Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Menyentuh Takdir
Pagi di Dunia Bawah tidak pernah ditandai dengan matahari, melainkan oleh pergeseran rona kabut dari hitam pekat menjadi kelabu pucat yang menyesakkan.
Namun, pagi ini terasa berbeda. Arus energi di udara terasa jauh lebih berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri adalah raksasa yang sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang mengerikan pecah dari perut bumi.
Keheningan yang menggantung di cakrawala bukan lagi sekadar kesunyian, melainkan ketegangan yang nyaris bisa disentuh.
Di sebuah gua terpencil yang tersembunyi di balik jajaran tebing wilayah utara, Ye Chenxu perlahan membuka matanya.
Sensasi pertama yang menyambutnya adalah rasa sakit. Sisa-sisa pertempuran hidup-mati melawan Algojo Bayangan masih merayap di sumsum tulangnya seperti ribuan semut api yang menggigit.
Setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau tipis di dinding dadanya, pengingat akan batas fisik yang hampir ia lampaui. Namun, di balik penderitaan ragawi itu, ia merasakan sebuah transformasi yang revolusioner.
Ye Chenxu memejamkan mata kembali dan memindai interior tubuhnya. Inti spiritual di Dantiannya kini telah berubah total.
Jika sebelumnya itu adalah pusaran energi yang liar, kini inti tersebut telah memadat menjadi sebuah bola kristal hitam yang pekat, stabil, dan memancarkan hawa dingin yang menggigit.
Inti spiritual itu berdenyut seirama dengan detak jantungnya dan memancarkan aura yang jauh lebih ganas dan murni.
Ye Chenxu mengangkat telapak tangannya ke depan wajah. Dengan satu pikiran, aliran energi kehampaan merembes keluar dari pori-porinya.
Energi itu tidak lagi menguap seperti asap, melainkan membentuk pola-pola geometris kompleks yang saling mengunci di udara, menciptakan distorsi ruang kecil yang mengisap cahaya di sekitarnya.
"Ini ..." gumamnya pelan, suaranya parau namun mengandung otoritas baru. "Fondasi Pembentuk Inti yang sejati. Bukan lagi sekadar kulitnya, tapi esensinya."
Di sampingnya, di atas hamparan bulu siluman yang lembut, ibunya masih tertidur. Napas wanita itu kini teratur, tidak lagi tersengal seperti saat di dalam kereta tawanan.
Luka-luka luar dan memar di tubuhnya telah ditangani oleh Luo Yan menggunakan pil pemulih tingkat tinggi yang langka.
Namun, bekas rantai jiwa—tanda ungu kehitaman yang melingkari pergelangan tangannya—masih membekas samar, sebuah pengingat bisu tentang penderitaan yang ia lalui.
Ye Chenxu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Di dalam dadanya, api kemarahan yang dingin dan ketakutan yang tersisa berkelindan menjadi satu motivasi yang gelap.
"Aku terlambat ..." bisik Ye Chenxu sambil menatap wajah ibunya yang tampak jauh lebih tua dari ingatan masa kecilnya. "Seharusnya aku bisa melindungimu lebih awal, ibu."
Tiba-tiba, suara berat dan purba bergema di kedalaman kesadarannya. Roh Dewa Kehampaan akhirnya membuka suara setelah sekian lama mengamati dalam diam.
"Jangan membuang energi untuk penyesalan yang tidak berguna, bocah. Di dunia ini, kelemahan adalah satu-satunya dosa. Jika kau sedikit saja lebih lemah dari posisimu sekarang, kau bahkan takkan pernah melihatnya lagi. Kau akan menemukan mayatnya, atau lebih buruk, jiwanya yang telah hancur."
Kalimat itu tajam, tanpa empati, dan sama sekali tidak menghibur. Namun, Ye Chenxu tidak membantah. Ia tahu itu adalah kebenaran yang mutlak.
Di Dunia Bawah, kasih sayang tanpa kekuatan hanyalah resep menuju tragedi.
Sementara keheningan menyelimuti gua utara, di pusat wilayah Dunia Bawah, Aula Inti Paviliun Darah telah berubah menjadi neraka dunia.
Aula itu biasanya megah dengan ornamen tulang dan emas, namun kini suasananya mencekam. Tujuh kursi tinggi milik para tetua berdiri kosong, pemiliknya entah sedang gemetar di sudut ruangan atau sudah menjadi mayat.
