Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Lidah Belati
Langkah kaki yang berat dan terseok-seok bergema di lorong utama kediaman Tetua Sekte Awan Mendung.
Fang Yuan berjalan paling depan dengan pakaian yang hancur, diikuti oleh Bai Lie yang babak belur dan Zhao Feng yang masih gemetar karena trauma.
Di ujung ruangan, duduk seorang pria tua dengan jubah bordir emas—Tetua Dong Fei. Matanya yang tajam seperti elang menatap ketiga orang itu dengan rasa tidak puas yang nyata.
"Kalian kembali dengan tangan hampa?" suara Dong Fei berat, mengandung tekanan Qi yang membuat udara terasa sesak.
Zhao Feng baru saja akan membuka mulutnya yang gemetar, namun Fang Yuan sudah mendahuluinya. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah-olah ia sedang melaporkan cuaca.
"Golem Penjaga di Lembah Bayang Maut berada di puncak Ranah ke-2. Tiga jumlahnya," ucap Fang Yuan singkat. "Mereka memiliki kemampuan regenerasi instan. Saat ledakan terakhir terjadi untuk memusnahkan mereka, seluruh area hancur. Bunga Nadir Langit ... ikut lenyap dalam benturan energi tersebut."
Tetua Dong Fei menggebrak meja. "Sialan! Tahukah kalian berapa lama aku menunggu bunga itu mekar?!"
Fang Yuan hanya menunduk sedikit, tatapannya tetap tertuju pada lantai batu. "Kami hampir mati. Jika Tetua meragukan kekuatan monster itu, Tetua bisa memeriksa luka di tubuh murid dalam ini." Ia menunjuk Zhao Feng yang kondisinya sangat mengenaskan.
Dong Fei menatap Zhao Feng dan Bai Lie, lalu menghela napas panjang yang penuh kekesalan.
Ia tidak melihat adanya tanda-tanda kebohongan pada wajah Zhao Feng yang ketakutan. Lagipula, siapa yang berani berbohong pada seorang Tetua?
"Pergilah. Bersihkan diri kalian. Ini adalah kegagalan yang memuakkan," usir Dong Fei dengan kibasan tangan yang kasar.
Begitu sampai di asramanya, Fang Yuan memerintahkan Bai Lie untuk berjaga di depan pintu. "Jangan biarkan siapa pun masuk, bahkan seekor lalat sekalipun."
"Baik, Tuan," jawab Bai Lie patuh, meskipun ia sendiri bertanya-tanya mengapa tuannya terlihat begitu tenang setelah gagal dalam misi penting.
Di dalam kamar yang remang-remang, Fang Yuan duduk bersila di atas tempat tidurnya.
Ia melepaskan jubahnya yang robek, memperlihatkan memar ungu yang menutupi rusuknya.
Dengan gerakan lambat, ia merogoh kantong rahasia di dalam lilitan kain pinggangnya—sebuah tempat yang tidak akan diperiksa oleh siapa pun saat ia dalam kondisi berlumuran darah.
Ia mengeluarkan sebuah objek yang dibalut kain sutra hitam. Saat bungkusan itu dibuka, cahaya biru pucat yang lembut menyinari ruangan yang gelap.
Bunga Nadir Langit.
Tanaman itu masih utuh, akarnya masih segar, dan energinya sangat murni.
Fang Yuan menatap bunga itu tanpa sedikit pun senyuman di wajahnya. Pikirannya melayang kembali ke saat ia pertama kali terhempas oleh golem tadi.
Banyak orang mengira ia terlempar karena lemah.
Namun kenyataannya ia berpura-pura agar ada alasan logis saat memberi alasan tanaman tersebut hancur kepada Zhao Feng.
Dalam sepersekian detik sebelum tubuhnya menghantam batu, tangannya telah memegang bunga tersebut dan menyembunyikannya dengan teknik kecepatan tangan yang ia latih selama tujuh tahun.
Ledakan tinju tahap kelima di akhir pertarungan hanyalah sebuah sandiwara besar.
Ia sengaja menghancurkan area tersebut untuk menghilangkan jejak bahwa bunga itu telah dipetik, meyakinkan semua orang bahwa harta itu telah musnah menjadi debu.
"Kerja keras hanyalah alat. Muslihat adalah kunci," batin Fang Yuan.
Ia tahu Tetua Dong Fei sengaja mengirim murid-murid sebagai umpan.
Mengapa ia harus memberikan harta berharga itu kepada orang yang mencoba membunuhnya? Lebih baik ia menyimpannya sendiri untuk memperkuat fondasi Dao Pemberontakan Langit-nya.
Fang Yuan kembali bermeditasi dalam kesunyian.
Ia tidak pernah tertawa atas keberhasilannya, ia tidak pernah tersenyum atas kecerdikannya. Baginya, ini hanyalah satu lagi langkah logis untuk bertahan hidup di dunia yang kejam.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.