NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang yang sama

Ruang rapat utama Wijaya Kusuma Group dipenuhi staf inti pagi itu. Suasananya formal, rapi, dan penuh rasa penasaran. Semua orang tahu Wijaya akan bertolak ke New York, tapi belum ada yang tahu secara pasti siapa yang akan menggantikannya.

Pintu terbuka.

Wijaya masuk lebih dulu, diikuti seorang pria tinggi di belakangnya.

Sekejap, ruangan terasa sunyi.

Pria itu mengenakan setelan hitam sederhana, rambutnya rapi, posturnya tegap. Wajahnya… terlalu sempurna untuk ukuran seorang direktur muda. Kulit putih bersih, rahang tegas, sorot mata tajam yang membuat siapa pun refleks meluruskan duduk.

“Perkenalkan,” ujar Wijaya dengan suara mantap, “ini Arka Pratama. Mulai hari ini, dia akan menggantikan saya sebagai Direktur Utama di Wijaya group ini.”

Bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

“Ganteng banget…” “Masih muda…” “Serius ini direktur?”

Namun Arka hanya berdiri tenang. Wajahnya datar. Tidak ada senyum. Tidak ada gestur ramah. Aura dingin dan berwibawa menyelimuti dirinya.

Di sisi kanan ruangan, seorang wanita dengan rambut sebahu dan senyum manis membeku di tempat duduknya.

Namanya Sintia.

Sekretaris pribadi Wijaya.

Dan detik itu juga, jantungnya lupa cara berdetak normal.

Astaga…

Ini manusia atau patung museum?

Sintia menelan ludah. Selama ini ia sudah terbiasa bertemu pria-pria penting, pengusaha, pejabat, bahkan selebritas. Tapi Arka berbeda. Ada sesuatu dari caranya berdiri—tenang, dingin, seolah dunia tidak perlu berisik di sekitarnya.

“Mulai hari ini,” lanjut Wijaya, “Sintia akan menjadi sekretaris pribadi Arka.”

Arka menoleh sedikit.

Pandangan mereka pun bertemu.

Sintia tersenyum—manis, profesional… dan jujur saja, sedikit gugup.

“Saya Sintia,” ucapnya. “Senang bekerja sama dengan Anda, Pak Arka.”

Arka mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Hanya itu. Satu kalimat saja.

Namun cukup membuat hati Sintia tertawan, Sementara staf lain hanya bisa mengagumi dari kejauhan—pria tampan, pintar, dingin, dan kini menjadi direktur. Kombinasi yang terlalu berbahaya.

Arka tidak memperhatikan reaksi siapa pun. Fokusnya hanya satu: pekerjaan yang menunggu dan hidup yang—sekali lagi—harus ia atur ulang.

Sore itu, Lara pulang ke rumah hanya untuk mengambil koper.

Ia berdiri di kamarnya yang masih penuh poster lama dan rak buku yang berantakan. Ruangan itu sudah melewati banyak fase hidupnya, termasuk fase di mana ia berhenti menunggu seseorang yang tidak pernah kembali.

Ia berdiri sebentar di depan cermin.

Kaos oblong putih. Celana jeans. Rambutnya dibiarkan tergerai alami.

“Biasa aja,” gumamnya pada pantulannya sendiri. “Tenang, Lara. tidak perlu cemas.”

Namun jantungnya berkata lain.

Deg. Deg. Deg.

Wijaya mengirimkan share lokasi apartemen Arka ke ponselnya. Lara menatap alamat itu lama sebelum akhirnya memesan transportasi online.

Sepanjang perjalanan, pikirannya kacau.

Arka seperti apa sekarang?

Apakah Masih dingin?,masih galak?,masih tidak suka di ganggu?

Lara membayangkan semua sepanjang perjalanan dan tanpa sadar mobilnya sudah behenti di depan lobi apartemen yang di tuju.

Lara berdiri di depan sebuah apartemen tinggi dan modern. Tangannya mencengkeram gagang koper sedikit lebih kuat dari seharusnya.

Di depan pintu unit, ia menarik napas panjang.

“Tenang,” katanya pada dirinya sendiri. “Santai saja Lara.”

Ia menekan bel.

Dua detik.

Tiga detik.

Pintu terbuka.

Dan dunia Lara berhenti berputar.

Di hadapannya berdiri seorang pria… terlalu tampan untuk logika sehat.

Rambut Arka basah, jelas baru selesai mandi. Beberapa helai jatuh ke dahi. Kaos hitam polos menempel di tubuh atletisnya. Air masih menetes di lehernya.

Astaga. Ini paman aku?

Atau aku salah lantai?

Lara menatap. Terlalu lama.

Arka juga terdiam.

Gadis di depannya… bukan Lara kecil yang dulu selalu merecokinya tanpa jeda. Ini Lara versi dewasa—cantik, segar, dengan mata besar yang masih sama polosnya.

“Ehm…” Lara menunjuk dirinya sendiri. “Ini… apartemen paman Arka, kan?”

Arka berkedip. “Iya.”

“Oh syukurlah.” Lara menghela napas. “Kirain aku salah pintu. Soalnya yang buka… beda.”Lara mencoba mencairkan suasana.

Arka mengernyit. “Beda?”

Arka menatap Lara dengan intens. “Masuklah”

“Oh, iya.” Lara nyengir.

Lara menyeret kopernya masuk dalam apartemen yang tidak terlalu luas namun terkesan mewah,Lara mengedarkan pandangannya dan sesekali mencuri-curi pandang.

Arka menutup pintunya. “Kamar tamu ada di sebelah kiri.”

“Oke!” jawab Lara ceria—kembali ke mode normalnya.

Ia berhenti sebentar. Menoleh. “ eh—paman.”

Arka mengangkat alis.

“Paman pulang ke indo kok nggak ngabarin” tanya Lara polos.

Arka kembali menatapnya. “Aku sibuk,nggak sempat"

“Oh.” Lara mengangguk. “

"waahh..apaan tuh,dingin banget." Gumam Lara nyaris tak terdengar.

Lara mengerucutkan bibirnya tanda kesal,mana ada seorang tamu diperlakukan kayak gini, di cuekin.

Lalu akhirnya menyeret kopernya dan masuk ke ruangan itu.

Arka sempat melirik, nyaris tersenyum. Tapi segera ia kembali ke ekspresi dinginnya. Anak ini… tetap sama... tidak berubah.

Dan di antara jarak yang tercipta bertahun-tahun itu, satu hal menjadi jelas bagi mereka berdua:

Tinggal bersama tidak akan sesederhana yang mereka kira.

Arka duduk bersandar di kursi saat ia menyadari perutnya memberikan sinyal lapar. Ia melirik jam tangan mahalnya—pukul delapan malam. Biasanya, jam segini ia sudah menyantap salad atau steak protein tinggi, tapi kedatangan Lara yang mendadak membuatnya lupa jadwal belanja mingguan.

Ia menoleh ke arah Lara yang masih asyik mengutak-atik dekorasi di meja TV, mencoba menaruh figuran kartun koleksinya di antara buku-buku tebal tentang ekonomi milik Arka.

"Lara," panggil Arka datar.

Lara menoleh, matanya berbinar. "Iya, Paman? Mau ngajak aku main game?"

"Bukan. Aku belum sempat belanja stok bahan makanan tadi,"

Arka berjalan menuju dapur, membuka pintu kulkas yang isinya hanya ada beberapa botol air mineral dan satu botol wine yang belum dibuka.

"Kamu tidak lapar? Aku bisa buatkan sesuatu yang simpel kalau bahannya ada, tapi sepertinya tidak sekarang."

Lara bangkit berdiri, lalu berjalan menghampiri Arka dengan langkah ringan.

"Oh, tenang saja! Paman punya stok mie instan nggak? Rasa soto atau ayam bawang gitu? Pakai telur satu, sawi sedikit, cabainya lima... wah, mantap banget itu!"

Arka terdiam sejenak. Ia menatap Lara seolah-olah gadis itu baru saja menyarankannya untuk makan batu kerikil. Alisnya bertaut rapat. "Mie instan?"

"Iya! Kenapa? Paman nggak punya?" Lara mengerutkan kening.

"Duh, masa Paman nggak punya stok makanan penyelamat akhir bulan sih?"

"Kenapa kamu memakan makanan seperti itu, Lara?" Arka bertanya dengan nada yang terdengar seperti dosen yang sedang menguji teori. "Kandungan natriumnya tinggi, belum lagi pengawet dan MSG-nya. Itu bukan makanan, itu bahan kimia dalam bungkus plastik."

