Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam belas
"Kamu bisa gak sih buka pintunya pelan-pelan." ucap Shafira. Ia yang tengah asyik mengetik cerita novelnya itu dibuat terkejut mendengar suatu bantingan pintu
"Kamu kan yang ngambil uang direkening mas.!" ucap Aris to the point.
Deg...
Mendengar tuduhan suaminya yang memang 100% benar itu membuatnya terkejut, tak dipungkiri ia merasa sedikit takut jika ketahuan, kalau ia lah yang mengambil uang itu. Shafira pun sebisa mungkin mengendalikan dirinya agar tidak terlihat gugup di depan suaminya.
"Maksud kamu uang apa!! Kamu nuduh aku mencuri, gitu? pegang dompet kamu aja aku gak pernah. Kamu juga gak pernah lepasin dompet kamu itu, gimana bisa aku ngambil kartu ATM kamu." Shafira pun berbalik memarahi suaminya itu untuk menutupi kegugupannya.
Lagian suaminya itu main langsung tuduh saja, tidak bertanya lebih dulu.
"Kamu ngaku aja, kamu kan yang ngambil uang yang direkening Aris, dirumah ini cuma kamu aja yang punya kemungkinan mencuri uang itu karna kamu yang tidur sekamar sama Aris. Pasti kamu yang diam-diam mengambil kartu ATM nya terus kamu ambil uangnya." sarkas bu Ratna yang tiba-tiba masuk kedalam kamar anaknya.
"Apa yang dibilang ibu benar, cuma kamu yang punya kemungkinan ngambil uang tabungan mas.
Ayo kamu ngaku aja, mas gak akan marah, mas juga bakalan lupain kejadian ini." ucap Aris yang percaya dengan apa yang diucapkan ibunya kalau Shafira lah yang sudah mengambil uangnya.
"Jadi kamu masih nuduh aku mencuri mas?
dirumah ini bukan cuma ada aku sama kamu aja loh.
Emangnya pernah kartu ATM kamu gak ada didalam dompet kamu itu? Kamu juga selalu ngecek isi dompet kamu itu kalau mau berangkat kerja." ujar Shafira.
Didalam hati Ia memohon ampun karna sudah berbohong dan mengambil uang suaminya. Lagian kalau Aris tidak selingkuh dan berniat menikah diam-diam, mana mungkin Ia akan mencuri uang suaminya itu.
Shafira selalu diam meskipun selama ini suaminya selalu pelit dan lebih mengutamakan keluarganya, karna ia juga memiliki uang sendiri kalau hanya sekedar ingin jajan diluar.
Tapi kesabarannya sudah habis ketika melihat suaminya selingkuh dan akan menikah diam-diam, ia tidak ingin diam dan mengalah lagi.
Pengabdiannya dirumah ini seakan tidak dihargai oleh suami dan keluarganya.
"Jadi kamu nuduh ibu gitu yang nyuri uang anak ibu sendiri?" ujar bu Ratna melotot tak terima dengan perkataan menantunya.
"Ibu juga langsung main nuduh aku yang nyuri uang mas Aris." sahut Shafira tak mau kalah.
Aris pun terdiam, ia memang selalu mengecek dompetnya ketika akan berangkat ke kantor dan pulang dari kantor. Memang ia selalu melihat kartu ATM nya itu berada didalam dompetnya, tak pernah kosong.
Esoknya Aris tetap berangkat bekerja walaupun pikirannya masih tertuju pada uangnya yang hilang entah kemana. Ia juga semalaman tidak bisa tidur.
Dengan muka muram ia berjalan lesu ke arah ruangan kerjanya. Fela yang melihat Aris melewatinya merasa bingung, tak bisanya Aris cuek begitu. Biasanya Aris selalu menyapanya ketika berpapasan. Fela pun memutuskan pergi keruangan Aris.
"Mas..!" sapa Fela sambil masuk ke dalam ruangan Aris.
"Hmm.. Apa?"
"Kamu kenapa kayak gak semangat gitu, kamu sakit?" Tanya Fela
"Gak, mas gak sakit."
"Oh ya mas, uang yang kamu janjiin itu mana? ibu udah nagih, buat pesan katering dan bayar yang lain juga. Uang yang kamu kasih kemarin itu kurang." ujar Fela.
Aris yang tengah meratapi uangnya yang entah kemana itu pun langsung kesal disinggung lagi soal uang.
"Apa sih Fel, dateng-dateng langsung minta uang. Aku udah gak ada uang. Uang ku sudah habis." ketus Aris.
"Maksud kamu apa mas? kamu udah janji lho mau nambahin uangnya, kamu pikir uang dua juta itu cukup? belum lagi sewa baju pengantin sama jasa rias pengantinnya. pokoknya aku minta lima juta lagi." kesal Fela,
ia sudah membayangkan pernikahannya yang mewah, punya baju pengantin khusus dan dipernikahannya di adakan pesta. Tapi ini apa? semuanya zonk! bahkan di acara lamarannya pun Aris tidak membawa apapun sebagai seserahan.
Membuat Aris semakin pening karna sekarang Fela menuntut yang macam-macam.
"Mas beneran gak ada uang lagi Fel, uang mas yang direkening hilang." ujar Aris.
"Hah? hilang gimana? masak uang direkening bisa hilang?"
