(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menembus Tirai Langit
Uap perak dari kawah meteorit perlahan menghilang di bawah kaki mereka saat Chen Kai memimpin Mo Yan dan Ah-Gou mendaki jalur setapak yang hanya terlihat melalui indra spasial. Di hadapan mereka, langit tidak lagi berwarna ungu luas, melainkan tertutup oleh dinding awan yang begitu padat hingga tampak seperti pegunungan kapas raksasa yang tak berujung.
"Tuan... tekanan gravitasinya mulai berlipat ganda," bisik Ah-Gou, napasnya tersengal meskipun ia telah menelan pil raga dewa sementara. Kulitnya memerah, menahan beban atmosfer yang mencoba meremukkan setiap inci pori-porinya.
"Jangan melawan arusnya, Ah-Gou. Biarkan pil itu menyerap tekanannya ke dalam tulangmu," perintah Chen Kai tanpa menoleh.
Ia sendiri berjalan dengan tenang. Setiap langkah Chen Kai meninggalkan retakan spasial kecil di udara, tanda bahwa keberadaannya kini terlalu "padat" untuk dimensi Surga Pertama. Dengan penyelarasan mencapai 85%, raga Chen Kai bukan lagi sekadar daging dan darah; ia adalah manifestasi hukum yang berjalan.
"Chen Kai, lihat ke atas," suara Kaisar Yao bergema di dalam Dantian, penuh dengan nada waspada. "Dinding Awan ini bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah Segel yang dipasang oleh para Kaisar untuk menyaring 'sampah' dari dunia bawah. Hanya mereka yang memiliki Esensi Dewa murni yang bisa lewat tanpa tercabik-cabik oleh angin dimensi."
Di depan mereka, dinding awan itu mulai bergejolak. Ribuan kilatan petir hitam—Guntur Hampa—menari-nari di antara gumpalan awan. Suaranya bukan lagi guntur biasa, melainkan frekuensi tinggi yang sanggup menghancurkan lautan kesadaran kultivator biasa.
"Tuan! Lihat di sana!" Mo Yan menunjuk ke arah celah vertikal yang bercahaya keemasan di tengah dinding awan.
Itu adalah Gerbang Kenaikan, jalur resmi menuju Surga Kedua. Namun, gerbang itu dijaga ketat. Enam kapal perang kristal bersayap emas melayang diam di sana, masing-masing membawa bendera dengan lambang kuali yang dikelilingi sembilan bintang.
Unit Penegak Langit Sektor Tengah.
"Mereka sudah menutup jalur resmi," gumam Chen Kai. Matanya yang memiliki lingkaran emas menyipit. "Patriark Kuali Langit sepertinya telah mengirim pesan ke atas bahwa ada 'hama' yang mencoba naik."
"Lalu bagaimana kita lewat, Tuan?" tanya Mo Yan cemas. "Melawan armada itu di tengah tekanan gravitasi seperti ini akan sangat merugikan kita."
Chen Kai menyeringai tipis. Ia mengeluarkan lempengan hitam yang ia temukan di kawah tadi. Lempengan itu berdenyut, menunjukkan sebuah koordinat yang tidak mengarah ke Gerbang Utama, melainkan ke sebuah titik gelap di samping badai awan yang paling ganas.
"Kita akan mengambil jalur 'Luka Langit' kedua," kata Chen Kai. "Di tempat di mana badai paling kuat, di sanalah segel kaisar paling tipis karena tidak ada penjaga yang cukup gila untuk berdiri di sana."
"Tapi Tuan... badai itu bisa menguliti jiwa!" pekik Ah-Gou.
"Ikuti aku, atau jadilah budak di lembah ini selamanya," jawab Chen Kai dingin.
Ia melompat ke udara. Tanpa sayap, ia seolah-olah menginjak tangga tak terlihat. Mo Yan dan Ah-Gou tidak punya pilihan selain mengikuti, terbang di dalam gelembung gravitasi yang diciptakan Chen Kai untuk melindungi mereka.
Saat mereka mendekati badai, angin dimensi mulai merobek jubah mereka. Suhu turun hingga titik di mana waktu seolah-olah ikut membeku.
