NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Pulau Karang dan Bayang-Bayang yang Pulang

​Matahari terbenam di ufuk Pasifik, menyisakan jejak warna ungu dan emas yang memantul di permukaan laut yang tenang. Di sebuah beranda rumah kayu bergaya kolonial yang berdiri di atas tebing, Aruna duduk di kursi goyangnya. Angin laut yang hangat memainkan rambut hitamnya yang kini dibiarkan terurai panjang. Setahun telah berlalu sejak malam berdarah di Jenewa, dan pulau ini—sebuah titik kecil di peta yang hanya dikenal sebagai Isola della Pace—telah menjadi surga sekaligus penjaranya yang paling indah.

​Di pangkuannya, Leonardo yang kini berusia empat belas bulan sudah jauh lebih besar. Ia bukan lagi bayi merah yang rapuh. Kakinya sudah kuat untuk menendang-nendang kecil, dan tangannya yang mungil kini sedang menggenggam erat jari telunjuk Aruna. Leonardo sedang dalam fase transisi ke makanan padat, namun bagi Aruna, ritual menyusui di sore hari tetap menjadi momen suci yang tak bisa digantikan.

​"Kau lapar lagi, Jagoan?" bisik Aruna lembut.

​Ia membuka kancing blus linennya yang ringan. Begitu Leonardo mulai menyusu, Aruna merasakan kedamaian yang asing merayap di dadanya. Tanda melati di pergelangan tangannya kini berwarna perak pucat, tidak lagi berdenyut merah seperti dulu, namun tetap menjadi saksi bisu atas beban yang pernah ia pikul.

​"Nona Aruna, makan malam sudah siap."

​Suara itu berasal dari pintu geser di belakangnya. Marco berdiri di sana. Selama setahun ini, Marco adalah satu-satunya jembatan Aruna dengan dunia luar. Ia bertindak sebagai kepala pelayan, pelindung, sekaligus teman bicara.

​Aruna menoleh sedikit, tidak melepaskan dekapannya pada Leonardo. "Terima kasih, Marco. Apa ada kabar dari... utara?"

​'Utara' adalah kode mereka untuk daratan Eropa. Selama dua belas bulan, Aruna tidak pernah mendengar satu patah kata pun dari Dante Valerius. Dante menghilang seperti asap setelah helikopter mereka lepas landas dari Jenewa.

​Marco terdiam sejenak, matanya menatap riak air di kejauhan. "Pembersihan besar-besaran masih berlangsung, Nona. Data yang Anda bawa telah menghancurkan faksi-faksi besar. Luciano dikabarkan tewas di penjara sebulan yang lalu. Enzo... dia menghilang. Ada yang bilang dia lari ke Amerika Selatan, ada yang bilang dia sudah dihabisi."

​"Dan Dante?" tanya Aruna, suaranya hampir tak terdengar.

​"Tidak ada catatan kematian, Nona. Tapi juga tidak ada catatan kehidupan. Tuan Dante sangat ahli dalam menghapus jejaknya sendiri."

​Aruna menghela napas panjang. Ia menatap Leonardo yang kini tertidur pulas setelah kenyang. "Kadang aku merasa dia sengaja membiarkan kita di sini agar kita bisa melupakannya. Dia ingin Leonardo tumbuh tanpa bayang-bayang ayahnya."

​"Atau mungkin dia menunggu sampai dunia cukup aman bagi kalian untuk melihatnya kembali," sahut Marco pelan. "Sekarang, istirahatlah. Saya akan menjaga pos di dermaga."

​Malam semakin larut. Aruna membaringkan Leonardo di boks bayi yang terletak tepat di samping tempat tidurnya. Suara deburan ombak di bawah tebing biasanya menjadi musik pengantar tidur yang paling ampuh, namun malam ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Angin terasa lebih dingin, dan burung-burung laut terdengar gelisah.

