NovelToon NovelToon
Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: celvinworks

Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran dan Rahasia dari Kakek

Malam itu, tidur tak mau datang.

Setiap kali aku memejamkan mata, yang terlihat hanya Kakek berdiri tenang di tengah jalan desa, mengayunkan tangan kosongnya, dan udara yang 'retak' seperti kaca. Suara tubuh Razorhorn Bull yang menghantam dinding masih bergema di telingaku. Debu yang berputar di udara. Keheningan absolut sesudahnya.

Aku berguling di atas kasur jerami, menatap balok-balok kayu langit-langit yang hampir tak terlihat dalam kegelapan. Cahaya bulan merembes tipis melalui celah jendela kecil.

Sebenarnya, siapa Kakek?

Pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepalaku. Tujuh belas tahun aku hidup bersamanya. Berlatih di bawah bimbingannya, dibesarkan olehnya. Tapi aku tidak benar-benar mengenalnya.

Lelaki tua yang memasak bubur gandum setiap pagi. Yang memperbaiki atap bocor seorang diri. Yang terkikik pelan ketika aku jatuh saat latihan pedang pertamaku.

Orang yang sama yang tadi sore membunuh monster Tier 2 hanya dengan satu kibasan tangan kosong.

Aku menghela napas, duduk tegak di atas kasur. Tidak ada gunanya memaksa mata untuk terpejam.

Dari ruang utama, cahaya redup masih berpendar—perapian belum sepenuhnya padam. Terdengar suara samar. Kakek masih terjaga.

Perlahan, aku bangkit. Telapak kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin. Aku berjalan ke pintu kamar, membukanya sedikit.

Kakek duduk di kursi dekat perapian, menatap bara yang sekarat. Di tangannya, sebuah medali perak berbentuk pedang yang dikelilingi sayap. Belum pernah aku melihatnya sebelumnya.

"Tidak bisa tidur?"

Aku tersentak. Kakek bahkan tidak menoleh, tapi ia tahu aku ada di sana.

"...Tidak," jawabku pelan, melangkah keluar. "Pikiranku berisik."

Kakek tersenyum tipis, menyelipkan medali itu kembali ke saku bajunya. "Duduklah. Temani orang tua ini sebentar."

Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Cahaya api melemparkan bayangan-bayangan di wajahnya yang keriput. Beberapa saat kami hanya duduk diam, mendengarkan kayu yang sesekali berderak dalam nyala api, angin malam berhembus lembut di luar.

"Kamu ingin bertanya," Kakek akhirnya berkata. Bukan pertanyaan—pernyataan.

Aku mengangguk. "Tadi sore... apa yang kamu lakukan?"

"Membunuh monster."

"Bukan itu maksudku." Aku mencondongkan badan ke depan. "Kakek memecahkan udara. Aku melihatnya. Razorhorn Bull itu terlempar seperti... seperti mainan. Dengan tangan kosong."

Kakek menatapku lama. Lalu menghela napas, bersandar di kursinya.

"Pernahkah kamu mendengar tentang Tenaga Dalam?" tanyanya.

Aku menggeledah ingatanku. "Dari buku yang Kakek berikan, itu energi kehidupan internal. Bisa dimanifestasikan sebagai kekuatan fisik. Tapi buku itu bilang hanya prajurit tingkat master yang bisa—"

"Menggunakannya secara efektif," Kakek memotong. "Ya. Benar."

Jantungku berdegup. "Jadi Kakek... seorang master?"

"Dulu." Ia menatap tangannya sendiri—tangan berkeriput dengan bekas luka samar di buku-buku jari. "Sudah lama sekali, Kael. Sebelum kamu lahir. Sebelum aku datang ke Ashfall."

"Kenapa tidak pernah cerita?"

"Karena masa lalu adalah beban yang tidak perlu kamu pikul." Suaranya lembut, tapi ada kekerasan di baliknya—seperti besi yang dibungkus kain. "Aku datang ke desa ini untuk kabur. Dari dunia yang penuh darah dan politik. Dunia yang mengambil terlalu banyak dari orang-orang yang kucintai."

