NovelToon NovelToon
'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.

Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,

"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."

Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.

Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,

Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bos baru

"Jadi matanya kayak gitu, kalau ga pakai kacamata." Nila bergumam membayangkan penampilan yang tadi sempat dilihat,

Elang berhasil memuaskan rasa penasaran Nila, untung saja dia sudah menyiapkan sepasang soflen putih untuk menutupi warna pupilnya.

"..." Nila termenung menatap langit kamarnya, kemudian menoleh mendapati tubuh pria yang telah terpejam di sampingnya.

"Padahal aku mau ngobrol dulu," gerutu Nila menekuk bibir, tak sempat mencurahkan isi hati.

Tidak menyangka kalau pria itu benar-benar langsung tertidur setelah berbaring. Sebelum ini Elang juga sempat menolak dan menyarankan agar mereka pisah ranjang, 

Ya kali pisah ranjang, rugi dong! Punya suami tampan kok dianggurin.

Tentu saja Nila menolak dan bersikeras memaksa, alhasil mereka kini menempati ranjang yang sama.

"Hehe..."

"Bulu matanya lentik," batin Nila tersenyum jahil, jarinya mulai bergerak meraba ambang rambut halus di sekitar mata milik Elang.

Perlahan beralih ke bagian lain, sambil terus berhati-hati agar tidak membangunkan tidurnya. Dengan seksama Nila mengamati setiap inci wajah yang begitu mempesona,

"Beruntung banget, dapet suami cakep..." serunya menjerit dalam hati.

Tak segan mendaratkan telapak pada dada bidang, sedikit ragu namun pada akhirnya Nila bersandar sambil memejamkan mata. Seakan siap untuk tidur,

Degup pelan meraba kulit, Nila bisa merasakan debar jantung pada telapak tangannya.

Nila tersenyum lalu menggosok singkat wajahnya seperti kucing, "Suamiku tampan banget."

Suasana mulai hening tidak ada lagi ocehan, gadis itu juga tak lagi bergerak. Seketika membuat Elang berani membuka mata,

Melirik Nila yang sudah terlelap dengan nafas sedikit berat. Akhirnya Elang bisa merasa tenang, sengaja berpura-pura tidur untuk menghindari obrolan,

Jangan sampai terjadi kericuhan, mana tahu tuntutan gila apa lagi yang akan Nila berikan pada Elang.

"Sungguh merepotkan." ucap Elang dalam hati, merasakan beban yang memberatkan tubuhnya.

Keesokan hari,

Pemandangan jalanan yang masih sepi namun mulai diramaikan kendaraan, Nila mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang.

Sinar matahari yang mulai masuk melalui celah helm, bunyi klakson kendaraan mulai terdengar dan udara pagi yang masih sejuk sebelum aktivitas kota sepenuhnya dimulai.

Nila siap kembali bekerja dengan hati yang ceria. Senyuman terus terukir di wajahnya, siapa sangka tidur bersama pria tampan membantu tidur semakin nyenyak.

Sehari sudah berlalu setelah menjadi istri, kemarin Nila menyiapkan sup daging untuk makan malam lalu ayam herbal untuk sarapan.

Sepertinya dia benar-benar menikmati peran sebagai istri.

"Kira-kira dia lagi ngapain ya sekarang?" batin Nila tak henti memikirkan, 

"Hacim! Ng--kenapa jadi dingin..." gumam Elang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan, bahunya bergidik ngeri merasakan perubahan cuaca secara tiba-tiba.

"Ga sabar pengen lihat wajahnya," seru Nila berjalan dari tempat parkir,

Menenteng tas biru dia melangkah masuk ke tempat kerja, disambut oleh pekerja lain yang terlihat bergerombol.

"Eh kamu tahu, katanya ada yang beli Rumah Katering." celetuk wanita di ujung ruang,

Berita apa yang telah menggemparkan mereka. Nila mulai penasaran dan memutuskan diri untuk ikut menyimak pembicaraan,

"Dibeli gimana? Emangnya Rumah Katering bangkrut?"

"Terus gimana dong? Masa kita mau dipecat..." oceh karyawan fresh graduate yang baru saja mendapat kontrak.

