"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA MUSIM DAN JEJAK YANG TERCIK
Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka luar, namun tidak cukup untuk menghapus trauma yang sudah mendarah daging. Di lereng Gunung Lawu yang hijau, di sebuah perkebunan kopi yang luas, seorang wanita berdiri menatap barisan pohon kopi yang mulai memerah. Rambut panjangnya yang dulu selalu terurai kini terikat rapi dalam sanggul praktis. Ia mengenakan celana jin kokoh dan sepatu bot berlumpur.
Ia bukan lagi Alya yang gemetar saat disentuh. Ia adalah Nyonya Alana, pemilik "Bintang Cahaya Coffee", sebuah unit usaha pengolahan kopi organik yang kini menjadi tulang punggung ekonomi desa tersebut.
"Ibu! Lihat! Bintang menangkap belalang besar!"
Seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlari menembus barisan pohon kopi. Wajahnya adalah cetakan sempurna dari Zhang Liang—garis rahang yang tegas, mata yang tajam, dan aura kepemimpinan yang alami bahkan di usia balita. Namun, di matanya ada binar kebebasan yang tidak pernah dimiliki ayahnya.
Di belakangnya, seorang anak perempuan dengan gaun katun kuning berlari kecil, napasnya tersengal namun tawanya renyah. "Bintang, lepasin! Kasihan belalangnya!"
Cahaya. Ia memiliki kelembutan Alya, namun ada kilatan kecerdasan yang mengingatkan orang pada ketajaman Wei Jun atau Zhihao.
Alya tersenyum, berjongkok untuk memeluk kedua anaknya. "Bintang, taruh belalangnya di daun lagi ya. Dia punya keluarga yang menunggunya di rumah."
"Seperti kita, Bu?" tanya Cahaya polos.
Alya tertegun sejenak. Hatinya berdenyut. "Iya, seperti kita."
Malam itu, di dalam rumah kayu mereka yang kini sudah jauh lebih nyaman dan modern, Alya sedang meninjau laporan keuangan bersama Saraswati yang datang berkunjung. Saraswati kini bukan sekadar pengacara, ia adalah sahabat dan penasihat bisnis Alya.
"Ekspor kita ke Jepang meningkat, Al. Tapi ada satu hal yang mengganjal," ucap Saraswati sambil menyodorkan tablet.
"Apa itu?"
"Salah satu distributor besar di Jakarta yang ingin mengontrak kita secara eksklusif... adalah anak perusahaan Wei Properties."
Alya meletakkan cangkir kopinya. Jantungnya berdegup kencang. "Wei Jun? Apakah dia tahu?"
"Secara resmi, tidak. Kau menggunakan nama Alana Wiratama dan perusahaan ini terdaftar atas namaku. Tapi kau tahu Wei Jun... dia punya hidung yang sangat tajam untuk urusan bisnis yang menguntungkan."
Alya menarik napas panjang. "Tolak. Kita cari distributor lain. Aku tidak ingin ada satu pun benang merah yang menghubungkan kita dengan Jakarta."
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam. Saat mereka sedang berbicara, televisi di ruang tengah menyiarkan berita lokal tentang festival budaya daerah yang baru saja diikuti oleh anak-anak desa. Kamera menyorot wajah Bintang dan Cahaya yang sedang menari tarian tradisional dengan sangat lihai.
Kamera terpaku pada wajah Bintang selama lima detik penuh. Lima detik yang cukup bagi siapa pun yang mengenal Zhang Liang untuk menyadari bahwa anak itu adalah titisannya.
Di Jakarta, di gedung pencakar langit Zhihao Tech, Han Zhihao sedang melakukan audit rutin pada algoritma pengenalan wajah miliknya yang terhubung ke seluruh siaran televisi nasional.
BEEP. BEEP. MATCH FOUND: 99.8%.
Zhihao membeku. Selama lima tahun ini, ia memegang rahasia lokasi Alya. Ia sering datang ke desa itu secara rahasia, memperhatikannya dari jauh dengan teropong, memastikan Alya aman tanpa pernah menampakkan diri. Baginya, Alya adalah koleksi paling berharga yang sengaja ia biarkan "bebas" di alam liar agar tetap indah.
Namun, algoritma ini tidak hanya dimiliki olehnya. Ia tahu bahwa Zhang Liang baru saja memperbarui sistem keamanan maritimnya menggunakan teknologi serupa.
"Sial," desis Zhihao. "Dia akan menemukannya dalam hitungan jam."