Lara melongo, lalu ia berkacak pinggang, menatap pamannya dengan raut protes yang lucu. "Paman, please deh! Memangnya kenapa sama mie instan? Itu adalah mahakarya bangsa ini! Murah, enak, wangi, dan bikin bahagia. Paman jangan terlalu kaku gitu, deh. Sekali-sekali makan micin nggak bakal bikin mati kok,"

Arka tidak bergeming. Baginya, tubuh adalah aset yang harus dijaga dengan performa maksimal. "Tetap tidak. Itu tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi kamu masih muda butuh nutrisi yang benar."

"Tapi aku maunya itu! lidahku sudah kangen sama mie instan," keluh Lara dengan bibir sedikit maju, mencoba taktik pouting face yang biasanya berhasil pada ayahnya.

Sayangnya, Arka Pratama bukan tipe pria yang luluh dengan wajah cemberut. Ia justru merogoh ponsel dari saku celananya, jemarinya bergerak cepat di atas layar sentuh dengan gerakan yang sangat efisien.

"Aku sudah memesan Grilled Salmon dengan Quinoa Salad dari restoran langgananku. Dua porsi. Tanpa tambahan saus krim, rendah kalori," ucap Arka tanpa melihat ke arah Lara.

Lara terdiam. Semangatnya untuk makan mie instan yang hangat dan gurih langsung menguap, digantikan oleh bayangan sayuran hijau hambar dan ikan panggang yang "sehat".

Ia menatap punggung tegap Arka yang kini sibuk memeriksa email sambil menunggu makanan datang.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Bukan karena marah, tapi lebih ke arah perasaan asing. Di rumah, bundanya akan selalu menuruti keinginannya jika dia merengek sedikit saja. Di sini, dia harus mengikuti standar hidup Arka yang serba teratur, sehat, dan... membosankan.

Lara berjalan perlahan menuju kamarnya, bahunya sedikit lunglai. "Oh, oke. Terserah Paman saja."

"Kenapa wajahmu begitu?" Arka menyadari perubahan nada bicara Lara.

"Enggak apa-apa," jawab Lara pelan sambil memegang gagang pintu kamarnya. Ia menoleh sedikit, menatap apartemen yang sangat rapi itu dengan pandangan sayu.

Seketika Lara pun menyadari tinggal bersama dengan pamannya bukanlah ide yang baik untuk saat ini.

Blam.

Lara menutup pintu kamarnya dengan pelan, meninggalkan Arka yang berdiri mematung di dapur. Arka menatap ponselnya, lalu menatap pintu kamar Lara. Ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya—sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah, perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan dalam dunianya yang dingin.

"Aku hanya ingin dia makan makanan sehat," gumam Arka pada dirinya sendiri, namun hatinya tidak merasa benar sepenuhnya.

Malam itu, pesanan salmon datang tepat waktu, tapi Lara hanya memakannya tiga suap sebelum berpamitan tidur.

1
Ridwani
👍👍
Bintang Safa
cerita yg menarik
Ief Fei
bagus sekali alur ceritanya.... suka
Heni Susanti
semoga lara dan arka secepatnya bersatu kembali
Heni Susanti
jan lama2 donk batasannya,ayo arka sebaiknya kamu berjuang ngembaliin ingatan lara
Heni Susanti
cepatlah kejar arka jelaskan kl kamu bukan paman kandungnya
Heni Susanti
buatlah ingatan lara kembali seperti dulu thor secepatnya kasian lara bahkan arka jg tersiksa perasaan tak menentu
Heni Susanti
ceritanya sangat menarik,lanjut terus kk semangatt
Muna Junaidi
Cinta beda usia gassskeun💪💪💪
Laelana Ulfah
/Sob/
Laelana Ulfah
kenapa jadinya sedih banget sih thor
partini
kalau cocok dan di terima mah ok ok aja ga masalah donor hati,,itu dua artis Singapore juga gitu dia donorin buat calon istri sampe sekarang lovely doply family ❤️❤️❤️
tahun 2009 oparasi nya
partini
hemmm bakal perang cinta ini
partini
senam lima jari
partini
awas nanti kebablasan loh 🤭
partini
good story
Asri Widayati
lanjut terus
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!