NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA TAK BERNANAH

Deru langkah kaki perawat dan gesekan roda brankar yang terburu-buru menjadi musik latar yang mengerikan di telinga Pak Mansyur. Syakira kembali dilarikan ke ruang tindakan. Wajahnya yang pucat pasi kini nyaris membiru, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Di dalam sana, di balik pintu tertutup itu, tim medis berjuang menghentikan sisa pendarahan yang kembali mengganas akibat tekanan batin yang melampaui batas kemampuan tubuhnya.

Beberapa puluh menit yang terasa seperti berabad-abad berlalu. Dokter spesialis kandungan keluar dengan napas yang sedikit lebih teratur. Ia melepas sarung tangan karetnya yang ternoda merah.

"Alhamdulillah, pendarahannya bisa kita kendalikan tepat waktu, Pak Mansyur. Tidak terlalu serius seperti semalam, tapi kondisinya sangat kritis secara emosional. Rahimnya masih sensitif, guncangan sedikit saja bisa berakibat fatal. Tolong, jangan biarkan pasien mendengar suara keras atau berita yang membuatnya stres lagi," pesan dokter itu dengan nada tegas.

Pak Mansyur terduduk lemas di kursi tunggu. Beliau mengusap wajahnya, mencoba membuang sisa-sisa kemarahan pada Rangga yang masih menyumbat dada.

Di dalam kamar rawat, setelah efek obat penenang sedikit memudar, Syakira membuka matanya perlahan. Langit-langit putih rumah sakit seolah menekan dadanya. Bau sisa darah dan cairan antiseptik yang tajam menusuk penciumannya, memicu rasa mual yang hebat. Setiap kali ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit saja, rasa sakit di bagian rahimnya menyengat seperti disayat silet—panas, perih, dan mengosongkan jiwa.

Kosong... batinnya merintih. Ia meraba perutnya yang sudah tak lagi keras. Air matanya mengalir tanpa isak, membasahi sprei yang kasar.

Pikiran Syakira melayang, bukan pada rasa sakit fisiknya, tapi pada wajah mungil Rinjani yang pasti ketakutan melihat darah semalam. Syakira memikirkan Rangga dan Rinjani yang mungkin menangisi dirinya di rumah. Ia membayangkan Rinjani yang biasanya tidak bisa tidur tanpa elusan tangannya, kini mungkin sedang meringkuk sendirian di pojok kamar, bertanya-tanya mengapa Mamanya tidak pulang.

Mas Rangga... kamu di mana? Rinjani sudah makan belum?

Syakira memejamkan mata rapat-rapat. Suara bentakan Rangga di parkiran tadi masih terngiang, menyatu dengan denyut nyeri di perutnya. Ia merasa terombang-ambing antara benci dan rindu. Ia benci pria itu karena kesombongannya yang menghancurkan segalanya, tapi jiwanya tetap mencari sosok pria yang pernah berjanji melindunginya itu.

Gudang Cimahi, 11.00 WIB.

Udara di dalam gudang terasa pengap, berbau oli mesin dan debu kayu yang lama tak tersentuh. Rangga berdiri di tengah ruangan, menatap beberapa anak buahnya yang terduduk lesu. Galih mendekat dengan wajah yang tidak kalah kusutnya.

"Gimana, Lih?" tanya Rangga. Suaranya kering, seolah pita suaranya baru saja diampelas.

"Cabang Jakarta resmi tutup total hari ini, Mas. Stok bumbu rahasia yang kita kirim dari Bandung habis dijarah. Sopir kita, Si Juki, patah tulang rusuk. Dia dihajar pakai balok di depan truknya sendiri," Galih melaporkan dengan suara tertahan.

Rangga memukul meja kayu di depannya. Braakk! Debu beterbangan. "Anwar... Haji Sodikin... kalian benar-benar mau main sampai habis ya?"

Rangga merogoh sakunya, mencari ponselnya yang layarnya kini hancur seribu. Ia mencoba menghidupkannya, ingin mendengar suara Rinjani. Ia lupa bahwa Rinjani masih di rumah sakit bersama ayahnya atau mungkin sudah di rumah. Ia benar-benar kehilangan arah.

"Mas, wajah Mas... perlu diobati," ujar Galih melihat luka sayatan kaca di pipi Rangga yang mulai mengering dan menghitam.

"Nggak perlu. Luka ini nggak ada apa-apanya dibanding apa yang dialami Syakira," jawab Rangga dingin. Ia mengambil sebuah botol air mineral, mengguyur kepalanya sendiri untuk menjernihkan pikiran. Air dingin itu mengalir ke lehernya, mencampur darah dan debu di kemejanya yang sudah hancur.

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan gudang. Anwar turun dengan gaya parlente, seolah dia pemilik dunia ini. Di belakangnya, dua orang pria berbadan besar mengawal dengan tatapan mengancam.

"Tempat ini lebih buruk dari yang aku bayangkan, Rangga. Kayak kandang tikus," sindir Anwar sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.

Rangga berjalan perlahan mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak sepatu yang kotor di lantai semen. "Mau apa lagi kamu? Belum puas lihat Syakira hampir mati?"

Anwar tertawa sinis. Ia mendekat, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar Rangga. "Tahu nggak? Tadi pas aku di kamar rumah sakit, Syakira megang tanganku. Dia nangis, Rangga. Dia bilang dia menyesal nikah sama kamu. Dia minta aku buat jangan tinggalin dia."

"BOHONG!" Rangga menarik kerah baju Anwar, tapi kali ini para pengawalnya langsung menahan tangan Rangga dengan kasar.

"Eh, jangan main fisik. Aku ke sini cuma mau kasih surat ini," Anwar menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Itu surat pengalihan aset angkringan Jakarta. Tanda tangani, dan aku akan pastikan angkringanmu di Bandung lancar lagi."

Rangga menatap amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Antara ingin merobek mulut Anwar atau menyerah demi menyelamatkan bisnis yang menjadi napas pegawainya.

Kembali ke RS Medika.

Sore mulai turun, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Syakira masih terbaring lemah. Pak Mansyur sedang keluar untuk mengurus administrasi dan mencari makan. Ruangan itu sepi, hanya ada bunyi tit-tit dari mesin pemantau jantung yang monoton.

Pintu kamar berderit. Syakira menoleh, berharap itu adalah Rangga yang datang dengan air mata penyesalan. Tapi yang masuk adalah Haji Sodikin. Pria tua dengan peci putih yang tampak sangat alim, namun memiliki mata sebeku es.

"Assalamualaikum, Nak Syakira," sapa Haji Sodikin dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Syakira mencoba bangkit, tapi rasa sakit di perutnya kembali menghantam. Ia meringis, mencengkeram pinggiran ranjang hingga buku-buku jarinya memutih. "Pak Haji... ada apa?"

Haji Sodikin duduk di kursi di samping ranjang. "Bapak turut berduka soal bayimu. Ini semua ujian. Tapi Syakira, kamu harus sadar. Allah sedang memperingatkanmu melalui kejadian ini. Rangga itu bukan pria yang tepat. Dia membawa aura sial sejak dari Jakarta."

"Jangan bicara begitu, Pak Haji.. Mas Rangga itu suami saya," suara Syakira bergetar, menahan tangis dan perih yang tak kunjung usai di tubuhnya.

"Suami macam apa yang membiarkan istrinya berdarah-darah di lantai demi egonya? Rangga tadi ke gudang Cimahi, bukan ke sini untuk menunggumu. Dia lebih peduli pada harta angkringannya daripada nyawamu," Haji Sodikin terus meracuni pikiran Syakira.

Setiap kata yang keluar dari mulut pria tua itu terasa seperti siraman air raksa di atas luka terbuka Syakira. Ia ingin membantah, tapi kenyataan bahwa Rangga memang tidak ada di sampingnya saat ia sadar tadi adalah fakta yang paling menyakitkan.

Mas... benarkah kamu lebih memilih gudang itu daripada aku?

Syakira menahan napasnya saat rasa nyeri kembali menyerang rahimnya. Sshhh... Ia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, mencoba mengalihkan rasa sakit fisik dengan rasa sakit di hati yang kian memuncak. Ia merasa sangat sesak. Oksigen di ruangan itu seolah-olah habis dihisap oleh keberadaan Haji Sodikin.

"SYAKIRA! JANGAN PERCAYA MEREKA, DEK!"

Rangga berlari menembus hadangan satpam di lorong depan pintu kamar 304, namun ia kembali dihadang oleh Pak Mansyur yang baru kembali ruang administrasi.

"TANGKAP DIA PAK SATPAM!" teriak Pak Mansyur sambil menunjuk Rangga.

Rangga tertegun. Ia menatap ke dalam kamar melalui celah pintu yang terbuka. Ia melihat Haji Sodikin duduk tenang di samping istrinya, dan Syakira... Syakira menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan kekecewaan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pandangan seorang wanita yang sudah kehilangan harapan sepenuhnya.

