Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evolusi di Ambang Kehilangan
Di atas sebuah batu hitam yang permukaannya licin oleh embun beracun, Ye Chenxu duduk bersila. Tubuhnya diam, serupa patung batu yang telah berdiri selama berabad-abad.
Napasnya teratur namun begitu halus, hampir tak terdengar di tengah sunyi yang menekan gendang telinga.
Empat meridian di dalam tubuhnya telah terbuka sempurna dan mengalirkan energi kehampaan yang stabil. Namun, di balik ketenangan lahiriah itu, sebuah peperangan internal sedang berkecamuk.
Setiap kali ia mencoba mendorong energi kehampaan lebih dalam ke sumsum tulangnya, rasa sakit yang tak terbayangkan langsung menyerbu layaknya ribuan jarum yang membara.
Meridian-meridiannya bergetar hebat dan mengeluarkan bunyi berdenging di dalam kepalanya, seolah-olah jaringan halus itu hendak robek berkeping-keping.
"Arggh ..."
Ye Chenxu terhempas dari batu meditasinya. Tubuhnya menghantam bebatuan yang menonjol tajam. Darah hitam menyembur dari bibirnya, menodai batu dan tanah di sekitarnya.
Cairan gelap itu tampak kontras di atas lumut kelabu, berbau amis logam yang tajam. Ia terengah, merasakan otot-ototnya tercabik dari dalam, sementara tulangnya mengeluarkan suara gemeretak—retak satu per satu akibat tekanan energi yang terlalu liar.
Kehampaan ini terlalu murni dan terlalu buas. Tubuh fana manusia, yang terbuat dari daging dan darah yang rapuh, tidak diciptakan untuk menanggung beban energi dari dimensi ketiadaan.
Dalam keheningan yang penuh penderitaan itu, di mana detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman genderang perang, sebuah kesadaran perlahan muncul.
Jika terus memaksakan diri, ia tidak akan menjadi pendekar hebat, tapi akan menjadi tumpukan daging yang hancur oleh kekuatannya sendiri.
Ye Chenxu tidak bisa sekadar memperkeras apa yang sudah ada, tapi juga harus mengubah hakikat tubuhnya.
Saat kesadarannya mulai kabur dan dunianya mulai berputar, sebuah getaran lembut muncul dari kedalaman lautan jiwanya.
Suara Dewa Kehampaan—suara yang berasal dari entitas purba yang kini bersemayam di dalam dirinya—bergema lembut namun sangat dalam.
“Tubuh manusia bukan wadah kehampaan. Ia hanyalah bejana tanah liat yang mencoba menampung lautan bintang. Ia harus berevolusi, atau akan pecah.”
Kata-kata itu seperti petir yang membelah mendung gelap di pikirannya. Bersamaan dengan suara itu, potongan-potongan pemahaman kuno mengalir masuk.
Ye Chenxu melihat gambaran tentang bagaimana struktur harus diatur ulang dan tentang bagaimana inti siluman tertentu mengandung elemen yang dapat menjembatani materi dan kehampaan.
Dia perlahan membuka mata. Tatapannya kini dipenuhi dengan tekad yang dingin.
Ye Chenxu sadar dia tidak bisa lagi menyempurnakan tubuh yang lemah ini. Ia harus menghancurkannya untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Sejak hari itu, Ye Chenxu berubah menjadi predator. Ia menyusuri kedalaman hutan yang paling gelap, tempat di mana siluman-siluman tingkat menengah tinggi berkuasa.
Lawan pertamanya adalah Laba-laba Kabut Racun. Makhluk setinggi manusia itu meluncur dari kanopi pohon dengan jaring-jaring beracun yang mampu melarutkan baja dalam hitungan detik.
Ye Chenxu harus bertarung dengan napas yang tertahan, menghindari setiap semburan asam sambil mengarahkan pukulan kehampaan ke titik saraf makhluk itu.
Dalam pertarungan itu dia terluka, bahu kirinya melepuh terkena racun, namun berhasil mencabut inti siluman dari dada laba-laba itu.
Lalu, ia berhadapan dengan Kadal Batu Peredam Energi. Sisiknya sekeras baja meteorit dan kemampuannya untuk menelan energi di sekitarnya membuat teknik bela diri biasa menjadi sia-sia.
Ye Chenxu harus mengandalkan kekuatan fisik murni dan insting binatang, bergulat di atas lumpur beracun hingga akhirnya berhasil menghujamkan belati ke mata kadal tersebut.
Terakhir, dan yang paling mengerikan, adalah Kera Besi Hitam. Makhluk ini adalah perwujudan kekuatan fisik brutal. Setiap pukulannya mampu meratakan bukit kecil.
Ye Chenxu nyaris mati dalam pertempuran ini, tulang lengannya patah, dan dadanya terhantam hingga ia memuntahkan darah berkali-kali.
Namun, dengan memanfaatkan kelincahan dan manipulasi ruang yang baru dipelajarinya, ia berhasil memberikan serangan fatal ke jantung kera tersebut.
Setiap pertarungan yang dia lewati adalah tarian di atas mata pisau kematian. Tubuhnya terus terluka, darah mengalir tanpa henti hingga jubahnya yang lusuh berubah warna menjadi merah gelap yang membeku.
Namun, dari setiap inti siluman itu, ia menyaring unsur-unsur esensial, ketahanan tulang dari kera, fleksibilitas saraf dari laba-laba, dan kemampuan adaptasi energi dari kadal.
