“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Malam itu, rumah besar keluarga Pradipta terasa lebih dingin dari biasanya.
Langkah kaki berat menggema di sepanjang tangga marmer saat Arga menyeret Yura turun dari lantai dua. Tangannya mencengkeram pergelangan Yura begitu kuat hingga rasa perih menjalar sampai ke tulang. Tubuh Yura terhuyung, kakinya terseret di anak tangga, beberapa kali lututnya membentur sudut keras tanpa sempat menahan diri.
“Mas … tolong…” Suara Yura pecah, lirih, hampir tak berbentuk kata. Namun, Arga tak melambatkan langkahnya.
Empat tahun Yura hidup di rumah ini sebagai seorang istri yang tak pernah benar-benar diakui. Dia mengenakan status istri sah, tetapi tak pernah diperlakukan seperti manusia. Tatapan Arga padanya selalu sama, dingin, sinis, seolah keberadaannya adalah noda yang tak bisa dihapus.
“Kak, hentikan!” suara Sheli terdengar panik dari lantai atas. Gadis itu berlari menuruni tangga, wajahnya pucat melihat pemandangan di depannya. “Kak, jangan seperti ini. Kak Yura—”
“Kau diam, Sheli!” bentak Arga tanpa menoleh.
Sheli terhenti di anak tangga terakhir. Matanya berkaca-kaca melihat tubuh Yura yang nyaris terjatuh, rambutnya berantakan, napasnya tersengal. Namun, ia tak berani mendekat. Amarah kakaknya malam itu terlalu mengerikan.
Setibanya di lantai dasar, Arga menghempaskan Yura ke lantai begitu saja. Punggung Yura membentur dingin marmer, membuat dadanya sesak. Dia terbatuk pelan, tangannya bergetar menopang tubuhnya sendiri.
“A-aku minta maaf…” ucap Yura terbata, berusaha bangkit.
“Aku benar-benar tidak sengaja…”
Permohonan itu lenyap di udara. Arga berdiri di hadapannya, napasnya memburu, rahangnya mengeras. Di tangannya, tali pinggang telah dilepas, kulit hitam itu melingkar seperti ancaman.
“Kau tahu apa yang kau lakukan?” suara Arga rendah, bergetar oleh amarah yang ditahan. “Kau tahu apa yang kau hancurkan?”
Yura menggeleng lemah, air mata mulai menggenang. Cambukan pertama menghantam punggungnya. Yura menjerit, tubuhnya refleks melengkung menahan sakit. Rasa panas menjalar cepat, menusuk hingga ke tulang.
Cambukan berikutnya datang tanpa jeda. Yura terjatuh kembali ke lantai, tangannya mencengkeram ujung gaun, tubuhnya gemetar hebat.
“Itu bingkisan dari Shasmita!” Arga berteriak. “Wanita yang seharusnya ada di posisimu!”
Setiap kata terasa lebih menyakitkan daripada cambukan itu sendiri.
“Hidupmu bahkan tidak sebanding dengan satu benda darinya!” lanjut Arga kejam. “Kalau bingkisan itu hancur, maka kau pantas menerima hukuman yang setimpal!”
Yura menangis, bukan meraung, melainkan terisak pelan, tangis seorang wanita yang sudah terlalu lama memendam luka. Dia mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan mata basah, tatapan penuh permohonan terakhir.
Namun, pria itu tetap tak luluh, tak ada empati dan tak ada rasa bersalah. Arga kembali menarik lengan Yura dan menyeretnya keluar rumah. Pintu terbuka, dan seketika hujan turun deras seolah langit ikut menumpahkan amarahnya.
“Berlutut di sini,” perintah Arga dingin.
Yura menggeleng pelan. Tubuhnya sudah hampir runtuh, napasnya tersengal menahan perih.
“Mas … aku mohon…”
“Hukumanmu belum selesai.”
Akhirnya, Yura berjongkok di depan teras. Hujan mengguyur tubuhnya tanpa ampun, membasahi rambut, wajah, dan luka-luka di punggungnya. Setiap tetes air terasa seperti pisau kecil yang mengiris kulitnya.
Pintu tertutup dengan bantingan keras. Suara itu memutus sisa harapan Yura. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat. Tangisnya larut bersama hujan, seolah dunia memang tak pernah berniat memberinya keadilan. Tubuhnya sakit, hatinya lebih hancur.
Namun, perlahan, di balik isak itu, sesuatu berubah. Yura mengangkat wajahnya. Air hujan bercampur air mata mengalir di pipinya, tetapi sorot matanya tak lagi sama. Kesedihan perlahan tergantikan oleh sesuatu yang lebih dingin. Kedua tangannya terkepal kuat hingga kuku menancap ke telapak.
'Aku harus bertahan,' batinnya berbisik.
'Beberapa bulan lagi, demi uang itu, demi ayah.' Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan hujan membasuh wajahnya.
'Setelah hari itu tiba ... aku akan membuatmu menyesal, Mas Arga.'
Hujan baru berhenti menjelang fajar. Sepanjang malam itu, Yura tak sekali pun diizinkan masuk ke dalam rumah. Ia tetap berjongkok di depan teras, tubuhnya menggigil, pakaian menempel dingin di kulit. Beberapa kali ia mencoba berdiri, namun rasa perih di punggung dan lututnya memaksanya kembali terjatuh.
