Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Menyelesaikan Masalah.
"Baiklah, kita juga penasaran! Kalau menurutku memang ada yang sengaja buat masalah." Ucap salah satu teman satu kelompoknya.
"Mungkin mereka beranggapan kita masih sekolah mudah ditindas oleh mereka yang sudah berumur." Ucap nya lagi.
Tidak lama setelah itu rombongan Inara sampai ke posko tiga, yang membuat keributan.
"Mengapa terjadi keributan disini apa yang terjadi." Ucap Inara tegas ia sedikit meninggikan suaranya.
Lalu ia melihat kearah teman yang membagikan bantuan, meminta ia menjelaskan.
"Ibu ini tidak terima mendapatkan alat-alat tulis untuk putranya, sedangkan yang lainnya mendapatkan makanan juga alat masak padahal mereka memang membutuhkan itu, sedangkan ibu ini tidak!."
" dia juga ingin mendapatkan lebih seperti mereka padahal dalam data keluarga ibu ini sama sekali tidak mengalami kerugian apapun, rumah mereka tidak tertimbun atau rusak, peralaatan dapur perabotan rumah, pakaian semuanya lengkap lalu apa lagi yang ingin kita bantu?. Ucap teman itu.
"Benarkah!, coba aku lihat datanya, oh ya siapa namanya?." Inara mengambil dokumen di tangan teman itu, sambil bertanya siapa nama ibu yang berdebat.
"Ibu Ira nomor urut 47, disana sudah di tulis dengan lengkap aku tidak mungkin salah." Ucap teman itu sambil menunjukan dimana nama ibu ira yan tertulis di berkas tersebut.
Ibu ira yang diabaikan tambah marah, ingin menegur Inara karena sudah berani menyelanya saat berbicara juga menghentikannya.
Tetapi Inara melihat kearahnya dengan dingin datar tidak ada senyum sama sekali.
"A na kawu caliak! Jan ikuik campuwe, urusan ambo. 《Apa yang kamu lihat! Jangan ikut campur urusanku》 " Ucap Bu ira dengan bahasa daerahnya.
"Apakah namu mu ibu ira." Ucap Inara tegas jika tidak tegas mungkin dia dengan mudah ditindas oleh ibu-ibu desa yang menjunjung tinggi umur tuanya untuk menindas anak muda seperti nya.
"A kecek kawu ambo dak ngarati do!, Ira namo ambo, 《Apa yaang kamu katakan aku kurang paham! Ira itu namaku》 , " Ucap Ibu itu lagi ia kurang apa yang inara katakan.
Inara menghela nafas untuk bersabar menghadapi ibu-ibu desa.
"Ibu Ira, apo rumah ibu tatimbun tanah jatuah!. 《 ibu ira, apakah rumah ibu tertimbun oleh tanah longsor!》" Ucap Inara dengan tenang
"Indak 《tidak》" jawab Ibu Ira cepat, karena rumah nya memang utuh.
"Berarti umah ibu indak ado usak do kan! 《Berarti rumah ibu tidak rusak sama sekali!》 " ucap inara lagi, ibu itu menjawab iya, semua perlengkapan rumah nya lengkap.
"Jadi, ibu nio kami mambagikan samo rato nyo urang yang indak punyo apo-apo!. 《Jadi, ibu ingin juga sama seperti orang yang tidak memiliki apa-apa!.》" Ucap inara lagi.
"Mudah nyo, kami ambiak sado barang ibu sampai kosong, sudah tu baru kami membagi bantuan ko samo rato, karano ibu lah indak punyo apo-apo do lae. 《 mudah kok! Kami menyita semua barang ibu mengosongkan semua rumah ibu, setelah itu baru ibu bisa mendapatkan bantuan sama banyak dengan yang lainnya, karema ibu tidak punya apa-apa lagi.》 " Ucap Inara santai, kalang kabut lah ibu tersebut karena cemas karena barang-barang dirumah akan diambil.
"Manga kawu ambiak barang ambo, bisa ugi ambo. 《 kenapa kamu mengambil barangku, bisa rugi aku.》 " Ucap ibu itu dengan marah.
