Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.
Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak butuh psikiater
Ditengah hiruk pikuk kafe Nirmala yang dipenuhi oleh suara percakapan dan dentingan gelas. Maha duduk lemas di kursinya. Wajahnya tampak lelah, matanya kosong, seolah energinya telah terkuras habis. Tangannya memegang cangkir kopi yang isinya nyaris tak tersentuh, uap tipis masih mengepul di permukaannya.
Pencahayaan temaram kafe menambah suasana hangat, tapi Maha tidak merasakan kenyamanan itu sepenuhnya. Di meja pojok, ia dan Niken duduk berhadapan. Secangkir kopi dan piring kecil berisi camilan masih setia menemani mereka. Namun, perhatian keduanya lebih tertuju pada percakapan yang mengalir pelan.
Didepannya, Niken—sahabat sekaligus tempat Maha berbagi keluh kesah—memperhatikannya dengan tatapan prihatin.
“Kayaknya kamu butuh pergi ke psikiater, deh,” celetuk Niken tanpa basa-basi.
Maha menatap Niken dengan mata menyipit. “Emangnya aku gila?” Tanyanya datar, suaranya sarat akan kelelahan.
“Hampir. Soalnya keliatan banget dari matamu, kosong. Kayak lagi bawa beban berat banget,” Niken mengangkat bahunya, ekspresinya tampak serius.
Maha mendesah panjang, pundaknya pun turun seiring helaan nafasnya. Wajahnya terlipat dalam ekspresi letih yang sulit disembunyikan. “Aku nggak butuh psikiater, Ken. Butuh ku liburan dan tidur panjang tanpa gangguan. Kerja kayak nggak ada liburnya. Sumpah, Sadewa itu ngeselin banget! Mentang-mentang dia CEO, jadi seenaknya sama karyawan!” nada suaranya meninggi, penuh frustasi. Ia menenggak kopinya kasar, berharap rasa pahit itu sedikit meredakan stress nya.
Niken tersenyum kecil sambil menyeruput minumannya. “Eh, tapi Sadewa bersikap kayak gitu cuma ke kamu, loh. Ke karyawan yang lain, nggak tuh,”
"Iya, ‘kan?! Rasanya aku ini kayak budaknya. Masa hari Minggu, waktunya orang istirahat, dia nelpon nyuruh aku bikin laporan. Psikopat banget nggak, sih?” balas Maha sambil memutar bola matanya, kesal.
Niken terkekeh. Ia sudah terbiasa dengan keluhan yang satu ini. “Dari dulu cerita kamu itu-itu aja—Sadewa, Sadewa, Sadewa. Jangan-jangan kamu nggak sadar kalau sebenarnya dia suka sama kamu,” ujarnya menggoda.
Maha langsung mendengus, nyaris terdesak. “Ya ampun, Ken, pikiranmu kejauhan. Memangnya aku ini siapa, huh? Aku, tuh, cuma sekretaris yang kerjaannya berantakan. Sadewa mah pasti nggak bakal suka sama cewek modelan kayak aku gini,”
Niken tersenyum tipis. Matanya menyipit seolah sedang menilai. “Emangnya kamu tahu kayak gimana kriterianya Sadewa?” tanyanya santai, namun ada nada menggoda yang memancing.
Sejenak, Maha terdiam, sebelum akhirnya meledak dalam tawa. “Ya nggak tahu, lah. Aku, ‘kan, cuma karyawannya. Ngapain mikirin dia?!” jawabnya sambil tertawa.
Suasana yang tadinya tegang, pun mulai mencair. Maya kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba menikmati sejenak kedamaian dari rutinitas yang menguras. Namun, Niken tahu betul, dibalik tawa itu, Maha menyimpan banyak luka yang tak selalu bisa ia sembunyikan. Ia masih ingat bagaimana suatu kali ia memergoki Maha menangis di toilet kantor, berusaha keras menahan tangisnya dengan membasuh wajahnya menggunakan air wastafel.
Niken ingin mengungkapkan betapa ia bangga pada sahabatnya itu, yang tetap bertahan meski begitu banyak tekanan. Tapi, ia tahu, Maha hanya butuh seseorang yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi.
“Aku selalu disini, loh, kalau mau curhat. Nggak masalah banget kalau kamu mau ngeluh terus soal Sadewa. Hitung-hitung aku juga ikut terhibur,” Cetus Niken dengan senyum lebar, menenangkan.
“Thanks ya, Ken. Punya kamu, tuh, lebih mahal daripada punya psikiater,”
“Ya Iyalah, aku ini paket lengkap. Bisa dengerin curhatan, bisa bikin ketawa, gratis.” jawab Niken sambil tertawa.
Maha merasa sedikit lebih ringan. Meskipun malam itu ia masih membawa sisa beban pekerjaan. Sebab kehadiran Niken memberinya jeda kecil yang cukup berharga—sebuah pelipur lara dalam kehidupan yang penuh tekanan.
