NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: DINDING YANG BERBISIK

​Isolasi total bukan sekadar tentang pintu yang terkunci. Bagi Arunika, itu adalah tentang waktu yang berhenti berputar. Sejak Adrian memborgol pergelangan tangan kanannya ke tiang ranjang kayu jati yang kokoh semalam, dunia Arunika menyusut menjadi radius dua meter. Borgol itu memang dilapisi kain beludru hitam yang lembut—sebuah ironi khas Adrian yang ingin menyiksanya tanpa meninggalkan bekas luka fisik—namun sensasi logam dingin di bawah kain itu terus mengingatkannya bahwa ia tidak lebih dari seekor hewan peliharaan yang sedang dihukum.

​Ruangan kamar mewah itu kini terasa seperti sel isolasi di rumah sakit jiwa. Tirai beludru abu-abu ditutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang mencoba masuk. Satu-satunya pencahayaan berasal dari lampu nakas yang temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding, seolah-olah bayangan itu adalah mata-mata tambahan milik Adrian.

​Arunika duduk di lantai karpet, menyandarkan punggungnya pada kaki ranjang. Kepalanya terasa berat, dan matanya sembap karena tangisan yang tak kunjung usai sejak kepergian Ayahnya.

​Ayah... maafkan aku, batinnya berulang kali.

​Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah pucat Ayahnya yang dibawa pergi oleh orang-orang Adrian. Pikiran bahwa Ayahnya sekarang berada di "fasilitas kesehatan" yang disebut Adrian—yang kemungkinan besar adalah penjara medis lainnya—membuat Arunika merasa seperti dadanya sedang dihimpit batu besar. Ia telah gagal. Upaya pertamanya untuk melawan justru menjadi senjata makan tuan yang mencelakai orang paling ia sayangi.

​"Kau harus makan, Arunika."

​Suara itu datang dari speaker plafon. Suara Adrian yang tenang, berwibawa, namun mematikan.

​Arunika tidak bergerak. Ia menatap piring perak berisi pasta yang diletakkan Sandra di atas meja nakas beberapa jam lalu. Makanan itu sudah dingin, berminyak, dan tampak memuakkan.

​"Aku tidak lapar," jawab Arunika lirih, tahu bahwa mikrofon di ruangan itu akan menangkap suaranya meski ia berbisik.

​"Mogok makan adalah bentuk pembangkangan yang sia-sia. Kau hanya menyakiti dirimu sendiri, dan aku tidak suka melihat milikku rusak karena kelaparan," sahut Adrian. "Ingat Aturan No. 22: Istri wajib menjaga kesehatan fisik demi kenyamanan suami. Jika kau tidak makan dalam sepuluh menit, aku akan datang dan menyuapimu secara paksa dengan selang medis. Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."

​Arunika memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh ke pipinya. Ia tahu Adrian benar. Adrian adalah tipe pria yang akan melakukan kekejaman medis atas nama "cinta" dan "kesehatan". Dengan tangan gemetar, Arunika meraih garpu. Ia memasukkan makanan dingin itu ke mulutnya. Rasanya hambar, seperti debu, namun ia terus mengunyah di bawah pengawasan lensa kamera yang tak terlihat.

​Setelah sepuluh menit yang menyiksa, pintu kamar terbuka. Bukan Adrian yang masuk, melainkan Sandra. Sekretaris itu membawa nampan berisi segelas susu hangat dan beberapa butir obat.

​Sandra berjalan mendekat tanpa ekspresi. Ia meletakkan nampan itu di meja, lalu berjongkok di depan Arunika untuk memeriksa borgolnya.

​"Jangan mencoba membukanya dengan jepit rambut lagi, Nyonya. Mekanismenya terhubung dengan alarm di ruang kerja Tuan," ujar Sandra datar, seolah ia sedang membacakan laporan cuaca.

​Arunika menatap Sandra dengan tatapan tajam. "Kenapa kau membantunya, Sandra? Kau seorang wanita. Apa kau tidak punya hati melihat sesama wanita diperlakukan seperti ini?"

​Tangan Sandra yang sedang merapikan kain beludru di borgol itu berhenti sejenak. Matanya bertemu dengan mata Arunika. Untuk sesaat, Arunika melihat kilatan sesuatu di mata Sandra—bukan kebencian, melainkan rasa lelah yang sangat dalam. Namun, kilatan itu hilang secepat munculnya.

