Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tagihan Nyawa
Malam itu, suasana di rumah Paman Broto benar-benar mencekam. Udara terasa gerah, padahal di luar angin bertiup cukup kencang. Mirasih yang baru saja selesai menyikat lantai dapur yang berminyak, mencoba duduk sebentar di amben kayu dekat sumur. Badannya pegal semua. Tangannya perih karena terlalu lama terkena sabun colek murahan. Ia baru saja ingin memejamkan mata saat pintu depan digedor dengan sangat keras.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Broto! Keluar kamu, bajingan!" teriakan dari luar itu terdengar kasar dan penuh amarah.
Mirasih tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Tak lama, ia mendengar suara pintu dibuka, disusul suara gaduh orang bertengkar. Mirasih memberanikan diri mengintip dari balik tirai dapur yang kumal. Di sana, Paman Broto tersungkur di lantai ruang tamu. Wajahnya hancur. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar, mata kirinya bengkak hingga membiru, dan bajunya kotor penuh tanah.
Di depannya, berdiri dua orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam. Mereka adalah anak buah rentenir paling kejam di kecamatan mereka.
"Dua hari, Broto! Cuma dua hari!" bentak salah satu pria itu sambil menarik kerah baju Paman Broto hingga paman terangkat dari lantai. "Enam puluh juta itu bukan uang kecil. Kalau dalam dua hari uang itu tidak ada di meja bos kami, jangan harap kamu bisa melihat matahari terbit lagi. Paham?"
Paman Broto hanya bisa mengangguk-angguk ketakutan. Suaranya serak, nyaris hilang. "I-iya, Mas. Saya usahakan. Tolong jangan apa-apakan saya."
Setelah kedua pria itu pergi dengan tendangan keras ke arah pintu, Bibi Sumi langsung lari keluar dari kamar. Siska juga muncul dengan wajah pucat. Bukannya menolong suaminya dengan penuh kasih sayang, Bibi Sumi malah histeris melihat keadaan ekonomi mereka yang semakin terjepit.
"Goblok! Kamu itu memang tidak berguna, Broto!" teriak Bibi Sumi melengking. "Sudah kubilang berhenti judi dadu itu! Sekarang apa? Enam puluh juta! Dari mana kita dapat uang sebanyak itu dalam dua hari? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual!"
Paman Broto bangkit dengan tertatih. Rasa sakit di tubuhnya bercampur dengan amarah yang memuncak karena dipermalukan. Matanya yang merah menyapu seluruh ruangan, mencari sesuatu—atau seseorang—untuk dijadikan sasaran kemarahannya.
Dan saat itulah, matanya menangkap bayangan Mirasih di balik pintu dapur.
"Kamu! Sini kamu!" teriak Paman Broto.
Mirasih gemetar. Ia berjalan pelan mendekati pamannya. "Ada apa, Paman?"
"Kamu sudah siapkan kopi untukku?" tanya Paman Broto dengan nada mengancam.
"Be-belum, Paman. Mirasih tadi baru selesai mengepel dapur..."
Belum sempat Mirasih menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. PLAK! Tubuh Mirasih yang kurus langsung terjerembap ke lantai. Kepalanya membentur kaki meja kayu. Pandangannya sempat gelap sesaat.
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Kerja cuma sedikit saja lama!" bentak Paman Broto. Ia belum puas. Ia menendang paha Mirasih dengan sepatu botnya yang masih kotor. "Gara-gara kamu! Sejak kamu tinggal di sini, keberuntunganku hilang semua! Kamu itu pembawa sial, tahu tidak?"
Bibi Sumi bukannya melerai, malah ikut memanaskan suasana. "Benar! Anak ini memang sial. Lihat saja, bapak ibunya mati karena dia, sekarang kita juga mau mati gara-gara menampung dia! Sini kamu!"
Bibi Sumi menjambak rambut panjang Mirasih dan menyeretnya ke arah dapur. Siska berdiri di pojok ruangan sambil bersedekap, tersenyum sinis melihat sepupunya disiksa. Bagi Siska, penderitaan Mirasih adalah hiburan di tengah kepanikan keluarganya.
Malam itu, Mirasih menjadi samsak hidup. Setiap rasa frustrasi Paman Broto atas hutang-hutangnya, dan setiap ketakutan Bibi Sumi akan kemiskinan, ditumpahkan ke tubuh Mirasih. Ia dipukuli, dicubit, dan dimaki dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Lebam-lebam biru mulai menghiasi lengan dan punggungnya yang kecil.
Mirasih tidak melawan. Ia hanya menangis dalam diam, tangannya mencengkeram erat gelang tali hitam pemberian Aditya di pergelangan tangannya. Aditya, tolong aku... batinnya menjerit. Namun ia tahu, Aditya berada ratusan kilometer jauhnya, berjuang untuk masa depan yang terasa semakin mustahil.
Keesokan paginya, suasana tidak membaik. Malah semakin parah.
Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil Jeep tua berhenti di depan rumah. Tiga orang pria turun. Kali ini bukan lagi anak buah, tapi sang rentenir sendiri yang datang. Namanya Pak jono, pria paruh baya dengan kumis tebal dan banyak cincin batu akik di jarinya.
Paman Broto dan Bibi Sumi keluar dengan wajah pucat pasi. Mereka mencoba tersenyum ramah, namun tangan mereka gemetar hebat.
"Bagaimana, Broto? Sudah ada cicilannya?" tanya Pak Jono sambil duduk di kursi teras tanpa dipersilakan. Ia meletakkan kakinya yang memakai sepatu pantofel mengkilap di atas meja tamu.
"Belum ada, Pak Jono. Tolong beri kami waktu sedikit lagi. Saya sedang mengusahakan menjual... menjual sesuatu," ucap Paman Broto terbata-bata.
Pak Jono tertawa meremehkan. "Menjual apa? Rumah ini? Ini rumah butut, Broto. Dijual pun tidak akan laku enam puluh juta. Tanah di belakang? Itu tanah sengketa, siapa yang mau beli?"
Pak Jono kemudian berdiri dan mulai berkeliling di dalam rumah. Ia melihat-lihat barang yang tersisa. "Kamu tahu kan aturannya? Kalau uang tidak ada, maka nyawa atau barang berharga lainnya yang jadi jaminan."
Saat itulah, Mirasih keluar dari dapur membawa nampan berisi teh untuk tamu. Ia berjalan menunduk, mencoba menyembunyikan lebam di wajahnya dengan rambut yang digerai. Namun, mata tajam Pak Jono tidak bisa ditipu.
Pak Jono berhenti tepat di depan Mirasih. Ia memegang dagu Mirasih dan mengangkatnya paksa agar gadis itu menatapnya. Mirasih ketakutan, tangannya gemetar hingga cangkir di atas nampan beradu pelan.
"Wah, wah... Broto. Ternyata kamu punya simpanan barang bagus di rumah ini," ucap Pak Jono dengan nada cabul. Matanya menatap Mirasih dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Gadis ini... cantik juga. Kalau dia dijual ke kota, mungkin bisa menutup setengah hutangmu."
Paman Broto terdiam. Bibi Sumi langsung menyahut, "Ah, jangan dia, Pak. Ini keponakan kami, dia... dia sudah ada yang punya." Bibi Sumi berbohong, bukan karena sayang pada Mirasih, tapi karena dia sudah punya rencana lain yang lebih "menghasilkan" daripada sekadar menjual Mirasih ke kota.
Pak Jono meludah ke lantai. "Cuih! Terserah kalian. Intinya, besok siang saya kembali. Kalau uang itu tidak ada, saya bawa semua barang di rumah ini, termasuk anak istrimu. Dan kamu, Broto... mungkin kamu perlu mencicipi bagaimana rasanya tinggal di dalam semen di dasar sungai."
Setelah rombongan Pak Jono pergi, rumah itu kembali sunyi, tapi kesunyian yang mencekam. Paman Broto duduk di lantai, menjambak rambutnya sendiri. Ia benar-benar buntu. Besok siang adalah batas akhirnya.
"Kita tidak punya pilihan lagi, Pak," bisik Bibi Sumi sambil duduk di samping suaminya. Suaranya terdengar dingin dan bertekad. "Hanya Ki Ageng Gumboro yang bisa memberi kita uang sebanyak itu dalam semalam. Kita tawarkan Mirasih ."
Paman Broto menoleh ke arah istrinya. Ada keraguan di matanya, tapi rasa takut akan ancaman Pak Jono jauh lebih besar daripada rasa kemanusiaannya. "Tapi... bagaimana caranya? Kita tidak punya sesaji yang lengkap."
"Pakai apa yang ada! Yang penting niatnya. Mirasih itu barang mahal, Pak. Genderuwo itu pasti suka. Daripada Mirasih dibawa Pak Jono dan kita tidak dapat apa-apa, lebih baik kita kasih ke 'penunggu' hutan itu dan kita jadi kaya raya," hasut Bibi Sumi.
Di balik pintu dapur, Mirasih mendengar semua itu. Ia tidak tahu siapa Ki Ageng Gumboro, tapi ia tahu dari cara bibinya bicara, itu bukanlah manusia. Tubuhnya menggigil hebat. Lebam-lebam di tubuhnya terasa semakin perih, tapi rasa takut di hatinya jauh lebih menyakitkan.
Mirasih meringkuk di sudut dapur, menangis tanpa suara. Ia merasa seperti domba yang sedang dikelilingi serigala, dan pagar pelindungnya—yaitu kedua orang tuanya—telah lama hancur. Dunia terasa sangat tidak adil bagi gadis sepertinya.
"Aditya... tolong aku... cepatlah pulang..." bisiknya dalam kegelapan, saat matahari mulai terbenam dan bayangan pohon-pohon besar di belakang rumah mulai memanjang, seolah-olah tangan-tangan hitam sedang berusaha menggapainya.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk