Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang yang sama
Ruang rapat utama Wijaya Kusuma Group dipenuhi staf inti pagi itu. Suasananya formal, rapi, dan penuh rasa penasaran. Semua orang tahu Wijaya akan bertolak ke New York, tapi belum ada yang tahu secara pasti siapa yang akan menggantikannya.
Pintu terbuka.
Wijaya masuk lebih dulu, diikuti seorang pria tinggi di belakangnya.
Sekejap, ruangan terasa sunyi.
Pria itu mengenakan setelan hitam sederhana, rambutnya rapi, posturnya tegap. Wajahnya… terlalu sempurna untuk ukuran seorang direktur muda. Kulit putih bersih, rahang tegas, sorot mata tajam yang membuat siapa pun refleks meluruskan duduk.
“Perkenalkan,” ujar Wijaya dengan suara mantap, “ini Arka Pratama. Mulai hari ini, dia akan menggantikan saya sebagai Direktur Utama di Wijaya group ini.”
Bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.
“Ganteng banget…” “Masih muda…” “Serius ini direktur?”
Namun Arka hanya berdiri tenang. Wajahnya datar. Tidak ada senyum. Tidak ada gestur ramah. Aura dingin dan berwibawa menyelimuti dirinya.
Di sisi kanan ruangan, seorang wanita dengan rambut sebahu dan senyum manis membeku di tempat duduknya.
Namanya Sintia.
Sekretaris pribadi Wijaya.
Dan detik itu juga, jantungnya lupa cara berdetak normal.
Astaga…
Ini manusia atau patung museum?
Sintia menelan ludah. Selama ini ia sudah terbiasa bertemu pria-pria penting, pengusaha, pejabat, bahkan selebritas. Tapi Arka berbeda. Ada sesuatu dari caranya berdiri—tenang, dingin, seolah dunia tidak perlu berisik di sekitarnya.
“Mulai hari ini,” lanjut Wijaya, “Sintia akan menjadi sekretaris pribadi Arka.”
Arka menoleh sedikit.
Pandangan mereka pun bertemu.
Sintia tersenyum—manis, profesional… dan jujur saja, sedikit gugup.
“Saya Sintia,” ucapnya. “Senang bekerja sama dengan Anda, Pak Arka.”
Arka mengangguk singkat. “Terima kasih.”
Hanya itu.
Satu kalimat saja.
Namun cukup membuat hati Sintia jatuh bebas.Sementara staf lain hanya bisa mengagumi dari kejauhan—pria tampan, pintar, dingin, dan kini menjadi direktur. Kombinasi yang terlalu berbahaya.
Arka tidak memperhatikan reaksi siapa pun. Fokusnya hanya satu: pekerjaan yang menunggu dan hidup yang—sekali lagi—harus ia atur ulang.
Sore itu, Lara pulang ke rumah hanya untuk mengambil koper.
Ia berdiri di kamarnya yang masih penuh poster lama dan rak buku yang berantakan. Ruangan itu sudah melewati banyak fase hidupnya, termasuk fase di mana ia berhenti menunggu seseorang yang tidak pernah kembali.
Ia berdiri sebentar di depan cermin.
Kaos oblong putih. Celana jeans. Rambutnya dibiarkan tergerai alami.
“Biasa aja,” gumamnya pada pantulannya sendiri. “Tenang, Lara. tidak perlu cemas.”
Namun jantungnya berkata lain.
Deg. Deg. Deg.
Wijaya mengirimkan share lokasi apartemen Arka ke ponselnya. Lara menatap alamat itu lama sebelum akhirnya memesan transportasi online.
Sepanjang perjalanan, pikirannya kacau.
Arka seperti apa sekarang?
Apakah Masih dingin?,masih galak?,masih tidak suka di ganggu?
Lara membayangan semua sepanjang perjalanan dan tanpa sadar mobilnya sudah behenti di depan lobi apartemen yang di tuju.
Lara berdiri di depan sebuah apartemen tinggi dan modern. Tangannya mencengkeram gagang koper sedikit lebih kuat dari seharusnya.
Di depan pintu unit, ia menarik napas panjang.
“Tenang,” katanya pada dirinya sendiri. “Santai aja Lara.”
Ia menekan bel.
Dua detik.
Tiga detik.
Pintu terbuka.
Dan dunia Lara berhenti berputar.
Di hadapannya berdiri seorang pria… terlalu tampan untuk logika sehat.
Rambut Arka basah, jelas baru selesai mandi. Beberapa helai jatuh ke dahi. Kaos hitam polos menempel di tubuh atletisnya. Air masih menetes di lehernya.
Astaga.
Ini paman aku?
Atau aku salah lantai?
Lara menatap. Terlalu lama.
Arka juga terdiam.
Gadis di depannya… bukan Lara kecil yang dulu selalu bertanya tanpa jeda. Ini Lara versi dewasa—cantik, segar, dengan mata besar yang masih sama polosnya.
