Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Tersebar luas
Rombongan Desa Suning kembali melanjutkan perjalanan, karena saat ini tidak ada yang berjalan kaki maka waktu mereka lebih singkat lagi untuk sampai ke desa atau ke kota selanjutnya. Dan, dari kota ke kota selanjutnya tidak terlalu jauh seperti sebelumnya, hanya sekitar setengah hari atau 7 jam perjalanan mereka akan tiba di Kota Tersebut.
Selama perjalanan ini Aruna juga mengajari Tabib Gu berbagai macam cara pengobatan, bukan cuma Tabib Gu yang belajar, ada sekitar 5 pemuda yang berniat untuk belajar tentang medis. Kepala Desa sungguh sangat senang, di masa depan Desa mereka tidak kekurangan tabib. dan 5 pemuda tersebut 3 perempuan diantaranya dan mereka semua menjadi murid dari Tabib Gu.
Dan selama perjalanan itu Tabib Gu juga melakukan banyak pemeriksaan, jika dia tidak mampu maka Aruna yang turun tangan, dengan keahliannya, julukan Aruna sebagai Tabib sakti sudah tersebar sampai ke Ibukota, termasuk Yang Mulia Kaisar.
Dan benar saja, di dalam ruang kerja Yang Mulia Kaisar sedang membaca setumpuk surat dari beberapa kota yang dilewati para pengungsi, isinya semua hampir sama tentang seorang tabib sakti yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit langkah, seperti virus wabah sebelumnya.
Awalnya Yang Mulia Kaisar tidak mempercayainya, dia menganggap para pemimpin di kota itu melebih-lebihkan cerita, Tabib istana adalah Tabib yang terbaik diantara yang lain. Namum dia bertindak cepat, meminta pengawal bayangannya untuk segera pergi melihat situasi yang terkena wabah itu, dan betapa terkejutnya saat pengawal mengatakan virus wabah benar-benar bisa di atasi oleh seorang Tabib.
Yang Mulia Kaisar sungguh penasaran dengan Tabib sakti yang mereka maksud, di dalam surat hanya dijelaskan bahwa ilmunya sangat tinggi tidak ada ciri-ciri yang signifikan yang mereka cantumkan.
"Hmm,, jika memang ilmunya sangat tinggi seperti yang mereka katakan, bisa jadi dia juga bisa menyembuhkan penyakit Ibu Suri!" ucap yang mulai kaisar dengan sorot mata yang bahagia.
Saat ini Ibu suri sedang jatuh sakit, Tabib Istana juga tidak mengetahui penyakit apa itu karena Yang Mulia Ibu Suri tiba-tiba saja pingsan tanpa ada gejala apapun sebelumnya, dan saat dilakukan pemeriksaan tidak ada yang salah dalam tubuhnya, sehingga Tabib itu hanya memberi sebuah tonik.
"Keluar..!" Pintanya dengan suara tegas.
Dua sosok bayangan melesat dengan cepat, lalu memberi hormat dan berkata dengan serempak, "Siap menjalakan perintah!" suaranya tajam tapi ringan.
"Hemm, cari tau siapa Tabib yang mereka maksud! Dan setelah kalian mengetahuinya, kalian harus menjaganya sampai tujuan dengan selamat."
"SIAP!"
Setelah diperbolehkan pergi, kedua pengawal bayangan itu melompat dan melesat, pergi untuk menjalankan perintah, bukan tanpa sebab Yang Mulia Kaisar meminta untuk menjaga Tabib sakti itu, dia hanya tidak ingin terjadi apa-apa di jalan karena saat ini situasi sedang dalam kekacauan, banyak hal yang terjadi di luar sana dan dia tidak ingin Tabib itu terluka, karena dia benar-benar berharap Tabib Sakti itu bisa menyembuhkan Ibu Suri.
...----------------...
Satu bulan berlalu, rombongan Desa Suning akan tiba di sebuah kota yang bernama Kota Qingle, dan saat ini mereka sedang beristirahat untuk makan siang di sebuah jalan perempatan, dilihat dari kondisi sekitar tumbuh-tumbuhan yang terlihat sangat hijau alami menandakan jika daerah tersebut tidak mengalami kekeringan atau kemarau panjang.
Selama perjalan juga sekali turun hujan, jadi selama perjalanan mereka tidak kekurangan air, ada banyak air di hutan maupun di gunung.
Setelah makan siang mereka beristirahat sejenak dan memutuskan untuk menginap di luar gerbang kota Qingle dan seperti sebelumnya mereka hanya perlu beberapa jam saja untuk tiba di Kota Tersebut.
Tiba-tiba ada dua kereta Kuda dari arah timur jalan, dibagian depan, selain kusirnya terlihat juga seorang pemuda yang sedang duduk di sebelahnya. Makin dekat di tempat peristirahatan kedua kereta makin jalan melambat.
