NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: HIDUP BERHUTANG

Tanah itu dingin. Aryo masih berlutut di sana meskipun Kirman dan anak buahnya sudah lama pergi. Bekas roda becak masih membekas di tanah becek. Dalam. Seperti luka yang menganga.

"Mas..."

Dewi memegang pundaknya. Tangannya gemetar. Aryo bisa rasakan getaran itu. Bukan karena dingin. Tapi karena takut. Karena hancur.

"Mas, bangun... masuk... Risma nangis..."

Risma. Ya. Risma masih nangis di dalam. Aryo dengar suara itu. Pecah. Menusuk.

Ia bangkit. Lututnya sakit. Basah. Darah merembes dari luka terkena kerikil. Tapi ia tak peduli. Ia berlari masuk.

Risma di dipan. Tangannya meronta-ronta kecil. Wajahnya merah. Mulutnya menganga, tapi suaranya serak. Habis menangis terlalu keras.

"Nak... Nak... Bapak di sini..."

Aryo gendong Risma. Tubuh anaknya hangat. Terlalu hangat. Jangan-jangan demam lagi. Ia tempelkan pipinya ke kening Risma. Panas. Tapi bukan panas demam. Panas karena nangis.

"Udah, Nak... udah... Bapak nggak ke mana-mana..."

Dewi masuk. Duduk di sampingnya. Ia lihat lutut Aryo berdarah. "Mas, luka..."

"Nggak papa."

 

Mereka bertiga diam. Risma mulai tenang. Matanya terpejam. Capek nangis. Aryo masih menggendongnya. Nggak mau lepas.

Dewi pegang tangan Aryo. "Mas... sekarang gimana?"

Aryo diam. Pikirannya kosong. Nggak tahu harus jawab apa.

"Mas, becak kita diambil. Narik apa? Cari uang dari mana?"

Aryo masih diam.

"Mas, utang masih 2,4 juta. Obat Risma tinggal 3 hari. Susunya habis besok. Kita makan apa?"

Suara Dewi makin tinggi. Bukan marah. Tapi panik.

Aryo tatap Dewi. Istrinya itu kurus. Lingkaran hitam di mata makin pekat. Rambutnya kusut. Bajunya lusuh. Tapi matanya... matanya masih berusaha kuat.

"Ri, aku cari kerja. Apa aja. Yang penting ada uang."

"Kerja apa, Mas? Di desa sini? Mau jadi kuli? Upahnya 20 ribu sehari. Buat makan aja nggak cukup."

"Nggak tahu, Ri. Tapi aku harus coba."

Dewi nangis. Nangis lagi. "Mas... aku capek... capek banget..."

Aryo peluk Dewi. Satu tangan gendong Risma, satu tangan peluk istri. "Maaf, Ri... maafin aku..."

Mereka berpelukan. Bertiga. Risma di tengah. Nggak ada suara. Hanya isak tangis.

 

Pagi harinya, Aryo pergi cari kerja. Jalan kaki ke pasar. Tawarkan diri jadi kuli panggul.

"Pak, butuh kuli? Saya bisa."

Pedagang itu lihat Aryo. Badannya kurus. Matanya cekung. "Kamu kuat angkat karung?"

"Kuat, Pak. Saya biasa narik becak."

"Ya udah. Angkat ini ke sana. 20 ribu."

Aryo angkat karung beras 50 kilo. Pundaknya sakit. Tapi ia paksakan. Satu karung, dua karung, tiga karung.

Sore harinya, ia dapat 60 ribu. Lumayan.

Ia beli susu Risma 25 ribu. Obat 20 ribu. Sisa 15 ribu buat makan.

Pulang, kaki pegal. Pundak lecet. Tapi lihat Risma minum susu, ia senang.

"Udah minum, Nak? Enak?"

Risma diam. Tapi matanya terbuka. Menatap Aryo. Lama.

Dewi tersenyum. "Mas, tadi Risma lihat terus ke pintu. Kayak nunggu bapaknya pulang."

Aryo terharu. "Beneran, Ri?"

"Iya. Dari sore. Matanya ke situ terus."

Aryo gendong Risma. "Nak, Bapak pulang. Bapak bawain susu buat kamu."

Risma diam. Tapi tangannya bergerak. Meraih wajah Aryo. Nyentuh pipinya.

Aryo diam. Nggak berani bergerak. Tangan kecil itu dingin. Tapi sentuhannya hangat.

"Makasih, Nak... makasih..."

 

Malam harinya, Aryo hitung uang. 15 ribu sisa. Besok harus cari kerja lagi.

Tapi besoknya, di pasar, nggak ada yang butuh kuli. Ia coba tawarkan diri ke semua pedagang. Nggak ada yang mau.

"Hari ini sepi, Lek. Nggak butuh."

Aryo lunglai. Ia duduk di pinggir pasar. Lapar. Tapi uang cuma 15 ribu. Buat makan aja cukup. Tapi besok Risma butuh susu lagi.

Ia pulang. Tangan kosong.