“Ehm…” Lara menunjuk dirinya sendiri. “Ini… apartemen paman Arka, kan?”
Arka berkedip. “Iya.”
“Oh syukurlah.” Lara menghela napas. “Kirain aku salah pintu. Soalnya yang buka… beda.”Lara mencoba mencairkan suasana.
Arka mengernyit. “Beda?”
Arka menatap Lara dengan intens. “Masuklah”
“Oh, iya.” Lara nyengir.
Lara menyeret kopernya masuk dalam apartemen yang tidak terlalu luas namun terkesan mewah,Lara mengedarkan pandangannya dan sesekali mencuri-curi pandang.
Arka menutup pintunya. “Kamar tamu ada di sebelah kiri.”
“Oke!” jawab Lara ceria—kembali ke mode normalnya.
Ia berhenti sebentar. Menoleh. “ eh—paman.”
Arka mengangkat alis.
“Paman pulang ke indo kok nggak ngabarin” tanya Lara polos.
Arka menatapnya. “Aku sibuk,nggak sempat"
“Oh.” Lara mengangguk. “
"waahh..apaan tuh,dingin banget." Gumam Lara nyaris tak terdengar.
Lara mengerucutkan bibirnya tanda kesal,mana ada seorang tamu diperlakukan kayak gini, di cuekin.
Lalu akhirnya menyeret kopernya dan masuk ke ruangan itu.
Arka sempat melirik, nyaris tersenyum. Tapi segera ia kembali ke ekspresi dinginnya. Anak ini… tetap sama... tidak berubah.
Dan di antara jarak yang tercipta bertahun-tahun itu, satu hal menjadi jelas bagi mereka berdua:
Tinggal bersama tidak akan sesederhana yang mereka kira.
Malam itu, Lara berbaring di kamar tamu dengan lampu tidur menyala redup. Kasurnya empuk, seprai masih beraroma baru—dan entah kenapa, aroma lain ikut menyelinap.
Wangi parfum Arka.
Maskulin, bersih, samar tapi menetap.
Lara memiringkan tubuh, lalu berguling pelan. Sekali. Dua kali.
“Kenapa baunya masih ada sih…” gumamnya, setengah protes, setengah menikmati.
Ia menutup wajah dengan bantal, tapi itu tidak membantu. Ingatannya malah berlari ke sore tadi—ke momen pintu terbuka, ke rambut basah Arka, ke cara pria itu berdiri seperti tidak berubah tapi jelas bukan orang yang sama.
Pamanku kok jadi gini ya…
Dulu dingin. Sekarang dingin… tapi beda.
Lara berguling lagi, menatap langit-langit.
Ia teringat tatapan Arka saat pertama kali melihatnya. Singkat. Terkejut. Lalu tertahan. Seperti seseorang yang tidak siap membuka pintu masa lalu yang sudah ia kunci rapat.
“Kenapa deg-degan sih, Lara,” bisiknya pada diri sendiri. “Kan cuma ketemu lagi.”
Namun tubuhnya tidak sepakat.
Aroma parfum itu kembali tercium, membuat dadanya terasa hangat aneh—bukan canggung, bukan juga nyaman sepenuhnya. Sesuatu di antaranya.
Lara menarik selimut lebih tinggi.
Mungkin karena capek, pikirnya.
Atau karena rumah ini bukan rumah.
Atau karena orang di balik pintu itu.
Di ruang kerja, Arka duduk di depan laptop dengan layar penuh angka dan laporan. Jemarinya bergerak cepat, presisi—kebiasaan yang selalu membantunya menenangkan pikiran.
Namun malam ini, fokusnya hilang.
Satu kalimat tak diucapkan terus berputar di kepalanya.
“Aku bakal pulang. Aku janji.”
Janji yang ia ucapkan bertahun-tahun lalu, tepat sebelum berangkat ke luar negeri. Janji yang Lara dengar dengan mata berbinar, tanpa tahu bahwa dunia orang dewasa tidak selalu menepati kata-katanya sendiri.
Arka berhenti mengetik.
Ia menyandarkan punggung, menutup mata sejenak.
Ia pergi tanpa kabar.
Tanpa surat.
Tanpa satu panggilan telepon sekalipun.
Bukan karena lupa—melainkan karena takut. Takut membuka luka. Takut kembali menjadi seseorang yang punya sesuatu untuk kehilangan.
Dan kini, Lara ada di balik dinding itu.
Dewasa. Ceria. Masih seperti dulu.
Masih Lara yang sama—yang dulu ia tinggalkan.
Arka membuka mata, menatap layar tanpa benar-benar melihatnya.
Ia menghela napas pelan, lalu kembali mengetik. Namun kali ini, huruf-huruf terasa berat—seolah masa lalu ikut menekan setiap tombol yang ia sentuh.
Di apartemen yang sama, dua orang terjaga dalam diam.
Terhubung oleh kenangan yang belum selesai.
Dan oleh jarak tipis yang terasa jauh lebih rumit daripada ribuan kilometer yang pernah memisahkan mereka.