NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Permainan di Tepi Jurang

​Malam di kediaman Valerius selalu terasa seperti keabadian yang dibungkus dalam kemewahan yang mencekam. Di luar, badai belum benar-benar reda; suara petir yang menggelegar di kejauhan terdengar seperti suara meriam dalam peperangan yang tak terlihat. Aruna berdiri di balik pintu kamar bayi, telinganya menempel pada kayu jati yang dingin. Di koridor, ia bisa mendengar langkah kaki teratur dari para penjaga yang berpatroli, suara gesekan kain jas mereka dan denting pelan dari senjata yang tersampir di pinggang.

​Dante baru saja pergi. Sebuah urusan darurat di pelabuhan—sesuatu tentang pengiriman yang dicegat otoritas atau dikhianati musuh—memaksanya meninggalkan mansion dalam kemarahan yang meluap. Aruna melihatnya dari jendela; iring-iringan mobil hitam yang membelah kegelapan seperti barisan predator yang haus darah.

​Ini adalah kesempatannya. Satu-satunya kesempatan.

​Ponsel Don Salieri. Aruna ingat persis di mana benda itu berada. Saat kericuhan kecil terjadi ketika Dante menancapkan pisau ke meja, Salieri yang panik sempat menggeser beberapa barang, dan ponsel itu terselip di bawah lipatan serbet satin yang tebal di sudut meja makan. Dante mungkin terlalu murka untuk menyadarinya, dan para pelayan terlalu takut untuk menyentuh apa pun sebelum diperintahkan.

​"Aku harus melakukannya," bisik Aruna pada dirinya sendiri. Suaranya gemetar, hampir tenggelam oleh suara hujan.

​Ia menoleh ke arah Leonardo yang tertidur lelap di boksnya. Bayi itu tampak begitu damai, kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Aruna. Aruna tahu, jika ia tertangkap, tidak akan ada ampun. Dante bukan pria yang memberikan kesempatan kedua pada sebuah pengkhianatan. Namun, jika ia tetap diam, ia akan perlahan-lahan membusuk di dalam sangkar emas ini, menjadi boneka pemuas obsesi Dante tanpa pernah melihat ibunya lagi secara bebas.

​Aruna membuka pintu kamarnya sedikit demi sedikit. Koridor remang-remang, hanya diterangi oleh lampu dinding bergaya gotik yang memberikan bayangan panjang dan distorsi. Ia harus melewati dua penjaga di ujung tangga.

​Dengan jantung yang berdegup kencang hingga terasa sakit di rusuknya, Aruna melangkah keluar. Ia mengenakan gaun malam hitamnya yang tipis, sengaja membiarkan rambutnya sedikit berantakan. Ia harus punya alasan jika bertemu penjaga.

​"Nona Aruna?" Salah satu penjaga, seorang pria bertubuh raksasa dengan bekas luka di alisnya, menoleh tajam. Tangannya refleks menyentuh senjata di pinggang.

​Aruna berpura-pura terkejut, tangannya memegangi lehernya yang berkeringat dingin. "Aku... aku tidak bisa tidur. Aku butuh air hangat ke dapur. Aku merasa sangat haus."

​Penjaga itu menyipitkan mata, memindai wajah Aruna yang pucat. Kecantikan Aruna adalah kutukan sekaligus senjata; pria itu tampak sedikit melunak melihat tatapan Aruna yang rapuh. "Tuan Dante memerintahkan Anda untuk tetap di kamar."

​"Aku hanya ke dapur, bukan ke gerbang depan," suara Aruna bergetar, memberikan efek emosional yang pas. "Apa kau akan membiarkan ibu susu Tuan Muda kehausan dan merusak kualitas ASInya?"

​Mendengar nama Leonardo, penjaga itu ragu sejenak. Akhirnya, ia memberi isyarat dengan kepalanya. "Cepatlah. Jangan berkeliling ke ruangan lain."

​Aruna mengangguk singkat dan berjalan secepat mungkin menuju tangga besar. Setiap langkahnya di atas marmer terasa seperti dentuman drum yang memekakkan telinga. Ia melewati ruang tengah yang sunyi, menuju ruang makan utama yang masih menyisakan aroma sisa jamuan malam tadi—aroma daging, wine mahal, dan ketegangan yang belum luntur.