Ia terdiam, menatap api.

"Tapi rupanya," lanjutnya pelan, "dunia itu tidak membiarkanmu pergi dengan mudah. Bahkan setelah tiga puluh tahun."

Aku menelan ludah. "Orang asing yang datang kemarin itu bukan pedagang biasa, kan?"

Kakek menatapku, sejenak tampak terkejut, lalu terkikik pelan. "Kamu lebih tajam dari yang kusangka."

"Dia menatap kalungku," kataku. "Terlalu lama. Dan Kakek berubah setelah dia pergi. Lebih waspada. Lebih—"

"Khawatir," Kakek menyelesaikan kalimatku. "Ya. Aku khawatir."

Tanganku refleks menyentuh liontin biru di leherku—batu sederhana dengan pola yang selalu bergeser samar, seperti air mengalir. Sudah kupakai sejak bayi. Kakek yang memberikannya, bilang itu satu-satunya kenangan dari orang tuaku.

"Kalung ini... istimewa?"

Kakek tidak langsung menjawab. Ia menatap liontin itu, ekspresinya sulit dibaca.

"Lebih dari yang kamu bayangkan," akhirnya ia menjawab. "Tapi belum waktunya menjelaskan semuanya. Belum."

"Kapan?" Frustrasi menyelinap ke suaraku. "Kakek selalu bilang 'nanti', 'belum saatnya'. Tapi aku sudah tujuh belas tahun. Aku berhak tahu tentang orang tuaku. Tentang diriku sendiri."

"Kamu benar." Kakek bangkit, berjalan ke rak kayu. Ia mengambil sebuah buku tipis—sampul kulit lusuh dengan tulisan emas yang sudah pudar. "Ini adalah buku harian ibumu."

Napas tertahan di tenggorokanku.

"I-ibu?" Tanganku gemetar saat Kakek menyerahkan buku itu. Kubuka dengan hati-hati—halaman pertama, tulisan tangan rapi bertinta hitam:

"Hari pertama di Arcanum Academy. Aku tidak pernah menyangka akan diterima. Tapi mungkin ini memang takdir."

Arcanum Academy. Pernah kudengar nama itu sebelumnya. Institusi sihir paling bergengsi di Kerajaan Tengah.

"Ibumu seorang penyihir," Kakek berkata pelan. "Sangat berbakat. Masuk Academy di usia lima belas, termuda di angkatannya."

"Dan ayahku?"

"Juga penyihir. Mereka bertemu di Academy." Senyum samar melintas di wajah Kakek—penuh nostalgia, tapi juga kesedihan. "Dua orang jenius. Ibumu menguasai Void Magic, sangat langka. Ayahmu bahkan lebih langka lagi—Dimensional Magic."

Void. Dimensional.

Aku teringat berkali-kali mencoba belajar sihir dari buku-buku Kakek. Selalu gagal dengan elemen standar. Api, air, tanah, angin. Tapi kadang-kadang, ketika frustrasi memuncak, sesuatu yang lain terjadi. Ruang di hadapanku bergetar. Seperti ada celah yang berusaha membuka diri.

Selama ini kukira itu hanya imajinasinku.

"Mereka mewariskan afinitas itu kepadaku?" tanyaku.

"Kemungkinan besar." Kakek kembali duduk. "Tapi itulah juga alasan mereka menghilang."

"Menghilang?"

"Tujuh belas tahun lalu." Suaranya mengecil. "Mereka sedang meneliti sesuatu yang berbahaya. Lalu suatu malam, mereka datang ke rumahku. Membawa bayi—membawa kamu."

Jantungku berdegup keras.

"Ibumu menangis. Ayahmu tampak ketakutan. Mereka bilang, 'Tolong lindungi dia. Jangan biarkan mereka menemukannya.' Lalu pergi. Aku tidak pernah melihat mereka lagi."

Udara terasa berat.

"Siapa 'mereka'?"

"Aku tidak tahu pasti." Kakek menggeleng. "Tapi beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar—rumah mereka di Academy terbakar habis. Tidak ada yang selamat, menurut laporan resmi. Tapi tidak ada jenazah yang ditemukan juga."