"Mas juga gak tahu, kemarin waktu mas mau ambil uang, uangnya udah gak ada."
"Semuanya?"
"Emm.."
Aris mengangguk, ia sengaja berbohong supaya Fela tidak meminta uang lagi. Sisa uangnya ia berikan pada ibunya lima juta untuk membeli mahar dan seserahan, sedangkan yang dua juta untuk peganganya.
"Hah?" Fela pun melotot.
"Kamu bohong kan mas?" Fela pikir Aris membohonginya karna tidak mau memberinya uang tambahan lagi.
Lagian masak sih uang direkening tiba-tiba bisa hilang sendiri kalau tidak pernah diambil. Begitu yang dipikir Fela.
"Bohong apa sih, kamu gak lihat mas lemes gini? Mas lho gak bisa tidur semalaman gara-gara mikirin kemana perginya uang mas." Aris mendengus.
Lagi-lagi dituduh berbohong, kemarin ibunya juga masih tidak percaya kalau uang tabungannya digondol orang. Padahal ia sudah uring-uringan, gelisah bahkan sempat menangis.
"Terus gimana sama acara pernikahan kita mas? pernikahan kita tinggal tiga hari lagi lho.?" Tanya Fela yang juga bingung.
"Mas juga lagi pusing ini, gimana kalau mas pinjam uang kamu dulu. Besok gajian mas bayar." usul Aris.
"Aku mana ada uang mas, gajiku juga gak seberapa. Ya habis buat bayar kontrakan belum buat makan sehar-hari." Fela pun mulai sewot,
Masak ia yang harus membiayai acara pernikahannya, gak lah.! Ia tidak percaya Aris akan mengganti uangnya setelah menikah nanti. Lagian ia juga mana punya uang sebanyak itu.
"Ya terus gimana? apa pernikahannya kita tunda dulu sampai gajian nanti?"
"Gak, enak aja. Apa kata orang nanti kalau pernikahannya kita tunda. Semua tetangga dirumah ibu sudah tahu kalau pernikahan kita minggu besok. Ibu juga udah pesan katering sama besok udah mulai pasang tenda buat acara nikahan."
Aris pun mengacak-ngacak rambutnya karna makin pusing. Niatnya menikah lagi agar hidupnya makin bahagia karna mempunyai dua istri. Tapi ini apa, istri belum dua tapi sudah membuat kepalang pusing.
Brukk...
Aris pun menghempaskan dirinya ke sofa, saat ini ia baru pulang bekerja.
"Bu, Aris pinjam uang ibu lima juta ya, besok gajian Aris ganti." ucap Aris pada bu Ratna yang sedang santai menonton sinetron kesukaannya.
"Apa? Kamu buat apa uang sebanyak itu, gak ada!" ketus bu Ratna.
"Semuanya udah ibu siapin. Mahar, seserahan semuanya sudah ibu beli tinggal dibungkus aja."
"Fela minta lima juta lagi buat sewa baju pengantin sama beli yang masih kurang bu." Aris takut-takut karna melihat ibunya yang sudah melotot. Mau bagaimana lagi, saat ini ia sedang butuh, dan uangnya juga sudah habis.
Dalam hati ia merutuki kenapa uangnya harus hilang saat ia sedang butuh begini.
Tuk!
Bu Ratna pun menggetok kepada putranya sambil melotot.
"Enak aja, kamu jangan mau diporotin terus. Suruh aja si Fela pake baju gamis, yang penting sopan dan tertutup. Gak usah segala pake baju pengantin." ujar bu Ratna dengan seenak dengkul.
"Tapi bu.. masak pake gamis, Aris juga malu sama tamu undangan, pasti ibunya Fela ngundang banyak orang. Waktu lamaran aja
banyak yang dateng." Aris membayangkan bagaimana reaksi para tamu melihat pengantinnya hanya memakai baju gamis saja. Meskipun tertutup dan sopan, tapi.. arghh Aris sudah malas duluan kalau begini.
"Ibu gak pegang uang!" ketus bu Ratna enggan mengeluarkan uangnya, padahal setiap bulan ia selalu dijatah dua juta untuk dirinya sendiri oleh Aris.
"Masak gak ada bu, Aris tiap bulan kasih ibu dua juta lho untuk keperluan ibu sendiri. Aris cuma pinjam bu, besok gajian langsung Aris banyar." ucap Aris memelas. Harapannya tinggal bunya saja, karna Aris yakin ibunya punya banyak simpanan, badannya saja penuh dengan emas. Mau pinjam sama teman ia juga gengsi.
"Kalau gak, Aris pinjam satu emas ibu deh, nanti Aris ganti yang lebih besar." ucap Aris lagi berharap ibunya luluh dan mau meminjamkannya.
Bu Ratna pun terlihat berpikir.
"Tapi janji ya? gajian besok kamu ganti sama yang lebih besar." bu Ratna pun luluh karna mendengar janji anaknya.
"Iya, besok Aris beliin yang lebih besar."
Bu Ratna pun melepaskan salah satu cincinnya dan menyerahkannya pada Aris.
Ia pun sebenarnya malu kalau pengantinya hanya memakai baju biasa, tidak seperti pengantin pada umumnya. Pasti nanti banyak orang yang akan membicarakannya. Ia tidak ingin dibuat malu lagi oleh calon besannya itu.