Di tengah aula, sebuah pemandangan mengerikan tersaji: puluhan kepala kultivator pengawal konvoi digantung di udara menggunakan benang energi, darah mereka menetes perlahan ke lantai batu hitam, menciptakan irama yang menyiksa saraf.
Seorang pria berjubah ungu kemerahan berdiri membelakangi singgasana sambil menatap lukisan dinding kuno.
Aura di sekelilingnya begitu padat hingga udara tampak memelintir, menciptakan distorsi visual yang membuat ruangan itu seolah-olah berada di bawah air yang bergejolak.
"Tiga ahli Transformasi Roh terluka parah," suaranya datar, tanpa nada, namun setiap kata memancarkan tekanan yang membuat atmosfer aula terasa seberat jutaan ton.
"Algojo Bayangan—pembunuh terbaik kita—mati. Dan Gudang Jiwa ... jantung logistik kita, dijarah seperti pasar murah."
Pria itu terdiam sejenak, membiarkan tekanan tersebut meremukkan mental siapa pun yang mendengarnya.
"Satu bocah ... satu serangga yang seharusnya kita injak berbulan-bulan lalu ... telah menghancurkan tatanan yang kami bangun dengan darah selama ratusan tahun."
Seorang tetua yang tersisa memberanikan diri berlutut di lantai yang bersimbah darah, tubuhnya gemetar hebat.
"Tuan Wilayah, kami ... kami telah mengerahkan segala upaya, tapi teknik kehampaan anak itu—"
Blarr!
Pria berjubah ungu itu hanya mengangkat sedikit jarinya tanpa berbalik. Seketika, kepala tetua yang bicara barusan meledak menjadi kabut darah, tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tidak butuh alasan dari pecundang," desisnya. "Mulai hari ini, Dunia Bawah memasuki fase pembersihan total."
Ia berbalik perlahan. Wajahnya tampak dingin, sangat tampan namun memancarkan aura kematian yang begitu murni sehingga siapa pun yang menatap matanya akan merasa seolah-olah jiwa mereka sedang ditarik ke dalam jurang.
Dia adalah Cao Tianxu. Salah satu dari sedikit Raja Wilayah yang menguasai ekosistem bawah tanah. Sosok yang selama ini menjadi dalang di balik tirai Paviliun Darah.
"Buka Segel Perang," perintah Cao Tianxu. "Aktifkan Pasukan Domain yang telah kita simpan. Dan satu hal lagi ... bawa bocah itu padaku dalam keadaan hidup. Aku ingin melihat warna jiwanya saat aku membedahnya perlahan."
Keesokan harinya, seolah-olah kiamat kecil telah tiba, seluruh Dunia Bawah bergetar.
Pasukan Paviliun Darah tidak lagi bergerak dalam bayang-bayang. Mereka bergerak seperti mesin penghancur yang masif. Klan-klan kecil yang dicurigai membantu Ye Chenxu dilenyapkan dalam hitungan jam.
Organisasi-organisasi menengah dipaksa tunduk dan menyerahkan seluruh sumber daya mereka. Siapa pun yang menunjukkan keraguan atau penolakan langsung dimusnahkan tanpa sisa.
Ribuan kultivator berseragam hitam dan merah berbaris, menyisir setiap jengkal tanah, hutan mati, dan gua bawah tanah. Mereka membentuk jaring raksasa yang perlahan namun pasti mulai menyempit menuju wilayah utara.
Luo Yan berdiri di tepi gua terpencil itu, menatap langit kelam yang kini berdenyut dengan rona merah tak wajar—tanda bahwa formasi pelacak tingkat tinggi telah diaktifkan di seluruh wilayah.
Penampilan Luo Yan tidak lagi sesegar sebelumnya. Meskipun ia tidak mati saat mengaktifkan formasi pamungkas di tubuhnya tiga hari lalu, tapi harga yang harus dibayar sangatlah mahal.
Luo Yan menderita cedera meridian yang cukup parah, sebagian besar jalur energinya retak dan hampir hancur. Ia harus mengonsumsi banyak sumber daya tingkat tinggi dan pil suci hanya untuk tetap bisa berdiri tegak, meski kekuatannya belum pulih total.
"Paviliun Darah benar-benar sudah gila," ujar Luo Yan pelan, menyeka noda darah yang mendadak muncul di sudut bibirnya. "Ini bukan lagi perburuan. Ini adalah pemusnahan total terhadap siapa pun yang berani bernapas di sekitar namamu."
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya