NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Unwritten Choices

Kediaman Tamu Blackwood — dini hari

Anthenia tidak tidur.

Ia duduk di depan jendela, menatap langit Araluen yang perlahan memucat. Kota ini indah—dan berbahaya.

Tiga arah angin, pikirnya.

Dan semuanya menarikku.

William dengan perlindungan dinginnya.

Kaelum dengan badai yang jujur akan ambisi.

Dan dirinya sendiri—Jane—yang tahu bahwa semua ini tidak seharusnya terjadi secepat ini.

Dalam novel, Anthenia hanya tokoh sampingan.

Putri duke yang lembut.

Pemanis konflik.

Namun sekarang—

“Aku bukan halaman tambahan,” bisiknya.

“Aku pena.”

Ia berdiri.

Keputusan pertama selalu paling sulit.

Ruang kerja Duke Blackwood — pagi

Duke Kaelen mengangkat kepala saat pintu diketuk.

“Masuk.”

Anthenia melangkah masuk dengan tenang.

“Ayah,” ucapnya lembut.

Duke mengernyit—ia masih belum terbiasa dengan ketegasan putrinya sejak perubahan itu.

“Kau ingin bicara tentang Valerion?” tanyanya langsung.

“Bukan hanya itu,” jawab Anthenia.

Ia menarik napas, lalu berkata jelas:

“Aku tidak akan menerima lamaran politik apa pun—sampai aku memilih sendiri.”

Ruangan hening.

Duke Blackwood berdiri perlahan.

“Anthenia,” katanya hati-hati,

“kau tahu apa artinya menolak dua kekaisaran sekaligus?”

Anthenia mengangguk. “Aku tahu.”

Ia menatap ayahnya lurus.

“Tapi jika aku membiarkan mereka memilihkan jalanku… maka aku hanya akan hidup sesuai cerita orang lain.”

Duke terdiam lama.

Lalu—untuk pertama kalinya—ia tersenyum kecil.

“Sejak kapan,” gumamnya,

“putriku bicara seperti seorang panglima?”

Anthenia tersenyum tipis. “Sejak aku belajar bertahan.”

Duke mengangguk pelan.

“Baik,” katanya akhirnya.

“Blackwood akan berdiri di belakangmu.”

Itu adalah perisai pertama.

Koridor istana — siang

William berjalan sendirian ketika langkah ringan mendekat.

“Yang Mulia.”

Ia berhenti.

Anthenia berdiri di belakangnya.

William berbalik, tatapannya terkendali seperti biasa—namun kini ada jarak yang sengaja ia jaga.

“Ada yang kau perlukan, Lady Blackwood?” tanyanya formal.

Anthenia tersenyum pahit.

“Kau menjaga jarak,” katanya langsung.

William tidak menyangkal.

“Itu lebih aman.”

“Untuk siapa?” tanya Anthenia pelan.

William terdiam.

Anthenia melangkah mendekat—satu langkah saja.

“Aku sudah membuat keputusan,” katanya.

William menatapnya tajam. “Tentang Valerion?”

“Dan Araluen.”

Hening.

“Aku tidak memilih siapa pun,” lanjut Anthenia.

“Bukan sekarang.”

William mengepalkan rahangnya.

“Kaelum tidak akan mundur,” katanya rendah.

“Aku tahu,” jawab Anthenia.

“Dan aku juga tahu kau tidak akan memaksaku.”

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, William melihatnya bukan sebagai calon, bukan sebagai beban politik—

melainkan mitra yang setara dalam risiko.

“Jika kau berjalan di tengah badai,” katanya akhirnya,

“aku akan berada di sisi yang menahan angin.”

Anthenia tersenyum kecil.

“Itu sudah cukup.”

Teras timur istana — senja

Kaelum Stormrage bersandar di pagar batu ketika Anthenia datang menemuinya.

“Aku bertanya-tanya,” katanya ceria,

“apakah kau akan menghindar… atau menghadapi.”

“Aku memilih menghadapi,” jawab Anthenia.

Kaelum menoleh, tertarik.

“Aku tidak akan menerima lamaranmu,” katanya jujur.

“Namun aku juga tidak menutup pintu kerja sama.”

Kaelum tertawa pelan. “Jawaban paling berbahaya.”

“Aku tahu.”

Kaelum menatapnya lama.

“Kau berbeda dari semua wanita istana,” katanya akhirnya.

“Dan itu membuatku ingin menunggu.”

Anthenia mengangkat alis. “Menunggu apa?”

“Versi dirimu yang sepenuhnya memilih,” jawab Kaelum.

“Bukan karena tekanan.”

Ia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak.

“Badai tidak memaksa,” katanya ringan.

“Ia hanya datang… dan menguji siapa yang berdiri.”

Malam hari — kamar Anthenia

Anthenia menutup pintu, menyandarkan punggungnya.

Napasnya pelan tapi stabil.

“Keputusan pertama,” gumamnya.

“Tidak memilih… adalah memilih diriku sendiri.”

