Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Isolasi dan Belenggu Kasih Sayang
Waktu adalah konsep yang abstrak di dalam kamar yang terkunci. Bagi Aruna Salsabila, waktu tidak lagi ditandai oleh pergeseran matahari di cakrawala, melainkan oleh bunyi klik mekanis dari kunci pintu yang diputar dari luar—sebuah suara yang kini menjadi pemicu trauma kecil di jantungnya.
Sudah tujuh puluh dua jam sejak upaya pelariannya yang gagal. Tiga hari sejak Dante Valerius menghancurkan ponsel di bawah sepatunya seolah-olah dia sedang menghancurkan harapan Aruna. Kamar mewah ini, dengan segala sutra, marmer, dan emasnya, kini terasa lebih sempit daripada sel penjara bawah tanah. Oksigen di sini terasa berat, seolah setiap helai napas yang diambil Aruna sudah dipantau dan dimiliki oleh pria yang mengurungnya.
Aruna duduk di sudut ruangan, di atas lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya erat-alih. Ia tidak lagi mengenakan gaun indah yang disiapkan pelayan. Ia tetap mengenakan gaun tidur hitam yang sudah kusut, rambutnya yang biasanya harum melati kini berantakan, menutupi sebagian wajahnya yang kuyu. Ia merasa dirinya perlahan-lahan memudar, kehilangan identitas sebagai mahasiswi cerdas, dan berubah menjadi sekadar bejana nutrisi bagi pewaris mafia.
Dada Aruna berdenyut nyeri. Produksi ASInya tidak berhenti hanya karena dia depresi. Sensasi berat dan penuh itu adalah pengingat fisik bahwa dia masih terikat secara biologis pada kediaman ini. Setiap kali dia mendengar tangisan Leonardo dari balik dinding, hatinya tersayat. Ia merindukan bayi itu, meski ia membenci ayahnya. Itulah ironi paling pahit dalam hidupnya saat ini: ia mencintai anak dari pria yang menghancurkan dunianya.
Klik.
Pintu terbuka. Aruna tidak bergerak. Ia mengira itu adalah Bibi Elena yang membawakan nampan makanan hambar yang dipenuhi nutrisi tinggi. Namun, langkah kaki yang terdengar berbeda—berat, berirama, dan penuh otoritas.
Dante Valerius masuk.
Pria itu berdiri di ambang pintu sejenak, membiarkan bayangannya yang besar menutupi tubuh Aruna yang meringkuk. Dante tidak mengenakan jas. Ia hanya mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan digulung, memperlihatkan tato hitam yang merambat di kulitnya seperti tanaman merambat yang beracun. Di tangannya, ia membawa sebuah keranjang bayi berbahan anyaman halus.
Dante meletakkan keranjang itu di tengah ruangan, lalu berjalan mendekati Aruna. Ia berlutut di hadapan gadis itu. Ruangan yang luas itu seketika terasa sangat sempit karena kehadirannya.
"Sampai kapan kau akan melakukan aksi mogok makan ini, Aruna?" suara Dante rendah, tidak ada amarah di sana, hanya nada tenang yang justru lebih menakutkan. "Kau menyiksa dirimu sendiri, dan secara tidak langsung, kau menyiksa putraku."
Aruna mendongak perlahan. Matanya yang merah menatap Dante dengan kebencian yang murni. "Kau yang menyiksaku, Dante. Kau membunuh jiwaku. Kenapa kau tidak sekalian membunuhku saja?"
Dante mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar mengusap helai rambut yang menutupi wajah Aruna. Aruna tersentak mundur, namun Dante dengan cepat mencengkeram dagunya, tidak keras, namun cukup kuat untuk memaksa Aruna menatapnya.
"Mati adalah jalan keluar yang terlalu mudah, mawar kecilku," bisik Dante. "Dan aku tidak mengizinkanmu pergi ke mana pun. Kau butuh alasan untuk hidup? Aku punya satu untukmu."
Dante merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah tablet tipis. Ia menyalakan layarnya dan meletakkannya di depan wajah Aruna.
Layar itu menampilkan rekaman langsung. Aruna terkesiap. Di sana, ibunya sedang berbaring di tempat tidur yang jauh lebih mewah daripada di ICU sebelumnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap ke taman lavender yang tenang. Seorang perawat sedang mengusap tangan ibunya dengan lembut, sementara seorang dokter sedang memeriksa monitor yang menunjukkan detak jantung yang stabil dan kuat.
"Itu adalah sanatorium pribadiku di lereng gunung," kata Dante, matanya terus mengawasi reaksi Aruna. "Hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk ke sana. Ibumu tidak lagi menjadi 'pasien' di rumah sakit umum yang kotor. Dia adalah tamuku. Dia mendapatkan terapi stimulasi saraf terbaru dari Swiss. Lihat tangannya, Aruna."
Di layar, jemari ibu Aruna tampak bergerak sedikit—sebuah gerakan refleks yang sangat kecil, namun bagi Aruna, itu adalah sebuah keajaiban.
"Ibu..." Aruna terisak, tangannya gemetar ingin menyentuh layar itu.
"Dia bisa bangun bulan depan, atau tahun depan. Semua itu tergantung padamu," Dante menarik tablet itu kembali. "Aku bisa memberikan kehidupan yang paling indah baginya, atau aku bisa menghentikan semua peralatan itu dalam satu jentikan jari. Pilihan ada di tanganmu, Aruna. Apakah kau ingin menjadi martir yang depresi, atau kau ingin menjadi wanita yang menyelamatkan ibunya?"
Ini adalah manipulasi tingkat tinggi. Dante tidak hanya menggunakan kekerasan; ia menggunakan harapan sebagai belenggu. Aruna merasa dirinya jatuh ke dalam lubang gelap di mana tidak ada benar atau salah, yang ada hanya bertahan hidup.
"Apa yang kau inginkan dariku, Dante?" suara Aruna pecah.
"Aku ingin kepatuhanmu yang mutlak. Bukan karena takut, tapi karena kau sadar bahwa hanya aku yang bisa melindungimu dan ibumu." Dante berdiri, lalu mengambil Leonardo dari keranjang. Bayi itu mulai merengek, mencari kehangatan. "Dia membutuhkanmu. Berikan dia apa yang menjadi haknya."
Aruna menerima Leonardo ke dalam pelukannya. Rasa hangat bayi itu seketika meluluhkan dinding pertahanan mentalnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, perlahan membuka kancing pakaiannya. Dante tidak pergi. Ia duduk di kursi kayu di depan Aruna, memperhatikan setiap gerakan Aruna dengan tatapan yang kini tidak lagi klinis, melainkan penuh obsesi.
"Kau sangat cantik saat bersamanya," gumam Dante. "Seolah-olah kau memang dilahirkan untuk berada di rumah ini."
"Aku dilahirkan untuk menjadi diriku sendiri, bukan propertimu," sahut Aruna sambil menatap Leonardo yang mulai menyusu dengan tenang.
Dante berdiri dan mendekat. Ia berdiri di belakang Aruna, tangannya memegang bahu Aruna sementara matanya menatap pantulan mereka di cermin besar di depan tempat tidur. "Dunia luar adalah tempat yang kejam bagi gadis sepertimu, Aruna. Kau melihat bagaimana Don Salieri menatapmu malam itu? Dia melihatmu sebagai komoditas. Aku melihatmu sebagai jantung dari rumah ini."
Dante merogoh sakunya lagi, kali ini ia mengeluarkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air. Ia memakaikannya ke leher Aruna. Dinginnya logam itu menyentuh kulit Aruna, terasa seperti borgol yang dipercantik.
"Besok malam, akan ada pesta besar di mansion ini. Peresmian yayasan Leonardo Valerius. Semua keluarga besar dan rekan bisnisku akan hadir," Dante berbisik di telinga Aruna, napasnya terasa hangat dan berbahaya. "Aku akan memperkenalkanmu sebagai tunanganku."
Aruna tersedak napasnya sendiri. "Tunangan? Kau bercanda! Aku adalah ibu susunya, Dante! Semua orang akan tahu!"
"Biarkan mereka tahu. Biarkan mereka tahu bahwa kau adalah wanita yang memberiku pewaris, dan wanita yang akan menjadi istriku. Dengan begitu, tidak akan ada yang berani menyentuhmu atau ibumu. Status ini adalah perisaimu."
"Atau ini adalah caramu mengunci pintunya secara permanen?"
Dante tersenyum—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Mungkin keduanya. Persiapkan dirimu, Aruna. Seorang desainer akan datang sore ini untuk mengukur gaun merahmu. Aku ingin kau tampil menakjubkan. Kau harus terlihat seperti wanita yang mencintaiku di depan mereka semua."
Dante membungkuk, mencium kening Aruna dengan lembut namun penuh penekanan, seolah sedang menandai wilayahnya.
"Ingat layar tablet tadi, Aruna. Jangan lakukan kesalahan. Karena di pesta besok, kesalahan terkecilmu bisa berakibat fatal bagi banyak nyawa."
Dante keluar dari kamar, dan kali ini, ia tidak mengunci pintunya. Namun, bagi Aruna, pintu yang terbuka itu terasa jauh lebih menakutkan daripada pintu yang terkunci. Ia kini tahu bahwa ia tidak lagi bisa lari. Dante telah membangun jembatan emas menuju neraka, dan Aruna harus berjalan di atasnya dengan senyuman demi keselamatan ibunya.
Di pelukannya, Leonardo melepaskan hisapannya, tertidur puas. Aruna menatap kalung berlian di lehernya, lalu menatap bayangan dirinya yang tampak asing. Dia bukan lagi Aruna sang mahasiswi. Dia adalah pion utama dalam permainan catur berdarah Dante Valerius.