Ia tak berani melanggar. Empat tahun hidup bersama Arga telah mengajarkannya satu aturan paling kejam, ia hanya boleh bergerak jika diperintahkan.
Langit mulai memucat ketika tubuh Yura akhirnya menyerah. Kepalanya bersandar lemah ke pilar teras, matanya terpejam perlahan. Napasnya tersengal, bibirnya membiru. Ia tertidur dalam kondisi setengah sadar, menggigil hebat.
Pagi itu, Sheli terbangun dengan perasaan gelisah yang tak bisa ia jelaskan. Ada sesuatu yang terasa salah. Tanpa sempat berganti pakaian, ia melangkah cepat menuruni tangga menuju lantai dasar.
Langkahnya terhenti di ambang pintu.
“Kak … Yura…” gumamnya pelan.
Tubuh Yura terkulai di depan teras. Rambutnya basah, wajahnya pucat, dan bibirnya bergetar halus. Sheli berlari mendekat dan berjongkok di hadapannya, tangannya menyentuh bahu kakak iparnya itu.
“Dingin sekali…” bisiknya panik.
Sheli menggigit bibir, menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia tahu persis penyebab semua ini. Namun, ia juga tahu sekeras apa pun ia membela Yura, kakaknya tak akan mendengar.
“Bibi!” Sheli memanggil salah satu pelayan dengan suara bergetar. “Tolong, bantu aku. Kita bawa Kak Yura ke kamar.”
Para pelayan saling pandang, ragu. Mereka menunggu perintah Arga seperti biasa.
“Aku yang bertanggung jawab,” tegas Sheli. “Sekarang.”
Akhirnya, mereka bergerak. Dengan hati-hati, tubuh Yura diangkat dan dibawa masuk. Sheli mengikuti di belakang, dadanya terasa sesak melihat luka-luka samar di punggung dan lengan Yura yang tak tertutup sempurna.
Setibanya, di kamar, Sheli menyelimuti Yura dan segera menghubungi dokter keluarga. Setelah itu, ia berdiri sejenak di depan ranjang, menatap wajah pucat kakak iparnya yang terlelap.
“Maafkan aku,” bisiknya lirih. “Aku tak bisa melindungimu.”
Sheli menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar kamar. Ada satu orang yang harus ia hadapi dan itu bukanlah hal yang mudah.
Arga sudah berada di ruang kerjanya sejak pagi. Ia berdiri di depan jendela besar, jasnya rapi, ekspresinya dingin seperti biasa. Seolah kejadian semalam tak pernah terjadi.
Pintu diketuk pelan.
“Apa lagi, Sheli?” suara Arga terdengar datar tanpa menoleh.
Sheli masuk dan menutup pintu di belakangnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Kak Yura sakit,” ucapnya langsung. “Dia menggigil hebat. Aku sudah memanggil dokter.”
Arga akhirnya menoleh, tatapannya kosong, nyaris tak tertarik.
“Aku tak ingin membahas dia,” katanya singkat. “Apa yang ia terima sudah pantas.”
Sheli terdiam beberapa detik, lalu suaranya meninggi tanpa ia sadari.
“Pantas menurut siapa, Kak? Menurutmu?”
Arga mengernyit. “Jaga ucapanmu.”
“Kau tahu, selama empat tahun ini aku diam,” lanjut Sheli dengan mata berkaca-kaca. “Tapi sampai kapan? Kalau kau tak pernah mencintainya, untuk apa kau menikah?”
Kalimat itu menghantam Arga seperti tamparan.
“Apa katamu?” suaranya berubah tajam.
“Aku bertanya,” Sheli menahan gemetar. “Kalau Kakak tak pernah menganggap Kak Yura istri, kenapa kau menghancurkan hidupnya seperti ini?”
“Cukup!” Arga membentak, membuat Sheli tersentak. “Kau tak tahu apa-apa tentang urusanku.”
“Justru aku tahu,” balas Sheli, kali ini dengan berani. “Kau menikah hanya karena wajahnya mirip Shasmita. Dan sekarang kau menyiksanya karena ia bukan wanita itu.”
Wajah Arga menegang, dia melangkah mendekat, sorot matanya dingin dan mengancam.
“Jangan ikut campur,” katanya pelan namun menusuk. “Ini masalahku, setelah lima tahun, kontrak itu akan berakhir. Shasmita akan kembali, dan Yura akan keluar dari hidupku.”
Sheli menatap kakaknya lama. Ada kecewa yang begitu dalam di matanya.
“Dan kalau dia mati sebelum itu?” tanyanya lirih.
Arga terdiam sesaat, hanya sesaat, lalu berpaling kembali ke jendela.
“Dia tak akan mati,” jawabnya dingin. “Dia lebih kuat dari yang kau kira.”
Sheli tersenyum pahit.
'Tidak, Kak,' batinnya.
'Dia memang kuat … tapi bukan untukmu.'
Dengan langkah berat, Sheli keluar dari ruang kerja itu. Sementara di kamar atas, Yura terbaring demam, tanpa tahu bahwa hari itu di antara sakit dan luka takdirnya perlahan mulai bergerak ke arah yang sama sekali berbeda.
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