Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Esok yang Berbeda
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar, menyentuh permukaan meja kerja tempat naskah-naskah "Lima Kelopak" masih tergeletak dengan rapi. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi, sebuah kebiasaan dari tubuh yang sudah terlatih untuk selalu siap menghadapi variabel apa pun. Setelah rutinitas pagi yang singkat dan sarapan sederhana bersama Rin yang masih tampak mengantuk, aku melangkah keluar menuju sekolah.
Udara pagi ini terasa berbeda—lebih jernih, seolah-olah badai emosional kemarin telah menyapu bersih polusi keraguan yang menggantung di langit Chiba. Saat aku memasuki gerbang Akademi Sakura, aku tidak langsung menuju kelas. Aku berhenti sejenak di dekat papan pengumuman, melihat poster "Festival Sastra Musim Semi" yang mulai ditempel.
[Keahlian Analitis: Aktif]
[Target: Evaluasi Kesiapan Proyek Sastra]
[Status: Naskah siap diproses. Variabel emosional stabil.]
Aku melangkah masuk ke kelas 3-J. Suasana di dalam masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang datang lebih awal untuk menyalin tugas atau sekadar mengobrol ringan. Namun, pemandangan di sudut belakang kelas segera menarik perhatianku.
Nino Nakano sudah duduk di bangkunya. Ini adalah sebuah anomali. Biasanya, Nino adalah orang terakhir yang masuk bersama Ichika, atau setidaknya ia akan datang dengan rombongan saudara-saudaranya. Pagi ini, ia duduk sendirian, menatap ke luar jendela dengan dagu yang ditopang tangan. Pita hitamnya masih terpasang rapi, namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang tidak lagi tajam dan berduri.
Saat aku mendekat dan meletakkan tas di kursiku, Nino tidak menoleh, namun bahunya sedikit menegang.
"Kau datang lebih awal, Nino-san," ujarku dengan nada tenang, memecah keheningan di antara kami.
Nino terdiam sejenak, lalu perlahan menoleh padaku. Tidak ada amarah yang meledak seperti kemarin. Wajahnya yang sembab semalam sudah menghilang, digantikan oleh ekspresi yang sulit dibaca—perpaduan antara rasa malu yang ditekan dan pengakuan yang tulus.
"Aku tidak bisa tidur," jawabnya pendek. Suaranya tidak lagi ketus, melainkan membawa nada yang jauh lebih lembut. "Ayah... dia tidak bicara apa-apa sepanjang jalan pulang. Tapi aku tahu dia sangat marah."
"Kemarahan otoritas adalah tanda bahwa mereka kehilangan kendali atas variabel yang ingin mereka kuasai," balasku sembari mengeluarkan tumpukan naskah mereka dari tas. "Kau melakukan hal yang benar dengan tidak menyerah pada tekanan itu."
Nino menatap naskah di tanganku, terutama lembarannya sendiri yang berada di paling bawah. "Apakah kau sudah membacanya lagi? Maksudku... setelah apa yang terjadi semalam?"
"Berkali-kali," aku memberikan senyum tipis yang jujur. "Tulisanmu adalah jangkar yang menyeimbangkan draf Miku yang melankolis dan draf Itsuki yang emosional. Tanpa tulisanmu, antologi ini akan kehilangan kekuatannya. Kau adalah pelindung mereka, Nino, dan tulisanmu membuktikan itu."
Pipi Nino merona merah, ia segera membuang muka kembali ke arah jendela. "B-Berisik. Aku hanya menulis apa yang ada di kepalaku agar kau berhenti mengoceh."
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka dan empat saudara lainnya masuk. Mereka berhenti serempak saat melihat Nino sudah duduk di sana, mengobrol—atau setidaknya berada dalam jarak dekat—dengan pria yang kemarin membuat mereka menangis.
"Nino?!" Yotsuba berlari mendekat dengan wajah penuh keheranan. "Kau datang sepagi ini? Dan... kau bicara dengan Saiba-san tanpa berteriak?"
Ichika menyipitkan mata, senyum misteriusnya kembali muncul saat ia melihat sapu tangan biru yang masih ada di atas meja Nino—sapu tangan miliku yang belum sempat ia kembalikan. "Hmm, sepertinya ada bab baru yang terlewatkan oleh kami semalam, ya?"
Itsuki dan Miku berdiri di belakang, menatap Nino dengan pandangan menyelidik. Miku, secara khusus, menatapku dengan binar mata yang seolah bertanya tentang apa yang telah terjadi.
