NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Missing someone

Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyelinap malas lewat celah gorden.

Lara menggeliat pelan, menarik selimut lebih tinggi, lalu berhenti.

Sebentar. Alisnya berkerut.

Ia membuka mata sepenuhnya dan menatap langit-langit kamarnya—kamarnya. Bukan sofa. Bukan ruang keluarga. Bukan di depan televisi yang semalam masih menyala saat kelopak matanya terasa berat.

Lara bangkit setengah duduk.

“Hah…?”

Ia menoleh ke kanan, ke kiri. Semua terlihat rapi seperti biasa. Tas kuliah ada di kursi. Boneka kecil di sudut kasur masih di tempatnya. Tidak ada yang aneh—kecuali satu hal besar.

Bukannya aku ketiduran di sofa?

Lara menggaruk kepalanya, lalu mendesah.

“Jangan-jangan…” gumamnya lirih, “…aku tidur jalan.sleep walking??”

Ia membayangkan dirinya sendiri bangun tengah malam, berjalan sempoyongan ke kamar, menarik selimut, lalu tidur lagi tanpa sadar.

Mengerikan. Dan… memalukan.

Namun satu kemungkinan lain langsung ia tepis mentah-mentah.

Ah nggak mungkin. Masa iya Paman Arka yang ngangkat aku?

Itu terlalu… tidak masuk akal.

Lara menggeleng, turun dari kasur, lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah bersiap, ia keluar kamar dengan rasa penasaran yang belum juga hilang.

Di meja makan, Arka sudah duduk rapi.

Kemeja bersih, rambut tertata, ekspresi wajahnya datar seperti biasanya. Di meja sudah tersedia sarapan sederhana—roti panggang, telur, dan segelas susu.

Seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.

“Pagi,” sapa Lara sambil duduk.

“Pagi,” jawab Arka singkat, tanpa menoleh.

Lara memperhatikannya dari samping. Tidak ada tanda-tanda aneh. Tidak ada kegugupan. Tidak ada gelagat bersalah.

Justru itu yang membuat Lara makin curiga.

Mereka makan dalam diam beberapa saat, sampai akhirnya rasa penasaran Lara menang.

“Paman,” katanya pelan.

“Hm?”

“Semalam… aku tidur di mana ya?”

Arka mengangkat gelas susunya, menyesap perlahan. Gerakannya tenang. Terlalu tenang.

“Di kamar,” jawabnya singkat.

“Iya, aku tahu,” Lara mengernyit. “Maksudku… gimana caranya aku bisa sampai ke kamar?”

Arka meletakkan gelasnya. Menoleh ke Lara dengan ekspresi dingin yang sudah sangat ia kuasai.

“Kamu ketiduran di sofa.”

“Oh.” Lara mengangguk. Lalu menyipitkan mata. “Terus?”

“Televisinya masih nyala.”

“Terus?” desaknya lagi.

Arka menatapnya sebentar, lalu berkata datar, “Aku matikan. Kamu bangun sendiri.”

Lara terdiam. Ia menatap Arka lama.

“Aku… bangun sendiri?” ulangnya ragu.

“Iya.”

Lara menghela napas pelan. “Berarti bener ya. Aku tidur jalan.”

Arka tidak menjawab. Ia kembali fokus ke sarapannya, seolah topik itu sudah selesai.

Namun di balik ketenangannya, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Lara memandangi wajah pamannya yang terlalu tenang itu, lalu menyandarkan punggung ke kursi.

“Aneh,” gumamnya. “Padahal aku nggak pernah punya riwayat tidur jalan.”

Arka akhirnya berkata tanpa menatapnya, “Mungkin kamu capek.”

“Mungkin,” jawab Lara pelan, masih belum sepenuhnya yakin.

Ia tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan ganjil yang menggelitik di dadanya. Seperti ada bagian kecil dari cerita semalam yang… hilang.