WUSH—!
Tiba-tiba, sesosok bayangan besar meluncur dari balik awan. Itu bukan kapal perang, melainkan seekor Elang Awan Primordial—binatang dewa penjaga badai yang panjang sayapnya mencapai lima puluh meter. Matanya yang setajam silet mengunci posisi Chen Kai.
"Binatang Manifestasi Dao Tahap Akhir," gumam Chen Kai. "Tampaknya alam pun ingin mengujiku."
Elang itu memekik, melepaskan gelombang suara yang memadatkan awan di sekitar Chen Kai menjadi ribuan jarum es yang melesat secepat cahaya.
Chen Kai tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, jari-jarinya menari di udara seolah memetik harpa.
"Hukum Ruang: Lipatan Kehampaan."
Ruang di depan Chen Kai terlipat seperti kertas. Ribuan jarum es itu masuk ke dalam lipatan tersebut dan muncul kembali di belakang Elang itu sendiri.
KRAK! KRAK! KRAK!
Elang itu menjerit saat tubuhnya tertusuk oleh serangannya sendiri. Namun, karena ukurannya yang masif, luka itu hanya membuatnya semakin marah. Ia menukik tajam, paruhnya yang dilapisi energi emas siap membelah Chen Kai menjadi dua.
"Kau punya keberanian, tapi kau menghalangi jalanku," desis Chen Kai.
Ia memusatkan energi dari Jantung Alkimia ke telapak tangannya.
"Hukum Gravitasi: Singularitas!"
Sebuah titik hitam pekat muncul di ujung jari Chen Kai. Titik itu tidak mengeluarkan cahaya, melainkan menghisap segala sesuatu di sekitarnya. Elang raksasa itu tiba-tiba merasakan gaya tarik yang tak terhentikan ditarik ke arah jari kecil Chen Kai.
BOOOOM!
Bukan ledakan keluar, tapi implosi ke dalam. Tubuh Elang raksasa itu terpelintir secara tidak wajar, tulangnya remuk saat massanya ditarik ke pusat singularitas. Dalam hitungan detik, penguasa langit itu hancur menjadi partikel cahaya esensi yang segera diserap oleh Mutiara Hitam milik Chen Kai.
"Jalan terbuka," kata Chen Kai pelan.
Di depan mereka, badai awan itu terbelah, menyingkap sebuah terowongan vertikal yang memancarkan cahaya perak yang agung. Itulah jalan menuju Surga Kedua.
"Ayo!"
Mereka melesat masuk ke dalam terowongan cahaya itu. Saat tubuh mereka menembus lapisan terakhir Dinding Awan, sebuah pemandangan baru terbentang.
Langit di Surga Kedua tidak lagi ungu, melainkan berwarna Perak Keemasan. Daratan di sini bukan lagi pulau melayang kecil, melainkan benua-benua megah yang melayang di atas nebula berwarna biru safir. Bangunan-bangunan di kejauhan terbuat dari kristal transparan yang memancarkan aura Dao yang jauh lebih kuat dan murni.
Namun, di depan mereka, tepat di ujung terowongan, berdiri seorang pria muda dengan jubah perak panjang yang membawa kipas lipat. Di belakangnya, berdiri sepuluh prajurit bertopeng perunggu yang masing-masing memancarkan aura Dewa Awal Tahap Puncak.
Pria muda itu menutup kipasnya dengan bunyi 'klik' yang tajam.
"Selamat datang di Surga Kedua, pengembara liar," ucap pria itu dengan nada bosan namun matanya memancarkan niat membunuh yang tajam. "Sayangnya, Anda tidak membawa syarat yang sah. Namaku Utusan Ling, dan hari ini, aku adalah eksekutor takdirmu."
Chen Kai mendarat di tanah kristal Surga Kedua, merasakan kakinya berpijak pada hukum yang lebih berat. Ia menatap Utusan Ling dengan tatapan datar.
"Aku tidak butuh izin dari bawahanku," jawab Chen Kai.
Perang di Surga Kedua telah dimulai sebelum mereka sempat mengatur napas.
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