"Tidak ada yang terjadi!" Nino berdiri dengan cepat, wajahnya semakin merah. "Kami hanya sedang membicarakan naskah! Cepat duduk, Hiratsuka-sensei akan segera datang!"
Aku memperhatikan dinamika mereka. Meskipun mereka tampak kembali ke rutinitas biasa, ada perubahan halus dalam cara mereka berinteraksi. Miku tidak lagi menarik diri terlalu jauh, Itsuki tampak lebih tegak, dan Nino... Nino tidak lagi berusaha menjadi perisai yang menutup jalan bagi saudara-saudaranya.
[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]
[Kemajuan: 98%]
[Status Hubungan: Kembar Lima (Sinkronisasi Sempurna Dimulai)]
Shizuka Hiratsuka masuk ke kelas dengan langkah yang biasanya tegas, namun kali ini ia berhenti sejenak saat melihat kelompok Nakano dan aku yang tampak begitu kooperatif. Ia menyesuaikan kacamatanya, lalu menatapku dengan kilatan mata yang penuh arti—sebuah peringatan sekaligus apresiasi atas janji "perapihan" yang kubuat kemarin.
"Baiklah, semuanya tenang," ujar Shizuka sembari meletakkan bukunya di meja guru. "Hari ini kita akan membahas tentang perkembangan proyek sastra. Dan aku dengar, kelompok Nakano sudah membuat kemajuan pesat di bawah bimbingan Saiba-kun."
Aku menyandarkan punggungku, melipat tangan di dada. Aku tahu, hari ini bukan lagi tentang konfrontasi fisik atau surat ancaman. Ini adalah tentang pembuktian intelektual. Dan saat aku melihat Nino yang sesekali mencuri pandang ke arahku, aku tahu bahwa naskah yang kami susun bukan hanya akan memenangkan festival, tapi akan mengubah takdir lima kelopak bunga ini selamanya.
Sinar matahari siang mulai merayap masuk melalui jendela-jendela besar ruang klub, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah tumpukan buku di atas meja. Udara di dalam ruangan terasa hangat, namun ada ketenangan yang berbeda dibanding kemarin. Tidak ada lagi isolasi emosional; yang ada hanyalah fokus yang terarah. Meja panjang itu kini penuh dengan lembaran kertas, kopi, dan camilan yang dibawa Yotsuba untuk mencairkan suasana.
Aku duduk di kursi tengah, berperan sebagai poros dari diskusi ini. Di sampingku, Utaha Kasumigaoka menyandarkan dagunya pada tangan kiri, matanya yang tajam memindai draf gabungan yang baru saja kusatukan semalam.
"Struktur ini..." Utaha bergumam, suaranya halus namun menuntut perhatian. "Kau menggunakan teknik narasi Rashomon, Ren? Setiap dari mereka menceritakan kejadian yang sama, namun dengan warna emosi yang berbeda?"
"Tepat," jawabku sembari mengetukkan pulpen di atas meja. "Jika kita menggabungkannya menjadi satu suara, kita akan kehilangan keunikan variabel masing-masing. Tapi jika kita membiarkan Miku memulai dengan melankolinya, lalu Nino menghantamnya dengan realitas yang keras, dan Itsuki menutupnya dengan harapan yang rapuh... kita menciptakan sebuah simfoni."
Kembar lima Nakano duduk mengelilingi meja itu. Mereka tampak lelah, namun ada binar pencapaian di wajah mereka. Miku sedang membaca ulang bagian yang ditulis oleh Nino. Ia tampak terkejut, berkali-kali melirik kakaknya dengan pandangan yang lebih dalam.
"Nino... kau benar-benar merasa sesak saat aku mulai mencoba hal-hal baru sendirian?" tanya Miku pelan.
Nino, yang biasanya akan langsung membantah, kini hanya terdiam. Ia memutar-mutar gelas plastiknya, wajahnya sedikit merona. "Aku hanya... aku hanya tidak ingin kita menjadi orang asing. Dalam naskah itu, aku baru sadar kalau aku yang paling penakut di antara kita semua."
