NovelToon NovelToon
PENYESALAN DI UJUNG TALAK

PENYESALAN DI UJUNG TALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPULANGAN YANG MEMILUKAN

Deru mesin bus ekonomi yang kasar akhirnya berhenti di Terminal Cicaheum saat adzan subuh baru saja berkumandang. Udara Bandung yang dingin sekali langsung menyergap masuk lewat jendela bus yang terbuka separuh, membawa aroma tanah basah dan embun yang menusuk tulang. Rangga menggendong Rinjani dengan posisi tangan yang sudah kaku sekali karena terlalu lama menopang tubuh kecil itu selama perjalanan panjang dari Jakarta. Bocah itu masih tertidur lelap, napasnya teratur di pundak ayahnya, seolah tidak tahu kalau dunianya sudah berubah total dalam semalam.

Rangga melangkah turun dari bus dengan kaki yang terasa kebas. Tas ranselnya yang cuma berisi sisa-sisa kenangan pahit itu terasa berat sekali, seberat beban yang menghimpit dadanya. Dia berjalan menyusuri trotoar terminal yang becek, lalu masuk ke dalam gang-gang sempit yang berkelok-kelok menuju rumah masa kecilnya. Suasana Bandung pagi itu berkabut tebal. Cahaya lampu jalanan yang kuning remang-remang membiaskan siluet Rangga yang tampak sangat rapuh di tengah kesunyian kota yang baru saja terjaga.

Setiap langkah kaki Rangga terasa seperti menyeret ribuan kenangan pahit. Dia teringat bagaimana dulu dia meninggalkan Bandung dengan penuh percaya diri. Dulu, dia berjanji pada Emak kalau dia akan sukses di Jakarta, akan membawa Laras hidup mewah, dan akan membahagiakan keluarganya. Tapi lihatlah sekarang? Dia pulang bagaikan prajurit yang kalah perang, tanpa harta, tanpa harga diri, dan tanpa istri yang selama ini dia puja-puja setinggi langit.

Langkah kakinya melambat saat sampai di depan sebuah pintu kayu sederhana yang sudah mulai keropos dimakan usia. Ini adalah rumah Emak. Tempat di mana dia dulu tumbuh dengan sejuta mimpi besar, tempat yang dia anggap paling aman di seluruh dunia. Rangga berdiri mematung di depan pintu itu. Tangannya terangkat ingin mengetuk, tapi tertahan di udara.

Dia merasa malu sekali. Dia merasa gagal sebagai seorang lelaki, gagal sebagai kepala keluarga, dan gagal sebagai seorang anak. Pulang ke rumah dalam keadaan luntang-lantung tanpa membawa apa-apa selain luka batin adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan. Apa yang harus aku katakan pada Emak nanti? Gimana kalau Emak kecewa lihat aku sehancur ini ya? Ah, kok aku jadi pengecut begini sih, pikirnya dalam diam yang menyesakkan.

Rangga menatap wajah Rinjani yang tenang dalam tidurnya. Bibir mungil anaknya itu sedikit pucat karena hawa dingin. Rangga mempererat dekapan jaket lusuhnya pada tubuh Rinjani. "Maafin Ayah ya, Nak. Ayah cuma bisa bawa kamu ke rumah kecil ini," bisiknya sangat lirih.

Seketika, pintu itu berderit terbuka sebelum Rangga sempat mengetuk. Sosok wanita tua dengan kerudung instan yang sudah kusam muncul dari balik pintu. Itu Emak. Beliau sepertinya baru saja selesai berwudhu dan hendak berangkat ke mushola depan gang. Emak mematung, matanya yang sudah mulai rabun itu menatap tajam ke arah sosok tinggi yang berdiri di kegelapan subuh.

Emak membeku. Beliau menatap putra kesayangannya yang berdiri dengan baju kumal, rambut berantakan, dan menggendong cucunya di tengah kedinginan subuh yang menusuk. Emak tidak butuh waktu lama untuk menyadari kalau ada sesuatu yang sangat salah. Tatapan mata Rangga yang kosong dan hancur itu sudah menceritakan segalanya tanpa perlu satu kata pun terucap.

"Rangga...?" suara Emak bergetar, lirih sekali.

Rangga tidak bisa lagi menahan sesak yang sejak tadi menyumbat tenggorokannya. Bibirnya bergetar hebat, air matanya perlahan luruh, jatuh membasahi pipinya yang kusam karena debu jalanan. Dia cuma bisa menatap ibunya dengan tatapan penuh permohonan maaf yang teramat dalam.

"Mak... Rangga pulang, Mak..." suara itu pecah bersamaan dengan isak tangis yang meledak.

Emak tidak bertanya sepatah kata pun tentang kenapa baju anaknya basah atau ke mana menantunya pergi. Beliau seketika menarik Rangga masuk ke dalam rumah yang hangat dengan aroma minyak kayu putih dan teh melati yang khas. Emak menutup pintu rapat-rapat, seolah ingin melindungi Rangga dari kerasnya dunia luar.

