Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Simfoni Hormon dan Rahasia Sang Arsitek
Pagi itu, ketenangan di Isola della Pace terasa sangat rapuh, seperti kaca yang siap retak. Dante duduk di meja kayu jati, jemarinya yang kasar mengusap koin perak Phoenix yang ia bawa dari "kematiannya". Di seberangnya, Aruna sedang menyusui Leonardo yang tampak gelisah. Bayi itu terus melepaskan hisapannya, membuat tanda melati di pergelangan tangan Aruna berkedip-kedip dengan warna perak yang tidak stabil.
"Dia merasakannya, Aruna," ujar Dante pelan. "Keteganganmu. Gelisahmu. Semuanya mengalir melalui air susumu ke dalam tubuhnya."
Aruna menatap pergelangan tangannya yang berdenyut tidak teratur. "Kenapa tanda ini tidak mau diam, Dante? Sejak kau datang, dia terus berdenyut seperti ini."
Dante menghela napas, ia condong ke depan, suaranya merendah agar tidak terdengar oleh Marco yang berjaga di kejauhan. "Karena ayahmu, Adrian, adalah seorang jenius yang sangat paranoid. Pembaca pasti—maksudku, dunia pasti berpikir bahwa kau hanyalah sebuah brankas hidup. Tapi sistemnya jauh lebih rumit."
Aruna mengernyit. "Maksudmu?"
"Sistem biometrik di tanganmu itu terhubung dengan kelenjar pituitari dan kadar oksitosin dalam darahmu," Dante menunjuk tanda melati itu. "Adrian merancang agar kunci itu hanya bisa terbaca sempurna jika tingkat stresmu berada di titik terendah. Dan apa satu-satunya cara bagi seorang ibu untuk mencapai titik itu?"
"Menyusui anaknya," bisik Aruna. Kesadaran itu menghantamnya seperti ombak dingin.
"Tepat," Dante mengangguk. "Isapan Leonardo memicu pelepasan oksitosin. Hormon itu menstabilkan denyut kunci di tanganmu. Jika Leonardo tidak ada di dekatmu, atau jika kau mencoba dipaksa membuka brankas tanpa bayi itu, sistem akan mendeteksi lonjakan kortisol—hormon stres—dan kunci itu akan 'meledak' secara digital, menghapus seluruh data di dalamnya selamanya."
Aruna mendekap Leonardo lebih erat. "Jadi, Leonardo bukan kodenya... tapi dia adalah alat penstabilnya? Dia adalah penenang bagi kunci ini?"
"Secara biologis, ya. Kalian adalah satu kesatuan sistem keamanan. Tanpa Leonardo, kau hanyalah wanita dengan tanda lahir yang tidak berguna. Dan tanpa kau, Leonardo tidak memiliki perlindungan yang diinginkan ayahmu." Dante berdiri, wajahnya mengeras. "Itulah sebabnya The Consortium tidak hanya memburumu. Mereka ingin menculik Leonardo untuk mengendalikanmu. Mereka tahu, jika mereka memegang bayinya, mereka memegang emosimu. Dan jika mereka memegang emosimu, mereka memegang kuncinya."
Penjelasan Dante baru saja meresap di otak Aruna saat alarm di dermaga meledak. Suara melengking itu membuat Leonardo tersentak dan menangis kencang. Seketika, tanda melati di tangan Aruna berubah warna menjadi merah darah yang tajam—sebuah peringatan bahwa sistem sedang dalam keadaan High Stress.
"Dante! Tanda ini memerah!" Aruna panik.
"Karena kau takut! Tenangkan dirimu, Aruna! Jika kunci itu tetap merah, sistem enkripsinya akan mulai menghancurkan diri!" Dante menarik Aruna berdiri.
Tiba-tiba, helikopter hitam muncul dari balik tebing. Vanya, sang algojo berambut merah, menatap mereka dari pintu terbuka. Ia tidak membawa senapan biasa, melainkan sebuah pelontar gas air mata.
"Dante Valerius! Berikan bayinya, dan biarkan ibunya membuka pintu untuk kami!" teriak Vanya.
"Mereka sudah tahu prosedurnya!" geram Dante. Ia mendorong Aruna ke arah lorong rahasia. "Marco, tahan mereka! Aruna, kau harus menyusui Leo di dalam lorong! Kau harus menstabilkan tanda itu sebelum kita mencapai titik evakuasi, atau kunci itu akan hancur dan kita tidak punya daya tawar lagi!"
Aruna berlari menuruni tangga gelap dengan Leonardo yang menangis histeris di pelukannya. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap, Aruna terduduk di tanah. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba membuka kancing bajunya.
"Leo, kumohon... tenanglah, Sayang. Ibu butuh kau tenang..." Aruna terisak.
Suara ledakan di atas mereka membuat tanah bergetar. Debu berjatuhan menutupi rambut mereka. Aruna memejamkan mata, mencoba memblokir suara tembakan di atas. Ia mulai bernyanyi kecil, lagu pengantar tidur yang dulu dinyanyikan ibunya.
“Dormi, dormi, piccolo mio...”
Perlahan, Leonardo mulai tenang. Bayi itu merasakan detak jantung ibunya yang mulai melambat secara paksa. Begitu bibir mungilnya menyentuh Aruna, keajaiban biologis itu terjadi. Hormon oksitosin membanjiri aliran darah Aruna. Warna merah di pergelangan tangannya perlahan memudar, kembali menjadi perak yang bersinar lembut dan stabil.
Kunci itu kembali aktif.
Dante muncul dari kegelapan lorong, wajahnya hitam karena jelaga. Ia melihat tangan Aruna. "Kau berhasil menstabilkannya. Bagus. Sekarang kita harus pergi. Lorong ini akan segera diledakkan oleh Marco untuk menutup jejak kita."
"Dante, jika kita terus seperti ini, Leonardo akan selalu berada dalam bahaya," ujar Aruna, matanya kini berkilat dengan ketetapan hati yang baru. "Aku tidak mau dia hanya menjadi alat penstabil kunciku."
"Maka kita harus menemukan 'The Architect' di Singapura," Dante membantu Aruna berdiri. "Dia adalah orang yang membantu ayahmu merancang sistem ini. Hanya dia yang bisa memisahkan kaitan biologis antara menyusui dan kunci ini tanpa menghancurkan datanya."
"Lalu kenapa kita menunggu?"
"Karena untuk mencapai Singapura, kita harus melewati wilayah The Consortium di Laut Cina Selatan." Dante menyerahkan sebuah belati kecil pada Aruna. "Simpan ini. Jika mereka menangkapmu dan mencoba memisahkanmu dari Leonardo, kau tahu apa yang harus kau lakukan pada tanda di tanganmu."
Aruna menatap belati itu, lalu menatap Leonardo yang kini tertidur di pelukannya. "Aku akan memotong tanganku sendiri sebelum kubiarkan mereka menyentuh anakku."
Dante menatap Aruna dengan rasa hormat yang mendalam. Gadis yang dulu ia culik dari Jakarta kini telah menghilang, digantikan oleh seorang ibu yang siap menghancurkan dunia demi anaknya.
"Ayo," ajak Dante. "Perang ini belum berakhir, tapi hari ini, kita tidak akan kalah."
Mereka melompat ke dalam air, menuju perahu pelarian yang tersembunyi. Di belakang mereka, vila indah di pulau itu meledak, menghapuskan bukti terakhir dari kedamaian mereka. Aruna Salsabila, sang pemegang kunci, kini bergerak menuju jantung musuhnya, membawa beban rahasia dunia di pergelangan tangannya dan nyawa putranya di dadanya.