[Keahlian Analitis: Aktif]
[Variabel Terdeteksi: Penurunan Resistensi Ego 40%]
[Status: Karakter-karakter mulai saling memahami melalui teks]
"Itu adalah bagian terbaik dari naskahmu, Nino-san," ujarku, mengalihkan perhatian mereka kembali pada draf di meja. "Ketakutanmu adalah perekat yang membuat cerita ini terasa manusiawi. Sekarang, Ichika, bagianmu tentang 'akting dalam kehidupan sehari-hari' harus lebih dipertegas. Kau adalah anak sulung, kau yang paling ahli menyembunyikan lelah di balik senyum. Masukkan itu ke dalam bab ketiga."
Ichika tersenyum, kali ini senyum yang tidak sampai ke mata—sebuah senyum yang jujur dalam kebohongannya. "Kau benar-benar editor yang kejam, Saiba-kun. Kau ingin aku menelanjangi rahasiaku juga?"
"Hanya jika kau ingin naskah ini hidup," balasku datar.
Utaha tiba-tiba bangkit, berjalan mengitari meja dan berhenti di belakang kursi Itsuki. Ia mengambil satu lembar kertas dan membacanya dengan lantang. " 'Aku berlari mengejar bayangan ibu, namun aku lupa bahwa aku berdiri di bawah matahari yang berbeda'. Kalimat ini... Itsuki, kau yang menulisnya?"
Itsuki mengangguk kaku, wajahnya memerah karena malu. "Saiba-kun yang menyarankanku untuk berhenti bersikap bijaksana dan mulai bersikap jujur."
Utaha menoleh padaku, kilatan matanya menunjukkan campuran antara rasa hormat dan persaingan yang semakin intens. "Kau benar-benar hebat dalam membedah hati wanita, Ren. Jika kau bukan seorang penulis, kau pasti akan menjadi seorang manipulator yang sangat mengerikan."
"Perbedaannya sangat tipis, Senpai," ujarku puitis, membuat Utaha terkekeh pelan.
Diskusi berlanjut dengan tempo yang lambat. Kami membedah kata demi kata, memastikan transisi antara bab Miku ke bab Nino tidak terasa patah. Yotsuba, yang awalnya paling sulit menulis, kini memberikan kontribusi besar pada bagian penutup yang bertema tentang 'langkah maju yang tak terhindarkan'.
Sifat dewasaku membimbingku untuk tidak menekan mereka terlalu keras kali ini. Aku membiarkan mereka berdiskusi satu sama lain, membiarkan kembar lima saling menyanggah dan tertawa di sela-sela kritik tajam yang kuberikan. Ini bukan lagi sekadar tugas sekolah; ini adalah sesi terapi kelompok yang dibungkus dalam seni sastra.
[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]
[Kemajuan: 99%]
[Hadiah Segera: Sinkronisasi Identitas 'Ren Saiba' dengan Dunia Fusi]
Menjelang sore, naskah utuh itu akhirnya selesai disusun. Sebuah antologi berjudul "Lima Kelopak yang Bergetar". Utaha memberikan persetujuan terakhirnya dengan sebuah tanda tangan kecil di pojok halaman depan.
"Ini akan menjadi kejutan besar di festival nanti," ujar Utaha sembari mengemasi barang-barangnya. "Tapi ingat, Ren, setelah ini berakhir, taruhan kita tentang 'naskah yang bisa menggerakkan jiwa' baru saja dimulai. Aku tidak akan membiarkanmu menang semudah ini."
"Aku menantikannya, Senpai," jawabku tenang.
Setelah Utaha pergi, kembar lima masih tertinggal di ruangan. Mereka menatap tumpukan kertas itu seolah-olah itu adalah bayi yang baru lahir. Nino berdiri, berjalan mendekatiku, lalu mengembalikan sapu tanganku yang sudah dicuci bersih dan wangi.
"Terima kasih, Saiba," ucapnya lirih, cukup hanya untuk didengar olehku. "Untuk semuanya. Untuk semalam... dan untuk tidak menyerah pada sifat keras kepalaku."
Aku menerima sapu tangan itu, merasakan kehangatan yang tertinggal. "Jangan berterima kasih pada variabel yang memang sudah seharusnya ada, Nino. Kau yang melakukan kerja kerasnya. Aku hanya penonton yang sesekali mengubah sudut pandang kamera."
Saat mereka semua keluar dari ruang klub dengan langkah yang lebih ringan, aku berdiri sendirian di tengah ruangan yang kini mulai gelap. Aku melihat ke arah meja yang kini kosong, namun aku tahu, di tempat ini, sejarah baru bagi lima gadis itu telah ditulis.
Dan bagiku, langkah terakhir untuk mencapai 100% dari kemajuan pekerjaanku sudah di depan mata.