Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeruji Besi
...Nurhalina...
...────୨ৎ────...
"Kamu tahu apa yang telah kamu lakukan, Muis?" tunjuk Bahlil kepada Muis yang sontak melepaskanku dengan melompat kaget, membuatnya tak sengaja melepaskan lenguhan disertai cipratan benih-benih cinta di atas perutku. "Kalau sampai anak itu hamil, malapetaka akan datang ke rumah ini!"
"Oh, bos! Ta—tapi, itu—"
"Diam! Pergi sana!" potong Bahlil. "Nak, bersihkan dia! Kemudian bawa ke kurungan!"
"Iya, Pa!" jawab Ndaru. "Memang kenapa, Pa? Kok dia gak boleh hamil?"
"Entah, lah. Tapi mbah Cipto bilang kita harus hati-hati sama dia." kata Bahlil sambil memperhatikan butiran lendir yang mengucur dari kedua pangkal kakiku. "Cepat, bawa mandi sanda. Papa udah jijik!"
"Emang goblok, si Muis, Pa. Kekar doang tapi lemah, gitu doang udah moncrot!" timpal Ndaru sambil geleng-geleng kepala.
Aku dibawanya kembali menuju kamar mandi di mana tadi pagi aku membersihkan diri. Masih sama seperti tadi, angin berhembus dari ventilasi memberikan kesejukan di tubuhku dan airnya masih sangat dingin seperti es. Namun bedanya, kali ini Ndaru ada di dalam. Bersamaku.
Dia membersihkan tubuhku yang ternodai olehnya tadi. Mengusap setiap jengkal tubuhku dengan busa yang begitu banyak, dan dia melepaskan kecupan berkali-kali di pipi, leher dan hampir seluruh tubuh bagian atasku.
Jujur, dingin yang aku rasakan seketika memudar, ketika tangan-tangan itu mulai menjelajahiku kembali.
"Apa pun yang terjadi, aku tak peduli cantik!" bisiknya ke telingaku sebelum di lahapnya dengan lembut.
Jari-jarinya mencari jariku, kedua tangan kita bersatu dan dia menghimpitku ke tembok. Punggungku terasa hangat dipeluknya, begitu pun Ndaru yang ikut basah setelah menyentuh kulitku yang penuh dengan busa.
Telapak tanganku menempel di tembok abu-abu ini, ditindih oleh tangan lebar, besar, dan kuat. Sedangkan sesuatu yang keras kurasakan sedang memasukiku dari belakang.
Sakit kembali kurasakan berakar dari pinggang hingga ke ubun-ubun. Ndaru mendorongnya kuat-kuat, membuatku mengejang hebat. Aku tak tahu ini perasaan apa, tapi aku tak berontak sama sekali.
Apa aku menikmatinya?
Enggak.
Kamu lagi diculik, Nur.
Ingat, kamu akan dijadikan tumbal mereka.
Tak sampai 5 menit kami pun terjuntai ke lantai dengan kaki terlempar kedepan. Aku memeluk lututku, sedang Ndaru mengambil air di Bak mandi dengan gayung kemudian menyirami tubuh kami berdua yang belepotan cairan putih.
Aku lemah, suaraku serak, meski belum kembali, dadaku sesak, nyeri di semua badan dan air mataku mulai mengantong di kelopaknya.
"Ayo, cantik." Tangan Ndaru meraihku, mengajakku berdiri dengan sopan, dan kami keluar.
...ᯓᡣᯓᡣᯓᡣᯓᡣ...
Ada puluhan kerangkeng di halaman belakang rumahnya, mirisnya semua kerangkeng itu berisikan wanita dan sepertinya aku lah yang paling muda di antara penghuni di sini.
Anehnya lagi, mereka semua tak satu pun yang berbicara dengan normal. Ada yang menirukan suara lolongan anjing, kucing, burung, dan hewan lainnya. Dan aku.... Entah, masih belum bisa berbicara.
Aku juga berada di kerangkeng, ini cukup luas di bandingkan dengan kurungan yang ada di dukun itu. Ada tempat makan dan minum di pojok, dan aku bisa melihat penghuni lainnya dari jeruji besi ini.
Ada satu penjaga gendut yang sedari tadi mondar-mandir membawa setrum dan sesekali menyodorkannya ke besi-besi jeruji yang di rasa sering berteriak memekakan telinganya.
Tanpa sadar, dia sudah memperhatikanku dan berjalan menuju ke sini. Bahkan aku tak berteriak sedikit pun, dan ....
...Ndrrrrrrtttttt...
Alat setrum itu menyentuh besi kerangkengku.
Tubuhku bergetar hebat.
Pusing.
Mual.
Lemas.
...Bruuuuggg...
Aku hanya bisa melihat kotak makanku sedekat ini.