Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 1 - Kembali ke Usia 18th
Tampaknya keluarga Clinton memang ditakdirkan untuk menghancurkannya.
“Asalkan kau setuju, kami tidak akan menuntut ganti rugi atas semua utangmu. Bagaimana?”
Ashilla telah menghabiskan sepuluh tahun menabung demi melunasi seluruh utangnya terhadap keluarga Clinton.
Namun ibu tirinya justru datang tanpa rasa malu dan memintanya menanggung kesalahan saudara tirinya, Camila.
“Lagipula, kami tidak tahu kapan kau bisa melunasinya semua. Aku tidak meminta hal yang sulit. Kau hanya perlu mengakui kesalahan itu menggantikan Camila. Dia juga adik perempuanmu. Mengapa kau tidak bisa menuruti orang tuamu?”
Perkataan Laura terdengar begitu konyol. Apa hubungannya dengan saudara tiri yang bahkan tak pernah membantunya?
“Sejujurnya, aku sudah lama muak melihat bajingan sepertimu hidup tanpa beban. Sekarang Camila dalam masalah dan kau bahkan tidak mau membantu saudaramu sendiri?!”
Ashilla ingin membalas, tetapi Laura tak memberinya sedikit pun kesempatan.
“Asal kau tahu saja, Camila berbeda dengan bajingan yang lahir dari wanita desa bodoh sepertimu. Dia akan menjadi ahli waris keluarga Clinton. Seharusnya justru kau yang menghilang, karena kau adalah aib yang tak berguna—berbeda dengan putri sahku! Huh! Karena kau tidak mau menerima pendekatanku yang lembut, aku terpaksa menggunakan cara yang keras!”
“Bawa dia pergi dan beri pelajaran. Jika dia tidak berperilaku baik, buat suaranya serak. Yang penting dia masih bisa bernapas saat dibawa ke pengadilan.”
Hari itu, perjuangan, perlawanan, rasa sakit, ketakutan, dan ketidakberdayaan akhirnya menghancurkan seluruh harapannya tentang dunia yang damai.
Ashilla menderita gagal jantung paru akibat pemukulan atas perintah Laura. Ditambah lagi, kaki kanannya cacat. Ia nyaris tak mampu bertahan hidup, menit demi menit.
“Terdakwa Ashilla Livini Clinton telah melanggar peraturan lalu lintas dengan melampaui batas kecepatan, menabrak dan melarikan diri sehingga mengakibatkan kematian korban.”
Hari itu, meskipun langit tampak begitu cerah, putusan hakim membuat Ashilla merasa hidupnya tak lagi berarti. Ia dipaksa bertanggung jawab atas kecelakaan yang tidak pernah ia lakukan dan dinyatakan bersalah. Oleh sebab itu, ia dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.
Saat palu hakim diketukkan, kesadarannya benar-benar menghilang.
Namun, setelah kegelapan, fajar pun muncul.
Ashilla terbangun dari mimpi yang dingin dan mematikan, napasnya terengah-engah. Kenangan paling menyedihkan dan menyiksa itu bagaikan bayangan yang tak bisa dihindari, terus berputar di benaknya tanpa henti.
Sekalipun ia tahu itu hanyalah mimpi, ia tetap tak mampu melarikan diri dari rasa sakit dan kebencian yang terukir hingga ke tulang.
Ashilla tersenyum pahit. Dalam cahaya pagi yang masih redup, ia menatap kamar mewah yang asing baginya.
Ia menekan dadanya, berusaha menenangkan kebencian dan kegembiraan yang bergejolak dalam hatinya, lalu menghela napas panjang.
Untungnya, ini bukan mimpi. Aku benar-benar kembali ke usia delapan belas tahun—saat semua penderitaan itu belum terjadi..
Ketika Ashilla terbangun lagi, ia telah kembali ke titik awal semua tragedi sepuluh tahun lalu, ia masih mempunyai kesempatan untuk membuat perubahan yang sepenuhnya berbeda di masa depannya.
Ashilla memandang matahari terbit di luar jendela yang perlahan terbit di atas cakrawala, memikirkan semua yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan cepat ia bangkit dari tempat tidurnya dan mencari ayahnya yang ternyata ada di ruang kerja.
Ashilla masuk setelah mengetuk pintu lalu dengan tatapan yang tegas ia berkata pada pria itu:
"Ayah, aku akan menikahinya.."
Ya! Kali ini aku tidak akan terlilit hutang dan akan hidup tenang dengan pria kaya raya itu!