terus teman Arka marah. Dia bilang, 'Ibumu itu ibu tiri! Bukan ibu kandung!' Arka marah. Arka bilang, 'Ibu tiriku lebih baik dari ibu kandungmu!'"

Aira terdiam. Lalu tersenyum.

"Ark, terima kasih sudah bela Mama. Tapi lain kali, jangan bilang gitu. Nanti teman-teman marah."

"Tapi mereka jahat, Ma. Mereka bilang Mama bukan ibu beneran."

Aira memegang wajah Arka. "Dengar, Ark. Mama memang bukan ibu kandung Arka. Tapi Mama sayang Arka sama seperti ibu kandung. Bahkan lebih. Jadi, Mama adalah ibu Arka. Sepenuhnya. Setuju?"

Arka mengangguk. "Setuju."

"Kalau ada yang bilang Mama bukan ibu Arka, bilang saja, 'Ibuku lebih sayang aku dari yang kamu kira. Dan itu cukup.'"

Arka tersenyum. "Oke, Ma."

Mereka berpelukan. Wali kelas yang melihat, tersenyum haru.

---

Pulang sekolah, Aira mengajak Arka makan es krim. Mereka tertawa bersama. Raka yang sudah di rumah, kaget melihat mereka pulang lebih awal.

"Ada apa? Kok pulang cepat?"

Arka langsung bercerita. Raka mendengar dengan serius. Lalu menatap Aira.

"Maaf, Aira. Kau harus hadapi itu semua."

Aira menggeleng. "Ini konsekuensi jadi ibu tiri. Aku sudah siap."

Raka meraih tangannya. "Kau hebat."

Aira tersenyum. "Aku hanya melakukan yang terbaik untuk keluarga kita."

Malam itu, mereka makan malam bersama. Arka bercerita tentang es krim, tentang teman-temannya, tentang Mama. Keluarga kecil itu bahagia.

Tapi Aira tahu, tantangan belum selesai. Masih banyak rintangan di depan. Tapi selama mereka bersama, ia yakin bisa melewati semuanya.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!