​Aruna baru saja akan memejamkan mata saat ia mendengar suara mesin motor laut yang dimatikan di kejauhan. Jantungnya seketika berdegup kencang. Di pulau ini, tidak ada tamu. Setiap kapal yang mendekat harus melewati protokol keamanan Marco yang sangat ketat.

​Ia meraih pistol Glock kecil yang selalu ia simpan di bawah bantal—sebuah kebiasaan yang diajarkan Dante dan tidak pernah bisa ia tinggalkan. Dengan langkah tanpa suara, ia berjalan menuju jendela yang menghadap ke dermaga kecil di bawah tebing.

​Di bawah cahaya bulan purnama, ia melihat sesosok pria melangkah turun dari sebuah perahu nelayan kecil. Pria itu bergerak dengan pincang, bahu kirinya tampak kaku. Ia mengenakan mantel panjang yang compang-camping, namun postur tubuhnya... Aruna mengenalinya bahkan dalam kegelapan total.

​"Dante?" bisik Aruna, suaranya tertahan di tenggorokan.

​Ia tidak menunggu instruksi Marco. Aruna berlari keluar rumah, menuruni tangga kayu yang curam menuju pantai. Napasnya tersengal, dadanya sesak oleh perpaduan antara ketakutan dan kerinduan yang meledak-ledak.

​Saat ia sampai di pasir pantai yang putih, pria itu berhenti. Ia berdiri di batas air laut, menatap Aruna yang sedang berlari ke arahnya.

​Aruna berhenti beberapa meter di depan pria itu. Cahaya bulan menyinari wajahnya. Itu benar-benar Dante. Namun, ia tampak seperti bayangan dari pria yang dulu dikenalnya. Wajahnya dipenuhi bekas luka baru, rambutnya sedikit lebih panjang dan tidak rapi, dan matanya... matanya tampak sangat lelah, seolah-olah ia telah melihat neraka dan kembali lagi.

​"Kau datang," ujar Aruna, air mata mulai mengalir di pipinya.

​Dante tidak segera menjawab. Ia menatap Aruna dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah memastikan bahwa wanita di depannya ini nyata dan bukan sekadar halusinasi dari luka-lukanya.

​"Aku berjanji akan kembali, bukan?" suara Dante jauh lebih serak, hampir seperti bisikan angin.

​"Setahun, Dante! Setahun tanpa satu pun surat! Aku mengira kau sudah mati di tangan Enzo!" Aruna melangkah maju dan memukul dada Dante dengan tangan gemetar. "Kau membiarkanku di sini sendirian dengan anakmu! Kau bajingan!"

​Dante tidak menghindar. Ia membiarkan Aruna memukulnya, sampai akhirnya ia menangkap kedua tangan Aruna dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. Aruna terisak di dada Dante, menghirup aroma yang sangat ia rindukan—aroma laut, asap, dan aroma khas Dante yang maskulin.

​"Maafkan aku," gumam Dante di rambut Aruna. "Aku harus memastikan setiap tikus yang mengejarmu sudah mati. Aku tidak bisa membawamu kembali ke hidupku jika masih ada satu peluru yang mengarah padamu."

​Aruna menarik diri sedikit, menatap wajah Dante. "Apakah sudah selesai? Semuanya?"

​Dante mengangguk pelan. "Data itu menghancurkan sistem mereka. Valerius kini hanyalah sebuah nama di buku sejarah kriminal. Aku sudah menyerahkan sisa asetku kepada yayasan ibumu secara anonim. Aku bukan lagi penguasa mafia, Aruna. Aku hanya pria yang tidak punya tempat tinggal."

​"Kau punya rumah di sini," sahut Aruna tegas.

​Dante tersenyum tipis—senyuman tulus pertama yang pernah dilihat Aruna selama mengenal pria itu. "Di mana dia?"

​"Dia sedang tidur di atas. Dia sangat mirip dengamu, Dante. Keras kepala dan suka mengatur."

​Dante tertawa kecil, suara tawa yang akhirnya terasa ringan. "Bawa aku padanya."