"Jadi mereka mungkin masih hidup?"

"Mungkin." Kakek menatapku. "Atau mereka tidak ingin ditemukan."

Aku menggenggam buku harian itu erat. Begitu banyak pertanyaan, tapi sebelum aku sempat bertanya lagi, Kakek mengangkat tangannya.

"Cukup untuk malam ini, Kael. Kamu perlu istirahat. Besok kita lanjutkan latihan."

"Tapi—"

"Istirahat." Nadanya final.

Aku mengangguk enggan, bangkit, membawa buku harian itu kembali ke kamarku.

Tapi sebelum menutup pintu, aku mendengar Kakek berbisik—begitu pelan, hampir tak terdengar.

"Maafkan aku, Kael. Aku tidak tahu apakah aku sedang melindungimu, atau hanya menunda hal yang tak terelakkan."

Bahkan setelah aku pergi, Kakek terus menatap jendela dengan pandangan kosong, seolah mengamati bayangan-bayangan yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Ia kembali dirasuki hantu-hantu malam itu.

Hujan deras mengguyur tanpa ampun.

Kakek—yang ketika itu masih tampak lebih muda, rambutnya belum sepenuhnya memutih—membuka pintu. Dua sosok berdiri di luar, kuyup basah.

Seorang pria berambut hitam dengan mata ungu yang tajam. Seorang wanita berambut perak dengan mata biru yang lembut. Di pelukan sang wanita, seorang bayi tertidur—tidak menangis, seolah tidak terganggu oleh badai yang mengamuk.

"Aldric," pria itu berkata, suaranya tercekat. "Kami butuh bantuanmu."

Aldric—nama asli Kakek—menatap mereka. Lalu menatap bayi itu.

"Masuklah," katanya singkat.

Di dalam, di sisi perapian, sang wanita mendekap bayi itu lebih erat. Air mata mengalir di pipinya.

"Mereka tahu," bisiknya. "Entah bagaimana, mereka tahu tentang penelitian kami—tentang dia." Ia memandang bayi itu. "Mereka akan membunuh kami. Dan mengambil Kael."

"Siapa?" tanya Aldric.

"Kami tidak bisa bilang." Pria itu menggeleng. "Semakin sedikit yang kamu tahu, semakin aman kamu."

Aldric terdiam. Lalu menghela napas panjang.

"Kalian serius dengan ini?"

"Tolong." Sang wanita menatapnya—penuh keputusasaan. "Kamu satu-satunya yang kami percaya. Dulu kamu pernah bilang berutang nyawa pada keluargaku."

Aldric memejamkan mata. Kenangan lama.

"...Baiklah," akhirnya ia berkata. "Aku akan melindunginya. Tapi kalian harus pergi. Sekarang. Semakin lama kalian di sini, semakin berbahaya."

Sang wanita mencium dahi bayi itu—lama, seolah berusaha menghafalkan setiap detail wajahnya.

"Maafkan kami, Kael," bisiknya. "Suatu hari nanti kamu akan mengerti."

Ia menyerahkan bayi itu kepada Aldric.

Sang pria melepas kalung biru dari lehernya—batu dengan pola yang terus bergeser. "Simpan ini. Jangan biarkan terlepas darinya. Ini penting."

Aldric mengangguk.

Tanpa sepatah kata lagi, keduanya pergi—lenyap ke dalam malam yang dibasahi hujan.

Aldric menatap bayi di gendongannya. Mata ungu kecil itu membuka diri, menatapnya dengan tatapan polos.

"Kael Ashvern," gumamnya. "Nama yang bagus."

Bayi itu tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Aldric—mantan Sword Saint, Hantu Medan Perang—merasa takut.

Bukan untuk dirinya sendiri.

Melainkan untuk anak kecil yang tak berdosa ini.

Tiga hari setelah malam itu, aku masih membaca buku harian Ibu.

Setiap sore sebelum tidur, aku membuka halaman demi halaman. Tulisan tangannya rapi, kadang dihiasi sketsa-sketsa kecil di pinggiran—formula sihir, diagram aliran mana, gambar menara-menara Academy yang menjulang tinggi.