Benar saja. Di kantor Zhang Maritime, Liang sedang menatap layar TV di ruang kerjanya. Botol wiski di tangannya hampir jatuh. Ia melihat anak laki-laki itu. Anak yang memiliki tatapan mata yang sama persis dengannya saat ia masih kecil.
"Alya..." bisik Liang. Suaranya pecah setelah lima tahun kekosongan.
Tanpa membuang waktu, Liang menyambar kunci mobilnya. Ia tidak memanggil pengawal. Ia tidak peduli pada rapat dewan komisaris. Ia hanya tahu satu hal: ia harus sampai ke gunung itu sebelum orang lain melakukannya.
Sore harinya, kabut mulai turun di perkebunan kopi. Bintang dan Cahaya sedang bermain di halaman depan sementara Alya sedang memasak di dapur. Suara deru mesin mobil yang mendaki tanjakan tajam terdengar mendekat.
Alya merasa bulu kuduknya berdiri. Itu bukan suara mobil bak terbuka milik petani desa. Itu suara mesin mobil mewah yang dipaksa bekerja keras di medan berat.
Ia berlari keluar. "Bintang! Cahaya! Masuk ke dalam rumah! Sekarang!"
Anak-anak itu bingung namun patuh. Alya berdiri di teras, memegang sebuah parang kecil yang biasa ia gunakan di kebun. Matanya tajam menatap mobil Range Rover hitam yang berhenti tepat di depan pagar bambunya.
Pintu mobil terbuka.
Sosok pria dengan setelan jas mahal yang kini berdebu melangkah keluar. Rambutnya sedikit memutih di pelipis, namun auranya tetap dominan. Zhang Liang berdiri di sana, menatap wanita yang selama lima tahun ini ia tangisi dalam diam.
"Alya," suaranya parau, penuh kerinduan dan rasa sakit.
"Pergi, Mas Liang," ucap Alya dingin, tangannya yang memegang parang tidak goyah sedikit pun. "Atau aku teriak dan seluruh warga desa ini akan mengepungmu."
"Aku tidak datang untuk menyakiti. Aku hanya... aku melihatnya di TV. Anak itu..."
"Dia bukan anakmu," potong Alya. "Dia Bintang. Dia lahir dari tanah ini, bukan dari kontrakmu."
Tiba-tiba, dari arah belakang mobil Liang, sebuah mobil sport kuning menyalip dengan kecepatan tinggi. Luo Cheng melompat keluar dengan gaya khasnya yang meledak-ledak.
"Liang! Kau pikir kau bisa menyembunyikan ini dariku?!" teriak Luo Cheng. Namun langkahnya terhenti saat melihat Alya. Matanya melembut sesaat. "Alya... kau... kau tampak jauh lebih cantik saat kau bahagia."
Dan tak lama kemudian, helikopter hitam mendarat di area lapang tak jauh dari sana. Wei Jun turun dengan langkah anggun, sementara Han Zhihao muncul dari balik pepohonan seolah-olah ia sudah berada di sana sejak lama.
Empat Naga Timur kembali berkumpul di depan gubuk kayu Alya.
Alya tertawa pahit, air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Lima tahun. Aku butuh lima tahun untuk membangun hidup ini. Dan kalian hanya butuh satu sore untuk menghancurkannya kembali?"
"Kami tidak datang untuk menghancurkan, Alana," ucap Wei Jun, menggunakan nama barunya. "Kami datang karena dunia sudah tahu. Jika kami bisa menemukanmu, maka musuh-musuh keluarga Zhang juga bisa menemukannya. Kau dalam bahaya."
"Bahaya terbesarku adalah kalian!" teriak Alya.
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka sedikit. Bintang mengintip dari celah pintu. Ia menatap Liang, lalu menatap parang di tangan ibunya. Anak kecil itu keluar, berdiri di depan ibunya dengan tangan terentang kecil, mencoba melindungi Alya.
"Jangan ganggu Ibu!" teriak Bintang dengan suara lantang yang menggetarkan hati Liang.
Liang jatuh berlutut di tanah berlumpur. Pria paling berkuasa di industri maritim itu kini bersujud di depan anaknya sendiri. "Maafkan Ayah, Nak... Maafkan Ayah."
Suasana membeku. Alya menurunkan parangnya, tubuhnya bergetar hebat. Badai yang ia takuti akhirnya sampai di pintunya, namun kali ini, ia bukan lagi kelinci kecil. Ia adalah pemilik wilayah ini.