NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vallheart

Kesadaran datang seperti kabut dingin yang merayap perlahan.

Raksha Lozarthat terbangun bukan oleh cahaya, bukan oleh suara. Melainkan oleh rasa sakit. Bukan rasa sakit yang tajam, melainkan tekanan aneh, seolah jiwanya dipaksa masuk ke dalam wadah yang terlalu lemah. Nafasnya tersendat. Dadanya terasa ringan, terlalu ringan, juga terasa rapuh.

Ia membuka mata.

Langit-langit kayu tua menyambutnya, retak dan dipenuhi ukiran simbol pelindung yang hampir pudar. Bau ramuan herbal yang mengering bercampur dengan aroma sihir yang memudar, lalu memenuhi udara. Lilin-lilin kecil berwarna ungu redup berderet di sudut ruangan, apinya bergetar seolah takut pada sesuatu yang tak terlihat.

“Aku masih hidup?”

Suara itu keluar pelan. Raksha membeku.

Itu bukan suaranya.

Ia menurunkan pandangan perlahan. Tangan yang terangkat bukanlah tangan yang ia kenal. Jari-jari ramping, pucat, dipenuhi bekas luka kecil seperti bekas ritual gagal. Kulitnya tipis, hampir transparan, urat-urat halus tampak jelas di bawahnya.

Kenangan menghantam pikirannya tanpa ampun.

Lingkaran sihir kuno. Mantra yang salah. Tawa dingin sang penyihir kuno- makhluk yang bahkan ruang dimensi waktu enggan menyentuhnya. Lalu rasa terlepas, seperti dicabut dari realitas itu sendiri.

Tubuh aslinya.

Raksha menutup mata.

Ia bisa merasakannya, tubuhnya yang dulu, kini tak lebih dari daging mati yang ditinggalkan jiwanya. Tidak ada detak, tidak ada kehangatan. Hanya kehampaan.

Kutukan itu bekerja sempurna.

“Roselein Tescarossa.”

Nama itu muncul begitu saja di benaknya, bukan sebagai ingatan, melainkan bekas, jejak jiwa lain yang pernah mendiami tubuh ini. Gadis itu telah mati bersama keluarganya, atau mungkin menghilang sepenuhnya ditelan oleh makhluk sihir, meninggalkan tubuhnya sebagai wadah kosong.

Wadah yang kini ditempati Raksha.

Ia mencoba mengalirkan sihir.

Hanya sedikit. Sangat sedikit.

Biasanya, dunia akan bergetar saat ia memanggil mana, udara mengeras, simbol-simbol kuno akan muncul di sekelilingnya. Namun kini, aliran sihir itu tersendat, berontak, lalu, menyakitkan.

Raksha terbatuk keras. Rasa panas menjalar dari dada hingga tenggorokan. Darah menetes dari bibir ranumnya, jatuh ke lantai kayu dan menguap perlahan seperti asap.

Tubuh ini tidak mampu menampungnya.

“Ah, sial.” gumamnya, suaranya bergetar oleh amarah yang tak bisa diluapkan.

Kutukan itu bukan hanya memindahkan jiwanya, ia mengurung kekuatannya. Setiap sihir yang dipaksakan akan menggerogoti tubuh Roselein sedikit demi sedikit, hingga kehancuran tak terelakkan.

Dari sudut ruangan, sebuah cermin retak memantulkan bayangannya.

Seorang gadis berambut putih dengan ujung silver pucat dan sorot mata merah lentik menatap balik ke arahnya.

Cantik.

Mungkin itulah penggambarannya.

Raksha mendekat tertatih.

“Aku akan kembali” katanya pada pantulan itu, suaranya tegas namun penuh tekad. “Penyihir kuno sialan, kau akan membayar segalanya”

Di luar pondok tua itu, angin Vallheart berbisik lirih. Hutan di sekitarnya bergerak perlahan, seolah mendengar sumpah tersebut. Pohon-pohon tua yang telah menyerap sihir selama berabad-abad menggeliat, dan simbol kutukan muncul di tanah, lalu menghilang kembali.

Sang penyihir kuno belum mati.

Dan selama ia masih ada, kutukan ini tidak akan pernah melemah.

Raksha meraih mantel hitam lusuh yang tergantung di dinding. Di balik kainnya, tersimpan simbol sihir lama, satu-satunya yang masih bisa ia gunakan tanpa menghancurkan tubuh ini sepenuhnya.

Perjalanannya dimulai bukan sebagai penyihir agung.

Melainkan sebagai gadis penyihir, berjalan di dunia yang penuh rahasia, mencari cara untuk merebut kembali dirinya sendiri, atau mati mencoba.