Dewi lihat wajahnya. "Mas, gimana?"

Aryo geleng. "Nggak dapat, Ri."

Dewi diam. Lalu berkata, "Mas, aku jualan gorengan aja. Biar bantu."

"Kamu? Tapi Risma?"

"Aku bawa Risma. Taruh di sampingku."

"Ri, kamu nggak kuat."

"Harus kuat, Mas. Kita nggak punya pilihan."

 

Esoknya, Dewi jualan gorengan. Pagi-pagi bangun, bikin adonan. Goreng pisang, tempe, tahu. Masukkan ke keranjang.

Risma digendong pakai kain. Di depan dada Dewi. Biar bisa sambil jualan.

Aryo lihat dari pintu. Istrinya jalan pelan-pelan. Nyender-nyender karena berat. Tapi Dewi terus jalan.

"GORENGAN! GORENGAN!" suaranya serak. Tapi ia terus teriak.

Aryo nangis. Nangis lihat itu.

Ia juga pergi cari kerja. Ke pasar, ke terminal, ke mana aja.

Sore harinya, mereka pulang. Capek. Tapi dapat rezeki.

Dewi: 25 ribu.

Aryo: 30 ribu.

Total: 55 ribu.

Cukup buat beli susu, obat, dan makan.

Mereka makan malam. Nasi putih, sambal, dan gorengan sisa jualan yang nggak laku. Sederhana. Tapi mereka makan bersama. Risma di gendongan Dewi.

"Mas, kita bisa," kata Dewi.

Aryo tersenyum. "Iya, Ri. Kita bisa."

 

Tapi seminggu kemudian, Dewi jatuh sakit. Demam. Batuk. Badannya panas.

"Ri, istirahat. Jangan jualan dulu."

"Nggak bisa, Mas. Nanti nggak dapat uang."

"Biar aku aja. Kamu di rumah jagain Risma."

Dewi nggak mau. Tapi tubuhnya nggak kuat. Ia cuma bisa terbaring.

Aryo pergi cari kerja. Ninggalin Dewi dan Risma di rumah.

Sepanjang hari, ia kerja keras. Angkat karung, panggul semen, apa aja. Tapi dapatnya cuma 40 ribu.

Pulang, Dewi masih demam. Risma nangis kelaparan.

"Kenapa nggak dikasih susu, Ri?"

"Susu habis, Mas. Tadinya mau beli, tapi aku nggak bisa bangun."

Aryo pegang kening Dewi. Panas. Sangat panas.

"Ri, kamu harus ke dokter."

"Nggak usah, Mas. Istirahat aja."

"NGGAK BISA! Kamu sakit! Ayo ke puskesmas!"

Aryo paksa Dewi bangun. Gendong Risma. Jalan ke puskesmas.

Di puskesmas, Dewi diperiksa. Dokter bilang, "Ibu ini kelelahan. Istirahat total seminggu. Minum obat ini."

Aryo terima resep. Bayar 50 ribu. Uangnya habis.

Pulang, Dewi tidur. Aryo urus Risma sendiri. Mandiin, suapin, ganti popok.

Malam itu, ia nggak tidur. Ia jagain Dewi dan Risma. Gantian kompres Dewi, gantian tepok-tepok Risma.

Capek. Tapi ia nggak boleh tumbang.

 

Seminggu kemudian, Dewi sembuh. Tapi badan masih lemas.

"Mas, aku udah bisa jualan."

"Jangan dulu. Istirahat."

"Tapi uang habis. Utang masih banyak."

Aryo diam. Ia tahu. Utang 2,4 juta ke Kirman belum dibayar. Bunganya jalan terus.

Tiba-tiba, pintu digedor. Kencang.

"PAK ARYO! BUKA PINTU!"

Suara Kirman.

Aryo buka pintu. Kirman berdiri di sana. Dengan dua orang. Sama seperti kemarin.

"Pak Aryo, utang Bapak 2,4 juta. Sudah jatuh tempo. Bunga 20 persen. Total 2,88 juta. Bayar."

Aryo pucat. "Pak Kirman, kasih waktu... saya baru bisa kerja..."

Kirman tersenyum sinis. "Sudah, Pak. Saya kasih waktu. Tapi Bapak nggak bayar-bayar. Sekarang saya ambil jaminan lain."

"Jaminan apa? Saya nggak punya apa-apa lagi!"

Kirman lihat ke dalam rumah. Matanya menyapu. Lalu berhenti di Risma.

"Itu anak Bapak?"

Aryo kaget. Langsung berdiri di depan Kirman. Menghalangi pandangannya.

"JANGAN! JANGAN SENTUH ANAK SAYA!"

Kirman tertawa. "Tenang, Pak. Saya nggak akan ambil anak Bapak. Nggak laku."

Aryo napas lega. Tapi Kirman lanjut, "Tapi rumah ini... saya lihat sertifikatnya masih ada."

Aryo gemetar. "Pak Kirman... jangan... ini satu-satunya tempat tinggal kami..."

