Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 206
Penginapan Bintang Kejora – Kamar Tim Shi Hao.
Suasana di dalam kamar cukup tegang setelah insiden penghancuran pilar. Nyonya Zhu mondar-mandir dengan gelisah, sementara Shi Hao sedang membersihkan pedang Leviathan Asura nya.
"Tuan Feng," kata Nyonya Zhu sambil mengibaskan undangan emas di tangannya. "Kita menarik perhatian yang salah. Undangan ini... dari Pangeran Jin."
"Siapa dia?" tanya Shi Hao tanpa menoleh.
"Dia adalah jenius dari Klan Gagak Emas (Golden Crow Clan) di Sektor Pusat. Desas-desus mengatakan dia lahir dengan memegang bola api di tangannya. Dia kejam, ambisius, dan didukung oleh sumber daya yang tak terbatas."
Mata Shi Hao berkilat. Gagak Emas... Simbol matahari. Cocok sekali dengan Di Jun.
"Dia mengundang 'Ketua Tim Asura Neraka' untuk pesta pribadi malam ini," lanjut Nyonya Zhu.
Shi Hao berdiri, menyimpan pedangnya.
Shi Hao menatap pedangnya, lalu menatap timnya yang (Tie Shan, Shu Ling, Luo Tian) yang kini memandanginya dengan hormat.
"Namanya adalah Tim Asura."
"Karena kita di sini bukan untuk menghibur. Kita di sini untuk membantai jalan menuju puncak."
Nyonya Zhu tersenyum, menutup kipasnya. "Asura.... Sesuai dengan Arena saya."
"Baiklah, Kapten Tim Asura. Mari kita temui Pangeran Matahari itu."
Istana Awan Emas – Pulau Terapung di Atas Planet Arena.
Pesta itu digelar di sebuah pulau yang melayang di atas awan, ditopang oleh Formasi Anti Gravitasi raksasa. Lantainya terbuat dari giok putih, pilarnya dari emas murni.
Para tamu yang hadir adalah elit dari berbagai galaksi: Putra Mahkota Kekaisaran Naga, Dewi Sekte Bunga, dan Pewaris Klan Titan.
Saat Shi Hao dan Nyonya Zhu masuk, suasana hening sejenak. Semua mata tertuju pada "Orang Gila yang menghancurkan Pilar Ukur".
Namun, Shi Hao mengabaikan tatapan mereka. Dia berjalan santai menuju meja prasmanan, mengambil buah roh langka dan memakannya.
"Tuan Feng dari Tim Asura," sebuah suara halus namun berwibawa menyapa.
Kerumunan membelah diri. Pangeran Jin berjalan mendekat.
Dia mengenakan jubah emas dengan sulaman sepuluh matahari. Wajahnya tampan, kulitnya putih bersinar, dan matanya memiliki pupil ganda yang memancarkan panas.
Itu benar-benar wajah muda Di Jun. Tapi auranya berbeda—lebih tersembunyi, lebih licik.
"Pangeran Jin," Shi Hao mengangguk tipis, tidak membungkuk.
Para tamu lain menahan napas. Tidak membungkuk pada Bangsawan Pusat? Dia cari mati!
Namun, Pangeran Jin justru tertawa renyah. "Hahaha! Orang kuat memang memiliki kebanggaan. Aku suka itu."
Jin melambaikan tangan, mengusir pelayan.
"Mari, Tuan Feng. Minum bersamaku di balkon."
Balkon Pribadi – Konfrontasi Diplomatis.
Hanya ada mereka berdua di balkon yang menghadap lautan bintang itu. Angin malam bertiup kencang, tapi tidak bisa menembus perisai Qi pelindung Jin.
Jin menuangkan arak dari guci giok merah ke dua cawan.
Cairan arak itu... Mendidih. Warnanya emas cair, dan uapnya saja sudah cukup untuk melelehkan logam biasa.
"Ini adalah Arak Sembilan Matahari," kata Jin sambil menyodorkan cawan itu. "Diseduh dari inti bintang muda. Bagi orang lemah, ini racun yang membakar organ dalam. Bagi orang kuat, ini obat mujarab."
"Silakan."
Ini ujian. Jin ingin melihat apakah tubuh fisik Shi Hao sekuat rumor pilar itu.
Shi Hao menatap cairan emas yang bergolak itu. Dia teringat pertarungan apinya melawan Raja Dewa Di Jun di istana lama.
"Hanya inti bintang muda?" Shi Hao mengambil cawan itu.
GLUK.
Shi Hao meminumnya habis dalam sekali teguk. Dia bahkan tidak meniupnya.
Cairan panas itu masuk ke tenggorokannya. Qi Nirwana di dalam tubuh Shi Hao langsung menyambutnya, melahap energi panas itu dan mengubahnya menjadi nutrisi.
Shi Hao meletakkan cawan kosong itu dengan keras.
"Rasanya hambar," komentar Shi Hao datar. "Kurang panas."
Mata Pangeran Jin menyipit. Senyumnya sedikit kaku, tapi ketertarikannya makin memuncak.
"Luar biasa," puji Jin. "Tubuhmu setara dengan Artefak Peringkat Surga."
"Feng... Aku akan langsung ke intinya. Tim Asura-mu punya potensi, tapi kalian hanyalah semut di turnamen ini tanpa perlindungan."
"Bergabunglah denganku."
Jin merentangkan tangannya ke arah bintang-bintang.
"Aku sedang membangun pasukan. Bukan hanya untuk memenangkan turnamen ini... tapi untuk Penaklukan Agung."
"Aku berasal dari garis keturunan kuno yang pernah memerintah dunia yang jauh. Aku berniat merebut kembali takhta itu. Jika kau menjadi Jenderalku, aku akan memberimu satu galaksi sebagai wilayah kekuasaanmu."
Shi Hao bersandar di pagar balkon, menyilangkan tangan.
"Dunia yang jauh?" pancing Shi Hao. "Maksudmu... Alam Dewa yang tersembunyi di balik lipatan dimensi?"
Senyum Pangeran Jin lenyap seketika. Auranya meledak, suhu di balkon naik drastis.
"Bagaimana kau tahu tentang tempat itu?" suaranya dingin dan tajam.
Shi Hao mengangkat bahu, pura-pura bodoh. "Aku membaca banyak buku tua. Legenda tentang 'Dewa' yang jatuh dari langit."
Jin menatap Shi Hao tajam, mencoba mencari kebohongan. Tapi jiwa Shi Hao tenang seperti air danau.
Perlahan, Jin menurunkan auranya.
"Kau tahu banyak," kata Jin pelan. "Itu membuatku semakin menginginkanmu. Atau... membunuhmu."
"Tapi ada satu hal yang aneh, Feng."
Pangeran Jin melangkah maju, wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah Shi Hao.
"Setiap kali aku melihatmu... Darahku bergejolak. Inti jiwaku marah."
"Rasanya seolah-olah... kau pernah mengambil sesuatu yang berharga dariku di kehidupan masa lalu."
Shi Hao tidak mundur. Dia menatap lurus ke dalam mata pupil ganda itu. Dia melihat bayangan Di Jun yang asli di sana.
"Karma adalah hal yang lucu, Pangeran," bisik Shi Hao, suaranya mengandung ejekan halus.
"Mungkin di kehidupan lalu... aku adalah orang yang menendangmu dari kursi nyamanmu?"
Hening.
Angin berhenti berhembus. Tekanan udara menjadi berat.
Tiba-tiba, Pangeran Jin tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHA! Kau lucu! Menendangku? Tidak ada yang bisa menyentuhku!"
Jin menepuk bahu Shi Hao keras-keras.
"Baiklah. Kau belum mau bergabung. Tidak apa-apa. Tapi ingat ini, Ketua Tim Asura..."
"Di arena nanti, jika kita bertemu... aku tidak akan menahan diri. Aku akan membakar 'potensi'-mu itu sampai menjadi abu."
Shi Hao menepis tangan Jin dari bahunya.
"Aku menantikannya. Siapkan arak yang lebih panas untuk pemakamamu sendiri."
Shi Hao berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan balkon itu.
Setelah Shi Hao pergi, senyum Pangeran Jin menghilang total. Wajahnya menjadi dingin dan kejam.
Seorang bayangan hitam muncul di belakangnya.
"Tuanku?"
"Orang itu berbahaya," desis Jin. "Selidiki asal-usulnya. Jika dia tidak bisa direkrut... pastikan dia mati di Babak Pertama besok."
"Aktifkan Perangkap Hutan Besi."
Dalam Perjalanan Pulang.
Shi Hao berjalan menembus malam. Nyonya Zhu mengikutinya dengan cemas.
"Bagaimana, Tuan Feng? Apa dia..."
"Itu dia," potong Shi Hao. "Itu Avatarnya. Dan dia berencana menggunakan pasukan dari sini untuk menyerang balik ke Alam Dewa suatu hari nanti."
Shi Hao mengepalkan tangannya.
"Tujuanku bertambah satu. Mendapatkan Peta Bintang... dan memotong kepala Gagak Emas itu sebelum dia tumbuh dewasa."
"Besok babak pertama dimulai. Bersiaplah, Nyonya. Tim Asura akan mandi darah."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