NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin Yang Membakar

Pasca kemenangan telak di Underworld, suasana di sekitar Riser tidak lagi sama. Jika sebelumnya dia dianggap sebagai iblis kelas tinggi yang sombong dengan kekuatan yang bisa diprediksi, kini namanya menjadi momok sekaligus teka-teki bagi para petinggi klan. Namun, bagi Riser, semua medali dan pujian itu hanyalah kebisingan latar belakang. Fokusnya kini tertuju pada penguatan fondasi Peerage miliknya sebelum badai yang sebenarnya datang.

Riser berdiri di balkon apartemen mewahnya di dunia manusia. Kota Kuoh terlihat damai di bawah cahaya bulan, namun indra iblisnya yang telah tersinkronisasi dengan sistem merasakan adanya anomali.

"Yui, tunjukkan koordinat fluktuasi energi yang kau sebutkan tadi," batin Riser sambil menyesap kopi hitamnya.

[ Memindai Area... ]

[ Lokasi Terdeteksi: Area Pegunungan Utara, 15 kilometer dari pusat kota. ]

[ Jenis Energi: Kriokinesis tingkat ekstrem. ]

[ Catatan: Suhu di pusat anomali mencapai -50 derajat Celsius. Ini bukan fenomena alam biasa. ]

Es yang sangat dingin di tengah musim yang hangat... dia sudah ada di sini, pikir Riser. Senyum tipis muncul di wajahnya. Dia meletakkan cangkir kopinya dan berbalik, melihat Saeko yang sedang mengasah katananya di ruang tamu.

"Saeko, siapkan dirimu. Kita akan menjemput anggota baru," ujar Riser.

Saeko berdiri seketika, matanya berkilat penuh semangat. "Sesuai perintah, Tuanku. Apakah kali ini lawannya akan lebih tangguh dari Ksatria Gremory itu?"

"Mungkin saja. Dia bukan tipe yang akan tunduk hanya dengan kata-kata manis," jawab Riser.

Perjalanan menuju pegunungan utara dilakukan dengan cepat. Riser tidak menggunakan lingkaran sihir transportasi agar tidak menarik perhatian Sona Sitri yang mengawasi wilayah ini. Mereka bergerak menembus hutan dengan kecepatan iblis, melompati dahan pohon hingga akhirnya udara mulai terasa menusuk tulang.

Semakin mereka mendaki, pepohonan hijau mulai tertutup oleh lapisan es tipis. Kabut putih yang tebal menyelimuti pandangan, namun bagi Riser, kabut ini hanyalah gangguan kecil.

"Tahan di sini, Saeko," Riser mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengikutnya berhenti.

Di depan mereka, di sebuah tanah lapang yang sepenuhnya tertutup salju abadi, berdiri seorang wanita. Rambutnya panjang berwarna biru muda, mengalir seperti sungai es di punggungnya. Dia mengenakan seragam militer putih yang kontras dengan lingkungan sekitarnya. Tatapannya dingin, setajam pedang rapier yang tergantung di pinggangnya.

Esdeath.

Wanita itu tidak berbalik, namun dia tahu mereka ada di sana. "Jarang sekali ada makhluk yang berani mendekat ke zona perburuanku. Apa kalian datang untuk menjadi mangsaku, atau kalian hanya pengembara yang tersesat?"

Riser melangkah maju, membiarkan energi panas Phoenix-nya terpancar sedikit untuk menetralkan hawa dingin di sekitarnya. "Aku tidak pernah tersesat, Esdeath. Aku datang karena aku tahu kau sedang mencari sesuatu yang bisa memuaskan hasrat bertarungmu."

Esdeath berbalik perlahan. Sebuah seringai predator muncul di wajah cantiknya saat dia merasakan tekanan aura dari Riser. "Oh? Seorang iblis? Dan kau tahu namaku. Menarik. Tapi di duniaku, hanya yang kuat yang berhak bicara."

[ Sinkronisasi Jiwa: 58% ]

[ Target: Esdeath. ]

[ Status: Haus akan pertempuran. ]

[ Saran: Jangan gunakan api dulu. Tunjukkan bahwa kekuatan fisikmu sanggup menahan kedinginannya. ]

"Saeko, biar aku yang menanganinya. Jangan ikut campur kecuali aku memintanya," perintah Riser tanpa menoleh.

"Baik, Tuanku," jawab Saeko, meskipun tangannya sudah menggenggam erat gagang katananya.

Esdeath menghunus rapierya. Dengan satu sentakan tangan, ribuan jarum es raksasa tercipta di udara, mengarah tepat ke jantung Riser. "Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan sebelum menjadi patung es di koleksiku!"