"Sini, masuk, Nak. Masuk dulu deh. Aduh, kamu dingin sekali ya?" bisik Emak sambil mengelus punggung Rangga dengan tangan yang sudah keriput tapi terasa sangat nyaman di hati Rangga.

Rangga menurunkan Rinjani dengan perlahan di atas bale-bale kayu yang beralas kasur tipis. Dia menyelimuti anaknya dengan jarik tua milik Emak yang tergeletak di kursi. Begitu tubuhnya tidak lagi menopang beban Rinjani, seluruh pertahanan diri Rangga runtuh seketika. Dia jatuh bersimpuh di kaki Emak, membenamkan wajahnya di pangkuan wanita yang melahirkannya itu.

Rangga menangis sesenggukan, suara tangisnya tertahan agar tidak membangunkan Rinjani, tapi bahunya berguncang hebat. Dia merasa seperti anak kecil lagi yang baru saja terjatuh dan luka lututnya, tapi bedanya, kali ini yang luka adalah jiwanya.

"Mak... maafin Rangga, Mak... Rangga gagal jaga rumah tangga Rangga," rintihnya di sela tangis yang pecah. "Rangga sudah nggak punya apa-apa lagi. Istri Rangga... Laras sudah khianati Rangga, Mak. Dia tega selingkuh di depan mata Rangga sendiri. Dia lebih milih laki-laki kaya itu..."

Emak mengelus kepala Rangga dengan penuh kasih sayang. Tidak ada nada menghakimi, tidak ada pertanyaan yang menyudutkan. Emak cuma diam, membiarkan anaknya menumpahkan segala luka yang selama ini dipendam sendiri di perantauan. Emak tahu betul karakter menantunya, Laras, yang sejak dulu memang sulit sekali merasa puas dan selalu mendambakan kemewahan yang di luar kemampuan Rangga.

"Sudah, Rangga... sudah. Jangan bicara dulu ya. Kamu selamat sampai sini saja Emak sudah syukur sekali kok," bisik Emak lembut. Suaranya adalah obat paling mujarab bagi luka Rangga. "Rumah ini nggak akan pernah tutup pintunya buat kamu. Kalau dunia jahat sama kamu, pulang ke rumah Emak, Nak. Kamu tetap anak kebanggaan Emak."

Rangga makin terisak mendengar kata-kata itu. Dia merasa sangat bodoh karena selama ini lebih memprioritaskan Laras yang justru mengkhianatinya, daripada sering-sering pulang menjenguk ibunya yang setulus ini. Dia merasa waktu yang dia habiskan untuk membahagiakan Laras adalah kesia-siaan yang paling nyata.

Seketika, Rinjani menggeliat dan terbangun. Bocah kecil itu mengerjapkan mata, bingung menatap ruangan asing yang plafonnya terbuat dari anyaman bambu sederhana. Dia menatap ayahnya yang sedang bersimpuh di lantai, lalu menatap sosok wanita tua di depannya. Rinjani tampak bingung sesaat, bayangan wajah ibunya yang galak dan suka membentak seketika muncul di ingatannya.

Tapi, Emak dengan cepat mendekati Rinjani dan tersenyum sangat manis, tipe senyuman yang menenangkan jiwa. "Cucu Emak sudah bangun ya? Sini sayang, sama Nenek..." Emak menggendong Rinjani dengan pelukan yang sangat tulus, pelukan yang tidak pernah Rinjani dapatkan dari Laras selama berbulan-bulan terakhir.

"Ibu... mana, Yah?" tanya Rinjani dengan suara serak, khas anak kecil yang baru bangun tidur. Pertanyaan itu sederhana, tapi rasanya seperti hantaman palu besar di dada Rangga.

Rangga tertegun. Dia menatap wajah polos anaknya dengan pedih. Namun, sebelum Rangga sempat menjawab dengan kebohongan lain, Emak sudah lebih dulu membelai rambut Rinjani dengan sayang.

"Ibu lagi istirahat di tempat yang jauh sekali, Nak. Sekarang Rinjani sama Ayah dan Nenek dulu di sini ya. Rinjani mau makan nggak? Nenek buatin nasi hangat ya? Mau deh ya?" rayu Emak dengan lembut.

Rinjani mengangguk pelan, kepalanya bersandar di bahu Emak. Ajaibnya, bocah itu tidak menangis mencari Laras. Dia justru merasa nyaman, seolah aura kasih sayang di rumah kecil ini jauh lebih menenangkan daripada kemewahan palsu yang ada di Jakarta dulu. Rinjani menatap ayahnya yang matanya masih sembab.

"Ayah jangan nangis lagi ya... Rinjani sudah nggak takut kok di sini. Nenek baik ya, Yah?" bisik Rinjani yang membuat air mata Rangga jatuh lagi, kali ini bukan karena sedih, tapi karena haru.