​Mereka berjalan perlahan menuju rumah. Marco berdiri di depan pintu, menatap Dante dengan pandangan hormat yang dalam. Tanpa kata-kata, Marco membungkuk dan menyingkir, membiarkan sang raja yang telah turun takhta masuk ke dalam istananya yang baru.

​Di dalam kamar yang temaram, Dante berdiri di samping boks bayi. Tangannya yang besar dan kasar gemetar saat ia menyentuh tangan mungil Leonardo yang sedang tertidur. Air mata jatuh dari mata sang pria yang tak pernah menangis itu.

​"Dia sangat cantik," bisik Dante.

​"Dia putra yang hebat," Aruna berdiri di samping Dante, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Dia menyelamatkanku, Dante. Saat aku merasa ingin menyerah, dia selalu mengingatkanku bahwa aku punya alasan untuk tetap hidup."

​Leonardo tiba-tiba terbangun. Ia tidak menangis. Bayi itu membuka matanya yang besar dan bulat—mata yang sama persis dengan mata Dante. Leonardo menatap pria asing di depannya dengan rasa ingin tahu yang murni. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Dante yang kasar karena brewok tipis.

​"Papa?" gumam Leonardo kecil. Itu adalah kata pertama yang baru saja ia pelajari minggu lalu.

​Dante terisak. Ia mengangkat Leonardo dari boksnya, mendekap bayi itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah bayi itu terbuat dari kaca yang paling rapuh. Leonardo tidak takut. Ia justru bersandar pada dada Dante, merasakan detak jantung yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita ibunya.

​"Ya, Jagoan. Ini Papa," bisik Dante.

​Aruna memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang penuh. Segala penderitaan, penculikan, pelarian, dan rasa takut selama setahun terakhir seolah menguap begitu saja. Di ruangan kecil ini, tidak ada lagi "Kunci Valerius", tidak ada lagi "Ibu Susu Mafia", dan tidak ada lagi "Bos Besar". Yang ada hanyalah sebuah keluarga yang baru saja lahir dari puing-puing kehancuran.

​"Aruna," panggil Dante tanpa mengalihkan pandangan dari Leonardo.

​"Ya?"

​"Terima kasih. Terima kasih telah menjaga bagian terbaik dariku tetap hidup saat aku sedang berada di kegelapan."

​Aruna mendekati Dante, memeluk pria itu dari belakang sementara ia masih menggendong Leonardo. "Kita menjaganya bersama sekarang, Dante. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi kode. Hanya kita."

​Dante berbalik, menatap Aruna dengan penuh cinta. "Hanya kita."

​Malam itu, di pulau kecil di tengah Pasifik, legenda Valerius berakhir, dan kisah baru tentang Aruna dan Dante dimulai. Sebuah kisah yang ditulis bukan dengan darah, melainkan dengan air susu, air mata kebahagiaan, dan janji untuk tidak pernah saling melepaskan lagi.