Namun melihat Arka yang bersikap normal—dingin, rapi, dan tak terganggu—Lara memilih tidak memikirkannya terlalu jauh.

Ia bangkit setelah selesai makan. “Aku berangkat dulu.”

Arka mengangguk. “Hati-hati.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Lara berhenti sejenak. Ia menoleh. Arka masih duduk di sana, membuka tablet kerjanya.

“Hm,” sahut Lara, lalu tersenyum kecil sebelum melangkah pergi.

Setelah pintu apartemen tertutup, Arka menyandarkan punggungnya ke kursi.

Ia menutup mata sebentar.

Berhasil. Kebohongan kecil itu berhasil.

Namun entah kenapa, perasaan di dadanya justru tidak terasa lega.

Karena satu hal yang ia sadari pagi itu—

Ia mulai terlalu sering menyembunyikan kebenaran dari Lara. Dan itu bukan pertanda baik.

Lara melangkah keluar apartemen dengan perasaan yang masih mengganjal.

Di dalam mobil, ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap jendela dengan alis berkerut. Jalanan pagi Jakarta berlalu seperti biasa, tapi pikirannya tertinggal semalam.

Ia mencoba mengingat. Posisi sofa. Suara televisi. Rasa kantuk yang menumpuk.

Kosong. Nihil.

Seumur hidup aku nggak pernah tidur jalan, batinnya.

Dan masa iya tiba-tiba muncul sekarang? Ia menelan ludah.

Lara menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya sendiri.

Mungkin aku capek banget, pikirnya mencoba logis.

Atau… ini fase menjelang dewasa? Namun pikiran itu justru membuatnya semakin gelisah.

Atau jangan-jangan ini penyakit?

Serius? Lara, kamu baru saja kuliah,dan baru akan memulai hidup.

Ia membayangkan kemungkinan terburuk.

Tidur berjalan lagi. Bangun tengah malam.

Dan—

—salah masuk kamar Paman Arka?!

“TIDAAAK,” gumamnya pelan, refleks merapatkan jaket ke tubuhnya.

Membayangkan itu saja sudah cukup membuat tengkuknya merinding. Bukan cuma memalukan—itu mimpi buruk tingkat nasional.

Ia menepuk pipinya pelan. “Stop mikir aneh-aneh.”

Arka tidak mungkin membohonginya.

Pamannya itu terlalu lurus. Terlalu dingin. Terlalu… jujur untuk hal-hal sepele seperti itu.

Jadi satu-satunya kesimpulan yang masuk akal— Masalahnya ada di dirinya.

Dan kesimpulan itu sama sekali tidak menyenangkan.

Mobil berhenti di depan gerbang kampus. Lara turun dengan pikiran yang masih berputar, tapi ia menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya tersenyum.

Oke, katanya pada diri sendiri. Fokus kuliah dulu. Drama otak nanti aja.

Ia melangkah masuk ke area kampus, tidak tahu bahwa kegelisahan kecil pagi itu hanyalah awal dari banyak kebingungan yang akan datang.

Di kelas, Lara duduk di bangku favoritnya—baris tengah dekat jendela. Matanya tanpa sadar mengedarkan pandangan, mencari satu sosok yang belakangan ini entah kenapa selalu berhasil mencuri perhatiannya.

Kosong. Bangku Axel tidak terisi.

Lara sedikit mencondongkan tubuh, memastikan ke barisan belakang. Tetap tidak ada.

Oh… nggak masuk, ya, Mungkin ada urusan.Pikirnya.

Ia berusaha terdengar santai pada dirinya sendiri, meski perasaan aneh seperti ganjalan kecil di dada mulai muncul. Bukan kecewa, hanya… terasa ada yang kurang.

Kelas berakhir menjelang siang. Biasanya, Lara akan langsung menuju kantin—entah bersama Axel atau sekadar menemaninya membeli minum. Tapi kali ini, langkahnya justru melambat.

Entah kenapa, membayangkan makan sendirian terasa hambar.