​Ruangan itu gelap. Aruna menyalakan lampu kecil di sudut ruangan. Meja panjang itu masih berantakan. Ia mendekati kursi tempat Don Salieri duduk tadi. Napasnya memburu. Ia mulai meraba di bawah serbet satin yang masih tergeletak di sana.

​Kosong.

​Kepanikan mulai merayap di tenggorokannya. Tidak, tidak mungkin. Aku melihatnya di sini, batinnya berteriak. Ia mengangkat piring porselen, menggeser gelas kristal yang masih berisi sisa cairan merah. Dan di sana, tergeletak di dekat kaki meja, benda logam kecil berkilat tertimpa cahaya lampu.

​Ponsel itu.

​Aruna segera memungutnya. Benda itu terasa dingin dan berat di tangannya. Ia tidak sempat memeriksa apakah ada kunci pengaman atau tidak; ia segera menyelipkannya di balik ikat pinggang gaun sutranya, tertutup oleh lipatan kain.

​Baru saja ia berbalik untuk pergi, sebuah suara dingin membelah kesunyian dari arah kegelapan pintu masuk.

​"Apa yang kau cari di sini, Aruna?"

​Aruna tersentak hebat, hampir menjerit. Di sana, bersandar pada bingkai pintu dengan tangan bersedekap, berdiri Marco. Pria tangan kanan Dante itu selalu muncul seperti hantu. Matanya yang jeli menatap Aruna dengan penuh selidik.

​"Aku... aku haus," Aruna mengulangi alasannya, mencoba mengatur napas agar tidak terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah.

​Marco melangkah masuk ke dalam cahaya. "Dapur ada di sebelah sana, Nona. Mengapa Anda berada di kursi tamu Tuan Dante?"

​"Aku hanya... mengagumi mejanya," Aruna mundur selangkah, tangannya secara insting menekan ponsel yang tersembunyi di balik pinggangnya. "Aku akan kembali ke kamar sekarang."

​Marco tidak bergerak. Ia memperhatikan gerak-gerik Aruna dengan sangat teliti. "Tuan Dante sangat tidak menyukai orang yang memiliki agenda tersembunyi. Kau tahu itu, bukan?"

​"Aku tidak punya agenda apa pun, Marco. Aku hanya seorang wanita yang terjebak di rumah ini demi nyawa ibunya. Apa lagi yang kau harapkan dariku?"

​Marco diam selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, ia menyingkir dari pintu. "Kembalilah ke kamar. Dan jangan biarkan aku melihatmu berkeliaran lagi malam ini."

​Aruna berlari melewati Marco, naik ke tangga dengan sisa tenaga yang ia miliki. Begitu sampai di dalam kamarnya, ia mengunci pintu dan merosot ke lantai. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia merasa bisa pingsan.

​Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponsel itu. Layarnya menyala. Beruntung bagi Aruna, Don Salieri adalah pria sombong yang tidak menyangka ponselnya akan dicuri; tidak ada kata sandi.

​Aruna segera mencari sinyal. Mansion ini memiliki pengacak sinyal (jammer), namun ia teringat sebuah celah yang pernah ia dengar dari salah satu pembantu—bahwa di balkon sayap timur, dekat menara pemancar internal, sinyal luar terkadang bisa menembus.

​Ia merangkak menuju balkon, bersembunyi di balik gorden tebal. Ia mengetik nomor rumah sakit tempat ibunya dirawat. Ia hanya ingin mendengar suara perawat, memastikan ibunya benar-benar aman dan tidak hanya menjadi alat sandera Dante.

​Panggilan tersambung. Tut... Tut...

​Setiap nada sambung terasa seperti denyut nadi di pelipisnya.

​"Halo? Rumah Sakit Medika, ada yang bisa dibantu?" suara seorang wanita di ujung telepon terdengar seperti malaikat bagi Aruna.

​"Halo... saya Aruna. Saya ingin menanyakan kondisi pasien bernama Ibu Rahayu di ruang ICU VIP."

​"Mohon tunggu sebentar, Nona..."

​Saat ia menunggu, Aruna mendengar suara deru mobil kembali memasuki halaman mansion. Dante telah kembali. Lebih cepat dari yang ia duga.