1
Widia Aldiev
nggak buyar buyar Thor ceritone koyo Tante sepur wae 😭😭😭
putri lindung bulan: ya kk, akan ada kejutan di bab selanjutnya,baca aja dulu nanti kita akan di buat baper oleh mereka berdua
total 1 replies
Widia Aldiev
Dante kemampuan kau membawa Aruna dan Leonardo pergi pasti para iblis masih mengejar kalian
Widia Aldiev
sampai kapan perang ini akan terjadi Aruna bagaikan binatang buruan yg harus segera di tangkap dan di jadikan santapan liar para pemangsa 😭😭😭
Widia Aldiev
sebegitu mengerikannya dunia mafia kasihan Aruna dan Leonardo 😌😌
Widia Aldiev
mengandung bawang Bombay 😭😭😭😭 akhirnya mereka bersatu apakah Dante akan menikahi Aruna Thor agar mereka menjadi keluarga yg utuh,semoga setelah ini semua mereka hidup berbahagia tanpa ada embel" mafia 🤧😅
Widia Aldiev
WAWWWWW KEREEEEEN THOR 🔥🔥🔥❤️❤️❤️SUNGGUH IMJINASI YG SANGAT LUAR BIASA SEPERTI NONTON FILM LAGA DI BIOSKOP 🥳🥳🥳🥳
Widia Aldiev
dirimu pantas di sebut sebagai RATU VALERIUS Aruna karena kamu yg menyelamatkan Leonardo dan menjadi ibu baginya 🔥🔥🔥 tetap tegar dan terus berjuang demi masa depanmu dan Leonardo ❤️❤️❤️
Widia Aldiev
oooh Aruna semoga kalian selamat dan bisa hidup bebas juga bahagia 😌😌
Widia Aldiev
😤😤😤😤😪😪😪 kasihan si kecil Leonardo di usia yg masih bayi harus ikut berpetualang kedua orangtuanya
Widia Aldiev
semoga kamu g menyesal Aruna dengan semua yg kamu lakukan pada Dante 😌😌
Widia Aldiev
gmana g bimbbang si Aruna jika dia merasa hanya di manfaatkan saja...yg tegar Aruna dunia memang tak seindah yg di bayangkan..sekedar menghibur diri anggap saja simbiosis mutualisme dirimu dengan Dante 😌😌
Widia Aldiev
terlanjur basah ya sudah mandi sekali...itulah ungkapan yg menurutku pas buat Aruna hidup di dunia bawah yg penuh dengan kekerasan dan taktik tipu daya kalo g pinter" menguasai ya hanya akan berakhir jadi mangsa,lebih baik jadi pemangsa ya Aruna selamat menikmati kehidupan mu yg baru Aruna selamat datang di dunia tipu tipu 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
yaaaaah adegan hot hot popnya menggantung di udara dan lenyap begitu saja padahal udah fokus banget ini bacanya berharap akan ada....😅🤣🤣🤣
Widia Aldiev
MANTAB teka teki mulai terjawab satu persatu dan Aruna makin tak bisa lepas dari Dante karena ia kunci dari semua drama mengerikan yg terjadi 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
BODOH kamu Aruna cari mati namanya jika kau sayang ibumu menurutlah gadis kecil jngan buat Dante menjadi monster yg sesungguhnya lihatlah dia akan melahapmu mentah" 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
serasa nonton film beauty and the best 😅😅Aruna hidup dengan monster seram tp menginginkannya sebagai pendamping dengan cara yg ekstrim...lanjut Thor ❤️❤️❤️
Widia Aldiev
lihatlah Aruna betapa Dante melindungi dirimu dari para musuhnya so jangan buat Dante naik pitam lagi ya...dapatkan hatinya dan nikmati semuanya yg ia berikan
Widia Aldiev
tak usah ambil pusing dengan kata" wanita yg tak bisa memiliki Dante seutuhnya,lakukan tugasmu Aruna nikmati jalani ingat sekejam" nya Dante dialah yg berjasa terhadap keselamatan ibumu Aruna jangan kau lupakan hal itu,anggap semua balas budimu terhadap Dante,urusan yg lain kamu tak perlu ikut campur,kalo bisa taklukkan Dante ingat seberbahayanya buaya pasti ada pawangnya 😄😄
Widia Aldiev
karyamu sungguh sangat luar biasa Thor ❤️❤️❤️q sampe ikut merasakan suasana di cerita ini merinding,takut, terintimidasi semua jadi satu, bagai jadi pemeran Aruna diri ini 🔥🔥😅😅🙏🙏
Widia Aldiev
semua ada konsekuensinya Aruna jika kamu patuh kamu akan selamat dan bisa melihat ibumu,kini setelah semua kebodohan yg kamu lakukan akhirnya kamu jadi tawanan sesungguhnya oleh Dante bahkan dirimu tak lagi leluasa menemui Leonardo yg menjadi pelita dalam hidupmu 😌😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!