Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Ruang Tanpa Batas(fix)
Darah menetes dari bibir Fang Yuan, membasahi tanah Gunung Awan yang dingin.
Di bawah injakan kaki Bai Lie, jari-jari tangannya yang patah mengeluarkan rasa sakit yang berdenyut hingga ke sumsum tulang.
Namun, di tengah siksaan itu, mata Fang Yuan tetap terpaku pada Mutiara Petir yang tergeletak hanya sejangkauan lengan darinya.
"Kau pikir ... kau sudah menang?" bisik Fang Yuan, suaranya parau tertutup cairan merah.
Bai Lie tertawa meremehkan. "Kematianmu sudah di depan mata, Nak. Masih sempat-sempatnya kau membual?"
Tanpa memedulikan rasa sakit yang menghancurkan syarafnya, Fang Yuan mengerahkan seluruh sisa Qi Yin dan Yang di dalam Dantiannya.
Ia tidak tahu mantra, tidak tahu segel tangan, dan tidak tahu cara kerja artefak tingkat tinggi ini. Baginya, ini hanyalah satu lagi percobaan dari seribu kegilaan.
Ia menjangkau Mutiara Petir itu dengan tangan yang gemetar. Begitu kulitnya bersentuhan dengan permukaan mutiara yang dingin namun bergetar, Fang Yuan menyuntikkan seluruh energinya secara paksa—kasar, liar, dan tanpa kendali.
"Hancurlah bersamaku!" raung Fang Yuan.
ZAP!
Mutiara itu tidak meledak seperti bom. Sebaliknya, ia mengeluarkan suara berdenging yang begitu tinggi hingga memekakkan telinga.
Ruang di sekitar Fang Yuan dan Chi Yan Zhu mendadak terdistorsi, meliuk-liuk seperti pantulan air yang terganggu.
"Apa?!" Bai Lie terbelalak. Ia mencoba menghantamkan pedangnya untuk menghentikan proses itu, namun senjatanya hanya menembus udara kosong.
Dalam sekejap mata, pilar cahaya ungu raksasa menelan tubuh Fang Yuan dan babi hutan raksasa itu. Detik berikutnya,hening.
Bai Lie berdiri terpaku di tengah lumpur. Di depannya, tempat di mana Fang Yuan tergeletak tadi kini hanya menyisakan lubang hangus berbentuk lingkaran sempurna.
Tidak ada mayat, tidak ada darah baru, dan yang paling penting—tidak ada Mutiara Petir.
"TIDAAAAAAAK!"
Raungan Bai Lie mengguncang lereng Gunung Awan.
Ia mengayunkan pedang hijaunya dengan kalap, menebas bebatuan dan pepohonan di sekitarnya hingga hancur berkeping-keping.
"BERANINYA KAU! KEMBALI KAU, TIKUS KECIL! AKAN KUCINCANG TUBUHMU MENJADI SEJUTA KEPING!"
Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena murka. Harta yang ia cari selama sepuluh tahun, yang sudah ada di depan mata, menguap begitu saja bersama seorang bocah ingusan.
Bai Lie terus berteriak ke arah langit, namun hanya gema suaranya sendiri yang membalas.
Di sisi lain, Fang Yuan merasakan tubuhnya ditarik dan dipelintir melalui lorong yang sangat sempit sebelum akhirnya dihempaskan ke tempat yang mustahil.
Ia tidak lagi merasakan tanah. Ia tidak lagi mendengar suara hujan atau teriakan Bai Lie.
Fang Yuan membuka matanya perlahan. Ia terkesiap. Ia berada di sebuah ruang tanpa batas.
Di bawah kakinya bukan tanah, melainkan hamparan gelap yang dihiasi oleh jutaan bintik cahaya berkilauan.
Nebula berwarna ungu dan biru berputar pelan di kejauhan, menciptakan pemandangan galaksi yang luar biasa indah namun mencekam.
"Di mana ... aku?"
Ia melihat ke samping. Chi Yan Zhu ada di sana, melayang-layang dengan bingung. Anehnya, babi hutan itu tidak lagi mengerang kesakitan; luka-lukanya seolah membeku dalam waktu.
Fang Yuan menyentuh dadanya. Rasa sakit dari rusuknya yang patah masih ada, namun denyutnya terasa sangat lambat—seperti satu detak jantung setiap satu menit.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan gerakannya terasa berat, seolah ia bergerak di dalam cairan kental yang tak terlihat.
"Waktu ..." bisik Fang Yuan.
Ia menyadari sesuatu yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Di tempat ini, aliran waktu tidak berjalan normal.
Ia bisa melihat partikel debu yang melayang di depannya bergerak dengan kecepatan yang nyaris berhenti.
Mutiara Petir itu kini melayang dengan tenang di tengah dadanya, memancarkan cahaya lembut yang menyelimuti dirinya dan Chi Yan Zhu.
"Mutiara ini bukan senjata ... ini adalah sebuah dunia," Fang Yuan bergumam, matanya merefleksikan jutaan bintang. "Dunia di mana waktu berjalan jauh lebih lambat daripada di luar sana."
Ia mencoba berjalan, namun tidak ada arah 'atas' atau 'bawah'. Ia terjebak di dalam penjara paling indah di alam semesta.
"Bai Lie mungkin masih mencariku di luar sana, tapi bagiku, sedetik di luar mungkin adalah berjam-jam di sini. Aku tidak bisa keluar ... tapi setidaknya aku punya waktu."
Fang Yuan duduk bersila di tengah kekosongan galaksi tersebut. Wajahnya yang kotor dan berdarah kini tampak tenang di bawah sinar bintang.
Ia tahu, ini adalah kesempatan emas yang dibayar dengan harga yang mahal.
Jika ia tidak bisa keluar, maka ia akan menjadi lebih kuat di sini sampai ia mampu menghancurkan dinding dimensi ini dengan tangannya sendiri.
"Baiklah ... mari kita lihat seberapa jauh aku bisa melangkah dalam keabadian ini."
Fang Yuan kini aman dari Bai Lie, namun ia terkurung dalam dimensi waktu yang melambat.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.