***

Kabut menggantung rendah ketika Roselein atau Lein, sebagaimana Raksha mulai menyebut tubuh ini, melangkah keluar dari pondok tua. Tanah lembap menyerap langkah kakinya, dingin merambat hingga ke tulang. Hutan saat ini dia berada, terbentang di hadapannya, sunyi namun tidak pernah benar-benar mati.

Sihir merayap di udara.

Raksha bisa merasakannya. Bukan sihir yang liar, melainkan sisa-sisa energi yang membusuk, bekas kutukan, dan kematian yang tak tenang. Hutan ini bukan tempat bagi manusia biasa untuk berlama-lama.

Ia baru berjalan beberapa puluh langkah ketika sesuatu bergerak.

Bukan suara. Bukan bayangan.

Melainkan perubahan tekanan seolah udara di antara pepohonan tiba-tiba menegang.

Raksha berhenti.

“Keluarlah, aku akan menghadapimu.” ucapnya waspada.

Tidak ada jawaban.

Namun tanah di hadapannya berdenyut perlahan. Akar-akar pohon yang semula diam mulai menggeliat, merayap seperti ular. Dari celah antara akar dan batu, sesuatu muncul- makhluk kecil bertubuh kurus, kulitnya hitam kehijauan, mata kuning pucat tanpa kelopak.

Grimroot.

Makhluk sihir rendah. Pemakan mana dan bangkai. Dulu, Raksha bahkan tak akan menganggapnya layak dilihat.

Kini, dada ratanya menegang.

Satu menjadi dua. Dua menjadi empat.

Mereka merangkak keluar dari tanah, mengeluarkan bunyi cekikikan rendah, seperti ranting patah yang dipaksa tertawa. Kukunya panjang dan berlumur lendir hitam, racun lemah, namun mematikan bagi tubuh rapuh.

“Tidak sekarang” gumam Raksha.

Salah satu Grimroot melompat.

Refleks lama mengambil alih. Raksha mengangkat tangan, membentuk simbol sihir pemutus, mantra tingkat dasar.

Namun saat mana mengalir.

Tubuhnya, menolaknya.

Rasa panas meledak di lengannya. Simbol itu retak sebelum selesai, melepaskan semburan energi tak stabil. Grimroot terlempar, namun Lein ikut terdorong ke belakang, menghantam batang pohon dengan keras.

Napasnya tercekat. Pandangannya berkunang.

“Hewan sihir sialan.”

Dua Grimroot lainnya tidak menunggu. Mereka menerjang bersamaan.

Lein menggigit bibirnya, memaksa diri bangkit. Ia mencabut belati pendek dari balik mantel, bukan senjata sihir, hanya senjata biasa dengan sedikit ukiran penguat.

Kuku makhluk itu menyambar.

Lein menangkis dengan belati, logam beradu dengan cakar. Getarannya menjalar ke lengan kecilnya, hampir membuatnya terlepas. Tubuhnya terlalu lemah. Sangat lambat.

Grimroot ketiga melompat dari samping.

Raksha tak sempat menghindar sepenuhnya. Kuku tajam merobek bahu Lein. Rasa perih langsung disusul sensasi dingin, racun.

Ia terjatuh berlutut.

Dunia sejenak terasa miring.

“Bangkit” desis Raksha pada dirinya sendiri. “Kau pernah menghadapi yang jauh lebih buruk dari ini.”

Ia menekan telapak tangan ke tanah.

Bukan mantra besar. Bukan sihir penghancur.

Hanya bisikan.

Mana hitam pekat merembes keluar, membentuk lingkaran kecil di tanah, sisa teknik kuno yang hampir dia lupakan. Tanah di bawah Grimroot mengeras seketika, akar-akar mengikat kaki mereka.

Makhluk-makhluk itu menjerit.

Raksha tidak memberi waktu. Dengan sisa tenaga, ia menusuk satu per satu inti mana mereka, titik samar di dada yang hanya bisa dilihat oleh penyihir berpengalaman.

Grimroot terakhir meronta, lalu runtuh menjadi gumpalan lumpur hitam yang menguap perlahan.

Hening kembali.

Lein terengah-engah, tangannya gemetar. Bahunya terasa panas dan mati rasa sekaligus. Racun itu lemah, namun tubuhnya hampir tidak mampu melawannya.

Raksha terduduk di tanah.

“Bahkan makhluk rendahan pun kini bisa membunuhku” gumamnya pahit.

Namun di balik rasa lemah itu, ada sesuatu yang lain.

Kesadaran.

Ia menatap sisa lingkaran sihir di tanah, tidak sempurna, namun berfungsi. Teknik kecil. Hemat mana. Tidak memaksa tubuhnya.

Sebuah jalan.

Raksha tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak terbangun.

“Baiklah” gumamnya. “Jika tubuh ini tak bisa menampung kekuatanku, maka aku akan membentuk kekuatan yang baru.”

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!