NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN PARA SERIGALA

Pagi itu, kediaman Zhang berubah menjadi sibuk luar biasa. Karpet merah dibentangkan di aula utama, dan aroma bunga lili putih—bunga favorit Lin Mei Hua—memenuhi setiap sudut ruangan. Hari ini adalah upacara penghormatan leluhur sekaligus perjamuan tertutup bagi keluarga besar Zhang. Bagi dunia luar, ini adalah acara rutin. Namun bagi Alya, ini adalah hari di mana ia akan diperkenalkan kepada Zhang Wei Guo dan Madam Liu Xian, orang tua Zhang Liang yang legendaris sekaligus menakutkan.

Alya berdiri di depan cermin besar, sementara dua pelayan sibuk merapikan gaun cheongsam modern berwarna biru gelap yang dikenakannya. Gaun itu sangat ketat, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang mulai berisi akibat ramuan-ramuan yang dipaksakan padanya. Kerahnya yang tinggi terasa mencekik, seolah-olah gaun itu sendiri mencoba menghentikannya untuk bernapas.

"Nyonya Muda, jangan terlalu tegang. Madam Liu Xian sangat memperhatikan postur tubuh," bisik salah satu pelayan.

Alya hanya mengangguk kecil. Wajahnya dipoles dengan riasan tipis, namun matanya yang besar tetap memancarkan kecemasan yang mendalam. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Zhang Liang masuk dengan setelan tuxedo hitam yang sempurna. Ia tampak luar biasa tampan, namun aura di sekelilingnya begitu berat hingga suhu ruangan seolah turun beberapa derajat.

Liang menatap Alya dari pantulan cermin. Untuk sesaat, langkahnya terhenti. Ada kilatan aneh di matanya saat melihat Alya dalam balutan pakaian tradisional keluarganya—sebuah perpaduan antara kemurnian dan sensualitas yang mengganggu pikirannya. Namun, ia segera berdehem.

"Ingat, Alya. Jangan bicara kecuali ditanya. Jika ibuku memberikan teh, terima dengan kedua tangan. Jangan mempermalukan aku di depan ayahku," ucap Liang dingin.

"Baik, Mas Liang," jawab Alya pelan.

Aula utama sudah dipenuhi oleh kerabat jauh keluarga Zhang. Di ujung ruangan, di atas kursi kayu jati berukir naga, duduklah Zhang Wei Guo. Wajahnya penuh kerutan namun matanya tajam seperti belati. Di sampingnya, Madam Liu Xian duduk dengan keanggunan seorang permaisuri, mengenakan perhiasan giok yang nilainya mungkin cukup untuk membeli satu blok perumahan.

Saat Liang dan Alya melangkah mendekat, kebisingan di ruangan itu mendadak hilang. Semua mata tertuju pada Alya. Bisik-bisik mulai terdengar, seperti desisan ular.

"Jadi ini... gadis pembawa benih itu?" suara Zhang Wei Guo menggelegar, meskipun ia bicara dengan nada rendah.

Liang membungkuk hormat. "Ayah, Ibu. Ini Alya Pramesti."

Alya mengikuti gerakan Liang, membungkuk sedalam mungkin hingga punggungnya terasa kaku. "Hormat saya, Tuan Besar, Nyonya Besar."

Madam Liu Xian menyesap tehnya perlahan, tidak segera menyuruh Alya berdiri. Ia membiarkan gadis itu membungkuk dalam posisi yang tidak nyaman selama hampir satu menit, sebuah ujian kekuatan fisik dan mental yang halus.

"Wajahnya... terlalu biasa," ucap Madam Liu Xian akhirnya, suaranya jernih namun tajam. "Tapi rahimnya, menurut laporan Dr. Huang, sedang dalam kondisi prima. Masuklah ke lingkaran, Gadis. Mari kita lihat apakah kau cukup pantas memikul nama Zhang, meski hanya sementara."

Sepanjang perjamuan, Alya merasa seperti hewan di dalam kebun binatang. Ia harus berdiri di belakang Liang, tidak diizinkan duduk di meja utama. Di seberang meja, ia melihat Lin Mei Hua duduk dengan wajah pucat yang anggun, sesekali mengusap dada seolah menahan sakit, memicu rasa simpati dari semua kerabat yang hadir.

Mei Hua menatap Alya dan memberikan senyum kecil yang terlihat manis bagi orang lain, namun bagi Alya, itu adalah peringatan.

Suasana semakin tegang ketika ketiga sahabat Liang—Wei Jun, Han Zhihao, dan Luo Cheng—masuk ke ruangan. Kehadiran mereka membawa energi yang berbeda. Mereka adalah "Empat Pilar Naga Timur", dan keberadaan mereka bersama selalu menandakan bahwa ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

Wei Jun melangkah mendekat ke meja utama, memberikan penghormatan pada orang tua Liang, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Alya yang berdiri di pojok. "Tuan Wei Guo, Anda memiliki 'tambahan' baru yang sangat menarik di keluarga ini," ucapnya dengan nada provokatif.

Luo Cheng, dengan gaya khasnya yang berapi-api, mendengus. "Jangan sebut dia 'tambahan', Jun. Dia manusia, bukan perabot." Luo Cheng menatap Liang dengan tajam. "Kau beruntung, Liang. Gadis ini sepertinya punya kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi keluargamu yang kaku ini."

Sementara itu, Han Zhihao tetap diam. Ia berdiri sedikit lebih jauh, menyesap minumannya sambil sesekali melirik jam tangan pintarnya. Tidak ada yang tahu bahwa di pergelangan tangannya, Zhihao sedang memantau detak jantung Alya yang dikirimkan oleh sensor yang diam-diam ia tanam di ponsel Alya yang kini berada di tas kecilnya.