"Bayar utang, Pak. Kalau nggak, saya ambil rumah."

Kirman pergi. Meninggalkan Aryo yang lemas.

Ia jatuh duduk di lantai. Dewi lari ke sampingnya.

"Mas... Mas... gimana ini?"

Aryo nggak bisa jawab. Ia hanya menatap kosong.

Risma nangis. Lagi-lagi nangis.

Tapi Aryo nggak bisa tenangkan. Ia hancur. Hancur total.

 

Malam itu, Aryo nggak bisa tidur. Ia duduk di beranda. Menatap gelap.

Dewi keluar. Duduk di sampingnya.

"Mas, kita ngungsi aja. Ke rumah orang tua aku di desa sebelah."

"Lari dari utang, Ri?"

"Apa boleh buat? Darah kita disiksa terus."

Aryo diam. Mikir.

"Tapi Risma, Ri. Dia butuh kontrol ke dokter. Di desa sebelah nggak ada rumah sakit."

Dewi nangis. "Terus gimana, Mas? Kita mau diapain?"

Aryo pegang tangan Dewi. "Kita lawan, Ri. Kita cari uang. Pokoknya kita bayar utang itu."

"Bayar pake apa? Kita cuma kuli dan penjual gorengan."

"Pokoknya kita usahakan."

Mereka berdua diam. Di tengah malam yang dingin. Di tengah hidup yang terasa makin berat.

Di dalam, Risma tidur. Tak tahu apa-apa.

Atau mungkin tahu? Mungkin ia tahu bapak ibunya berjuang. Mungkin ia tahu mereka hampir menyerah.

Tapi ia tak bisa bicara. Tak bisa bilang "Bapak, Ibu, jangan menyerah".

Ia cuma bisa diam. Dan berharap.

 

Pagi harinya, Aryo bangun dengan tekad baru. Ia akan cari uang lebih banyak. Apa pun caranya.

Ia ke pasar. Cari kerja. Tapi hari itu sepi. Nggak ada yang butuh kuli.

Ia ke terminal. Coba jadi calo. Tapi nggak bisa bersaing.

Ia ke sawah. Tawarkan diri jadi buruh tani. Diterima. Upah 25 ribu sehari.

Sepanjang hari ia cangkul, tanam, babat rumput. Tangannya lecet. Pundaknya sakit. Tapi ia terus kerja.

Sore harinya, ia pulang dengan 25 ribu. Sangat sedikit. Tapi daripada nggak dapat sama sekali.

Di rumah, Dewi jualan gorengan. Dapat 20 ribu.

Total 45 ribu. Buat makan, buat susu Risma, habis. Nggak ada sisa buat bayar utang.

Mereka makan malam lagi. Nasi sambal gorengan. Sederhana.

Tapi mereka masih bisa makan. Masih bisa lihat Risma minum susu. Masih bisa bertahan.

Esoknya, Aryo ke sawah lagi. Tiga hari berturut-turut. Capek. Tapi uang terkumpul 100 ribu.

Belum cukup buat bayar utang. Tapi cukup buat beli obat dan susu.

Hari keempat, mandor bilang, "Nggak butuh lagi, Pak. Musim tanam udah selesai."

Aryo lunglai. Pulang dengan tangan kosong.

Di rumah, Dewi nangis. "Mas, Risma kejang lagi."

Aryo kaget. Lari ke kamar. Risma kejang. Matanya memutih. Mulutnya berbusa.

"TOLONG! TOLONG!"

Ia gendong Risma. Lari ke jalan. Nggak punya becak. Nggak punya uang.

Ia coba henthikan mobil. Satu, dua, tiga. Nggak ada yang berhenti.

Risma di gendongannya makin lemas.

"Nak... Nak... jangan... jangan pergi..."

Dari kejauhan, sebuah mobil berhenti. Pak Karjo. Lagi-lagi.

"Pak, naik! Cepet!"

Aryo naik. Risma di gendongan. Tubuhnya panas. Sangat panas.

Di rumah sakit, dokter memeriksa. "Kejang lagi, Pak. Ini harus dirawat."

Aryo diam. Biaya. Lagi-lagi biaya.

"Pak, uang mukanya 500 ribu."

Aryo nggak punya.

Ia keluar ruangan. Duduk di lorong. Nangis.

Dewi datang. "Mas, gimana?"

Aryo geleng. "Nggak punya uang, Ri."

Dewi diam. Lalu berkata, "Mas, jual rumah aja."

Aryo terkejut. "APA?"

"Jual rumah. Buat bayar utang, buat biaya Risma. Kita ngungsi ke desaku."

Aryo diam. Pikirannya kacau.

Rumah ini satu-satunya warisan orang tuanya. Di rumah ini ia lahir, tumbuh, menikah, punya anak. Di rumah ini ia punya kenangan.

Tapi Risma... Risma butuh biaya.

Ia menatap pintu UGD. Di balik pintu itu, anaknya berjuang.

Dan ia harus berjuang juga.

 

[BERSAMBUNG]

 

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!