"Katanya nggak bangkrut kok, cuma ganti pemilik ajah." ungkap yang lain memberi pencerahan agar temannya tidak panik,

Nila menyimak dengan rasa penasaran, ada alasan apa? Kenapa tiba-tiba Rumah Katering dijual.

Padahal bisnis makanan mereka sangat menghasilkan bahkan tidak pernah sepi. Bisnis ini sudah bertahan hampir 10 tahun, namanya sudah terkenal di berbagai penjuru.

Lantas apa yang membuat pemiliknya rela menjual bisnis besar seperti ini?

"Nila," panggil supervisor dari belakang.

Gadis itu menoleh, "Iya?" mengangkat alis

"Kamu dipanggil sama bos,"

"Bos? Bu Lidya?" tanya Nila mengarah pada pemilik lama,

Ada perlu apa atasannya memanggil Nila yang hanya seorang anggota staff biasa.

"Bukan, Bu Lidya udah ga disini. Rumah Katering dijual, sekarang pemiliknya bukan Bu Lidya lagi."

"Siapa yang beli bu?" tanya karyawan lain, terdengar penasaran. 

"Keluarga Wijaya yang beli..."

"Ha? Keluarga Wijaya?" sontak Nila dalam hati, dibuat kaget oleh berita itu. Kenapa bisa keluarga Wijaya?

Mustahil terjadi kebetulan semacam ini, apalagi kejadiannya tepat setelah Nila menikahi. Mungkinkah ada kaitannya dengan Elang? 

"Kira-kira kenapa ya bu, kok saya dipanggil?"

"Waduh, saya juga ga tau." menggeleng pelan,

"Masa kakek yang beli?" pikir Nila sedikit ragu, apa ini karena Elang yang menolak bekerja di perusahaan, jadi kakek membelikan sebuah bisnis untuk mereka?

"Udah sana. Kasih kesan baik ke pemilik baru," sarannya singkat,

"Iya bu," ucap Nila menggangguk cepat, bergegas pergi.

Tidak ada waktu untuk menerka, daripada mengkhayalkan sesuatu yang belum pasti lebih baik Nila mencari tahu sendiri.

Lagipula dia pasti dipanggil karena suatu alasan, apakah atasan barunya benar-benar kakek?

Nila membuang nafas sedikit merasa gugup, dibukanya pintu ruang yang memang digunakan sebagai tempat istirahat saat pemilik berkunjung kesana.

"Hh?!" Matanya terbelalak,

Sial sekali, kenapa harus dia? Tak menyangka kalau pemilik yang dimaksud adalah Rangga. Mantan kekasihnya dulu,

Rasanya enggan sekali untuk masuk, tapi mau bagaimana lagi? Di tempat kerja Nila hanyalah karyawan biasa sedangkan Rangga adalah atasannya. 

"Jangan lupa, pintu ditutup." seru Rangga merasa berkuasa, tak henti menatap gadis yang maju mendekat.

Pria itu berdiri meninggalkan sofa, mengambil dua langkah untuk menghapus jarak di antara mereka.

"Sudah lama ga ketemu. Kamu makin cantik aja," bisik Rangga berusaha menggoda, 

"Tapi dari dulu, kamu emang udah cantik sih..." menatap dari kepala hingga ujung kaki,

Sepertinya dia sudah merencanakan semua ini, entah karena perasaaan yang masih tersisa atau sengaja mencari perkara.

Yang jelas Rangga tidak rela Nila bersama dengan pria lain. 

"Bu Gendis bilang, bapak memanggil saya. Ada perlu apa ya?" tanya Nila berbahasa formal, tak sudi bertatap mata.

"..." Rangga diam tak menjawab, hanya terus menatap yang membuat Nila merasa risih, 

Kepalanya tertunduk, perlahan Nila melangkah mundur. Sebenarnya apa yang pria itu inginkan?

"Aku cuma mau ngobrol. Ayo duduk," ajaknya merangkul paksa tubuh Nila untuk menempati sofa.

"Saya bisa sendiri," melepas paksa rangkulan yang menjerat punggungnya.