115 detak per menit, batin Zhihao. Dia sedang ketakutan setengah mati.

Zhihao merasa dorongan untuk menarik Alya keluar dari sana, namun ia tahu itu mustahil. Ia hanya bisa menatap layar kecilnya, menjadi pengamat sunyi dari penderitaan gadis itu.

Saat jamuan makan dimulai, seorang kerabat jauh, seorang wanita paruh baya yang haus perhatian, sengaja menjatuhkan sapu tangannya di dekat kaki Alya.

"Oh, Sayang, bisakah kau ambilkan untukku? Aku dengar kau sudah terbiasa melayani orang lain sebelum masuk ke sini," ucap wanita itu dengan nada menghina.

Ruangan itu hening. Liang tetap memotong steaknya, tidak bergerak untuk membela. Mei Hua justru menutup mulutnya dengan tangan, tampak terkejut namun tidak berkata apa-apa.

Alya merasa wajahnya memanas. Dengan tangan gemetar, ia membungkuk untuk mengambil sapu tangan itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh lantai, sebuah sepatu kulit mahal menginjak sapu tangan tersebut.

Itu adalah Luo Cheng.

"Ambil sendiri, Bibi. Tangannya terlalu berharga untuk menyentuh barang murahanmu," ucap Luo Cheng dingin. Ia menendang sapu tangan itu kembali ke arah wanita tadi.

"Cheng! Jaga bicaramu!" bentak Zhang Wei Guo.

"Aku hanya menjaga martabat keluarga Zhang, Tuan Besar," sahut Luo Cheng tanpa rasa takut. "Bukankah dia akan melahirkan pewaris Anda? Jika ibunya diperlakukan seperti pelayan, apa kata dunia tentang anak yang akan dilahirkannya nanti?"

Alya menatap Luo Cheng dengan rasa terima kasih yang mendalam, namun ia juga melihat wajah Liang yang semakin menggelap. Liang tidak suka jika orang lain mengambil perannya, meskipun ia sendiri tidak berniat membela Alya.

Setelah makan malam, Madam Liu Xian memanggil Alya ke ruang pribadinya. Ruangan itu dipenuhi dengan foto-foto leluhur dan aroma dupa yang berat.

"Duduklah," perintah Madam Liu Xian.

Alya duduk di kursi kayu yang keras.

"Aku tahu kesepakatanmu dengan Liang. Lima puluh juta rupiah? Begitu murah harga seorang gadis jaman sekarang," Madam Liu Xian tertawa kecil yang terdengar merendahkan. "Tapi dengar ini. Setelah bayi itu lahir, kau akan diberikan bonus lima ratus juta. Tapi kau harus menghilang. Selamanya. Kau tidak boleh mencari anak itu, dan anak itu tidak akan pernah tahu bahwa ibunya adalah seorang gadis miskin sepertimu."

Alya merasakan sesak di dadanya. "Tapi... mereka anak-anak saya, Nyonya..."

"Mereka adalah darah Zhang!" bentak Madam Liu Xian, memukul meja dengan kipasnya. "Kau hanya perantara. Jangan pernah berpikir untuk memiliki ikatan emosional. Jika kau mencoba membawa mereka lari atau mengklaim hak asuh, aku sendiri yang akan memastikan kau dan keluargamu berakhir di selokan."

Alya keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Ia berlari menuju taman, mencari tempat yang gelap untuk menangis. Ia merasa seperti hewan ternak yang sedang dipersiapkan untuk disembelih setelah diambil manfaatnya.

Di bawah bayangan pohon willow besar, ia tersedu-sedu. Tiba-tiba, sebuah sapu tangan bersih diulurkan ke arahnya.

Alya mendongak dan melihat Wei Jun berdiri di sana. Wajahnya yang biasanya sinis kini tampak sedikit melunak.

"Menangislah, Alya. Di rumah ini, air mata adalah satu-satunya hal yang benar-benar milikmu," ucap Wei Jun pelan. Ia berjongkok di depan Alya. "Tapi ingat, jangan menangis terlalu lama. Serigala-serigala di dalam sana sangat menyukai bau kelemahan."

Alya menerima sapu tangan itu. "Kenapa Tuan-tuan ini begitu baik pada saya... tapi Mas Liang tidak?"

Wei Jun tersenyum pahit, tangannya terangkat seolah ingin menghapus air mata di pipi Alya, namun ia menariknya kembali. "Karena Liang terlalu takut untuk mengakui bahwa dia membutuhkanmu lebih dari sekadar untuk seorang anak. Dan kami? Kami hanya pria-pria yang tahu bagaimana menghargai berlian, meski ia tertutup lumpur."

Malam itu, Alya kembali ke kamarnya dengan perasaan yang semakin hancur. Namun di tengah kehancuran itu, ada benih keberanian yang mulai tumbuh. Ia menyadari bahwa ia dikelilingi oleh pria-pria berbahaya yang masing-masing menginginkan sesuatu darinya. Ia harus belajar meniti tali yang sangat tipis ini, atau ia akan jatuh dan hancur berkeping-keping.

Tanpa sepengetahuannya, di lantai atas, Lin Mei Hua memperhatikan interaksi Alya dan Wei Jun dari balkon. Ia menggenggam pagar besi dengan kuat hingga buku jarinya memutih.

"Alya... kau mulai menjadi ancaman," bisik Mei Hua. "Saatnya mempercepat rencana kedua."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!