NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:39.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Mangsa dan Pemangsa

Lin Xuan terbangun karena rasa lapar.

Bukan rasa lapar biasa yang meminta nasi atau roti. Ini adalah kelaparan yang mendasar, seolah-olah setiap sel di tubuhnya sedang berteriak meminta bahan bakar. Perutnya melilit bukan karena kosong, tapi karena sumsum tulang barunya membutuhkan energi untuk memadat.

Ia membuka mata. Gelap.

Dia berada di dasar Jurang Maut. Cahaya matahari dari atas sana tidak mampu menembus kabut tebal berlapis-lapis. Satu-satunya penerangan berasal dari jamur-jamur raksasa setinggi manusia yang memancarkan cahaya biru pucat dan menyeramkan (bioluminescent).

Udara di sini lembap, berbau lumut busuk dan bangkai hewan yang membusuk.

Lin Xuan mencoba duduk.

Krak!

Tanah batu di bawah telapak tangannya retak saat ia menekannya untuk bangun.

Lin Xuan tertegun. Dia menatap tangannya. Kulitnya pucat pasi, hampir transparan hingga pembuluh darah biru di bawahnya terlihat jelas. Tapi saat dia mengepal, dia merasakan kekuatan yang asing. Lengannya terasa berat, padat, seperti diisi timah cair.

"Kau sudah bangun, Bocah," suara Gu Tianxie bergema di dalam kepalanya, malas dan serak.

"Berapa lama aku pingsan?" tanya Lin Xuan. Suaranya sendiri terdengar berbeda—lebih berat dan dingin.

"Tiga hari. Cukup lama bagi seekor Serigala Gigi Baja untuk menemukanmu dan menjadikanmu makan malam."

Lin Xuan menoleh tajam.

Di balik keremangan jamur bercahaya, sekitar sepuluh langkah darinya, sepasang mata kuning menyala menatapnya.

Seekor serigala setinggi pinggang manusia keluar dari bayangan. Bulunya kaku seperti jarum besi, dan dari mulutnya yang meneteskan liur, terlihat taring-taring yang berkilap logam.

Serigala Gigi Baja (Steel-Tooth Wolf). Binatang buas Tingkat 1 Menengah. Setara dengan Kultivator Qi Condensation Lapisan 4.

Dulu, saat Lin Xuan masih di Lapisan 3 dengan tubuh manusia biasa, dia harus lari jika melihat makhluk ini. Kulitnya terlalu keras untuk pedang biasa.

"Pedangku..." Lin Xuan meraba pinggangnya. Kosong. Pedang besi klan Lin patah saat dia jatuh.

"Kau tidak butuh besi rongsokan itu," cibir Gu di kepalanya. "Tubuhmu sekarang adalah senjata. Kitab Suci Tulang Asura tahap awal: Tulang Besi Hitam. Uji coba kekuatan barumu."

Serigala itu menggeram rendah, merasakan perubahan aura mangsanya. Namun insting binatangnya mengatakan bahwa manusia di depannya terluka dan sendirian.

GRAAARR!

Serigala itu menerjang. Kecepatannya seperti bayangan hitam.

Lin Xuan tidak sempat berpikir. Insting bertarungnya mengambil alih. Dia tidak menghindar. Dia maju.

DUAGH!

Serigala itu menabrak dada Lin Xuan. Taring bajanya menancap di bahu kiri Lin Xuan.

"ARGH!" Lin Xuan berteriak.

Rasa sakitnya bukan main. Seperti bahunya disiram air keras dan ditusuk paku panas sekaligus. Ingat, Cincin Samsara Darah meningkatkan sensitivitas rasa sakit 100 kali lipat. Gigitan yang seharusnya hanya sakit biasa, kini terasa seperti penyiksaan neraka.

Tapi anehnya... taring itu tidak menembus dalam.

Hanya kulit luar yang robek. Taring baja serigala itu berhenti saat membentur tulang selangka Lin Xuan.

Ting!

Suara logam beradu dengan logam terdengar jelas.

Serigala itu terkejut. Matanya membelalak bingung. Gigitannya yang biasa meremukkan tulang mangsa, kini tertahan.

Mata Lin Xuan memerah karena rasa sakit yang gila, tapi bibirnya menyeringai. Adrenalin dan kemarahan membanjiri otaknya.

"Sakit sekali..." desis Lin Xuan, napasnya memburu. "Tapi... kau tidak bisa membunuhku!"

Tangan kanan Lin Xuan bergerak, mencengkeram leher serigala itu. Cengkeramannya kuat, jari-jarinya menekan seperti catut besi.

