Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tragedi di Puncak Langit
Lembah Dewa Obat yang dulunya megah kini telah menjadi tanah terkutuk yang dipenuhi uap ungu.
Di tengah reruntuhan Altar Kehidupan, Xiao Chen duduk bersila dengan Tanaman Primordial Hidup dan Mati tertanam di depan dadanya.
Luka-luka di perut dan bahunya mulai menutup secara paksa, namun bukan oleh penyembuhan biasa, melainkan oleh serat-serat hitam yang keluar dari tanaman tersebut.
"Tuanku sedang di ambang batas," bisik Bai, matanya yang ungu tak sedetik pun lepas dari Xiao Chen.
Ia berdiri waspada, cakar peraknya masih berlumuran darah sisa pertempuran sebelumnya.
Di sampingnya, Ling menggenggam tangannya erat, merasakan tekanan udara yang semakin berat hingga membuat tulang-tulangnya berderak.
Xiao Chen merasakan seluruh sel tubuhnya meledak. Ia mencoba menyatukan esensi hidup dan mati menjadi satu titik di Inti Bumi-nya untuk menerobos ke Ranah Kaisar Racun.
"Sedikit lagi..." gumam Xiao Chen. Jiwanya seolah meluas, melintasi batasan manusia. Namun, tepat saat ia merasa gerbang ranah kaisar terbuka, sebuah retakan muncul di jiwanya.
BOOM!
Bukan terobosan yang terjadi, melainkan bencana. Energi murni yang tidak stabil meledak dari tubuh Xiao Chen.
Racun yang seharusnya ia kendalikan justru berbalik memakannya. Seluruh tubuhnya mengeluarkan aura hitam pekat yang membubung tinggi ke langit, menciptakan lubang besar di awan. Xiao Chen mengerang hebat, pembuluh darah di matanya pecah, dan ia kehilangan kendali atas kekuatannya sendiri.
Di saat yang sama, langit di atas Benua Utara tidak lagi sunyi. Ribuan titik cahaya muncul dari segala penjuru horison.
Para pendekar dari faksi-faksi tersembunyi, para petapa dari gunung-gunung kuno, dan sisa-sisa aliansi dunia persilatan telah tiba. Mereka mencium bau kelemahan sang legenda.
"Lihat! Dia gagal menerobos!" teriak seorang pendekar tua dari Sekte Pedang Surgawi yang terbang di atas pedang raksasa. "Arsitek Maut sedang sekarat! Ini saatnya melenyapkan ancaman terbesar dunia persilatan!"
Ribuan pendekar mengepung tempat itu. Ada yang berada di Ranah Langit, bahkan beberapa tetua di Ranah Raja Roh yang selama ini bersembunyi pun keluar. Mereka semua memiliki satu tujuan: membunuh Xiao Chen sebelum ia benar-benar menjadi Kaisar Racun.
"Jangan biarkan mereka mendekati Tuanku!" teriak Bai, kegilaan dan cinta mati di matanya meledak menjadi api perak yang membakar.
Bai melompat ke udara, berubah menjadi wujud naga perak setengah manusia yang mengerikan. Ia mencabik siapa pun yang mendekat, namun jumlah musuh terlalu banyak. Ratusan pedang cahaya dan mantra penghancur menghujani tubuhnya.
"Ling! Lindungi Guru!" teriak Bai sambil memuntahkan darah perak.
Ling, dengan wajah yang penuh air mata namun tekad yang sekeras baja, berdiri di depan tubuh Xiao Chen yang sedang kejang. Ia meledakkan seluruh Sembilan Racun Alami di tubuhnya. "Siapa pun... siapa pun yang menyentuh guruku... harus MATI!"
Ling membakar esensi hidupnya sendiri untuk menciptakan perisai racun pelangi yang menelan ratusan pendekar, namun seorang tetua Raja Roh tingkat puncak menghantam punggungnya dengan palu godam raksasa.
KRAKK!
"TIDAK!" teriak Bai. Ia melihat Ling terjatuh dengan punggung hancur.
Bai meledakkan inti energinya sendiri—sebuah tindakan bunuh diri—untuk menyapu bersih pendekar di sekeliling Xiao Chen. Ledakan perak besar terjadi, menghancurkan ribuan musuh, namun itu juga menguras nyawa Bai.
Bai jatuh berlutut di samping Xiao Chen, memegang tangan tuannya yang dingin. "Tuanku... maafkan aku... aku akan selalu... mencintaimu..."
Napas Bai terhenti. Di sisi lain, Ling juga menghembuskan napas terakhirnya sambil tetap memegang jubah Xiao Chen.
Xiao Chen, yang terjebak dalam kegagalan kultivasi, melihat segalanya namun tidak bisa bergerak. Amarahnya mencapai puncak, namun tubuhnya justru membeku dalam kristal hitam yang tak tertembus.
Para pendekar yang tersisa, gemetar melihat kematian Bai dan Ling, menyadari bahwa mereka tetap tidak bisa membunuh Xiao Chen. Tubuhnya yang terbungkus energi gila itu menjadi tidak hancur oleh senjata apa pun.
"Kita tidak bisa membunuhnya! Dia terlalu kuat meskipun gagal!" teriak pemimpin pendekar. "Segel dia! Gunakan Segel Sembilan Matahari Abadi!"
Ratusan pendekar terakhir menyatukan energi mereka, membentuk rantai-rantai emas raksasa yang melilit kristal hitam Xiao Chen. Mereka memaksanya masuk ke dalam peti mati batu yang telah dimantrai.
"Buang dia ke dalam Kawah Lava Abadi di Gunung Puncak Langit!" perintah sang tetua. "Biarkan panas bumi menghancurkannya selama ribuan tahun! Jangan biarkan maut ini bangkit kembali!"
Xiao Chen, di dalam kegelapan segelnya, merasakan tubuhnya dilempar ke dalam cairan api yang membara. Saat lava panas mulai menenggelamkan peti matinya, hanya satu hal yang tersisa di pikirannya: Dendam yang lebih panas dari lava, dan nama Bai serta Ling yang telah hilang.
"Aku... akan... kembali..."
Peti itu tenggelam ke dasar bumi, meninggalkan dunia yang mengira bahwa sang legenda telah tiada.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.