Rangga menghapus air matanya dengan punggung tangan yang kasar. Dia bangkit berdiri, menatap sekeliling rumah Emak yang sederhana tapi bersih. "Iya sayang. Nenek baik sekali. Di sini nggak akan ada yang marah-marah lagi sama Rinjani," jawab Rangga mencoba tersenyum di depan anaknya.

Emak berjalan ke dapur untuk membuatkan teh manis hangat dan merebus ubi. Rangga mengikuti dari belakang, menatap punggung ibunya yang sudah sedikit membungkuk. Dia menyadari kalau dia sudah kehilangan segalanya di Jakarta, tapi di sini, di Bandung, dia baru saja mendapatkan kembali hartanya yang paling berharga: keluarganya.

"Mak, Rangga janji... Rangga bakal kerja keras lagi di sini. Rangga bakal buktikan kalau Rangga bisa sukses tanpa wanita itu. Rangga mau Rinjani jadi orang hebat nanti," ucap Rangga dengan suara yang lebih mantap, seolah-olah seluruh beban di pundaknya baru saja diangkat oleh pelukan Emak.

"Iya, Nak. Emak percaya sama kamu. Sekarang kamu mandi dulu, ganti baju yang bersih. Ada baju-baju kamu yang lama masih Emak simpan rapi di lemari. Habis itu kita sarapan ya," jawab Emak sambil tersenyum tulus.

Malam berganti pagi. Cahaya matahari mulai menyeruak masuk lewat celah-celah ventilasi rumah, menyinari debu-debu yang beterbangan. Rangga menatap ke luar jendela, menatap jalanan gang yang mulai ramai oleh warga. Dia tahu jalan di depannya tidak akan mudah. Dia harus mulai dari nol lagi, tanpa modal, cuma dengan tangan kosong. Tapi menatap Rinjani yang kini asyik memakan ubi rebus di samping Emak, Rangga merasa punya kekuatan seribu kali lipat.

"Tunggu saja, Laras. Suatu saat kamu akan lihat, pria yang kamu sebut parasit ini akan berdiri di atas kakinya sendiri," batin Rangga dengan tekad yang membara. Dia sudah menutup buku tentang masa lalunya di Jakarta, dan kini dia siap menulis lembaran baru di tanah kelahirannya sendiri.

1
Ara putri
Hay kak, jika berkenan mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Kar Genjreng
semoga punya istri yang ke dua amanah benar benar tulus bisa menjadi istri dan menjadi ibu pengganti yang baik
Kar Genjreng
nah ras penyesalan memang datangnya belakangan,, kalau duluan namanya lamaran,,jadi sekarang nikmat rasa yang pernah kamu torehkan kepada Rangga dan Rinjani,,, sombongmu seperti malaikat pencabut nyawa ,,, sekarang justru mirip seonggok sampah 😆👍👍
Kar Genjreng
😮😮kapok tempe mu sudah ga laku mau balik ke mantan suami yang Lo buang Lo ko enak ,,,,ketika Lo senang ninggalin Suami yang bau oli,,, sekarang begitu si bau oli sudah mandiri bersama putrinya Lo ngemis ihhh menjijikan
Kar Genjreng
sekarang mau mencari pria sampah dan menjijikan ga malu dih kalau Ak jadi mantan Amel ogah amat ga usah di terima barang sudah di jamah pria lain ,,
Kar Genjreng
👍👍harus semangat ya Mas agar kelak bisa meraih kesuksesan Aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: ya harus itu
total 1 replies
Kar Genjreng
Oalah nasib kalau beruntung baru satu malam laku hanya lima ribu,,,dan toko itu sudah di sewakan semoga ada tempat lagi yang lebih ramai dan ramah lingkungan nya 😭😭
Mistikus Kata: semoga mas
total 1 replies
Kar Genjreng
semangat. menjemput rezeki
Mistikus Kata: itu suatu kewajiban
total 1 replies
Kar Genjreng
👍👍 semogaa berhasil ya Rangga tekatmu pasti akan terwujud bismillah,,🙏
Mistikus Kata: kita berdoa saja
total 1 replies
Kar Genjreng
😭😭mudah mudahan ketemu orang baik' dan menolong ayah dan putrinya,, kelak akan hidup bahagia dan bisa membagakan ayahnya,, aamiin 🙏🙏
Mistikus Kata: kerasa banget di bab ini
total 1 replies
Kar Genjreng
seru dan bagus,,
Kar Genjreng
biarpun laki laki jelaskan kumuh tetapi berjuang untuk menyenangkan mu apa balasan nya Lo hina suami li dan ayah dari Putrimu,,,lihat Lo hanya berdagang barang
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
Kar Genjreng
pergi saja Rangga kalau tidak biar binimu yang suruh pergi dan kamu tinggal berdua dengan Rinjani,,
Kar Genjreng
😭😭 terkadang seperti ini suami kerja kasar wanita kerja halus,,,tapi biasanya Wanita nya baik ini beda Wanita nya kejam
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,
Kar Genjreng
mampir semoga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!