"Mas... pergi..." bisik Syakira dari dalam kamar, suaranya terdengar sampai ke telinga Rangga yang kini sudah di pegangi oleh dua satpam.

"Dek! Mas minta maaf!" Rangga meronta, tapi tangannya tak kuasa menahan dua orang satpam di sampingnya.

Syakira memalingkan wajah, menutup matanya rapat-rapat saat rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Ia tidak sanggup lagi. Ia ingin mati saja rasanya.

Di luar, hujan turun sangat deras, seolah langit ikut menangisi martabat pria yang kini hancur berkeping-keping di lantai rumah sakit.

Rangga dibawa paksa oleh satpam menuju luar rumah sakit. Di tengah hujan, ia melihat Anwar berdiri di kejauhan sambil melambaikan tangan dengan penuh kemenangan. Sementara di dalam kamar, Pak Mansyur masuk dan bertanya, "Sudah kamu putuskan, Nak?"

1
Vq S
nyesel muji tadi katanya udah bijak padahal masih dablek
Tinta Emas: kadang sisi jelek seorang pria selalu ada...
total 1 replies
Vq S
Dia mulai bijak
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
awesome moment
smg arka tdk merasa dipinggirkan
Tinta Emas: ya seperti yang saya harapkan juga begitu.
total 1 replies
awesome moment
g bkl.an dpt klo.msh mode mendewakan uang
awesome moment
untg msh punya kesempatan. gunakan
Tinta Emas: betul itu bang
total 1 replies
Masha 235
ck..ck...nyesel sambel
Tinta Emas: oh begitu..!
total 3 replies
awesome moment
mmg hnya ibu a.k.a istri ug multi tasking.
Tinta Emas: paket komplit
total 1 replies
Sri Khayatun
aku suka ceritanya ...sangat sopan..tetap semangat thor🙏😍😍
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
awesome moment
rangga, stop dgn pengulangan kesalahan. udh bolak balik dpt kesempatan lho. jgn smp abis kesempatannya
Tinta Emas: kadang pria selalu terbawa emosi
total 1 replies
awesome moment
pengaco sll siap sedia
Tinta Emas: itulah problema kehidupan
total 1 replies
awesome moment
andai d persahabatan seloyal tu. mgk...pelukan teletubbies msh bisa dirasakan.
Tinta Emas: benar abangku
total 1 replies
awesome moment
haikal?,
Tinta Emas: benar, muncul dia
total 1 replies
awesome moment
😭😭😭
Nancy Nurwezia
cobalah bermain cantik juga rangga.. jangan emosi yang dikedepankan melulu.. cari cara buktikan bahwa anwar dan pak haji itu licik..
Tinta Emas: betul nona
total 1 replies
awesome moment
saatnya menghilang. biarkan waktu yg bicara..bawa rinjani. mulai smuanya dri awal. minta bantun penulis cerita. biar chapter ikan terbangnya jgn panjang2. 😄😄😄terlihat bgts bhw emosi bisa merubah smuanya.
Tinta Emas: Harusnya yang benar itu dari BAB 29.SISA ABU DAN RETAKNYA PUALAM BAB 30.DI AMBANG MAUT DAN PENEBUSAN BERDARAH. 31.KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN 32.TIPU MUSLIHAT, 33.LUKA TAK BERNANAH, 34.GEROBAK MASA LALU, 35.SURAT DARI SYAKIRA 36.USAHA MENEMBUS PINTU
total 2 replies
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Tinta Emas: salam
total 1 replies
awesome moment
org yg bisa bertahan di titik terendah, dia sll punya cara utk ttp hidup. bahkan di alam paling liar 1x pun.
Tinta Emas: Dia tau harus bagaimana
total 1 replies
awesome moment
10 tahun? menyembunyikan? hirang kayah mmg kdg buta tuli
Tinta Emas: bisa begitu ya
total 1 replies
Anonymous
langsung emosi.. padahal datar aja dulu kasih tempat buat duduk kasih minum lalu dengerin baru setelah dengar dengan ekspresi seakan berfikir kemudian tersenyum merekah "lalu apa hubungannya dengan saya?"
Tinta Emas: ya juga bang hehe
total 1 replies
Anonymous
harusnya Rangga gak usah terlalu blak blakang sama orang asing .. cukup disimpan rapat rapat cerita keluarga nya orang lain gak usah tau
Anonymous: maksudnya kan itu Syakira orang lain gitu Thor, kalau tiba tiba cerita kayak gitu pangdangan nya kayak memang tersakiti tapi pengen membuat orang simpati gitu
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!