NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Malam itu, aroma pasta aglio olio yang dibuat Edgar memenuhi ruang makan apartemen yang minimalis namun hangat. Kecanggungan setelah ciuman pertama di kamar tadi masih menyisakan rona merah di pipi Leonor, membuatnya lebih banyak menunduk dan memutar-mutar garpu di atas piringnya. Edgar pun tampak tidak jauh berbeda, pria yang biasanya menguasai meja perundingan dengan kata-kata tajam itu kini berkali-kali berdehem, mencari cara untuk memecah keheningan yang mendebarkan ini.

Akhirnya, Edgar meletakkan garpunya. Ia menatap Leonor dengan sorot mata yang belum pernah Leonor lihat sebelumnya, jujur, telanjang, dan penuh kerentanan.

"Leonor," panggilnya rendah.

Leonor mendongak, hatinya berdegup kencang.

"Aku tidak pandai melakukan ini, tapi aku tidak bisa membiarkan momen tadi berlalu tanpa kejelasan," Edgar menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Aku sungguh mencintaimu, Leonor Kaia. Aku serius. Ciuman tadi... itu adalah bukti nyata bahwa aku mencintaimu... dan tentu saja, bukti cintaku pada anak-anak kita nanti."

Leonor yang baru saja menyeruput air mineralnya hampir saja menyemburkannya kembali ke atas meja. Matanya membelalak tak percaya.

Suasana yang seharusnya menjadi momen romantis paling mengharukan dalam hidup Leonor, momen di mana pangeran paling angkuh di kota ini menyatakan cinta, tiba-tiba hancur berkeping-keping oleh kalimat penutup Edgar.

"Edgar!" Leonor berteriak di antara tawa yang tak tertahankan. "Kau baru saja menyatakan cinta dengan sangat indah, lalu kau menghancurkannya dengan imajinasi konyol mu tentang anak-anak itu lagi? Astaga, kau benar-benar sakit!"

Leonor tertawa hingga matanya berair, bahunya berguncang hebat. Ia menatap pria di depannya dengan saksama. Kemana perginya Edgar Martinez yang dingin? Kemana perginya pria sombong yang dulu membuang jasnya karena tersentuh olehnya? Kemana perginya pewaris angkuh yang hampir menabraknya dengan Lamborghini?

Pria di depannya sekarang hanyalah seorang pria alay yang sedang salah tingkah, dengan telinga yang memerah dan wajah yang tampak sangat defensif.

"Kenapa kau tertawa?" protes Edgar, meski sudut bibirnya ikut terangkat melihat Leonor tertawa lepas. "Aku serius! Seorang Martinez selalu memikirkan masa depan jangka panjang. Mencintaimu berarti mencakup seluruh paket masa depan, termasuk tim sepak bola kecil yang akan kita miliki nanti!"

"Hentikan, Edgar! Cukup!" Leonor memegangi perutnya yang mulai sakit karena tertawa. "Kau benar-benar di luar perkiraanku. Kalau orang-orang di kampus tahu kau seromantis dan sekonyol ini, mereka pasti akan mengira kau sedang terkena sihir."

Edgar tersenyum lembut, kali ini tanpa ejekan. "Mungkin aku memang tersihir, Leonor. Olehmu."

Tawa Leonor perlahan mereda, digantikan oleh senyum tulus yang manis. Ia menyadari bahwa di balik segala kekonyolan daddy dan anak-anak itu, Edgar sedang berusaha sekuat tenaga untuk meruntuhkan tembok di antara mereka. Pria itu memberikan hatinya dengan cara yang paling jujur yang ia bisa.

Malam itu, Edgar kembali memutuskan untuk menginap. Ia tidak ingin Leonor memaksakan diri bekerja sendirian di tengah kondisi tubuh yang baru saja pulih dari demam.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam, namun lampu di sudut ruang kerja apartemen masih menyala terang. Leonor duduk di depan mesin jahitnya, fokus menyatukan potongan kain sutra untuk gaun penutup fashion show-nya. Edgar tidak hanya duduk diam, pria yang biasanya hanya memegang pena dan dokumen itu kini duduk di lantai, dikelilingi oleh tumpukan kain.

"Apa yang harus kulakukan sekarang, Nyonya Desainer?" tanya Edgar sambil memegang gunting kain dengan sangat hati-hati, seolah benda itu bisa meledak kapan saja.

"Potong garis putus-putus itu, Edgar. Hati-hati, kain itu sangat mahal," perintah Leonor tanpa menoleh.

"Lebih mahal mana dengan waktuku?" canda Edgar, namun ia tetap mengerjakannya dengan sangat teliti.

Hingga jam satu, lalu jam dua pagi, mereka terjebak dalam ritme kerja yang harmonis. Edgar membantu membersihkan sisa-sisa benang, menyetrika bagian kerah baju yang sudah jadi, hingga membuatkan Leonor teh chamomile hangat agar gadis itu tetap tenang. Tidak ada lagi percakapan tentang bisnis atau persaingan keluarga. Hanya ada suara deru mesin jahit dan sesekali candaan konyol Edgar yang membuat Leonor tersenyum.

"Selesai untuk malam ini," gumam Leonor sambil meregangkan tangannya yang pegal. Matanya sudah sangat berat, pengaruh obat dan kelelahan mulai mengambil alih.

Mereka terlalu lelah bahkan untuk berjalan menuju kamar tidur. Leonor berjalan gontai menuju sofa besar di ruang tamu dan langsung menjatuhkan dirinya di sana. Edgar mengikuti, membawa selimut tebal yang ia ambil dari kamar.

"Kau hebat hari ini," bisik Edgar sambil menyelimuti Leonor.

Leonor yang sudah setengah tertidur menarik lengan baju Edgar. "Jangan pergi... di sini saja."

Edgar tersenyum, ia merebahkan tubuhnya di samping Leonor di atas sofa yang cukup luas tersebut. Sofa itu menjadi saksi bisu bagaimana dua orang yang dulunya saling membenci kini saling mencari kehangatan. Leonor secara naluriah menyusup ke dalam pelukan Edgar, menyandarkan kepalanya di dada pria itu, sementara Edgar melingkarkan lengannya dengan protektif, mencium puncak kepala Leonor sebelum ia sendiri memejamkan mata.

Mereka tertidur sambil berpelukan di sofa, dengan sisa-sisa potongan kain dan benang yang masih berserakan di sekitar mereka. Tidak ada guling pembatas, tidak ada kecanggungan, yang ada hanyalah kedamaian.

Pagi harinya, cahaya subuh mulai masuk menyinari wajah mereka. Leonor terbangun lebih dulu. Ia menatap wajah Edgar yang sedang tidur, tampak begitu tenang dan jauh dari kesan angkuh. Ia menyentuh rahang Edgar dengan ujung jarinya, merasa tidak percaya bahwa pria inilah yang kini menjadi pelindungnya.

"Aku juga mencintaimu, Edgar," bisik Leonor sangat pelan, hampir seperti desahan angin. "Meski kau sangat alay."

Ia kembali memejamkan mata, menikmati detak jantung Edgar yang stabil di bawah telinganya. Di dunia luar, badai mungkin masih menantinya, David Gonzales yang kejam, persaingan kampus, dan ekspektasi keluarga Martinez. Namun, di dalam apartemen ini, di atas sofa ini, Leonor merasa ia sudah memiliki semua yang ia butuhkan untuk menghadapi segalanya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!