Jika diperhatikan Mereka terlihat sedikit gugup dan penuh waspada seolah-olah takut melihat rombongan Desa Suning yang berjumlah lumayan banyak.
Melihat ada banyak kereta dan kuda yang terparkir di bawah pohon, membuat orang itu sedikit lega. Mereka tau tentang adanya beberapa Desa yang pergi ke pengungsian, jadi mereka berpikir rombongan Desa Suning adalah orang kaya dari kota yang memiliki banyak perbekalan sehingga semua warga yang terlihat tampak sehat dan berisi.
"Apakah kamu yakin ingin berhenti? Apakah kamu tidak takut jika mereka merampas daganganmu? Kita hanya berlima, dan mereka sangat banyak, aku katakan kita tidak bisa melawan mereka" si Kusir bertanya sambil menjelaskan situasinya.
"Hmm, sebenarnya aku juga takut tapi mereka tidak seperti orang-orang kelaparan, mana mungkin ingin merampas dengan kita yang tidak seberapa!" ucap pria yang berada disebelahnya, dia benar-benar bingung sekarang.
"Jadi katakan! Berhenti atau tidak? Tidak lama lagi kita melewati rombongan itu!" Si Kusir bertanya lagi. Dia hanya seorang pengawal yang disewa untuk mengawal mereka ke luar Kota, tapi saat ini dia menjadi Kusirnya karena merasa kasihan dengan pemuda itu.
Setelah berpikir sejenak, dia mengambil keputusan dengan jantung yang berdebar-debar "Berhentilah..!" ucapnya sambil berdoa.
Saat kuda berhenti, kereta kuda yang ada di belakang juga ikut berhenti. Dia turun dan menghampirinya dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Nak, apakah kamu yakin?" tanya seorang wanita yang ada di dalam kereta, mungkin seumuran dengan Bibi Ying.
"Ya Bu, jika memang mereka berniat jahat sudah sejak tadi mereka menghampiri kita saat kereta berjalan lambat, dan sekarang ini kita bahkan sudah berhenti, tapi mereka tidak datang untuk mencari gara-gara!"
Bibi itu ternyata Ibu dari pemuda yang di kereta bagian depan, dan yang di kereta belakang adalah Ayahnya juga bersama seorang pengawal.
"Baiklah, biarkan Ayah yang pergi untuk bertanya!" ucapnya sambil mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan putranya.
"Tidak, mari pergi bersama!" ucap sang Ibu sambil turun dari kereta dia tidak akan membiarkan suaminya pergi sendiri bagaimana jika orang-orang itu melukai suaminya.
"Aku akan menjaga di sini! Ayah, Ibu kalian harus berhati-hati!" katanya dengan serius, dia benar-benar telah mengambil keputusan besar mempertaruhkan nyawa.
Pasangan suami istri itu berbalik untuk pergi bertanya, tapi mereka melihat seorang pemuda yang sudah lebih dulu berjalan ke arah mereka, melihat kedatangan pemuda tersebut jantung mereka berdebar dan sedikit takut para pengawal hanya berdiri dengan siap siaga.
Ternyata yang datang adalah Lin, dia sudah memperhatikan mereka sejak tadi, dia sungguh penasaran maka dia meminta izin kepada Kepala Desa untuk pergi bertanya, awalnya Kepala Desa tidak mengizinkannya, tapi melihat suami istri itu sesekali melirik rombongan mereka akhirnya Kepala Desa membiarkannya pergi untuk bertanya.
"Salam kepada para Tuan dan Nyonya!" Sapa Lin dengan sopan, dia tidak takut sama sekali setelah merasakan kekuatan para pengawal itu ada dibawahnya.
Melihat Lin bersikap ramah, mereka sedikit lega. "Ya, aduh kami tidak berani, jangan panggil seperti itu, kami hanya seorang petani dari Desa!" ucapnya dengan cepat dan gugup.
"Oh, kalau begitu kita sama. Kami juga orang Desa menuju pengungsian dan sedang beristirahat di sini. Paman, apa ada yang kami bisa bantu? Aku melihat Paman dan yang lainnya sedikit kebingungan!" Lin bertanya sambil mengubah panggilannya tanpa malu.
Mereka semua saling tatap dan menunduk malu, ternyata tingkah mereka sudah diperhatikan oleh rombongan Desa Suning. Mereka dari daerah yang tidak terkena kekeringan, mereka sangat bersyukur dengan hal itu.
Bisa di bilang cuaca di daerah mereka sangat stabil, dan memiliki tanah yang sangat subur sehingga para petani bisa menghasilkan panen dua kali lipat daripada di daerah lainnya. Saking suburnya semua tanaman hasil panen dijual dengan murah, banyak penjual tapi pembeli yang sedikit, mau tidak mau para petani hanya mendapatkan sedikit keuntungan.
meskipun tidak pernah kelaparan karena hasil bumi, tapi mereka juga butuh keperluan yang lain bukan cuman untuk makan saja, sehingga Desa mengadakan rapat bagi yang mau menjual panen mereka ke luar Kota.