Namun ia tahu—

Pilihan berikutnya tidak akan semudah ini.

Karena cerita sudah bergerak.

Dan kini, untuk pertama kalinya—

cerita bergerak mengikuti Anthenia Blackwood.

...

Istana Araluen — keesokan paginya

Istana tidak pernah benar-benar diam.

Namun pagi ini, bisikannya berbeda.

“Lady Blackwood menolak Valerion—”

“Dan juga belum menerima Araluen—”

“Apakah Duke Blackwood terlalu berani—”

Anthenia berjalan di koridor dengan langkah tenang, seolah tidak mendengar apa pun. Kepalanya tegak, bahunya lurus.

Ini konsekuensinya, pikirnya.

Dan aku menerimanya.

Di ujung koridor, ia melihat Permaisuri Lunara berdiri bersama Genevieve Kesan.

Genevieve tersenyum lembut saat melihatnya.

“Lady Anthenia.”

“Yang Mulia,” Anthenia memberi hormat.

Permaisuri menatapnya lama—bukan menilai, melainkan mengukur.

“Kau membuat istana gelisah,” kata Lunara tenang.

“Aku tahu,” jawab Anthenia jujur.

“Namun kau juga,” lanjut Lunara,

“mengingatkan mereka bahwa seorang wanita bukan properti politik.”

Anthenia terkejut kecil.

Permaisuri mendekat satu langkah. “Itu keberanian. Dan keberanian selalu menuntut harga.”

“Aku siap membayarnya,” jawab Anthenia tanpa ragu.

Lunara tersenyum tipis.

“Bagus. Karena mulai hari ini, kau akan diawasi… dan diuji.”

Ruang latihan ksatria — siang

Suara logam beradu menggema.

William sedang berlatih—sendirian.

Setiap tebasan presisi, setiap langkah terkontrol. Namun Sir Aldren bisa melihatnya.

Putra Mahkota sedang menahan sesuatu.

“Yang Mulia,” Aldren akhirnya bicara,

“Valerion mengirim utusan tambahan.”

William berhenti.

“Kaelum?” tanyanya singkat.

“Bukan,” jawab Aldren.

“Namun membawa pesan pribadi.”

William menghela napas pelan. “Katakan aku tidak menerima pesan pribadi.”

“Itu… tentang Lady Anthenia.”

Pedang William berhenti di udara.

“Apa isinya?” tanyanya datar.

“Valerion menyatakan akan menghormati keputusan Lady Blackwood… untuk saat ini.”

Untuk sesaat, William menutup mata.

Dia menunggu.

“Perketat pengamanan Blackwood,” perintah William.

“Tanpa terlihat.”

“Dan Lady Anthenia?” tanya Aldren.

William membuka mata.

“Dia memilih jalannya sendiri,” katanya pelan.

“Tugasku memastikan jalur itu tidak dipenuhi darah.”

Sayap selir — sore

Heilen Valerius memecahkan cangkir porselen.

“Berani sekali,” desisnya.

“Seorang putri duke menolak dua kekaisaran.”

Alistair berdiri diam.

“Ini mengganggu rencanamu?” tanyanya.

Heilen menatapnya tajam.

“Ini mengganggu semua rencana.”

Ia tersenyum tipis—berbahaya.

“Jika Lady Blackwood tidak bisa digerakkan dengan pernikahan,” lanjutnya,

“maka kita akan menggerakkannya dengan reputasi.”

Alistair menegang. “Ibu—”

“Tenang,” potong Heilen.

“Aku tidak bodoh. Belum.”

Taman belakang — senja

Anthenia duduk di bangku batu, sendirian.

Ia memejamkan mata, merasakan angin sore.

Pilihan pertamaku… berhasil, pikirnya.

Tapi harga berikutnya akan lebih mahal.

Langkah kaki mendekat.

“Kau tenang untuk seseorang yang baru mengguncang istana.”

Anthenia membuka mata.

Kaelum Stormrage berdiri beberapa langkah darinya, senyum santai di wajahnya.

“Aku memilih kejujuran,” jawab Anthenia.

“Bukan kekacauan.”

Kaelum duduk di bangku seberangnya.

“Di Valerion,” katanya pelan,

“keputusan seperti itu biasanya diakhiri dengan darah.”

Anthenia menatapnya datar. “Dan di Araluen?”

Kaelum tersenyum.

“Dengan permainan.”

Ia berdiri. “Aku akan tetap di sini, Lady Blackwood.”

“Sebagai apa?” tanya Anthenia.

Kaelum menoleh sebentar.

“Sebagai seseorang yang ingin melihat… bagaimana ceritamu ditulis.”

Ia pergi, meninggalkan udara yang terasa lebih berat.

Malam hari — kamar Anthenia

Anthenia menutup pintu.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri.

“Baik,” bisiknya.

“Satu pilihan sudah dibuat.”

Namun di balik pintu,

di balik senyum dan ketenangan—

tiga kekuatan mulai menyesuaikan langkahnya.