Inara hanya tersenyum lalu ia membalas itu ibu keras kepala itu lagi.
"Ibu Ira takuik ugi, tapi ma ambia hak urang lain, saharusnyo ibu basyukua karano umah ibu masih elok indak ado usak, sampai siko apo ibu ira lah paham, dima latak salah ibu. 《 ibu ira takut rugi, tapi mengambil hak milik orang lain, seharusnya ibu ira bersyukur karena rumah ibu tidak rusak sama sekali masih utuh! Sampai sekarang apakah ibu ira sudah paham, dimana kesalahan ibu?》 Ucap inara kepada ibu Ira.
"Yoyo, ugi na ambo nyo, baambiak lo isi umah ambo diambiak sado e, ambo dak nio do , ambo pulang nyo. 《 iya, bisa rugi bila isi rumahku diambil semua, aku tidak butuh lagi barang itu, aku pulang dulu.》 " Kata ibu Ira tidak mau berbagi karena ia merasa rugi.
"Ibu ira po ndak jadi isi umah dikosongkan, masih ado yang butuah salimuik dan baju. 《 ibu ira apakah tidak jadi mengosongkan rumahnya, karena masih banyak yang butuh selimut dan pakaian.》 " Ucap inara sambil berteriak memanggil bu Ira yang berlari kearah rumahnya.
Hahahaha inara hanya tertawa melihat Bu ira lari ketakutan, lalu ia melihat anak bu ira masih disana.
Anak-anak bu ira merasaka gugup karena tatapan Inara.
"Kakak maafkan ibuku, dia tidak tahu apa." Ucap putra Ibu ira sambil meminta maaf kepada Inara.
"Kamu putra ibu Ira, siapa namamu? Iya ibumu hanya keras kepala saja, lupakan saja aku juga tidak marah!" Ucap Inara saat melihat putranya bu Inara.
"Iya kak, namaku Andi aku baru duduk dibangku kelas VI SD kak!, terimakasih kak sudah memaafkan ibuku" Ucap Andi dengan pelan ia menundukkan kepalanya.
"Andi untuk apa kamu menunduk, apa aku terlihat menakutkan!." Ucap Inara sambil mengelus kepala Andi.
"Tidak kakak lucu!" Jawab Andi spontan lalu ia menutup mulutnya sambil menundukkan kepalanya lagi, karena ia tidak sengaja mengucapkan kata itu.
Inara hanya membesarkan matanya karena kesal kepada Andi, padahal dia tadi sudah berusaha tegas agar bu Ira ketakutan, tetapi walaupun begitu ia tetap membuat Bu Ira takut.
Hahaha bukan Inara yang ketawa tapi Kenzo, ia keluar dari tempat persembunyiannya, karena menurutnya perkataannya Andi benar Inara bukan menakutkan tapi terlihat lucu.
"Pergilah dan belajar dengan giat supaya pintar, kelak kamu bisa membahagiakan orang tua mu, ingat lebih baik kita miskin harta dari pada miskin Ilmu." Ucap kenzo kepada Andi, memintanya untuk pergi.
"Terimakasih kak, uda ( abang) aku pasti belajar dengan giat. " ucap Andi lagi, lalu ia mengejar ibunya tetapi ia di panggil Inara lagi.
"Andi berhenti!, kamu belum mengambil buku dan alat tulismu, belajarlah dengan giat supaya menjadi orang suskes." Ucap Inara sambil memberikan buku tulis dan alat tulis kepada Andi.
"Terimakasih kak, padahal ibuku sudah buat masalah, tapi aku masih mendapatkan ini." Ucap Andi sangat berterimakasih lalu mengambil pemberian dari Inara.
"Tidak apa-apa, jadikan kejadian ini sebagai pelajaran!." Ucap Inara lagi, setelah itu baru lah Andi benar-benar pergi dengan gembira.
Setelah Andi menjauh, dan pembagian bantuan kembali normal, Inara membawa Kenzo keluar dari posko tiga, supaya bisa mengontrol dengan santai.
"Bang Ken kenapa Kesini? Dan berapa hari abang disini?" Tanya inara ia memberikan beberapa pertanyaan.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?