Wush! Wush! Wush!

Jarum-jarum es itu meluncur dengan kecepatan sonik. Riser tidak menghindar. Dia merentangkan tangannya, dan dengan gerakan Full Counter yang sangat halus, dia menangkap momentum jarum-jarum tersebut.

Krak!

Bukannya hancur, jarum-jarum es itu justru berhenti di depan Riser dan berbalik arah, meluncur kembali ke arah Esdeath dengan kecepatan ganda.

Esdeath melebarkan matanya, sedikit terkejut, namun segera menciptakan dinding es tebal untuk menahan serangannya sendiri. BUM! Ledakan es terjadi, menciptakan debu salju yang membutakan.

"Teknik yang unik," suara Esdeath terdengar dari balik kabut salju. "Kau membalikkan kekuatanku? Hebat. Tapi, bagaimana dengan ini?"

Esdeath menghentakkan kakinya ke tanah. Seketika, seluruh area di bawah kaki Riser membeku, mencoba mengunci gerakannya. Di saat yang sama, Esdeath melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa, ujung rapierya mengincar tenggorokan Riser.

Riser menyeringai. Dia tidak menggunakan api untuk mencairkan es itu. Dia hanya mengencangkan otot kakinya dan meledakkan kekuatan fisik Meliodas-nya.

PRAK!

Lantai es itu hancur berkeping-keping. Riser menangkap bilah rapier Esdeath dengan dua jarinya—sebuah penghinaan terang-terangan terhadap teknik pedang wanita itu.

"Kau punya potensi yang luar biasa, Esdeath," bisik Riser, wajahnya hanya terpaut beberapa sentimeter dari Esdeath. "Tapi kau bertarung tanpa tujuan yang jelas. Bergabunglah denganku, dan aku akan memberimu medan perang yang tidak akan pernah berakhir."

Esdeath merasakan panas yang menjalar dari jari Riser ke pedangnya. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena dia akhirnya menemukan seseorang yang bisa mendominasinya.

[ Loyalitas Esdeath: 10% (Tertarik) ]

[ Komentar Yui: Dia menyukai pria yang lebih kuat darinya. Kamu sedang berada di jalur yang benar, Dasar Penakluk. ]

Hening menyelimuti pegunungan utara setelah Riser menangkap bilah rapier Esdeath hanya dengan dua jari. Butiran salju yang jatuh seolah terhenti di udara, terjebak di antara benturan hawa panas Phoenix dan dinginnya atmosfer yang diciptakan Esdeath. Wanita berambut biru itu menatap jari-jari Riser dengan tatapan yang beralih dari keterkejutan menjadi kegembiraan yang murni dan gila.

"Menangkap senjataku dengan tangan kosong?" Esdeath tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun membawa kedinginan yang menusuk tulang. "Kau benar-benar makhluk yang sombong, Iblis. Tapi kau lupa satu hal... menyentuh apa pun yang berhubungan denganku berarti membiarkan dirimu dilahap oleh es."

Seketika, embun beku merambat dari bilah rapier menuju jari Riser, mencoba membekukan aliran darah dan sarafnya. Namun, Riser hanya tersenyum tipis. Tanda kegelapan di dahinya berpendar ungu pekat, dan suhu tubuhnya melonjak drastis hingga es yang menyentuh kulitnya langsung menguap menjadi uap panas yang mendesis.

"Esmu tidak akan bisa membekukan api yang membakar dari dalam jiwa, Esdeath," ucap Riser tenang.

Esdeath menarik pedangnya dengan sentakan kuat, melompat mundur sepuluh meter. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar ke langit. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah kau bisa tetap hangat di dunia yang berhenti berputar! Mahapadma!"

Dunia mendadak kehilangan warnanya. Ruang dan waktu di sekitar area tersebut membeku secara absolut. Angin berhenti berhembus, salju tergantung kaku di udara, dan bahkan Saeko yang berdiri di kejauhan tampak mematung seperti patung lilin. Ini adalah teknik kartu truf Esdeath yang mampu membekukan waktu itu sendiri.

Esdeath melangkah perlahan di atas salju yang membeku, mendekati Riser yang juga tampak diam tak bergerak. Dia mengangkat rapierya, mengarahkannya tepat ke jantung Riser. "Kau pria yang menarik, tapi sayang sekali, perjalanannya berakhir di sini—"

"Berakhir? Aku baru saja mulai menikmati suasananya."

Mata Esdeath membelalak. Riser menggerakkan kepalanya perlahan, menatap langsung ke arahnya. Tubuh Riser tidak membeku; sebaliknya, aura biru-hitam yang menyelimutinya justru semakin padat, menciptakan distorsi ruang yang menolak efek Mahapadma.