Bukan soal lapar. Tapi lebih ke soal suasana.

Kurang seru aja, batinnya jujur.

Akhirnya Lara membelokkan langkah ke perpustakaan. Selain lebih sepi, ia bisa sekalian mengerjakan tugas yang sejak kemarin hanya jadi wacana.

Perpustakaan masih setenang biasanya. Aroma buku dan pendingin ruangan langsung menyambutnya. Lara duduk di sudut dekat rak referensi, membuka tas, lalu mengeluarkan laptop.

Namun fokusnya buyar. Pikirannya kembali ke satu nama..

Rasa penasaran akhirnya menang. Lara meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan, berniat menanyakan kenapa Axel tidak masuk hari ini.

Namun sebelum sempat mengetik apa pun, matanya menangkap sebuah notifikasi.

Dari semalam. Dari Axel.

Lara yang sedang meneguk air mineral refleks tersedak.

“Uhuk—!”

Beberapa mahasiswa di sekitar menoleh. Lara buru-buru menutup mulut, wajahnya memerah, lalu menunduk seolah sedang membaca sesuatu yang sangat penting.

Pesannya… biasa saja.

Selamat tidur, Lara.

Tapi masalahnya bukan di kalimat itu.

Masalahnya ada pada satu emotikon kecil di ujung pesan.

❤️

Lara menatap layar ponsel itu cukup lama.

Ini… salah kirim? Atau… maksudnya apa?

Ia menghembuskan napas pelan, lalu meneguk air minumnya lagi, kali ini lebih hati-hati.

“Kenapa sih aku begini…” gumamnya lirih.

Lara sadar, dirinya sering terlihat mudah dekat dengan orang lain, terutama lawan jenis. Senyumnya gampang muncul, perhatiannya tulus, reaksinya spontan. Tapi itu bukan karena ia mudah jatuh cinta—bukan itu.

Ia hanya terlalu lama sendirian.

Sebagai anak tunggal, Lara tumbuh dengan banyak ruang kosong. Sejak kecil ia terbiasa melakukan banyak hal sendiri, menunggu, mengisi waktu dengan imajinasinya sendiri. Dari situlah sifat manja dan polosnya terbentuk. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia terlalu sering tidak punya siapa-siapa untuk berbagi.

Itulah mengapa Lara sebenarnya sangat pemilih soal teman. Ia bisa ramah pada banyak orang, tetapi hanya sedikit yang benar-benar ia izinkan berada di sisinya. Dan ketika ia menemukan rasa nyaman itu, Lara akan setia—setia menjadikan orang tersebut tempat pulang, teman yang ingin ia jaga keberadaannya.

Axel masuk ke dalam kategori itu.

Bersamanya, Lara merasa ringan. Tidak ada tuntutan, tidak ada penilaian, tidak ada tekanan untuk menjadi siapa pun. Axel hanya hadir, tertawa bersamanya, mendengarkan hal-hal remeh yang sering dianggap tidak penting oleh orang lain.

Dan bagi Lara, itu cukup.

Perasaannya pada Axel bukan cinta yang menggebu, bukan juga ketertarikan yang rumit. Lebih seperti rasa aman yang hangat—rasa yang membuatnya tidak merasa sendirian.

Berbeda dengan Arka.

Nama itu selalu membawa perasaan yang lebih kusut. Lara sendiri belum mampu mengartikan apa yang ia rasakan pada pamannya. Apakah itu sisa keterikatan masa lalu, rasa kehilangan yang belum sembuh, atau perasaan lain yang bahkan ia tak berani beri nama.

Yang jelas, Lara belum pandai memahami hatinya sendiri.

Ia hanya gadis polos yang masih belajar membedakan antara nyaman, sayang, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Lara mengunci ponselnya perlahan, lalu menatap buku di hadapannya. Namun kali ini, bibirnya melengkung tipis—senyum kecil yang bahkan ia sendiri tidak sadari.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!