Dan Anthenia tahu:

Pilihan berikutnya

tidak lagi soal siapa—

melainkan apa yang harus ia korbankan.

Istana Araluen — pagi yang terlalu tenang

Ketika ketenangan terasa terlalu rapi, Anthenia tahu sesuatu sedang disiapkan.

Ia baru melangkah ke aula kecil ketika bisikan itu terdengar—tidak keras, tapi sengaja tidak disembunyikan.

“Katanya Lady Blackwood sering keluar malam sendirian…”

“Ada yang melihatnya di taman bersama Pangeran Valerion…”

“Putri duke yang terlalu berani…”

Anthenia berhenti.

Ia tidak menoleh.

Tidak menyangkal.

Tidak bereaksi.

Bagus, pikirnya dingin.

Mereka mulai menyerang.

Sayap selir — waktu yang sama

Heilen Valerius tersenyum tipis saat seorang dayang membungkuk.

“Rumor sudah menyebar, Yang Mulia.”

“Bagus,” jawab Heilen pelan.

“Rumor yang baik tidak perlu dibuktikan.”

Alistair berdiri di sudut ruangan, gelisah.

“Ini berbahaya,” katanya.

“Jika William—”

“William tidak bisa melindungi reputasi,” potong Heilen.

“Hanya pedang.”

Ia menoleh pada putranya.

“Dan pedang selalu terlambat.”

Aula kecil bangsawan — siang

Anthenia dipanggil.

Bukan oleh kaisar.

Bukan oleh permaisuri.

Melainkan oleh dewan bangsawan wanita—cara paling elegan untuk menguji kehormatan.

Permaisuri Lunara duduk di ujung ruangan. Tatapannya tenang, namun tidak melindungi.

“Lady Anthenia,” ucap salah satu bangsawan tua,

“istana gaduh dengan sikapmu.”

Anthenia membungkuk hormat.

“Jika kegaduhan itu lahir dari pilihanku, maka aku bertanggung jawab.”

Bisik kecil terdengar.

“Kau menolak lamaran Valerion,” lanjut bangsawan lain.

“Namun sering terlihat bersama Pangeran Kaelum.”

Anthenia mengangkat kepala.

“Aku juga sering terlihat bersama Putra Mahkota,” katanya tenang.

“Apakah itu juga dianggap tidak pantas?”

Ruangan hening.

Permaisuri menatapnya—tajam.

“Itu perbandingan yang berani,” kata Lunara.

“Aku tidak membandingkan,” jawab Anthenia.

“Aku menyamakan standar.”

Beberapa bangsawan menegang.

“Kalau begitu,” kata bangsawan tua pertama,

“jelaskan keberadaanmu di taman malam itu.”

Anthenia menarik napas.

“Aku bertemu Pangeran Valerion,” katanya jujur.

“Di tempat terbuka. Tanpa pelanggaran. Tanpa rahasia.”

Ia menatap satu per satu wajah di ruangan.

“Jika itu masih dianggap noda,” lanjutnya,

“maka masalahnya bukan aku—melainkan ketakutan kalian pada wanita yang memilih.”

Sunyi.

Permaisuri berdiri.

“Cukup,” ucapnya.

Ia menatap Anthenia.

“Kau lulus ujian pertama,” katanya pelan.

“Namun mulai hari ini, satu kesalahan kecil saja… akan menjadi senjata.”

Anthenia membungkuk.

“Aku mengerti.”

Koridor istana — sore

William menunggu.

Ia berdiri bersandar di pilar batu, ekspresinya terkendali—namun matanya mengamati setiap langkah Anthenia saat keluar dari aula.

“Kau dipanggil,” katanya.

“Ya.”

“Dan?” tanyanya singkat.

Anthenia menatapnya. “Mereka mencoba menjatuhkanku.”

William mengangguk.

“Aku tahu.”

“Kau tidak menghentikannya,” kata Anthenia pelan.

“Tidak,” jawab William jujur.

“Karena jika aku melakukannya… mereka akan menganggapmu lemah.”

Anthenia menatapnya lama.

“Terima kasih,” katanya akhirnya.

William terdiam.

“Kau tidak marah?” tanyanya.

“Aku memilih jalan ini,” jawab Anthenia.

“Dan aku tidak berjalan sendiri.”

Untuk pertama kalinya hari itu—

William tersenyum tipis.

Balkon luar — malam

Kaelum berdiri memandangi istana.

“Rumor bergerak cepat,” gumamnya.

Suara langkah ringan terdengar.

“Dan kau menikmatinya,” suara Anthenia terdengar.

Kaelum tertawa kecil. “Aku menikmati keberanianmu.”

Anthenia berdiri sejajar dengannya.

“Ini baru permulaan,” katanya tenang.

“Mereka akan menaikkan taruhannya.”

Kaelum menoleh, matanya berkilat.

“Bagus,” katanya.

“Aku paling suka permainan serius.”

Anthenia menatap langit.

Pilihan kedua akan segera datang.

Dan kali ini—

bukan hanya reputasi

yang dipertaruhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!