Malam semakin larut, dan obrolan bersama Niken di kafe Nirmala menjadi penutup hari yang cukup menegangkan bagi Maha. Meski begitu, waktu terus berjalan, dan rutinitas tetap menunggu. Setelah membayar tagihan, Maha bangkit dari kursinya, menatap sekilas kearah Niken yang masih duduk dengan senyum penuh pengertian, lalu melangkah keluar menuju mobil.
...****************...
Sesampainya di apartemennya, Maha menarik nafas panjang. Apartemen itu luas, bergaya modern, dan terlihat mewah dengan segala desain interior mencerminkan gaya hidupnya yang mapan. Tapi, dibalik semua kemewahan itu, ada kekosongan yang sulit ia hindari.
Maha tinggal sendirian di unit apartemennya, orang tuanya yang seharusnya menjadi tempatnya berbagi kebahagiaan, sudah lama berpulang ke pangkuanku Tuhan. Sebagai anak tunggal, Maha tidak punya keluarga untuk berbagi hari-hari. Kesedihan itu kadang datang begitu mendalam, meski ia jarang mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri.
Mobil Suv-nya meluncur perlahan ke dalam basement apartemen. Suara mesin yang berderu perlahan menggema di ruang bawah tanah yang sepi. Sesaat setelah itu, Maha keluar dari mobil dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Kelelahan hari itu seolah menumpuk di setiap langkahnya, dan sesekali, ia mengatur nafasnya, berharap agar beban ini cepat berlalu.
Jika dilihat dari dekat, Maha itu adalah sosok wanita yang memikat. Wajahnya cantik dengan kulit putih bersih, ditambah tubuhnya yang proporsional. Lekuk tubuhnya—dari dada hingga pinggul—sering kali menarik perhatian.
Tak sedikit pria kaya dan mapan mencoba mendekatinya, menawarkan segala bentuk kemewahan. Namun, Maha bukan tipe wanita yang mudah terpikat oleh harta. Hingga kini, tidak ada satupun yang berhasil mengisi ruang di hatinya.
Begitu memasuki unit apartemennya, Maha langsung menuju walk in closet. Dengan gerakan terbiasa, ia melepaskan pakaian kantornya, mengganti dengan piyama dress berbahan satin lembut yang jatuh nyaman di tubuhnya. Potongan pakaian tidurnya sedikit terbuka dibagian dada, tapi Maha tidak mempermasalahkannya. Kenyamanan selalu menjadi prioritasnya setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan.
Baru saja hendak melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan wajah, dering ponsel menghentikan langkahnya. Maha menoleh kearah tas yang tergeletak diatas meja, lalu meraihnya dengan cepat. Begitu melihat nama yang tertera di layar, seulas senyum mengembang di wajahnya.
Mas Danu calling…
Ada sesuatu yang berbeda setiap kali Danu menghubunginya, entah itu sekedar pesan singkat atau panggilan telepon seperti saat ini. Membuat perasaan hangat menjalar di dadanya, sebuah gejolak kecil yang sulit dijelaskan. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat telepon dengan suara yang terdengar sedikit lebih ceria dari biasanya.
“Halo… iya, Mas… ada apa?” sapa Maha setelah panggilan tersambung. Suaranya ringan, meski ada getaran di ujung nya.
“Kamu sudah dirumah, Maha?” jawab Danu dari seberang telepon, suaranya terdengar hangat, lembut, seperti melodi yang menenangkan telinga Maha.
“Iya, Mas, baru sampai,” Maha tersenyum kecil, merasa canggung dengan perasaannya sendiri. “Hm… kenapa, Mas?” Tanyanya.
“Ng… cuma mau bilang kalau besok pagi aku jemput, kita berangkat bareng ke kantornya, oke?” ujar Danu.
Nada bicaranya santai, tapi entah kenapa kalimat itu terasa lebih istimewa bagi Maha dari sekedar ajakan biasa. Maha pun menggigit bibirnya pelan, menahan senyum yang hampir meluap.
“Iya, Mas. Oke...” jawabnya, berusaha tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat.
Dari seberang telepon, Maha mendengar tawa kecil Danu. Seakan pria itu bisa membaca kegugupannya.
“Terimakasih, Maha. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, ya. Selamat malam dan mimpi indah.”
Begitu panggilan telepon berakhir. Maha masih menatap layar ponselnya, jari-jarinya menggenggam erat perangkat itu. Sejenak, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan hangat yang mengalir setelah percakapan singkat tadi.
Danu—karyawan, Angkasa Corporation yang tampan dan perhatian, berhasil membuat Maha merasakan sesuatu yang jarang ia alami. Tidak banyak pria yang bisa menyentuh hatinya seperti ini. Tapi Danu berbeda. Kehadirannya membawa kenyamanan yang sulit dijelaskan, seperti oase ditengah gurun yang sunyi.