[ Peringatan: Manipulasi Ruang-Waktu Terdeteksi. ]

[ Protokol: Integrasi Kekuatan Meliodas Level 2 - Anti-Command. ]

[ Status: Kamu kebal terhadap pembekuan waktu selama 10 detik. ]

"Bagaimana mungkin?!" Esdeath berteriak, sesuatu yang jarang dia lakukan. Dia mencoba menusukkan pedangnya, namun Riser jauh lebih cepat.

Riser melepaskan tangan dari saku celananya. Dengan satu gerakan flick jari yang membawa energi gravitasi, dia menghantam dada Esdeath.

BUM!

Efek Mahapadma hancur seketika saat waktu kembali berjalan. Esdeath terlempar ke belakang, menabrak dinding gunung es hingga hancur berkeping-keping. Dunia kembali berwarna, dan Saeko tersentak saat menyadari bahwa posisi Riser dan Esdeath sudah berubah dalam sekejap mata.

Riser tidak membiarkan lawannya bernapas. Dia mengepakkan sayap api birunya, melesat ke arah reruntuhan gunung es. Saat debu salju menipis, terlihat Esdeath mencoba bangkit, darah tipis mengalir dari sudut bibirnya—sebuah pemandangan yang justru membuatnya terlihat semakin cantik dan berbahaya.

"Lagi... berikan aku lebih banyak lagi!" Esdeath berteriak, wajahnya memerah karena gairah pertempuran. Dia menciptakan ribuan kavaleri es raksasa yang muncul dari tanah, menyerbu Riser secara bersamaan.

Riser mendarat di tengah kerumunan tentara es itu. Dia tidak menghindar. Dia hanya menarik napas dalam-dalam, membiarkan energi Phoenix dan kegelapan menyatu di telapak tangannya.

"Tori Tori no Mi: Prominence Burst."

Ledakan api biru-gelap meluas dalam bentuk lingkaran sempurna, menguapkan seluruh kavaleri es dalam sekejap dan mengubah area pegunungan yang tadinya bersalju menjadi hamparan tanah gersang yang membara. Suhu meningkat drastis hingga mencapai ribuan derajat dalam hitungan detik.

Esdeath berdiri di pusat panas itu, napasnya terengah-engah. Rapierya telah patah, dan sebagian seragam militernya hangus. Namun, matanya tidak lagi menunjukkan kebencian. Ada rasa kagum dan ketundukan yang mulai tumbuh di sana.

Riser berjalan menembus sisa-sisa api, berhenti tepat di depan Esdeath. Dia mengulurkan tangannya, kali ini bukan untuk menyerang, melainkan untuk membantu wanita itu berdiri.

"Duniaku adalah tempat di mana yang kuat memerintah, dan yang lemah dilindungi agar bisa menjadi kuat," ucap Riser, suaranya dalam dan penuh wibawa. "Kau mencari seseorang yang bisa menaklukkanmu, bukan? Seseorang yang bisa menjadi tempatmu bersandar saat pedangmu tidak lagi cukup? Aku adalah orangnya."

Esdeath menatap tangan Riser, lalu menatap matanya yang memancarkan dominasi absolut. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Jenderal Es merasakan sensasi yang asing di dadanya—rasa kagum yang berujung pada keinginan untuk mengabdi.

Dia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Riser. "Kau... kau adalah monster yang luar biasa. Jika kau bisa menghancurkan es di hatiku, maka nyawa dan pedangku adalah milikmu, Tuan Riser."

[ Sinkronisasi Jiwa: 60% ]

[ Rekrutmen Berhasil: Esdeath (Rook). ]

[ Loyalitas Esdeath: 45% (Sangat Tertarik/Patuh). ]

[ Komentar Yui: Selamat, kamu baru saja mendapatkan 'Monster' yang sebenarnya ke dalam Peerage-mu. Aku harap tempat tidurmu di kastel cukup kuat untuk menahannya nanti. ]

Riser menyeringai, menarik Esdeath ke dalam pelukannya sejenak sebelum berbalik menghadap Saeko yang mendekat. "Kita punya tim yang semakin lengkap. Saeko, perkenalkan rekan barumu. Esdeath, selamat datang di fajar baru klan Phenex."

Malam itu, di puncak gunung yang kini tak lagi bersalju, Riser merasakan kekuatannya bergetar. Dengan Esdeath sebagai Rook-nya, dia tahu bahwa tidak ada satu pun kekuatan di Underworld atau dunia manusia yang bisa menghentikannya sekarang.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!