​"Aku dibayar untuk memastikan keamanan dan ketertiban di rumah ini, bukan untuk menjadi teman curhat Anda," jawab Sandra dingin. Ia berdiri dan menyodorkan gelas susu itu. "Minum ini. Ini obat penenang agar Anda bisa tidur."

​"Aku tidak mau obat-obatan itu! Itu hanya akan membuatku linglung!"

​"Minum, atau Tuan Adrian sendiri yang akan datang. Dan Anda tahu, dia tidak akan selembut saya," tekan Sandra.

​Arunika terpaksa meminum cairan itu. Beberapa menit kemudian, ia mulai merasakan beban berat di kelopak matanya. Dunianya mulai bergoyang. Sandra mengambil gelas kosong itu dan berbalik pergi, namun sebelum pintu tertutup, Arunika sempat mendengar bisikan halus yang hampir tidak terdengar.

​"Jangan menyerah pada kegelapan itu, Arunika. Itu yang dia inginkan."

​Arunika tersentak, mencoba memfokuskan pandangannya, namun Sandra sudah hilang di balik pintu yang mengunci secara otomatis. Apa aku berhalusinasi? Apa Sandra baru saja memberiku semangat?

​Malam itu, dalam pengaruh obat penenang, Arunika mulai mengalami paranoia yang hebat. Ia merasa dinding-dinding kamar itu mulai merapat. Ia mendengar suara-suara aneh dari balik dinding—suara tangisan wanita yang lirih, suara tawa Adrian yang bergema, dan suara deru mesin yang tak kunjung berhenti.

​Ia menatap lampu merah kecil dari kamera di pojok ruangan. Lampu itu seolah berubah menjadi mata raksasa yang menatapnya dengan rasa haus.

​"Hentikan... kumohon hentikan..." igau Arunika.

​Ia mulai merasa seolah-olah ada orang lain di kamar itu. Ia menoleh ke arah lemari pakaian yang gelap. Ia membayangkan Elena, istri pertama Adrian yang hilang, sedang berdiri di sana, menatapnya dengan leher yang patah.

​Ketakutan itu mencekik kesadarannya. Arunika menarik-narik borgol di tangannya, mengabaikan rasa perih di pergelangan tangannya. Ia ingin lari, ia ingin keluar dari ruangan yang penuh dengan "mata" ini.

​Tiba-tiba, lampu kamar menyala terang secara otomatis. Adrian masuk dengan langkah santai, masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia membawa sebuah kunci kecil.

​Adrian duduk di tepi ranjang, menatap Arunika yang sedang meringkuk ketakutan di lantai. Tanpa sepatah kata pun, ia membuka borgol Arunika.

​"Sepertinya dosis obatnya terlalu kuat. Kau gemetar, Sayang," ucap Adrian lembut. Ia mengangkat tubuh Arunika yang lemas dan membaringkannya di atas ranjang.

​Arunika tidak punya tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa menatap langit-langit saat Adrian merebahkan diri di sampingnya, memeluknya dengan posesif.

​"Kau tahu, Arunika... isolasi ini bukan untuk menyakitimu. Ini untuk menjernihkan pikiranmu," bisik Adrian sambil membelai rambut Arunika. "Dunia luar hanya memberimu harapan palsu. Ayahmu, Rendra... mereka hanya beban. Di sini, di dalam kamar ini, hanya ada aku dan kau. Hanya suaraku yang perlu kau dengar. Hanya mataku yang perlu kau lihat."

​Arunika merasa air matanya mengalir ke bantal. Ia merasa jiwanya perlahan-lahan mulai terkikis. Teror psikologis yang dilakukan Adrian bukan tentang kekerasan, melainkan tentang penghapusan eksistensi dirinya sebagai manusia mandiri.

​"Besok," lanjut Adrian, "kita akan memulai babak baru. Kau akan bangun sebagai istri yang benar-benar memahami posisinya. Jika tidak... fasilitas kesehatan yang ditempati Ayahmu akan mengalami 'gangguan teknis' pada sistem oksigennya. Kau mengerti maksudku, kan?"

​Arunika memejamkan matanya rapat-rapat. Ancaman itu adalah paku terakhir di peti mati perlawanannya untuk saat ini. Di bawah pengawasan kamera yang tak pernah berkedip, Arunika menyerah pada kegelapan obat penenang, sementara Adrian terus memeluknya seolah-olah ia adalah harta karun yang paling berharga di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!