Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOM AND JERRY
Bau karbol rumah sakit yang menyengat menusuk indra penciuman Nayla, perlahan menyeret kesadarannya kembali dari kegelapan. Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit putih yang nampak berputar pelan. Saat ia mencoba menggerakkan lengannya, ia merasa ada beban yang berat sekaligus hangat.
Nayla menoleh ke samping. Di sana, Adnan Hasyim, sang CEO yang biasanya tampil necis dengan jas jutaan rupiah tengah tidur meringkuk di kursi kayu yang keras. Kepalanya bersandar di tepi ranjang, dan tangannya menggenggam erat jemari Nayla yang tidak diinfus. Wajahnya nampak sangat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang tertutup rapat.
Nayla menyeringai kecil. Sifat jahilnya mendadak bangun lebih cepat daripada sel-sel tubuhnya yang terluka. Ia menarik napas dalam, lalu menyentil dahi Adnan dengan sisa tenaganya.
"Bapak! Kebakaran di bursa saham! Harga minyak goreng naik!" teriak Nayla dengan suara serak namun tetap melengking.
Adnan terlonjak kaget, nyaris terjungkal dari kursi. Ia langsung berdiri tegak dengan mata melotot, jantungnya berdegup kencang. "Apa?! Mana? Di mana yang terbakar?!"
Nayla tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya yang sedikit nyeri. "Hahaha! Lihat muka Bapak, lucu banget kayak robot yang korslet! Tenang Pak Es, yang terbakar cuma rasa kantuk Bapak saja."
Adnan menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang kusut dengan frustrasi. Begitu sadar ia baru saja dikerjai oleh pasien yang baru bangun dari pingsan, kemarahannya meledak. "Nayla! Kamu baru saja bangun dari ambang kematian dan hal pertama yang kamu lakukan adalah membuat saya jantungan?!"
"Habisnya Bapak tidurnya mangap, saya takut ada lalat masuk terus bertelur di sana," sahut Nayla tanpa rasa berdosa.
"Tidur lagi! Sekarang!" perintah Adnan sambil membetulkan selimut Nayla dengan gerakan kasar karena kesal.
Nayla menggeleng kuat. "Nggak mau. Ini sudah subuh, Pak Es. Saya mau sholat. Hubby yang sholeh masa mau membiarkan istrinya jadi penghuni neraka gara-gara ninggalin subuh?"
Adnan melirik jam dinding, lalu menatap selang infus di tangan kiri Nayla. "Tanganmu masih diinfus, Nayla. Jangan aneh-aneh. Kamu sedang sakit, ada keringanan dalam ibadah."
"Sakitnya di lengan, bukan di jiwa, Pak! Pokoknya saya mau wudhu. Bapak bantu saya berdiri atau saya merangkak sendiri ke kamar mandi?" tantang Nayla sambil mulai melepas selimutnya.
Adnan menyerah. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan gadis yang lebih keras kepala daripada batu granit ini. Dengan canggung, ia membantu Nayla berdiri dan menuntun tiang infus itu menuju kamar mandi.
"Bagian yang luka jangan kena air, diusap saja pakai tayamum atau apalah namanya itu," instruksi Adnan sok tahu saat mereka di depan wastafel.
"Namanya diusap di atas perban, Pak Guru. Tapi saya mau wudhu beneran. Sedikit air nggak bakal bikin lengan saya lepas kok," sahut Nayla keras kepala. Ia tetap membasahi lengannya dengan hati-hati meski Adnan sudah mengomel panjang pendek seperti ibu-ibu kehilangan jemuran.
Setelah drama wudhu selesai, mereka sholat berjamaah di dalam kamar VIP tersebut. Adnan mengimami istrinya dengan perasaan yang tak menentu. Ada kedamaian yang menyelinap di antara rasa kesalnya. Ia menyadari satu hal: Nayla mungkin tengil, tapi hatinya punya jangkar yang sangat kuat pada Tuhannya. Sesuatu yang bahkan Adnan sendiri sering lupakan.
Pagi harinya, suasana kamar menjadi riuh. Farah datang membawa keranjang buah dan wajah yang masih nampak sembap. Adnan yang baru saja kembali membawa bubur ayam hangat hanya bisa berdiri di depan pintu ruangan, menyimak obrolan dua sahabat itu.
"Nay, beneran lo nggak apa-apa? Gila ya, kemarin itu kayak di film-film aksi tahu nggak! Terus, pak Adnan keren banget pas hajar preman itu!" Farah bercerita dengan semangat meluap-luap.
"Iyalah, murid saya gitu lho. Eh, maksudnya... ya gitulah," Nayla hampir keceplosan.
"Eh iya, Nay! Besok kan acara perpisahan kelas kita ke Puncak. Kita bakal nginep di villa sekolah. Lo ikut kan? Ini perpisahan terakhir sebelum kita mencar kuliah," ujar Farah penuh harap.
Mata Nayla berbinar-binar. "Puncak? Villa? Makan jagung bakar? Ikutlah! Masa petarung kayak gue absen acara begini!"
"Tidak boleh."
