Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Wangi antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman siapa pun yang melewati lorong sayap medis istana malam itu. Tidak ada suara langkah kaki yang terburu-buru lagi, yang tersisa hanyalah keheningan yang menyesakkan, hanya sesekali dipecah oleh suara mesin monitor yang berbunyi teratur di balik pintu ruang operasi.
Di depan ruang operasi, Permaisuri Ratna terduduk lemas di bangku panjang. Wajahnya yang biasa memancarkan keanggunan kini tampak kuyu, matanya sembab karena tangis yang tak kunjung berhenti. Ia terus menggenggam tasbih kecil di tangannya, bibirnya bergumam merapalkan doa-doa untuk putra bungsunya.
Di sampingnya, Raja Welas berdiri mematung menatap pintu besi yang tertutup rapat. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak merosot. Bagi seorang raja, ia mungkin punya kuasa atas seluruh negeri, namun di depan pintu ruang operasi ini, ia hanyalah seorang ayah yang merasa tak berdaya melihat putranya berjuang antara hidup dan mati.
Tiba-tiba, suara dentuman pintu lorong yang dibuka paksa memecah kesunyian. Kaisar muncul dengan penampilan yang sangat berantakan. Kemeja putihnya yang tadi pagi masih rapi kini penuh dengan noda debu dan tanah, rambutnya acak-acakan, dan matanya... matanya tampak merah, memancarkan aura kegelapan yang membuat para perawat yang berpapasan dengannya langsung menepi ketakutan.
"Kaisar..." Permaisuri Ratna berdiri dengan gemetar.
Kaisar tidak berkata apa-apa. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan ayahnya. Dadanya naik-turun dengan napas yang memburu.
"Bagaimana Ethan?" tanya Kaisar, suaranya serak, hampir seperti geraman rendah.
Raja Welas menggeleng lemah. "Pisau itu mengenai pembuluh darah utama di perutnya. Dia kehilangan banyak darah, Kaisar. Dokter sedang melakukan embolisasi untuk menghentikan pendarahannya."
Kaisar memukul dinding rumah sakit dengan tinjunya hingga terdengar suara bug yang keras. Ia menyandarkan dahinya di tembok dingin itu, memejamkan mata dengan erat. Bayangan Ethan yang selalu meledeknya, Ethan yang ceria, dan Ethan yang tadi pagi masih tertawa saat meledek gaun Freya, kini terbaring tak berdaya di balik pintu itu.
"Ini salahku," desis Kaisar. "Harusnya aku tidak membiarkan mereka pergi sendiri. Harusnya aku ada di sana."
"Kaisar, dengar..." Raja memegang bahu putranya. "Kita sedang melakukan semua yang kita bisa. Intelijen sedang menyisir seluruh area. Kita akan menemukan Freya."
Di tengah momen yang memilukan itu, langkah kaki lain terdengar mendekat. Kholid muncul dengan wajah yang disetel dalam mode "sangat berduka". Ia membawa beberapa botol air mineral dan handuk bersih.
"Bibi... Paman... Kak Kaisar," suara Kholid terdengar sangat lembut, seolah ia adalah sepupu paling perhatian di dunia. "Aku baru saja kembali dari lokasi kejadian membantu tim investigasi. Maaf aku terlambat sampai di sini."
Kholid berjalan mendekati Permaisuri, memberikan air mineral itu. "Bibi harus minum. Ethan pasti sedih kalau melihat Bibi jatuh sakit."
Kaisar perlahan memutar tubuhnya, menatap Kholid yang sedang berpura-pura mengusap air mata di sudut matanya. Kaisar terdiam sejenak, matanya menyipit, memperhatikan setiap detail dari penampilan Kholid. Ada sesuatu yang mengganjal di sudut hati Kaisar, sebuah insting predator yang mencium bau yang tidak asing.
"Kholid," panggil Kaisar dingin.
Kholid menoleh, tetap dengan wajah sedihnya. "Ya, Kak?"
"Kau bilang kau dari lokasi kejadian?" tanya Kaisar sambil melangkah pelan mendekati sepupunya itu.
"I-iya. Aku ikut menyisir hutan pinus bersama tim keamanan," jawab Kholid, suaranya sedikit bergetar, namun ia menutupinya dengan batuk kecil.
Kaisar berhenti tepat di depan Kholid. Jarak mereka sangat dekat. Kaisar bisa mencium aroma parfum mahal Kholid, namun di bawah aroma itu, ada sesuatu yang lain. Aroma debu tua dan bau bensin yang tipis. Bau yang sama dengan tempat-tempat gudang terpencil.
"Sepatumu," ujar Kaisar singkat sambil melirik ke bawah.
Kholid tersentak. Ia melihat sepatunya yang terkena sedikit percikan lumpur kering dan ada serpihan serat kain kasar yang menempel di talinya.
"Tadi di hutan memang agak becek, Kak," kilah Kholid cepat.
Kaisar tidak membalas. Ia hanya menatap mata Kholid dengan sangat dalam, seolah sedang membedah isi kepala sepupunya itu. Kholid merasa keringat dingin mulai bercucuran di punggungnya, namun ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi dukanya.
Tiba-tiba, lampu merah di atas pintu ruang operasi padam. Pintu terbuka, dan seorang dokter senior keluar dengan wajah yang sangat pucat dan kelelahan. Seluruh anggota keluarga kerajaan langsung mengerumuninya.
"Bagaimana putraku, Dokter?" tanya Raja Welas dengan suara bergetar.
Dokter itu menghela napas panjang, melepas maskernya. "Pendarahan internalnya berhasil kami kendalikan. Tapi... Pangeran Ethan sekarang dalam kondisi koma. Tubuhnya mengalami trauma yang sangat berat. Kita hanya bisa menunggu dalam 24 jam ke depan apakah dia akan terbangun atau tidak."
Permaisuri Ratna seketika luruh ke lantai, tangisannya pecah menjadi raungan yang memilukan. Kaisar menangkap tubuh ibunya, namun matanya tetap tertuju pada Kholid yang berdiri sedikit di belakang.
Di saat semua orang fokus pada kesedihan Permaisuri, Kaisar melihat Kholid sedikit menyeringai—sebuah seringai yang sangat cepat, hampir tidak terlihat jika Kaisar tidak memperhatikannya dengan teliti.
Detik itu juga, Kaisar tahu. Dia tidak butuh bukti hukum, dia hanya butuh instingnya sebagai seorang kakak.
Kaisar menyerahkan ibunya ke pelukan dayang-dayang, lalu ia berdiri tegak. Ia tidak lagi tampak sedih. Wajahnya kini menjadi topeng kematian yang mutlak.
"Kholid," panggil Kaisar dengan nada yang membuat bulu kuduk semua orang di lorong itu berdiri.
"Y-ya, Kak?"
"Ikut aku ke kantor keamanan sekarang. Ada sesuatu yang perlu kau jelaskan tentang 'hutan pinus' yang kau maksud," ujar Kaisar tanpa ekspresi, namun tangannya diam-diam mengepal kuat, siap untuk menghancurkan apa pun yang ada di depannya demi mendapatkan kembali Freya-nya.
Malam semakin larut, dan di istana yang sedang berduka itu, sebuah perburuan yang sebenarnya baru saja akan dimulai.