​"Halo, Nona Aruna? Pasien Rahayu dalam kondisi stabil, namun Tuan Dante Valerius baru saja memerintahkan pemindahan pasien ke fasilitas pribadi milik keluarga Valerius besok pagi pukul enam. Apakah Anda sudah mengetahuinya?"

​Aruna mematung. Pemindahan? Itu berarti Dante akan memiliki kontrol total atas nyawa ibunya di wilayah yang bahkan hukum tidak bisa sentuh.

​Tiba-tiba, pintu kamarnya ditendang terbuka dengan dentuman yang menggelegar.

​Dante berdiri di sana. Rambutnya basah oleh hujan, kemejanya terkena noda darah di bagian bahu, dan matanya memancarkan api kemarahan yang bisa menghanguskan siapa pun. Ia tidak menatap Aruna; matanya langsung tertuju pada benda bercahaya di tangan Aruna.

​"Berikan padaku," suara Dante begitu rendah hingga terasa seperti getaran gempa bumi.

​"Dante, tolong... aku hanya ingin tahu kondisi ibuku—"

​Dante melangkah maju dengan kecepatan yang mengerikan. Ia menyambar pergelangan tangan Aruna, memuntirnya sedikit hingga ponsel itu terjatuh, lalu Dante menginjak ponsel itu dengan sepatu botnya hingga hancur berkeping-keping.

​"Kau mencuri dari tamuku, kau berbohong pada penjagaku, dan kau mencoba menghubungi dunia luar di belakangku!" Dante mencengkeram rahang Aruna, mengangkat wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau pikir aku bodoh, Aruna? Kau pikir aku tidak tahu Marco mengikutimu ke ruang makan?"

​"Kau bajingan posesif!" teriak Aruna, meledak dalam tangis. "Dia ibuku! Kau menggunakannya sebagai sandera!"

​"Aku melindunginya agar aku bisa memilikimu!" Dante membalas teriakan itu, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Jika dunia luar tahu kau ada di sini, mereka akan membunuhmu hanya untuk menyakitiku! Dan kau... kau baru saja membuktikan bahwa kau tidak bisa dipercaya dengan kebebasan."

​Dante menarik Aruna dengan kasar menuju tempat tidur. Ia tidak melakukan kekerasan seksual, namun ia menekan tubuh Aruna ke kasur dengan berat tubuhnya yang mendominasi. Ia menatap mata Aruna dengan tatapan yang sangat terluka sekaligus sangat kejam.

​"Mulai besok, ibumu akan berada di bawah atapku yang lain. Dan kau... kau tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi tanpa seizinku. Kamar ini akan dikunci dari luar. Kau hanya akan keluar untuk Leonardo, dan itu pun dengan tangan terborgol jika perlu."

​Dante membungkuk, mencium kening Aruna dengan paksa. Ciuman yang terasa seperti segel kutukan.

​"Selamat tidur, mawar kecilku," bisik Dante di telinga Aruna yang sedang menangis tersedu-sedu. "Besok, duniamu akan menjadi jauh lebih kecil. Dan kau hanya akan memiliki aku untuk dipuja."

​Dante keluar dan mengunci pintu dari luar. Aruna meringkuk di atas tempat tidur, dikelilingi oleh kemewahan yang kini terasa seperti peti mati. Di ruangan sebelah, Leonardo mulai menangis, namun kali ini Aruna tidak diperbolehkan keluar. Ia hanya bisa mendengarkan tangisan itu, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya dalam satu malam.