Dan ternyata yang terpilih adalah Anak dari Kepala Desa serta menantu dan cucunya, mereka mengumpulkan beberapa uang untuk menyewa pengawal dan beberapa batu pendingin.
Mendengar cerita mereka, Lin segera pergi bertanya kepada rombongan siapa tau mereka ingin membelinya karena sudah beberapa hari mereka tidak membeli sayuran di pasar kota.
Aruna yang baru saja turun dari Kereta juga mendengarnya ,"Panggil mereka untuk mendekat!" Dia tidak kekurangan makanan, sayuran di dalam ruangnya tumbuh subur, tapi untuk mengeluarkannya juga butuh akal-akalan.
Lin segera berlari, dia tahu Aruna sedang membantu orang itu. Tak lama dia kembali bersama dua kereta, dan ternyata setiap kereta memiliki beberapa gerbong kecil di belakangnya.
"Bibi sayuran apa yang Anda jual?" tanya Aruna.
Bibi itu berserta dengan rombongannya terkejut melihat kecantikan Aruna, meski gadis yang lainnya juga cantik, tapi wajah Aruna yang paling menonjol.
Setelah sadar dari rasa kagumnya, dia tersenyum dan berkata. "Nona, ada macam sayuran dari hasil panen kami, mari langsung lihat saja."
Aruna jalan mendekat dan melihat memang banyak macam sayuran, kondisinya masih bagus, karena ternyata mereka menggunakan batu pendingin. Aruna juga sudah mengetahui harga sewa batu itu, 200 koin tembaga untuk satu hari.
Warga desa merasa sangat iri melihat hasil panen yang sangat melimpah, sebelumnya mereka juga seorang petani yang bertahan hidup dengan bercocok tanam tapi mereka belum pernah menghasilkan hasil panen yang sangat baik seperti yang mereka lihat sekarang. Mereka hanya bisa berdoa untuk masa depan agar kehidupan mereka lebih baik lagi.
Aruna mengangguk puas "Bibi, jika semua ini terjual di Kota yang kalian tuju kira-kira bisa menghasilkan berapa uang?"
Sempat bingung dengan pertanyaan Aruna, tapi dia tetap menjawab, "Kami sudah menghitung sebelum melakukan perjalanan, jika kami mengambil keuntungan sedikit lebih banyak, kami bisa mendapat 7 sampai 8 tael perak."
Aruna kembali mengangguk "Terus berapa banyak jika terjual di kota kalian berasal?"
"Jika semua ini terjual paling banyak 3 tael, mentok 4 tael!" Kali ini suami Bibi yang menjawab.
Alis Aruna mengerut mendengarnya, bukankah itu sama saja? Dijual di luar kota memang menghasilkan lebih banyak, tapi mereka juga harus membayar sewa kereta kuda, pengawal dan juga batu pendingin, belum lagi perjalanan yang lumayan jauh, mereka sungguh mempertaruhkan nyawa demi mendapat sedikit keuntungan. Kekuatan kedua pengawal itu juga sangat lemah, jika mereka bertemu bandit entah apa yang terjadi!
Melihat Aruna terdiam dengan bingung Paman itu menjelaskan "Emm, itu kebetulan kereta yang kami gunakan milik Desa kami jadi tidak perlu menyewanya."
Aruna sedikit terkejut, ternyata Desa mereka lumayan kaya. Karena terlalu banyak pesaing sehingga mereka memilih untuk mengimpor barang dagangan mereka.
"Baiklah, Paman Bibi silakan turunkan semua dari kereta aku akan membeli semuanya!"
Orang-orang itu terdiam mendengar ucapan Aruna kemudian melirik kepala desa seolah-olah mengatakan betulkah yang Aruna katakan itu?
"Ya, dengarkan saja apa yang cucuku katakan!" kepala desa juga tidak banyak tanya Karena semua itu juga untuk mereka semua, dia sudah tau betul sifat Aruna yang sangat baik.
Dengan perasaan campur aduk mereka menurunkan barang-barang yang ada dalam kereta, Aruna melarang mereka untuk menghitungnya kembali, banyak dan beratnya seperti yang dikatakan sebelumnya, jika mengambil keuntungan lebih banyak bisa mendapatkan 8 tael.
Aruna memberi mereka 20 tael, ini bukan untuk pertama kalinya dia melakukannya hal seperti itu. Selama perjalanan jika dia membeli sesuatu pasti akan dilebihkan, bukan sekedar melakukan suatu hal yang baik, tapi itulah syarat untuk mengakses lebih banyak barang di ruangnya.
Mereka berlima pulang dengan perasaan bahagia, tak disangka bertemu dengan orang baik di pinggir jalan, jadi mereka tidak perlu sampai ke Kota yang ingin dituju.
lanjut thorr💪💪💪