"Hari ke-47 di Academy. Profesor Malachar mengajarkan teori Void Channeling hari ini. Ia bilang aku punya 'resonansi alami' yang luar biasa. Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh—setiap kali aku membuka Void, ada bisikan. Seperti ada sesuatu di dalamnya yang memanggil."

Kubaca ulang kalimat terakhir itu.

Bisikan dari Void. Aku belum pernah merasakan itu—setidaknya belum sekarang. Tapi kadang-kadang, ketika mencoba bermeditasi seperti yang Kakek ajarkan, aku merasakan kekosongan. Bukan kekosongan yang hampa, tapi kekosongan yang hidup. Seperti ruang di antara ruang.

Mungkin itulah Void.

Ketukan pelan di pintu.

"Kael, sarapan," suara Kakek.

Aku bangkit, menyembunyikan buku itu di bawah bantal. Tidak yakin kenapa merasa perlu menyembunyikannya, padahal Kakek sendirilah yang memberikannya. Mungkin karena isinya terlalu personal, terlalu dekat dengan bagian diriku yang belum siap dibagi.

Di meja makan, Kakek sudah menyiapkan bubur gandum dan telur. Tapi ia tidak duduk. Ia berdiri di samping jendela, menatap ke luar dengan ekspresi waspada.

"Ada apa?" tanyaku.

"Tidak tahu." Ia tidak mengalihkan pandangan. "Tapi ada yang tidak beres pagi ini."

Aku mendekat ke jendela. Ashfall tampak normal—penduduk mulai keluar dari rumah-rumah mereka, beberapa membuka kios kecil, anak-anak berlarian di jalan tanah. Tapi Kakek benar. Ada 'sesuatu'.

Terlalu sunyi.

Biasanya sekarang Pak Aldren sudah berteriak-teriak pada cucunya yang nakal. Bu Marta sudah membuka lapak roti. Tapi hari ini semua orang seperti menahan napas.

"Mereka takut," gumam Kakek. "Sejak insiden Razorhorn kemarin, mereka memandangku berbeda."

"Karena mereka melihat Kakek membunuh monster itu?"

"Karena mereka sadar aku bukan orang tua biasa." Akhirnya ia berbalik, duduk di meja. "Rasa takut membuat orang menjadi tidak terduga, Kael. Ingat itu."

Kami makan dalam diam. Tapi sepanjang sarapan, mataku terus melayang ke jendela, seolah menunggu sesuatu.

Dan ternyata aku tidak salah.

Sore itu, ketika aku sedang mencuci piring, ketukan keras menggelegar di pintu.

BANG! BANG! BANG!

Bukan ketukan sopan. Ketukan yang menuntut.

Kakek langsung bangkit dari kursinya, tangannya refleks bergerak ke arah pedang yang bersandar di dinding. Ia menatapku—tajam.

"Ke kamarmu. Sekarang."

"Tapi—"

"SEKARANG!!"

Aku berlari ke kamar tapi tidak menutup pintu sepenuhnya. Melalui celah, aku bisa melihat Kakek melangkah ke pintu, membukanya perlahan.

Di luar berdiri seorang pria.

Tinggi. Mengenakan mantel panjang berwarna hitam yang tidak lazim untuk desa seperti Ashfall—terlalu formal, terlalu mahal. Rambut hitam tersisir rapi ke belakang. Wajah tampan, tapi dingin. Matanya tajam seperti mata predator.

Tapi yang benar-benar menarik perhatianku—di lehernya tergantung sebuah medali perak. Bentuknya sama persis dengan yang disembunyikan Kakek malam itu. Pedang yang dikelilingi sayap.

"Aldric Veyron," pria itu berkata, suaranya halus tapi menyimpan ketajaman di baliknya. "Sudah lama sekali."

Kakek tidak bergerak. "Kamu salah orang. Namaku Aldrin Ash. Bukan yang itu."

"Oh?" Pria itu tersenyum tipis. "Jadi Sword Saint dari Front Utara sekarang bersembunyi di desa kecil dengan nama palsu? Menarik sekali."