Suara dingin Adnan memotong kegembiraan mereka. Ia berjalan mendekat sambil meletakkan bubur di meja nakas. "Tanganmu baru dijahit kemarin. Kamu butuh istirahat total, bukan keluyuran di gunung."
Nayla cemberut, menatap Adnan dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. "Hubby... Bapak Es yang baik hati... Ini perpisahan sekali seumur hidup. Kalau saya nggak ikut, saya bakal dihantui rasa penyesalan sampai tua."
"Penyesalan lebih baik daripada infeksi luka, Nayla," balas Adnan tegas.
"Pokoknya saya mau ikut! Kalau Bapak nggak izinin, saya bakal mogok makan lagi. Kali ini beneran, saya cuma mau minum air mineral yang ada rasa manis-manisnya itu doang!" ancam Nayla.
Adnan memijat pelipisnya. Pertarungan mental ini selalu ia alami setiap hari. "Baik. Kamu boleh pergi, tapi saya yang antar pakai mobil. Kamu tidur di villa dengan pengawalan."
"Nggak mau! Perpisahan itu serunya naik bus bareng temen-temen! Nyanyi-nyanyi, makan ciki, terus ngerjain temen yang tidur mangap. Kalau naik mobil sama Bapak, yang ada saya malah berasa lagi pergi dinas luar kota sama Bos!" protes Nayla.
Farah hanya melongo melihat "Tom and Jerry" versi nyata di depannya. Akhirnya, setelah perdebatan selama tiga puluh menit yang melibatkan ancaman Nayla untuk mencopot sendiri jahitannya, Adnan kembali mengangkat bendera putih.
"Terserah! Tapi kalau lukamu terbuka lagi, saya akan seret kamu pulang saat itu juga!" bentak Adnan frustrasi.
"Siap, Hubby! Bapak emang suami paling pengertian sejagat raya!" Nayla memberikan hormat dengan tangan kanannya yang tidak terluka.
Keesokan harinya, di depan gerbang sekolah, iringan bus pariwisata sudah siap berangkat. Nayla nampak sangat lincah (meski lengannya dibebat kencang di balik jaket) sedang bercanda dengan teman-temannya. Ia melambaikan tangan ke arah mobil Adnan yang mengantarnya sampai gerbang.
"Dah, Pak Es! Jangan kangen ya! Jangan cari-cari saya di kolong tempat tidur!" teriak Nayla sambil menaiki bus.
Adnan hanya menatap bus itu dengan wajah datar dari balik kaca mobilnya. Namun, begitu bus mulai bergerak menjauh, Adnan menoleh ke arah Dion yang duduk di kursi pengemudi.
"Jalan, Dion. Jaga jarak sekitar seratus meter di belakang bus mereka," perintah Adnan.
Dion menghela napas, ia sudah menduga ini akan terjadi. "Pak, Anda ada rapat penting dengan investor Jepang jam sepuluh nanti."
"Batalkan. Bilang saya sedang melakukan inspeksi lapangan di daerah Puncak," sahut Adnan tanpa ekspresi.
"Inspeksi lapangan atau inspeksi istri, Pak?" goda Dion tipis.
Adnan melirik tajam lewat spion. "Jalan saja, Dion. Sebelum saya potong bonus tahunanmu."
Sepanjang perjalanan menuju Puncak, Adnan terus mengawasi bus itu layaknya seorang agen rahasia. Ia merasa konyol, seorang CEO sukses membuntuti bus sekolah seperti penguntit. Namun, setiap kali bus itu bergoyang karena jalanan berkelok, jantung Adnan ikut berdesir cemas membayangkan luka Nayla.
Di dalam bus, Nayla sedang asyik memimpin teman-temannya menyanyikan lagu dangdut koplo menggunakan botol air mineral sebagai mik. Ia tidak tahu bahwa di belakang sana, "Es Balok"-nya sedang mengawasi dengan tingkat protektif yang sudah mencapai level maksimal.
"Nay, lihat deh mobil SUV hitam di belakang bus kita. Dari tadi ngikutin mulu, kayaknya penguntit deh," bisik Farah sambil melihat ke kaca belakang.
Nayla menengok sebentar. Ia mengenali plat nomornya. Sebuah senyum jahil muncul di wajahnya. "Oh, itu bukan penguntit, Far. Itu mah 'bodyguard' pribadi yang lagi galau. Biarin aja, bentar lagi juga dia stres sendiri karena saya nggak turun-turun."
Nayla sengaja berdiri dan berjoget lebih heboh agar terlihat dari kaca depan mobil Adnan, sengaja memancing emosi suaminya. Benar saja, di dalam mobil belakang, Adnan mengepalkan tangan melihat Nayla yang pecicilan.
"Nayla... kalau kamu jatuh, saya benar-benar akan mengunci kamu di dalam brankas perusahaan!" gumam Adnan geram.
Perjalanan menuju Puncak baru saja dimulai, namun aroma petualangan dan bahaya yang mengintai di balik kabut gunung mulai terasa. Tanpa mereka sadari, sebuah mobil lain juga sedang mengikuti mobil Adnan dari jarak yang lebih jauh lagi.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