1
Widia Aldiev
nggak buyar buyar Thor ceritone koyo Tante sepur wae 😭😭😭
putri lindung bulan: ya kk, akan ada kejutan di bab selanjutnya,baca aja dulu nanti kita akan di buat baper oleh mereka berdua
total 1 replies
Widia Aldiev
Dante kemampuan kau membawa Aruna dan Leonardo pergi pasti para iblis masih mengejar kalian
Widia Aldiev
sampai kapan perang ini akan terjadi Aruna bagaikan binatang buruan yg harus segera di tangkap dan di jadikan santapan liar para pemangsa 😭😭😭
Widia Aldiev
sebegitu mengerikannya dunia mafia kasihan Aruna dan Leonardo 😌😌
Widia Aldiev
mengandung bawang Bombay 😭😭😭😭 akhirnya mereka bersatu apakah Dante akan menikahi Aruna Thor agar mereka menjadi keluarga yg utuh,semoga setelah ini semua mereka hidup berbahagia tanpa ada embel" mafia 🤧😅
Widia Aldiev
WAWWWWW KEREEEEEN THOR 🔥🔥🔥❤️❤️❤️SUNGGUH IMJINASI YG SANGAT LUAR BIASA SEPERTI NONTON FILM LAGA DI BIOSKOP 🥳🥳🥳🥳
Widia Aldiev
dirimu pantas di sebut sebagai RATU VALERIUS Aruna karena kamu yg menyelamatkan Leonardo dan menjadi ibu baginya 🔥🔥🔥 tetap tegar dan terus berjuang demi masa depanmu dan Leonardo ❤️❤️❤️
Widia Aldiev
oooh Aruna semoga kalian selamat dan bisa hidup bebas juga bahagia 😌😌
Widia Aldiev
😤😤😤😤😪😪😪 kasihan si kecil Leonardo di usia yg masih bayi harus ikut berpetualang kedua orangtuanya
Widia Aldiev
semoga kamu g menyesal Aruna dengan semua yg kamu lakukan pada Dante 😌😌
Widia Aldiev
gmana g bimbbang si Aruna jika dia merasa hanya di manfaatkan saja...yg tegar Aruna dunia memang tak seindah yg di bayangkan..sekedar menghibur diri anggap saja simbiosis mutualisme dirimu dengan Dante 😌😌
Widia Aldiev
terlanjur basah ya sudah mandi sekali...itulah ungkapan yg menurutku pas buat Aruna hidup di dunia bawah yg penuh dengan kekerasan dan taktik tipu daya kalo g pinter" menguasai ya hanya akan berakhir jadi mangsa,lebih baik jadi pemangsa ya Aruna selamat menikmati kehidupan mu yg baru Aruna selamat datang di dunia tipu tipu 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
yaaaaah adegan hot hot popnya menggantung di udara dan lenyap begitu saja padahal udah fokus banget ini bacanya berharap akan ada....😅🤣🤣🤣
Widia Aldiev
MANTAB teka teki mulai terjawab satu persatu dan Aruna makin tak bisa lepas dari Dante karena ia kunci dari semua drama mengerikan yg terjadi 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
BODOH kamu Aruna cari mati namanya jika kau sayang ibumu menurutlah gadis kecil jngan buat Dante menjadi monster yg sesungguhnya lihatlah dia akan melahapmu mentah" 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
serasa nonton film beauty and the best 😅😅Aruna hidup dengan monster seram tp menginginkannya sebagai pendamping dengan cara yg ekstrim...lanjut Thor ❤️❤️❤️
Widia Aldiev
lihatlah Aruna betapa Dante melindungi dirimu dari para musuhnya so jangan buat Dante naik pitam lagi ya...dapatkan hatinya dan nikmati semuanya yg ia berikan
Widia Aldiev
tak usah ambil pusing dengan kata" wanita yg tak bisa memiliki Dante seutuhnya,lakukan tugasmu Aruna nikmati jalani ingat sekejam" nya Dante dialah yg berjasa terhadap keselamatan ibumu Aruna jangan kau lupakan hal itu,anggap semua balas budimu terhadap Dante,urusan yg lain kamu tak perlu ikut campur,kalo bisa taklukkan Dante ingat seberbahayanya buaya pasti ada pawangnya 😄😄
Widia Aldiev
karyamu sungguh sangat luar biasa Thor ❤️❤️❤️q sampe ikut merasakan suasana di cerita ini merinding,takut, terintimidasi semua jadi satu, bagai jadi pemeran Aruna diri ini 🔥🔥😅😅🙏🙏
Widia Aldiev
semua ada konsekuensinya Aruna jika kamu patuh kamu akan selamat dan bisa melihat ibumu,kini setelah semua kebodohan yg kamu lakukan akhirnya kamu jadi tawanan sesungguhnya oleh Dante bahkan dirimu tak lagi leluasa menemui Leonardo yg menjadi pelita dalam hidupmu 😌😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!