Mau beralasan apalagi? Nila berharap semua ini cepat berlalu, dadanya sesak ingin sekali keluar dari ruangan itu.

"Asal kamu tahu, aku kangen banget sama kamu..."

"Kira-kira udah berapa tahun ya kita ga ketemu?" lugas Rangga baru saja duduk,

"Sejak putus, aku selalu memikirkanmu. Aku mencari ke universitas mu, tapi mereka bilang kamu berhenti kuliah."

"Kamu juga ngeblokir nomorku dan menghilang begitu saja. Asal kamu tahu, aku sangat khawatir..."

Bersiap mengalungkan lengannya namun Nila sigap berpindah tempat, tampaknya sengaja menghindari jangkauan Rangga. 

"Saya tahu bapak atasan saya, tapi saya harus ingatkan kalau saya sudah menikah dengan kakak bapak. Jadi mulai sekarang kita adalah saudara ipar,"

"Tolong hormati itu," tegurnya dengan nada ketus,

"Tidak pantas kalau bapak berbicara terlalu dekat," 

BRAK!!!

Rangga memukul meja kayu dengan keras, dibuat kesal oleh ucapan tadi. Lagi-lagi pria buta itu menghalanginya,

Setelah kejadian pesta, Rangga sudah dimarahi habis-habisan oleh kakek dan diancam tidak mendapatkan hak waris. Lalu sekarang dia juga berani merebut Nila,  

"Kenapa kamu merusak suasana hatiku dengan membahasnya?!" menggertakkan gigi,

"Saya cuma mengingatkan, kalau ada batasan yang harus bapak tahu." sahut Nila bersikap tak acuh,

"Beraninya kamu... Kamu itu cuma bawahan! Kamu harus menuruti semua ucapanku," amuk Rangga meninggikan suara.

"Kalau bapak ga bisa menjaga batasan, untuk apa saya kerja disini?!"

"Jangan berteriak!" amuk Rangga semakin menjadi,

"Hari ini juga saya mengundurkan diri." tegas Nila bersungguh-sungguh.

Dibuat geram dengan sikap tantrum Rangga. Dari dulu tidak pernah berubah, selalu saja membuat keributan.

"Kamu ga bisa mengundurkan diri begitu saja! Cuma aku yang berhak menentukannya,"

"Terserah deh, yang penting mulai besok saya tidak mau masuk kerja." jawab Nila memberi penekanan, mulai melangkah pergi.

"Tunggu! Kamu ga boleh keluar dari sini. Aku belum selesai berbicara," pekiknya bersikeras, menatap punggung Nila yang semakin menjauh.

"Bisa apa suamimu? Dia itu cuma pria buta pengangguran. Mau makan apa kamu nanti?!"

"..." giginya menggertak kuat, tetap diam tak menyahuti. Hanya buang-buang waktu saja meladeni amukan Rangga yang tak ada habisnya,

Kesabaran Nila juga sudah melewati batas. Kalau ujung-ujungnya begini, seharusnya dari awal dia pergi saja tak usah meladeni pria itu.

Tak butuh waktu lama, Nila kembali ke rumah. 

"Arhg--bagaimana ini? Aku udah ga punya kerjaan." gerutunya mengacak-ngacak rambut.

Melempar tas yang dibawa lalu melemparkan diri ke atas sofa, merasa begitu letih dengan kejadian barusan. Semua itu benar-benar menguras habis semua energinya,

"Masih ada sisa uang dari beli rumah. Tapi aku ga mungkin terus-terusan ngandelin uang itu," bergumam lirih,

"Aku harus dapat kerjaan baru...Arhg!! padahal aku susah payah biar bisa kerja disana." ocehnya menggerutui nasib, mendongakkan kepala ke atas sofa.

Tidak ada lagi penyesalan, kalau dipikir keputusan Nila sudah tepat untuk pergi daripada nantinya harus berurusan dengan Rangga.

"..." Nila menghela nafas panjang, berganti posisi untuk berbaring menenangkan diri.

"Apes banget, kenapa sih harus berurusan sama dia lagi!"

"Padahal dia udah punya istri sama anak, tapi masih aja ganjen. Dasar buaya darat! Untung aja aku putus sama dia." 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!