"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Perang Dingin di Lobi Weinstein
Lobi utama Weinstein Group yang biasanya tenang dan berwibawa mendadak terasa seperti medan laga. Arga berdiri di sana dengan wajah yang tidak bersahabat, tangannya mengepal di samping tubuh saat melihat Nirbita turun dari lift bersama Calvin.
"Nirbi!" panggil Arga dengan suara yang menggema.
Nirbi, yang sedang sibuk membetulkan letak tasnya, menoleh dan tersenyum lebar. "Kak Arga? Kok di sini lagi? Ada dokumen yang ketinggalan?"
Arga melangkah mendekat, namun matanya langsung tertuju pada kilauan di jari manis tangan kiri Nirbi. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia meraih tangan Nirbi dengan kasar untuk memastikan penglihatannya.
"Ini apa, Bi?" suara Arga bergetar, penuh dengan nada tidak percaya. "Cincin? Di jari manis?"
Calvin yang berdiri di samping Nirbi langsung bereaksi. Dengan gerakan yang sangat cepat dan protektif, ia menepis tangan Arga dan menarik Nirbi ke belakang punggungnya.
"Jangan berani-berani menyentuh asisten saya dengan tangan kasar Anda, Tuan Arga," desis Calvin. Suaranya rendah tapi mematikan, membuat beberapa staf di lobi menahan napas.
Arga mengabaikan Calvin, matanya menembus ke arah Nirbi yang mengintip dari balik bahu Calvin. "Bi, jawab aku! Apa maksudnya ini? Kamu... kamu bertunangan dengan pria dingin yang nggak punya perasaan ini? Kamu dipaksa?"
Nirbi mengerjalkan matanya, merasa bingung dengan situasi yang tiba-tiba panas. "Eh... Kak Arga, ini... kata Pak Bos ini protokol keamanan baru. Buat jaminan keselamatan kerja. Katanya biar nggak ada kuman-kuman pengganggu yang deketin aku."
Konfrontasi Dua Pria
Arga tertawa sinis, tawa yang penuh dengan penghinaan. Ia menatap Calvin dengan tatapan membunuh. "Protokol keamanan? Hebat sekali Anda, Pak Calvin. Memanfaatkan kepolosan Nirbi untuk menandai dia seolah dia adalah properti perusahaan Anda? Anda benar-benar licik."
Calvin memperbaiki letak kacamata dan kerah kemejanya, tetap tenang namun auranya sangat mengintimidasi. "Saya tidak perlu menjelaskan strategi saya pada orang asing. Nirbita adalah asisten pribadi saya, dan di bawah pengawasan saya, dia aman. Cincin itu adalah simbol bahwa dia sudah memiliki pelindung yang kompeten. Sesuatu yang Anda gagal lakukan semalam di kafe itu."
"Pelindung?" Arga maju satu langkah, kini jarak mereka hanya beberapa senti. "Anda hanya pria yang gila kontrol! Anda mengurungnya, memberinya cincin palsu atas nama 'keamanan', padahal Anda hanya takut dia memilih pria yang lebih normal dari Anda!"
"Normal?" Calvin tersenyum miring, senyum yang sangat jarang ia tunjukkan. "Normal adalah relatif. Dan bagi saya, membiarkan gadis secantik Nirbita berkeliaran tanpa tanda 'kepemilikan' adalah sebuah kebodohan. Saya tidak akan membiarkan 'kuman' jalanan seperti Anda terus-menerus mencoba mendekatinya."
"Dia bukan barang, Calvin!" bentak Arga. "Bi, lepas cincin itu! Kamu nggak perlu jaminan keselamatan konyol kayak gini. Ikut aku sekarang!"
Arga mencoba meraih tangan Nirbi lagi, namun Calvin segera menghalangi jalan Arga. "Satu langkah lagi, dan saya pastikan keamanan gedung ini akan menyeret Anda keluar dengan cara yang sangat tidak terhormat."
Kepolosan Nirbi di Tengah Badai
Nirbi yang melihat dua pria tampan itu hampir baku hantam, akhirnya angkat bicara dengan suara yang polos namun tegas.
"Duh! Kak Arga, Pak Bos! Udah dong! Malu diliatin orang kantor!" Nirbi menyembul dari balik punggung Calvin. "Kak Arga, jangan marah-marah. Ini cuma cincin kok. Kalau suatu saat aku butuh uang buat bayar kuliah atau kalau Abang Varro butuh modal usaha, aku bisa jual ini. Harganya mahal banget lho! Ini investasi masa depan."
Arga tertegun, amarahnya sedikit luruh oleh jawaban Nirbi yang sangat matre namun jujur. "Investasi, Bi? Kamu pikir dia kasih ini buat investasi?"
"Iya! Pak Bos bilang ini inventaris kantor juga," sahut Nirbi tanpa beban. "Jadi Kak Arga nggak usah khawatir. Aku nggak tunangan sama siapa-siapa kok. Ini cuma... perhiasan pengaman!"
Calvin memijat pelipisnya. Di satu sisi dia senang Nirbi tidak pergi dengan Arga, tapi di sisi lain hatinya merasa tercubit karena Nirbi menganggap cincin pemberiannya setara dengan barang gadai.
"Tuan Arga," Calvin kembali menatap lawannya. "Anda sudah mendengar sendiri. Sekarang, silakan pergi sebelum saya benar-benar kehilangan kesabaran saya yang berharga. Saya punya jadwal yang sangat padat, dan asisten saya harus kembali bekerja."
Arga menatap Nirbi lama, lalu menatap Calvin dengan tajam. "Urusan kita belum selesai. Dan Bi... ingat, kalau 'investasi' itu mulai mencekikmu, aku selalu ada."
Arga berbalik dan pergi meninggalkan lobi dengan langkah gusar. Begitu Arga hilang dari pandangan, Calvin langsung berbalik ke arah Nirbi.
"Nirbita! Cuci tanganmu sekarang! Kamu tadi sempat bersentuhan dengan dia!"
Nirbi menghela napas panjang. "Iyaaa, Pak Bos Posesif! Tapi nanti boleh ya aku mampir ke toko emas buat cek harga berlian ini? Penasaran harganya berapa motor matic!"
Calvin tidak menjawab, ia hanya berjalan cepat menuju lift sambil menggerutu tentang kuman, investasi, dan betapa ia ingin mengunci Nirbi di ruangannya selamanya.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka