Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JEJAK YANG TERTINGGAL
Minggu pertama di rumah Maya berlalu dengan ritme yang mulai terbentuk. Aku belajar pola-pola kecil dalam kehidupan mereka: Bima bangun paling awal, mandi tanpa disuruh, dan sudah siap seragam sebelum jam enam. Kinan butuh tiga kali panggilan untuk bangun, tapi begitu sudah bangun, dia akan mencari Maya untuk dipeluk pagi itu. Maya sendiri selalu sudah bangun sebelum fajar aku mendengarnya dari suara ceret di dapur, atau suara mesin cuci yang berputar pelan.
Hari ini Sabtu. Tidak ada sekolah, tidak ada kerja untuk Maya. Tapi ketika aku keluar dari kamar Bima (yang sekarang jadi kamarku), Maya sudah berdiri di depan lemari di ruang tamu, menatap sesuatu dengan ekspresi yang membuat langkahku terhenti.
"Ada apa?" tanyaku, mendekat.
Dia menoleh, wajahnya pucat. Di tangannya ada album foto album pernikahannya dengan Rangga. "Aku... lupa ini masih ada di sini."
Aku melihat sampul album itu. Foto di sampul adalah foto pernikahan mereka Maya dengan gaun pengantin sederhana, Rangga dengan jas hitam. Mereka tersenyum. Tapi sekarang senyum itu terasa seperti ironi pahit.
"Kamu ingin aku buang?" tawariku.
Maya menggeleng, memeluk album itu ke dada. "Tidak. Ini... ini bagian dari hidupku. Bagian dari sejarah anak-anak."
"Tapi menyakitkan untuk dilihat."
"Kadang kita perlu mengingat rasa sakit," katanya sambil menatapku. "Agar tahu betapa berharganya saat kita tidak merasakannya lagi."
Dia duduk di sofa, membuka album itu. Aku duduk di sampingnya, menjaga jarak yang nyaman. Halaman demi halaman, foto-foto kebahagiaan yang sekarang terasa seperti kebohongan. Maya dan Rangga saat lamaran. Saat sesi foto prewedding di pantai. Saat akad nikah. Resepsi.
"Lihat," ucap Maya sambil menunjuk satu foto. "Di sini, kamu ada."
Aku membungkuk melihat. Ya, aku ada di foto itu berdiri di sudut, memakai baju batik, tersenyum tipis. Tapi mataku tidak ke arah kamera. Mataku menatap Maya.
"Aku ingat hari itu," bisikku. "Kamu terlihat sangat cantik."
"Dan kamu terlihat sangat sedih."
Aku terkejut. "Kamu tahu?"
"Tentu saja aku tahu, Raka." Dia menutup album, meletakkannya di pangkuannya. "Kita tumbuh bersama. Aku bisa membaca ekspresimu seperti membaca buku terbuka. Dan hari pernikahanku... kamu seperti orang yang menghadiri pemakaman."
"Maaf."
"Jangan minta maaf. Karena aku... aku juga sedih hari itu."
Dia mengatakannya dengan suara sangat pelan, seperti rahasia yang terlalu berat untuk dibawa sendirian.
"Apa maksudmu?"
Maya memandang keluar jendela. Matahari pagi mulai menerobos masuk, membuat debu-debu kecil di udara tampak seperti emas yang melayang.
"Pernikahan dengan Rangga... itu bukan pilihan pertamaku," ucapnya pelan. "Tapi itu pilihan paling masuk akal saat itu. Ibuku sakit, butuh biaya pengobatan. Rangga punya usaha stabil. Dia baik padaku. Dan dia mau menerima aku dengan semua beban yang kubawa."
"Beban apa?"
Dia tersenyum getir. "Kamu tidak tahu? Oh, tentu saja tidak. Karena aku tidak pernah bilang. Dan keluarganya juga berusaha menyembunyikannya."
Aku menunggu, jantung berdebar. Ada sesuatu di sini. Sesuatu yang besar.
"Setahun sebelum menikah dengan Rangga," Maya mulai, suaranya datar seperti membaca laporan, "aku punya pacar. Dia... dia meninggal. Kecelakaan motor."
Dadaku sesak. "Maya..."
"Kami sudah rencanakan banyak hal. Dia bahkan sudah minta izin pada orang tuaku. Tapi kemudian... dia pergi. Dan aku hancur. Sangat hancur sampai hampir ikut dia."
Air mata mulai menggenang di matanya, tapi kali ini tidak tumpah. Seperti sudah terlalu sering menangis untuk cerita ini sampai air matanya habis.
"Rangga datang enam bulan setelah itu. Dia teman kakakku. Dia bilang mau merawatku. Bilang tidak peduli dengan masa laluku. Dan aku... aku lelah sendirian. Lelah berduka. Jadi aku bilang iya."
Dia menatap album di pangkuannya. "Tapi cinta itu tidak datang, Raka. Rasa hormat, iya. Rasa terima kasih, iya. Tapi cinta... tidak. Dan mungkin Rangga akhirnya merasakan itu. Mungkin itulah kenapa dia mencari cinta di tempat lain."
Ruang tamu itu tiba-tiba terasa sunyi sekali. Aku bisa mendengar Kinan tertidur di kamarnya, nafasnya yang pelan. Bisa mendengar burung-burung di luar. Tapi yang paling keras adalah suara hatiku sendiri yang berdebar kencang.
"Kenapa tidak pernah kau cerita padaku?" tanyaku akhirnya.
"Kamu di Singapura. Dan sebelum ke Singapura... kita sedang tidak bicara, ingat?"
Aku mengingatnya. Beberapa bulan sebelum pernikahannya, kami bertengkar besar. Masalah sepel dia meminjam bukuku dan tidak mengembalikannya. Tapi pertengkaran itu menjadi besar, menjadi tentang bagaimana aku selalu menganggapnya ceroboh, bagaimana dia selalu merasa dinilai olehku.
"Kita bertengkar karena buku," kenangku.
"Buku favoritmu. Yang dengan catatan-catatan di pinggirnya. Aku bawa ke kos temanku, dan tertinggal di sana. Dan kamu marah besar."
"Bukan karena bukunya. Tapi karena... karena waktu itu aku sedang ingin bicara serius denganmu. Dan bukunya itu alasannya. Ada sesuatu yang ingin kukatakan."
Maya menatapku, matanya penuh pertanyaan. "Apa yang ingin kaukatakan?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin bilang... jangan menikah dengan Rangga."
Diam.
Lama sekali.
"Kenapa?" akhirnya Maya bertanya, suaranya hampir seperti bisikan.
"Karena..." aku menelan ludah. "Karena dia bukan untukmu. Karena kulihat caranya memandangmu seperti properti, bukan seperti manusia. Karena dia terlalu tua untukmu. Karena... karena ada orang lain yang lebih pantas untukmu."
"Orang lain siapa?"
Aku tidak menjawab. Tapi mata kami bertemu, dan dalam diam itu, jawabannya terucap tanpa kata.
"Oh," ucap Maya pelan. "Oh."
Dia berdiri, berjalan ke jendela. Punggungnya padaku, tapi aku melihat bahunya naik turun dengan cepat.
"Aku tidak tahu, Raka," katanya ke kaca jendela. "Aku benar-benar tidak tahu."
"Kamu tidak seharusnya tahu. Karena aku tidak pernah mengatakan."
"Tapi kenapa? Kenapa tidak kaukatakan?"
Karena takut. Karena kita sepupu. Karena takut merusak hubungan keluarga. Karena takut kamu menolak. Karena takut kehilanganmu sepenuhnya.
Semua jawaban itu benar. Tapi yang paling benar adalah: "Karena aku pengecut."
Maya berbalik. Wajahnya basah oleh air mata, tapi dia tersenyum, senyum sedih yang membuat dadaku sakit.
"Kita berdua pengecut," katanya. "Aku menikah dengan orang yang tidak kucintai karena takut sendirian. Kamu pergi ke Singapura karena takut melihatku dengan orang lain. Dan hasilnya? Kita sama-sama terluka. Dan orang lain juga terluka Rangga, anak-anak..."
"Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Tapi itu salahku, Raka. Aku masuk pernikahan tanpa cinta. Aku memberinya harapan palsu. Dan ketika dia merasa itu... dia pergi mencari yang asli di tempat lain."
Aku mendekatinya. Perlahan. Memberi waktu padanya untuk mundur jika tidak nyaman. Tapi dia tetap di tempatnya.
"Tidak ada yang sepenuhnya benar dalam cerita ini," kataku. "Tapi menyalahkan diri sendiri terus-menerus tidak akan mengubah apapun."
"Lalu apa yang akan mengubah?"
"Memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Kami berdiri berhadapan, hanya berjarak satu langkah. Di ruang tamu yang diterangi matahari pagi ini, dengan album pernikahan yang menyimpan kebohongan di sofa, dan dengan dua anak yang masih tidur di kamar, rasanya seperti seluruh hidup kami telah membawa kami ke momen ini.
"Raka," Maya memanggil namaku dengan suara yang berbeda lebih lembut, lebih rentan.
"Iya?"
"Kalau dulu... waktu itu... kamu mengatakan perasaanmu. Apa yang akan terjadi?"
Pertanyaan hipotetis. Berbahaya. Tapi aku menjawab dengan jujur.
"Mungkin kita akan bersama. Atau mungkin kita akan berantakan dan kehilangan segalanya. Tapi yang pasti, kita tidak akan punya 'andai-andai' yang menghantui kita."
Dia mengangguk. "Aku juga punya 'andai'. Andai aku jujur pada Rangga sejak awal. Andai aku tidak menikah karena rasa terima kasih. Andai aku lebih berani."
"Aku tidak akan menambah daftar 'andai' kita," kataku, lebih pada diriku sendiri daripada padanya. "Aku sudah di sini sekarang. Dan apa pun yang terjadi, aku tidak akan lari lagi."
Maya melihatku lama. Lalu, dengan gerakan pelan, dia mengambil album pernikahan dari sofa dan membawanya ke lemari. Tapi dia tidak menyimpannya kembali. Dia meletakkannya di atas lemari, di tempat yang tinggi, seperti menguburnya secara simbolis.
"Biar di sana dulu," katanya. "Sampai aku cukup kuat untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dengannya."
Kemudian dia berbalik padaku. "Kamu mau bantu aku bersih-bersih rumah? Ada beberapa kotak barang Rangga yang belum pernah dibuka sejak dia pergi."
Ini undangan. Ini kepercayaan. Ini kesempatan untuk masuk lebih dalam ke hidupnya—dengan semua kenangan pahit yang tersimpan di kotak-kotak itu.
"Iya," jawabku. "Aku bantu."
Kotak-kotak itu ada di gudang kecil di belakang rumah. Tiga kardus besar, ditutupi debu dan sarang laba-laba. Maya membukanya dengan hati-hati, seperti membuka peti mati yang berisi hantu.
Kotak pertama berisi pakaian Rangga kaos, celana, jas. Bau pengap dan kapur barus. Maya mengeluarkan satu per satu, memeriksa kantongnya, lalu melipatnya rapi.
"Untuk sumbangan," katanya. "Siapa tahu ada yang butuh."
Kotak kedua berisi buku dan dokumen. Buku-buku teknik (Rangga dulunya insinyur), sertifikat, ijazah. Dan satu album foto lagi foto masa kecil Rangga, foto dengan keluarganya.
"Untuk Bima nanti," ucap Maya sambil melihat foto Rangga kecil yang mirip sekali dengan Bima. "Dia berhak tahu dari mana asalnya."
Kotak ketiga... ini yang paling berat. Berisi surat-surat. Kartu ucapan. Dan satu diary kecil.
Maya membuka diary itu. Beberapa halaman pertama berisi catatan tentang awal pernikahan mereka. Bahasa Rangga sederhana, tulisan rapi.
"Hari pertama menikah dengan Maya. Dia cantik sekali. Aku berjanji akan membuatnya bahagia."
"Maya hamil. Aku akan punya anak. Rasanya seperti mimpi."
"Bima lahir. Anak laki-laki sehat. Maya lelah tapi tersenyum. Aku ayah sekarang."
Lalu halaman-halaman berikutnya mulai berubah.
"Maya sering melamun. Aku tanya kenapa, dia bilang tidak apa-apa. Tapi aku tahu ada sesuatu."
"Kinan lahir. Anak perempuan. Tapi Maya... dia seperti tidak sebahagia dulu. Apa aku yang salah?"
"Aku ketemu Sari di kantor baru. Dia tersenyum padaku. Sudah lama sekali tidak ada yang tersenyum padaku seperti itu."
Maya menutup diary itu dengan cepat, wajahnya pucat. "Cukup."
"Aku minta maaf," kataku. "Kita tidak harus lanjut."
"Tidak, kita harus." Dia mengambil napas dalam-dalam. "Aku harus tahu. Agar tidak bertanya-tanya selamanya."
Dia membuka lagi, melompati beberapa halaman, sampai ke bagian akhir.
"Aku tahu Maya tidak mencintaiku. Dia hanya butuh keamanan. Dan aku... aku butuh dicintai. Sari memberiku itu."
"Aku akan ke Jakarta. berkata untuk kerja. Tapi sebenarnya untuk Sari. Aku tidak tahu bagaimana meninggalkan Maya dan anak-anak. Tapi aku juga tidak tahan hidup dalam kebohongan."
"Terakhir kali melihat Bima dan Kinan tidur. Aku menangis. Tapi ini harus. Mereka akan lebih baik tanpaku. Maya akan lebih bahagia tanpa aku yang selalu mencoba memaksanya mencintaiku."
Tidak ada entri lagi setelah itu.
Maya duduk di lantai gudang, diary di tangannya. Aku duduk di sampingnya, tidak menyentuh, hanya ada.
"Jadi itu alasannya," ucapnya pelan. "Dia pergi karena merasa tidak dicintai."
"Ini bukan salahmu, Maya."
"Tapi sebagian iya. Aku tidak bisa mencintainya seperti istri mencintai suami. Aku mencoba. Tapi... perasaan itu tidak datang."
"Kamu tidak bisa memaksakan perasaan."
"Tapi aku memaksakan pernikahan." Dia menatapku, matanya penuh penderitaan. "Lihat hasilnya? Suami yang pergi karena merasa tidak dicintai. Anak-anak tanpa ayah. Dan aku... aku sendirian dengan rasa bersalah."
Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku merangkulnya. Perlahan, memberinya waktu untuk menolak. Tapi dia tidak menolak. Dia justru bersandar, kepalanya di bahuku, dan mulai menangis. Tangisan yang berbeda dari sebelumnya bukan tangisan kemarahan atau kesedihan, tapi tangisan pelepasan. Tangisan untuk kebenaran yang akhirnya diketahui, betapa pun pahitnya.
Kami duduk seperti itu lama, di gudang yang pengap, dikelilingi oleh peninggalan pernikahan yang gagal. Debu beterbangan di sinar matahari yang masuk dari jendela kecil, seperti partikel-partikel masa lalu yang akhirnya menemukan tempatnya untuk beristirahat.
Ketika tangisnya mereda, Maya menarik diri, mengusap wajahnya dengan lengan baju.
"Raka," katanya, suaranya serak.
"Iya?"
"Tolong jangan pernah berbohong padaku. Tentang apa pun. Aku sudah cukup dengan kebohongan."
"Aku janji," kataku, dan kali ini, janji itu terasa seperti sumpah. "Tidak akan ada kebohongan antara kita."
Dia mengangguk, lalu berdiri. "Aku ingin bakar diary ini."
"Apa kamu yakin?"
"Iya. Ini bukan untuk anak-anak. Dan aku... aku tidak ingin menyimpannya. Biarlah ini jadi abu, bukan jadi hantu yang mengganggu."
Kami melakukannya di halaman belakang. Maya membakar diary itu di dalam kaleng bekas. Kami duduk di tangga belakang, melihat api melahap kertas-kertas itu, kata-kata Rangga berubah menjadi asap yang naik ke langit.
Bima dan Kinan terbangun dan keluar, penasaran dengan asap.
"Apa itu, Ma?" tanya Bima.
"Bakar sampah, Sayang," jawab Maya, menarik Kinan ke pangkuannya. "Dulu-dulu sekali."
Kinan memeluk ibunya. "Ma, Adek lapar."
Maya tersenyum, senyum yang kali ini terasa lebih ringan, seperti beban yang sedikit terangkat. "Iya, Sayang. Mama masak sekarang."
Dia berdiri, menggandeng Kinan. Tapi sebelum masuk, dia menoleh padaku.
"Raka?"
"Iya?"
"Terima kasih. Untuk hari ini."
Tidak perlu kata-kata lain. Aku mengangguk, dan dia masuk ke rumah, meninggalkanku sendirian di halaman dengan abu diary yang masih hangat.
Bima duduk di sampingku. "Om, itu diary Papa ya?"
Aku terkejut. "Kamu tahu?"
"Dulu pernah lihat Papa nulis. Tapi Mama tidak pernah kasih lihat isinya." Dia menatap abu di kaleng. "Isinya menyedihkan?"
"Sedikit."
"Tapi sekarang sudah jadi abu. Jadi tidak sedih lagi."
Dari mulut anak delapan tahun itu, kalimat itu terdengar seperti kebijaksanaan kuno. Ya, memang. Sedihnya sudah jadi abu. Bisa beterbangan tertiup angin, bisa ditanam di tanah, bisa lenyap begitu saja.
"Bima," panggilku.
"Iya, Om?"
"Kamu baik-baik saja?"
Diam sebentar. "Kadang-kadang kangen Papa. Tapi... tapi lebih baik Papa pergi daripada Mama sedih terus."
Aku merangkul bahunya. "Kamu anak kuat."
"Harus kuat, Om. Adek butuh contoh."
Anak delapan tahun. Seharusnya masih main sepeda, masih takut gelap, masih minta dibacakan cerita sebelum tidur. Tapi Bima sudah menjadi "contoh". Sudah menjadi "kakak". Sudah menjadi penyangga bagi ibunya.
"Kamu tidak harus kuat terus," kataku. "Kadang-kadang, kamu boleh lemah. Boleh sedih. Boleh jadi anak kecil lagi."
Dia menatapku, matanya, mata yang terlalu bijak untuk usianya mengernyit. "Tapi siapa yang jaga Mama kalau aku lemah?"
"Aku," jawabku, tanpa ragu. "Aku yang akan jaga Mama. Dan jaga Kinan. Dan jaga kamu. Jadi kamu boleh jadi anak kecil lagi. Setidaknya sesekali."
Bima melihatku lama. Lalu, perlahan, dia bersandar di pahaku. Tubuhnya yang kecil terasa ringan, tapi beban yang dibawanya terasa berat sekali.
"Om Raka?" bisiknya.
"Iya?"
"Jangan pergi lagi ya. Janji?"
Aku memeluknya erat. "Janji."
Dan di halaman belakang yang sederhana itu, dengan abu masa lalu yang masih hangat dan anak laki-laki yang terlalu cepat dewasa di pelukanku, aku tahu satu hal:
Aku memang pulang untuk sesuatu yang tidak pernah pergi cinta yang selama ini tersimpan, keluarga yang selama ini kutinggalkan, dan diri yang selama ini kabur dari tanggung jawabnya.
Tapi lebih dari itu, aku pulang untuk sesuatu yang baru: untuk menjadi tempat bersandar bagi mereka yang terlalu lama menanggung beban sendirian.