Di dalam sebuah gua sempit yang tersembunyi jauh di jantung hutan, di mana dindingnya ditumbuhi kristal-kristal bercahaya redup, Ye Chenxu memulai ritualnya.
Dia meletakkan inti-inti siluman di depannya. Dengan lambaian tangan, energi kehampaan ditarik keluar dan menghancurkan inti-inti tersebut menjadi serpihan debu cahaya murni.
Ye Chenxu menarik napas panjang, dan debu itu, bersama dengan aura kehampaan di dalam gua, ditarik masuk ke dalam pori-porinya secara paksa.
Seketika, gua yang menjadi tempat tinggalnya sementara dipenuhi oleh suara teriakan yang tertahan.
Tubuh Ye Chenxu menjadi medan pertempuran antara kehancuran dan pembentukan ulang. Kulitnya mulai mengeras seperti batu, lalu retak dalam pola yang mengerikan, menyingkap jaringan otot yang berdenyut di bawahnya.
Tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi gemeretak yang keras, seolah-olah ada tangan raksasa yang sedang mematahkan dan menyusunnya kembali dengan cara yang berbeda.
Otot-ototnya terkoyak dari dalam, dihancurkan hingga menjadi serat-serat halus, lalu dirajut kembali dengan energi kehampaan sebagai benang pengikatnya.
Darah mengalir seperti sungai kecil di lantai batu gua yang dingin. Beberapa kali, jantungnya berhenti berdetak. Ia merasakan dinginnya kematian yang menyentuh ujung jarinya.
Di tengah penderitaan yang melampaui batas kewajaran itu, kilasan-kilasan masa lalu menyeruak di layar pikirannya yang memudar.
Dia melihat dirinya sendiri saat masih kecil, berlari di antara padang rumput bersama ibunya dan melihat senyum lembut wanita itu saat menyeka keringat di dahinya, bahkan juga melihat wajah-wajah anggota keluarganya yang kini telah menjadi tanah.
Perasaan hangat itu muncul, memberikan kenyamanan sesaat di tengah neraka fisik. Namun, perlahan-lahan, rasa hangat itu mulai terkikis.
Seolah-olah energi kehampaan sedang memakan emosinya, mengubah memori yang berwarna menjadi abu-abu yang sunyi.
Sisi kemanusiaannya tergerus sedikit demi sedikit.
"Tidak ..." bisiknya di antara giginya yang bergemeletuk. "Jika aku kehilangan hatiku ... dendam ini tidak akan ada artinya ..."
Kesadaran itu seperti secercah api kecil di tengah badai salju ketiadaan yang menariknya kembali dari jurang kegilaan. Ia menggenggam erat nyawanya, menolak untuk larut sepenuhnya menjadi monster tanpa jiwa.
Saat fajar kelam pertama kali menembus celah sempit di langit-langit gua, guncangan hebat di tubuh Ye Chenxu akhirnya mereda.
Ia duduk tegak. Cahaya gelap terpancar dari garis-garis meridiannya, menembus pakaiannya yang sudah hancur. Kulitnya kini tampak lebih padat, hampir memiliki kilau seperti porselen namun sekeras logam.
Tulang-tulangnya memancarkan getaran halus, dan setiap serat ototnya terasa ringan namun dipenuhi daya ledak yang mengerikan.
Ia tidak membuka meridian kelima. Jumlah meridiannya masih empat. Namun, kualitas tubuh yang menampung energi itu telah melonjak ke tingkat yang tidak dapat dipahami oleh kultivator normal.
Ketika bangkit berdiri, satu langkah kecilnya membuat lantai gua yang keras retak berkeping-keping. Satu hembusan napasnya membuat kabut di dalam gua beriak, seolah-olah udara itu sendiri tunduk pada kehadirannya.
Ye Chenxu merasakan tubuhnya jauh lebih ringan. Energi di dalam meridiannya mengalir dengan patuh, tanpa lagi memberikan rasa sakit yang membakar.
Namun dari semua perubahan itu, ada harga yang harus dibayar.
Dia merasakan emosinya menjadi lebih tumpul. Rasa marah yang biasanya membara kini terasa seperti bara api di bawah salju yang tebal.
Hatinya menjadi dingin, pikirannya juga menjadi lebih logis secara kejam.
Perubahan tersebut meresap hingga ke inti selnya. Ye Chenxu tidak lagi merasa seperti manusia yang membawa beban energi asing, sebaliknya, ia merasa seolah-olah tubuhnya sendiri telah menjadi bagian dari kehampaan itu.
Kulitnya menyimpan ketangguhan yang tak masuk akal, jika sebelumnya belati besi mampu merobek dagingnya, kini senjata tingkat rendah hanya akan terpental tumpul.
Organ-organnya telah beradaptasi sepenuhnya dan mampu menyerap kehampaan tanpa meninggalkan luka internal sedikit pun.
Secara fisik, daya ledak murninya kini telah sejajar dengan para kultivator yang berada di puncak tahap Pengolah Tubuh.
Ia menyadari satu hal yang tak terelakkan, bahwa dirinya tidak lagi sepenuhnya manusia.
Di tengah sunyi Hutan Terlarang, sosok pemuda itu berdiri di pintu gua.
Bekas-bekas luka masih menempel di tubuhnya, namun auranya dalam, sunyi, dan tak terukur, seperti jurang tanpa dasar yang sedang menanti untuk menelan dunia.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