Jantungku berhenti sesaat. Sword Saint—gelar yang hanya diberikan kepada pedang yang telah mencapai penguasaan absolut. Pernah kubaca dalam sebuah buku bahwa sepanjang sejarah, hanya sepuluh orang yang pernah mendapatkan gelar itu.

Dan Kakek salah satunya?

"Apa maumu, Cassius?" Suara Kakek datar, tapi aku bisa merasakan ketegangan di baliknya.

Cassius—itulah namanya—melangkah masuk tanpa diundang. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak ke arah kamarku. Aku mundur sedikit, jantung berdegup tak karuan.

"Aku tidak datang untuk mengganggumu, Veyron," kata Cassius, berkeliling ruangan seolah sedang menginspeksi. "Aku datang untuk menyampaikan peringatan."

"Peringatan?"

"Mm." Cassius berhenti di depan rak buku, menarik satu—buku bestiari itu. Membolak-baliknya sembarangan. "Tahukah kamu, dunia di luar desa kecilmu ini sedang bergolak. Philosopher Stones yang menghilang selama 800 tahun tiba-tiba mulai beredar kembali."

Kakek tidak bereaksi. Tapi aku melihat bahunya menegang.

"Dan ada rumor," lanjut Cassius, menutup buku itu dengan suara pelan, "bahwa Azure Codex—batu yang paling banyak dicari—ada di tangan seseorang di desa ini."

Waktu seolah berhenti.

Azure Codex. Kalungku.

"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," kata Kakek dingin.

"Tentu saja tidak." Cassius tersenyum. "Tapi kamu tahu, Veyron... aku bukan satu-satunya yang mencari. Ada pihak-pihak lain. Pihak yang tidak seberadab aku." Ia berbalik, menatap langsung ke Kakek. "Shadow Syndicate, Church of Celestial Order, bahkan Demon Territories sudah mengirim agen-agen mereka."

"Dan kamu? Mewakili siapa?"

"Arcanum Academy." Cassius mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya—kartu identifikasi dengan lambang menara emas. "Aku seorang profesor di sana. Dan Academy tidak ingin batu itu jatuh ke tangan yang salah."

"Jadi Academy mengutusmu untuk mengambilnya?"

"Tidak." Cassius menyimpan kartunya kembali. "Academy mengutusmu untuk memastikan pemiliknya aman. Jika ia bersedia, kami bisa memberikan perlindungan, pelatihan, bahkan bimbingan."

Kakek tertawa sinis. "Dan imbalannya?"

"Kesetiaan. Kerja sama. Akses ke batu itu untuk keperluan penelitian saja." Cassius mengangkat bahu. "Jauh lebih baik daripada diburu Shadow Syndicate atau dikorbankan oleh Church, bukan?"

"Pergi!"

Cassius terdiam. "Veyron—"

"PERGI!!" Suara Kakek seperti baja. "Sebelum aku lupa bahwa kita pernah berjuang di pihak yang sama."

Cassius menatapnya lama. Lalu menghela napas.

"Baiklah." Ia melangkah ke pintu tapi berhenti di ambang. "Tapi ingat—aku bukan musuhmu. Dan waktu semakin sempit. 'Mereka' sudah tahu. Tinggal soal waktu sebelum mereka datang."

"Siapa 'mereka'?"

Cassius tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah kamarku—langsung ke celah pintu tempat aku bersembunyi.

Aku membeku.

"Jaga baik-baik anak itu, Veyron," katanya pelan. "Dia istimewa, lebih dari yang ia sadari."

Kemudian ia pergi. Pintu tertutup.

Kakek berdiri tak bergerak di tengah ruangan. Tangannya mengepal erat.

Aku keluar dari kamar perlahan. "Kakek, tadi dia—"

"Kael." Ia berbalik, menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan marah, bukan sedih. Tapi takut.

"Mulai besok, latihan kita berubah. Aku akan mengajarimu cara bertahan hidup. Bertahan hidup yang sesungguhnya. Karena suatu hari mungkin aku tidak akan ada di sini untuk melindungimu."