KREK!

Suara tulang leher serigala yang retak terdengar renyah.

Serigala itu melolong kesakitan, mencakar-cakar dada Lin Xuan dengan kaki depannya. Baju Lin Xuan robek, kulit dadanya tergores berdarah-darah. Rasa sakit itu bertumpuk-tumpuk perih, panas, menyengat.

Tapi Lin Xuan tidak melepaskan. Dia justru mempererat cengkeramannya, mengabaikan rasa sakit yang membuat pandangannya berkunang-kunang.

"Mati... MATI KAU!"

Lin Xuan mengangkat serigala seberat 80 kilogram itu dengan satu tangan, lalu membantingnya ke tanah batu.

BAM!

Serigala itu masih meronta.

Lin Xuan mengangkat tinju kirinya. Qi merah tipis menyelimuti kepalan tangannya.

BAM!

Kepala serigala itu retak. Darah muncrat ke wajah Lin Xuan.

BAM! BAM! BAM!

Lin Xuan memukul lagi dan lagi. Dia tidak berhenti meski serigala itu sudah berhenti bergerak. Dia memukul sampai kepala binatang buas itu hancur menjadi bubur daging dan tulang. Dia melampiaskan semua ketakutan, semua kesedihan, dan semua kemarahannya pada bangkai itu.

"Cukup," suara Gu menghentikannya.

Lin Xuan terengah-engah. Tangannya berlumuran darah kental dan otak serigala. Dia duduk terkulai di samping bangkai itu, seluruh tubuhnya gemetar karena sisa adrenalin dan rasa sakit dari luka-lukanya.

"Kau bertarung seperti orang gila. Tanpa teknik, hanya nafsu membunuh," komentar Gu datar. "Tapi untuk pemula, itu lumayan."

Lin Xuan menatap mayat serigala itu. Ini pertama kalinya dia membunuh sesuatu dengan tangan kosong sebrutal ini. Perutnya mual.

"Sekarang, makan," perintah Gu.

Lin Xuan terdiam. "Apa?"

"Cincinmu butuh energi. Tulangmu butuh kekuatan dan Qi darah untuk pulih dari retakan kecil akibat benturan tadi. Di sini tidak ada Pil Pemulihan. Kau harus mengambilnya dari alam."

"Maksudmu... memakan daging mentah ini?" Lin Xuan menatap daging serigala yang hancur itu dengan jijik. Dia manusia beradab, bukan binatang.

"Kau ingin balas dendam?" suara Gu menjadi dingin dan tajam. "Sekte Bayangan meminum arak spiritual dan memakan daging naga setiap hari. Kau pikir kau bisa mengejar mereka dengan memakan jamur dan minum air embun? Jangan naif!"

"Di jalan Asura, segala sesuatu yang bernyawa adalah sumber daya. Darah adalah arakmu. Daging adalah pilmu. Makan, atau mati kelaparan di sini."

Perut Lin Xuan berbunyi keras lagi, kali ini disertai rasa sakit yang menusuk. Tubuhnya menuntut asupan.

Lin Xuan menatap darah yang menggenang di batu. Anyir. Merah.

Dia memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya yang tersenyum, lalu wajah ayahnya yang terpenggal.

Rasa jijik itu perlahan hilang, digantikan oleh tekad dingin.

Dia mengulurkan tangan, merobek paha serigala itu yang masih hangat. Darah menetes dari sela-sela jarinya.

Lin Xuan membuka mulutnya dan menggigit daging mentah itu.

Rasanya amis, kenyal, dan memuakkan. Dia ingin muntah, tapi dia memaksanya masuk ke tenggorokan.

Saat daging itu masuk ke perut, Cincin Jiwa Kuno di jarinya bersinar redup. Sensasi hangat menyebar dari perut ke seluruh tulang-tulangnya. Rasa sakit di bahunya mereda sedikit. Tenaganya kembali.

Ini... ini berhasil, batinnya ngeri sekaligus takjub.

Dia menggigit lagi. Dan lagi.

Di kegelapan dasar jurang, seorang pemuda duduk sendirian di samping bangkai serigala, memakan daging mentah dengan wajah tanpa ekspresi, sementara mata merah hantu tua mengawasinya dengan kepuasan.

Malam itu, Lin Xuan belajar satu hal: Di dunia ini, hanya ada dua jenis makhluk.

Mangsa dan Pemangsa.

Dan dia bersumpah tidak akan pernah menjadi mangsa lagi.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!