"Kakek, apa yang sedang terjadi—"

"Tidak ada waktu untuk pertanyaan." Ia berjalan ke rak, menarik beberapa buku—bestiari, manual tempur, atlas dunia. "Baca ini malam ini. Hafalkan. Besok pagi kita mulai."

"Tapi—"

"Kael." Suaranya final. "Percayalah padaku. Tolong."

Aku menatap tumpukan buku di tangannya. Lalu mengangguk pelan.

Kakek menghembuskan napas lega, tapi aku melihat tangannya sedikit gemetar saat meletakkan buku-buku itu di meja.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari—Kakek bukan hanya khawatir.

Ia ketakutan.

Malam itu, aku tidak membaca buku harian Ibu.

Aku membaca bestiari—halaman demi halaman tentang monster, habitat, kelemahan, strategi tempur. Aku membaca manual pertarungan—teknik bertahan hidup, taktik melarikan diri, cara mengidentifikasi racun.

Dan aku membaca atlas—peta dunia Avalon yang begitu luas, dengan Kerajaan Tengah di pusatnya, Wilderness Expanse di tepian, Demon Territories di selatan, dan tempat-tempat lain dengan nama-nama yang asing di lidah. Shattered Plains, Elemental Sanctums, Dimensional Borders, dan masih banyak lagi.

Dunia ini begitu luas.

Dan entah mengapa, aku merasa akan segera melihatnya sendiri.

Bukan dengan cara yang kuinginkan.

Cassius berjalan keluar dari Ashfall, melewati pagar kayu desa.

Di tepian hutan, seseorang menunggu—sosok berkerudung hitam, wajah tersembunyi.

"Bagaimana hasilnya?" sosok itu bertanya. Suara perempuan. Dingin.

"Azure Codex terkonfirmasi," jawab Cassius. "Ada di tangan anak itu. Tapi Veyron sangat protektif. Dia tidak akan menyerahkannya tanpa perlawanan."

"Kalau begitu kita lawan." Sosok itu berbalik. "Shadow Syndicate sudah bergerak. Dalam tiga hari, mereka akan tiba."

"Dan kita?"

"Kita mengamati. Biarkan mereka membuat Veyron lengah." Sosok itu mulai melangkah pergi. "Lalu kita ambil anak itu. Hidup atau mati—Academy tidak peduli, selama batunya utuh."

Cassius terdiam. Lalu mengikuti.

Di belakang mereka, Ashfall tampak damai—desa kecil di tepian dunia, tidak menyadari badai yang sedang mendekat.

Tidak menyadari bahwa dalam tiga hari, segalanya akan berubah.

Selamanya.

1
NightShadeス
Review novelnya sampe chapter 27, sejauh ini ceritanya cukup seru dan agak santai, mungkin dibeberapa chapter awal emang agak dark sih pengenalan ceritanya. Terus sepertinya world buildingnya agak luas soalnya ada beberapa part yang ngebandingin tempat tempat gitu, yah karena ini masi awal awal jadinya belum bisa review terlalu banyak, intinya mc bisa pake sihir void sama make pedang. Rekomen buat yang suka mc zero to hero👍 mc nya ga langsung op dari awal, ada perkembangan karakternya
celvin: makasi kak udah mau review novelnya, semoga betah ya disini, perjalanan kita masi panjang/Shhh/
total 1 replies
NightShadeス
Temennya turu
Dzakyyy
up min
Dzakyyy: semangattt minnn
total 2 replies
Dzakyyy
ibunya se op apa tuh
Dzakyyy
wkwkwk adaa matematika😭
NightShadeス: ga ekspek/Skull/
total 1 replies
Dzakyyy
badut
Dzakyyy
kekk😭😭 siapa yang naroh bawang sini woyy/Sob/
Dzakyyy
feeling ku ga enak..
Dzakyyy
SERUU BANGETTTT, alurnya ga terlalu cepet, mc nya ga langsung op di awal/Doge/
anggita
ikut ng👍like, sama kasih iklan saja.
celvin: jangan lupa dikasi rating ya kalo suka👀
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!